Bentrokan itu diawali dengan saling pandang antara anggota Batalyon Infanteri (Yonif) 305/Telukjambe, Karawang, dan anggota Brimob. Berawal dari saling pandang itu kemudian terjadi pemukulan anggota Yonif oleh anggota polisi. Sebagaimana diberitakan media, Panglima Divisi I Kostrad Mayjen Daniel Ambat menyebutkan, tanpa diketahui penyebabnya sejumlah anggota Yonif 305 datang merusak fasilitas milik polisi. Ada anggota polisi terluka dalam bentrokan itu.
Bentrokan anggota TNI AD dan Polri di Karawang bukan yang pertama kali. Kita mengapresiasi pertemuan setelah bentrokan yang melibatkan pimpinan TNI AD, pimpinan Polri, dan pejabat terkait untuk meredam bentrokan. Kita mengapresiasi langkah Panglima Kostrad Letjen Gatot Nurmantyo yang memerintahkan investigasi menyeluruh, termasuk menjawab pertanyaan: mengapa berawal dari saling pandang berujung pada bentrokan?
Karena bentrokan anggota TNI AD dan Polri sering terjadi, kita berharap ada investigasi menyeluruh untuk mengetahui akar masalah. Menurut catatan Litbang Kompas, pada kurun waktu 2010-2013 terjadi enam bentrokan antara TNI AD dan Polri. Pada tahun 2010, kantor polisi diserang anggota TNI AD di Muara Enim, Sumatera Selatan, pada April 2012 terjadi bentrokan antara anggota Brimob dan anggota TNI AD, pada Agustus 2012 anggota Polri menyerang markas subdetasemen polisi militer. Pada Maret 2013, markas polisi diserang dan dibakar anggota TNI AD di Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.
Bentrokan itu disesalkan dan menjadi contoh yang buruk bagi masyarakat. Langkah main hakim sendiri, yang mewujud dalam berbagai kekerasan yang dipertontonkan anggota Polri dan anggota TNI AD, mencederai kepercayaan rakyat. Polisi bertanggung jawab menjaga keamanan dalam negeri dan TNI sejak era reformasi bertanggung jawab pada dimensi pertahanan negara.
Penelitian menyeluruh perlu dilakukan agar kita bisa menemukan pola dari serangkaian bentrokan tersebut. Apakah bentrokan itu akibat penanaman jiwa korsa yang salah dalam masa pendidikan atau karena masalah kebanggaan korps yang terlalu berlebih sehingga menciptakan prajurit yang arogan yang merasa di atas hukum. Atau apakah justru pola perekrutan calon anggota Polri dan calon anggota TNI yang bermasalah sehingga menghasilkan prajurit yang juga bermasalah. Atau justru ada penyebab lebih besar di balik masalah di atas.
Di tengah berbagai permasalahan bangsa yang kian kompleks, kita mendorong pertemuan antara pimpinan Polri dan pimpinan TNI untuk membicarakan berbagai gesekan yang terjadi di lapangan. Berbagai gesekan itu harus dicarikan solusinya untuk mencegah bentrokan itu terjadi lagi di kemudian hari.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003274393
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar