Main Ad

Senin, 17 Juli 2017

Arah Moneter Mendatang (TRI WINARNO)

Pasar keuangan global mulai merespons kontraksi kebijakan moneter di negara-negara maju. Hanya tersisa Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) dan Bank Sentral Swiss (Swiss National Bank/SNB) yang masih bertahan dengan kebijakan moneter yang relatif longgar.

Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mulai keluar secara bertahap dari program pembelian aset (quantitative easing/QE) pada 2014 dan mulai menormalisasi tingkat suku bunga kebijakannya pada akhir 2015. Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) sedang mempertimbangkan suatu langkah yang sama, yaitu penghentian program pembelian aset pada 2018, dan sedang mempertimbangkan keluar dari tingkat bunga kebijakan di teritori negatif.

Begitu pula dengan Bank Sentral Inggris (Bank of England/BOE) yang telah menyelesaikan tahap akhir kebijakan pelonggaran moneter yang diluncurkan setelah referendum, yang memutuskan keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa (Britain Exit/Brexit) pada akhir Juni 2016, dan sedang mempertimbangkan untuk menaikkan tingkat bunga kebijakannya. Sementara Bank Sentral Kanada (Bank of Canada (BOC) dan Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) telah mengirim sinyal akan segera menaikkan tingkat suku bunga pada waktu yang tak akan lama lagi.

Mengantisipasi krisis berulang

Sudah dapat dipastikan bahwa langkah bank-bank sentral tersebut terutama ditujukan untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti terjadi krisis keuangan global lagi, mereka masih punya amunisi yang dapat dipergunakan untuk mengatasinya.

Misalnya, The Fed, yang merupakan bank sentral yang memiliki posisi yang lebih kuat untuk keluar dari kebijakan moneter yang ekstra longgar tersebut dibandingkan dengan bank sentral lain. Bahkan, kalaupun kebijakan normalisasi moneternya berhasil sehingga mampu membawa tingkat bunga kebijakannya pada keseimbangan baru, tingkat bunga keseimbangan tersebut tidak akan lebih dari 3 persen.

Perlu diingat bahwa dalam dua siklus pengetatan yang terjadi pada masa sebelum krisis keuangan global, tingkat bunga kebijakan The Fed berada pada tingkat keseimbangan yang masing-masing sebesar 6,5 persen dan 5,25 persen. Ketika krisis keuangan global terjadi dan resesi melanda tahun 2007-2009, The Fed memangkas tingkat bunga kebijakan dari 5,25 persen ke nol persen.

Tatkala kebijakan tersebut belum mampu memompa laju perekonomian sesuai dengan ekspektasinya, The Fed mulai meluncurkan kebijakan moneter yang semakin ekspansif, yang disebut sebagai kebijakan pelonggaran kuantitas uang (QE) untuk yang pertama kali dalam sejarah bank sentral dunia, yang akhirnya diikuti oleh bank-bank sentral dunia lainnya, seperti bank sentral Uni Eropa, Jepang, dan Inggris.

Empat opsi

Sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa siklus kebijakan moneter pada masa lampau, bahkan kalau The Fed dapat mengembalikan tingkat bunga kebijakan pada 3 persen sebelum resesi berikutnya terjadi, The Fed masih tidak akan punya ruang untuk bermanuver secara efektif. Tingkat bunga akan menyentuh batas bawah terendah, yaitu nol persen, sebelum berdampak pada perekonomian riil secara signifikan. Jika hal itu terjadi, The Fed dan bank-bank sentral utama dunia lainnya hanya punya empat opsi untuk dilakukan, dan masing-masing opsi mempunyai biaya serta kemanfaatan yang berbeda-beda.

Pertama, bank sentral dapat menggunakan kembali kebijakan pelonggaran kuantitas atau pelonggaran kredit (QE), dengan cara membeli obligasi pemerintah dan aset swasta jangka panjang untuk meningkatkan likuiditas dan menstimulasi kredit. Namun, perlu diingat bahwa dengan melakukan ekspansi neraca bank sentral tersebut, terdapat biaya ekonomi yang harus ditanggungnya dan langkah tersebut bukan tanpa risiko.

Kedua, bank sentral dapat kembali menerapkan kebijakan tingkat bunga negatif, sebagaimana dilakukan oleh European Central Bank, Bank of Japan, Swiss National Bank dan, bank-bank sentral lainnya, sebagai tambahan terhadap kebijakan pelonggaran kuantitas dan pelonggaran kredit. Namun, perlu diingat bahwa kebijakan bunga negatif akan membebani penabung dan bank yang pada akhirnya akan ditransmisikan kepada pelanggan.

Ketiga, bank sentral dapat mengubah target inflasinya, misalnya dari 2 persen ke 4 persen. The Fed dan bank-bank sentral utama lainnya secara informal sedang menjajaki opsi ini karena alternatif kebijakan ini dapat meningkatkan tingkat bunga keseimbangan pada level 5 persen hingga 6 persen, dan mengurangi risiko menyentuh batas bawah nol persen jika terjadi resesi lagi.

Namun, opsi ini memunculkan beberapa kontroversi karena beberapa alasan. Di antara alasan tersebut adalah bank sentral telah mengalami kesulitan dalam mencapai target inflasi 2 persen. Dalam rangka mencapai target inflasi 4 persen, mereka harus mengimplementasikan kebijakan moneter nonkonvensional dalam periode yang sangat lama.

Selain itu, bank sentral dalam mengubah target inflasi dipastikan tidak akan berjalan dengan lancar. Jika ekspektasi inflasi diperbolehkan bergeser dari 2 persen ke 4 persen sebagaimana terjadi pada 1970-an, ekspektasi inflasi akan semakin tidak pasti dan inflasi tidak menarik untuk dipakai sebagai acuan kebijakan moneter lagi, dan pertumbuhan harga akan melampaui 4 persen.

Opsi terakhir adalah bank sentral dianjurkan untuk merendahkan target inflasi dari 2 persen ke, katakan, nol persen, sebagaimana telah direkomendasikan oleh Bank for International Settlements (BIS). Target inflasi yang lebih rendah akan mengurangi intensitas penggunaan kebijakan moneter yang nonkonvensional ketika tingkat bunga mendekati nol persen dan laju inflasi masih di bawah 2 persen.

Akan tetapi, kebanyakan bank sentral kurang antusias dengan strategi tersebut dengan berbagai argumen. Argumen pertama adalah inflasi nol persen dan periode-periode deflasi yang akut akan berakibat pada deflasi utang. Kalau nilai utang riil meningkat, akan berakibat pada banyaknya debitor yang bangkrut.

Di samping itu, dalam perekonomian terbuka, target inflasi sebesar nol persen akan berakibat pada penguatan mata uang domestik dan akan meningkatkan biaya upah dan produksi untuk eksportir dan untuk sektor-sektor yang berkompetisi dengan barang impor. Akibatnya, produk dalam negeri tidak kompetitif lagi.

Dengan demikian, pada akhirnya jika resesi datang kembali, bank sentral di negara-negara maju tidak punya pilihan lagi, kecuali menurunkan tingkat bunga hingga mendekati batas bawah nol persen, dan sekali lagi mereka akan memilih salah satu atau kombinasi keempat opsi kebijakan di atas untuk memperkuat efektivitas kebijakan moneternya.

Dilema kebijakan

Pilihan keempat opsi tersebut tergantung dari penekanan kombinasi risiko yang meliputi risiko membengkaknya neraca bank sentral, biaya yang ditanggung bank komersial dan konsumen, probabilitas tidak tercapainya target inflasi, dan kalkulasi kerugian yang dialami oleh debitor dan produsen dalam negeri.

Dengan kata lain, bank sentral akan selalu menghadapi dilema pilihan kebijakan yang sama yang pernah dialami tatkala terjadi krisis keuangan global tahun 2008-2009, yang pada akhirnya akan selalu memakai kebijakan moneter nonkonvensional berupa penggelontoran likuiditas uang dan pelonggaran kredit yang disebut denganquantitative easing.

TRI WINARNO

Peneliti Senior Bank Indonesia

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 Juli 2017, di halaman 6 dengan judul "Arah Moneter Mendatang".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar