Cari Blog Ini

Kamis, 21 November 2013

Siapa Lagi yang Bermain di Lebanon (Tajuk Rencana Kompas)

SULIT rasanya untuk tidak mengaitkan serangan dua bom bunuh diri dekat Kedubes Iran di Beirut, Lebanon, dengan konflik bersenjata di Suriah.
Menjadi pemahaman umum bahwa konflik bersenjata, perang saudara, dan yang kini berkembang menjadi konflik berbau sektarian di Suriah, menjadi ajang persaingan kekuatan negara-negara luar. Sebut saja, Iran mendukung rezim yang berkuasa di Damaskus, pimpinan Bashar al-Assad, sedangkan Arab Saudi (dan juga Qatar) mendukung kelompok oposisi bersenjata. Di sini terjadi pertarungan antara kelompok Sunni (Arab Saudi dan Qatar) dan Syiah (Iran).

Pertarungan itu dipertegas tekad Hezbollah di Lebanon selatan (Syiah) yang selama ini disebut-sebut dibantu Iran untuk membantu Bashar al-Assad. Dengan peta pertarungan kecil itu, sejumlah pihak lantas mengaitkan ledakan bom di dekat Kedubes Iran di Beirut, yang menewaskan paling kurang 23 orang itu, berkaitan dengan persaingan antara Iran dan Arab Saudi, persaingan antara Sunni dan Syiah.

Kalau ulasan di atas jauh dari kebenaran, tentu harus diajukan pertanyaan: siapa yang bermain di Beirut? Kelompok mana yang ada di balik serangan bom di dekat Kedubes Iran itu? Ini pertanyaan penting untuk dijawab dan sekaligus untuk mengurai apa sesungguhnya yang terjadi di Beirut, apakah terkait dengan situasi di Suriah.

Memang Brigade Abdullah Azzam yang mempunyai hubungan dengan Al Qaeda sudah mengklaim sebagai yang bertanggung jawab atas serangan bom di sebuah wilayah yang mayoritas penduduknya Syiah itu. Kelompok ini juga mengklaim sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penyerangan dengan bom terhadap kendaraan milik Hezbollah di Lembah Bekaa, Lebanon, Juli lalu. Pada Juli dan Agustus lalu terjadi dua serangan bom mobil yang menewaskan 27 orang dan melukai hampir 400 orang.

Benarkah klaim Brigade Abdullah Azzam itu? Memang serangan serupa yang dilakukan kelompok beratribut Al Qaeda juga terjadi di Afganistan, Irak, Yaman, dan Pakistan. Sulit untuk memastikan klaim itu karena klaim tersebut tidak mudah diklarifikasi.

Terlepas dari semua perkiraan tersebut, serangan bom di Beirut itu memberikan gambaran yang jelas bahwa Lebanon, sebagai negara tetangga Suriah, sudah terimbas perang saudara yang pecah sejak 2011. Perang saudara yang menjadi ajang persaingan sejumlah negara, atau sering pula disebut perang di Suriah sudah menjadi proxy war, antara Arab Saudi dan Iran.

Tentu perkembangan itu sangat memprihatinkan. Hal itu mengingat Lebanon begitu lama dibelit perang saudara, 1975-1990. Kita tidak berharap bahwa Lebanon akan sekali lagi diseret dalam perang saudara seperti masa lalu karena persaingan kekuatan dari luar Lebanon.

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003274987
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger