Cari Blog Ini

Bidvertiser

Kamis, 05 Agustus 2021

Ancaman Perpecahan karena Bias Teknologi Kecerdasan Buatan (ANDREAS MARYOTO)


Andreas Maryoto, wartawan senior Kompas

Teknologi digital bukanlah segala-galanya. Suatu ketika untuk uji coba pengamanan kerumunan, otoritas di Amerika Serikat menggunakan teknologi pengenalan muka. Acara yang dijadikan uji coba adalah pertandingan olahraga. Ketika acara mulai berlangsung, alat ini bekerja mencari orang yang berpotensi membuat kerusuhan. Hasil dari alat berbasis teknologi kecerdasan buatan ternyata membuat marah publik.

Mereka yang tertangkap melalui fasilitas pengenalan muka sebagian besar berkulit hitam. Kemarahan makin meninggi karena sebagian di antara mereka tidak memiliki catatan kriminal. Dari kejadian ini kemudian muncul kritik terhadap bias yang muncul dari teknologi kecerdasan buatan. Teknologi ternyata masih bekerja berdasarkan asumsi dan kecenderungan berpikir kelompok tertentu. Teknologi tidak murni tetapi bisa "dicampuri" oleh pikiran dan opini orang yang membuatnya.

Di Indonesia, bias sejenis bisa muncul dalam pengembangan algoritma dan teknologi kecerdasan buatan. Sebagian besar orang tidak menyadari bahwa masalah besar muncul karena bias-bias yang ada di teknologi. Bias berpotensi di teknologi mesin pencari, industri keuangan, industri media, transportasi daring, pengantaran makanan, dan lain-lain. Kita kerap tidak menyadari bahwa bias itu disusun dari orang yang mempunyai kepentingan tertentu dan kemudian digunakan oleh perusahaan teknologi.

Kita bisa mulai dengan melihat kecenderungan di mesin pencari. Coba kita ketik nama orang Indonesia di mesin pencari. Sebagian besar akan diikuti oleh kata "agama". Sebegitu pentingnya agama sehingga pencarian tokoh tertentu selalu diikuti oleh agama orang itu. Data pencarian seperti ini tersimpan di penyedia layanan mesin pencari. Teknologi bekerja berdasarkan kata-kata yang dicari oleh orang. Begitu saja.

Masalah muncul ketika media menggunakan data itu. Si penulis mengetahui kata-kata yang dicari audiens. Mereka dengan sadar menggunakan informasi nama tokoh dan agamanya di dalam tulisan. Bahkan, salah satu portal informasi menjadikan nama tokoh dan agamanya sebagai judul. Mereka menggunakan metode optimasi mesin pencari yang harapannya akan muncul di bagian atas ketika seseorang mencari informasi tentang tokoh tersebut.

TANGKAPAN LAYAR GOOGLE

Tangkapan layar di laman pencarian Google dengan nama Apriyani, Rabu (4/8/2021) malam.

Informasi ini sangat mungkin digunakan oleh politisi saat berkampanye dan meraih suara dari publik. Mereka akan mengeksploitasi isu agama karena tahu bahwa informasi tentang agama seseorang dicari. Mereka juga akan menggunakan simbol-simbol agama karena keagamaan seseorang penting untuk memenangkan hati audiens berdasarkan informasi dari mesin pencari.

Di industri keuangan, penetapan kelayakan kredit seseorang menggunakan teknologi yang memungkinkan mengeruk informasi dari mana pun. Orang bisa diprofil kelayakan kreditnya dengan menggunakan teknologi berdasarkan data yang berserakan. Cara ini sangat mudah, cepat, dan murah dibandingkan mengandalkan kemampuan analis dan data yang minim. Namun, masalah bisa muncul karena data itu akan mudah didapat oleh mereka yang aktif di media sosial, sering muncul di laman internet, dan tentu memiliki akses internet yang baik.

Kondisi ini memunculkan bias. Mereka yang berada di kota, memiliki akses internet lebih baik, dan aktif berinternet serta memiliki relasi yang lebih luas (karena teknologi itu akan melihat nomor kontak telepon pintar) akan mendapatkan penilaian kelayakan kredit yang besar.

Sebaliknya, mereka yang di wilayah perdesaan dan memiliki akses yang minim akan mendapat peringkat kelayakan yang lebih rendah. Keadaan itu terjadi karena informasi tentang mereka minim di media sosial, laman internet, dan platform lain. Di Indonesia, misalnya, masalah akan makin membesar karena akses internet di luar Jawa lebih sulit dan lebih mahal dibandingkan di Pulau Jawa. Isu keadilan bisa mencuat di tengah masalah seperti ini.

Industri media yang kerap menggunakan metode optimasi mesin pencari mudah terjebak di dalam bias algoritma. Orang yang diketahui banyak mengakses konten seks dengan mudah diketahui kata-kata yang terkait dengan pencarian itu. Tidak mengherankan bila beberapa media menggunakan kata-kata yang terkait dengan seks.

AFP PHOTO / FRED DUFOUR

Teknologi pengenalan wajah untuk penegak hukum diperlihatkan dalam NVIDIA GPU Technology Conference di Washington, Amerika Serikat, 1 November 2017.

Di samping itu, perseteruan politik di Indonesia menghasilkan kata-kata yang menjadi perbincangan di berbagai platform. Mereka yang bergerak di bidang politik ataupun media yang berkepentingan mendapatkan perhatian dari audiens akan menggunakan istilah atau kata tertentu. Bahkan, mereka akan menggunakan kata-kata yang memecah belah demi mendapatkan perhatian dari audiens. Pengelola media kadang mendapat tekanan: kalau tidak menggunakannya, maka kompetitor akan menggunakannya.

Perpecahan

Persoalan bias dalam teknologi telah diamati oleh para ahli. Sejumlah pakar di dalam artikel Harvard Business Review bertanggal 25 Oktober 2019 menyebutkan, bias dapat menyusup ke dalam algoritma dalam beberapa cara. Sistem kecerdasan buatan (AI) belajar membuat keputusan berdasarkan set data yang dilatih, yang dapat mencakup keputusan manusia yang bias atau mencerminkan ketidaksetaraan historis atau sosial. Bahkan jika variabel sensitif seperti jender, ras, atau orientasi seksual dihilangkan, bias tetap muncul.

Amazon berhenti menggunakan algoritma perekrutan setelah menemukan pelamar yang disukai ternyata banyak menggunakan kata-kata seperti "executed" atau "captured" yang lebih umum ditemukan di riwayat hidup (CV) pria. Sumber bias lainnya adalah pengambilan sampel data yang cacat di mana kelompok tertentu terlalu terwakili atau malah kelompok lainnya kurang terwakili dalam set data yang telah dilatih.

Joy Buolamwini dari MIT yang bekerja dengan Timnit Gebru menemukan bahwa teknologi analisis wajah memiliki tingkat kesalahan yang lebih tinggi untuk minoritas dan khususnya wanita minoritas karena set data yang dilatih tidak representatif.

AFP/STEPHEN MATUREN

Protes atas kematian George Floyd juga membuat gerakan Black Lives Matter, yang lahir beberapa tahun lalu, kembali bergema dan membuatnya menjadi gerakan global untuk melawan diskriminasi dan kekerasan terhadap warga kulit hitam.

Melihat kemungkinan bias-bias yang terjadi di Indonesia, maka teknologi digital berpotensi melanggengkan perpecahan yang tengah terjadi. Para pengelola mungkin kurang menyadari masalah ini. Mereka bekerja sesuai dengan input dari mesin. Kemudian mereka membuat layanan berdasarkan input dari data yang didapat. Semua berjalan seolah baik-baik saja. Bahkan, beberapa masih terlena dengan kehebatan teknologi. Mereka masih mengagung-agungkan teknologi digital.

Di beberapa negara, otoritas mulai memperhatikan potensi masalah yang muncul. Mereka mulai menangani berbagai potensi kerusakan yang berasal dari kesalahan pengembangan algoritma dari platform digital. Beberapa di antaranya mulai mengawasi pengembangan algoritma agar tidak membuat kerusakan baru dan merugikan publik. Oleh karena itu, pengawasan terhadap pengembangan algoritma menjadi penting di samping soal perlindungan data pribadi yang tengah dibahas DPR.

Mesin pencari telah melakukan beberapa upaya, tetapi langkah ini masih bersifat umum bahkan mungkin bias norma barat. Semisal pencarian beberapa istilah pornografi tidak akan didukung dengan pilihan pencarian kata-kata terkait. Pengguna tidak akan mengetahui kata-kata pornografi yang banyak dicari atau setidaknya platform menekan pencarian bernada pornografi. Kita masih membutuhkan pencegahan pencarian yang bersifat lokal atau khas Indonesia yang bisa memiliki implikasi lebih jauh, semisal implikasi politik.

Dalam kasus pencarian "nama tokoh+agamanya", beberapa pihak bisa melakukan mitigasi. Platform mungkin bisa menghilangkan pilihan pencarian tentang hal itu. Penayangan kedua hal itu berpotensi melanggengkan problem SARA dan juga memantik isu SARA baru. Kebencian bisa muncul karena orang terpicu untuk mengetahui agama seorang tokoh, sekalipun pada mulanya mereka hanya ingin mendapat informasi tentang tokoh itu. Mereka juga terdorong untuk berkomentar SARA dan memanfaatkan isu tersebut.

Media juga bisa melakukan mitigasi dengan tidak menggunakan isu agama baik di dalam berita maupun di dalam judul berita. Sekalipun mungkin menarik audiens, mereka perlu menghindari istilah-istilah yang bisa memecah belah bangsa. Mereka sebaiknya menghindari istilah-istilah yang menimbulkan kerusakan sekalipun tidak menarik audiens.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Selain untuk mempercantik dinding di tepi jalan, mural juga menjadi media sejumlah kalangan untuk menyampaikan pesan-pesan keindonesiaan, seperti menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Hal itu salah satunya ditemui di dinding pembatas antara Tol Cijago dan Jalan Juanda, Kota Depok, Jawa Barat, Jumat (23/7/2021).

Pemerintah bisa mengusulkan kepada platform untuk menghilangkan kata atau kalimat pencarian yang berpotensi memunculkan perpecahan. Pemerintah bisa mengeksplorasi lebih jauh tentang fenomena keterbelahan dan kemudian meminta pengelola platform untuk ikut menekan potensi perpecahan. Sejumlah kata yang berpotensi untuk memecah belah bisa dihilangkan dari daftar pencarian otomatis di mesin pencari.

Di dalam kasus teknologi penilaian kelayakan kredit, pemerintah perlu memastikan bahwa algoritma yang digunakan tidak bias akses, keadaan ekonomi, relasi, dan lain-lain. Di samping itu, pemerintah juga bisa mengurangi tekanan terhadap isu ketidakadilan dengan memperhatikan layanan akses internet di luar Jawa. Persoalan perbedaan harga perlu segera diselesaikan agar semua bisa mendapat akses dengan harga yang sama.

Industri media juga perlu menahan diri untuk menggunakan strategi optimasi mesin pencari secara membabi buta ketika ditemukan bahwa cara itu berpotensi memecah belah. Mereka perlu memikirkan bahwa penggunaan kata-kata tertentu bisa memperparah keadaan. Di tengah iklim politik yang makin mengarah pada perpecahan, maka industri media harus rela untuk tidak mengejar peluang viral. Nasib bangsa juga ditentukan oleh mereka 


Sumber: Kompas.id - 5 Juli 2021


Rabu, 28 Juli 2021

Daya Lenting Bangsa Diuji (Redaksi Kompas)


KOMPAS/AGNE SWETTA PANDIA

Warga Kota Surabaya, Jawa Timur, menikmati suasana lalu lintas yang tidak ramai pada masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, Minggu (25/7/2021) dengan bersepeda di Jalan Ir Soekarno (MERR). Jalan tersebut berada di wilayah Gunung Anyar yang berbatasan dengan Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.

Gelombang kedua Covid-19  yang kita hadapi saat ini ditandai dengan adanya lonjakan kasus harian hingga empat kali lipat dari kasus harian tertinggi pada gelombang pertama. Kendati kini kurva sudah mulai menurun, penurunan tersebut belum signifikan.

Kasus harian tertinggi pada gelombang pertama tercatat pada 30 Januari 2021, yaitu 14.518 kasus. Pada gelombang kedua, kasus harian melonjak hingga 56.775 kasus di 15 Juli 2021. Kemarin, kasus harian sudah mulai menurun, yaitu 38.679 kasus, tetapi masih jauh di atas gelombang pertama.

Situasi serupa juga terjadi di India. Gelombang tertinggi pertama terjadi pada 17 September 2020, yaitu 97.894 kasus per hari. Gelombang tertinggi kedua pada 7 Mei 2021 tercatat 414.188 kasus per hari. Kenaikannya pun 4,2 kali lipat. Namun, kasus harian di India telah jauh menurun dari gelombang pertama. India membutuhkan waktu 32 hari untuk menekan jumlah kasus harian hingga ke posisi gelombang pertama. Pada 24 Juli, jumlah kasus harian semakin kecil,  40.284 kasus.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Aktivitas pengambilan gambar pranikah di jalan Tanjung Karang, Jakarta Pusat, pada hari terakhir perpanjangan PPKM darurat atau PPKM level 4, Minggu (25/7/2021). PPKM level 4 bertujuan untuk membatasi pergerakan masyarakat guna mengatasi penularan Covid-19.

Kita tentu berharap dengan kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang konsisten serta dibarengi kedisiplinan seluruh warga. Maka, pada 17 Agustus mendatang, saat merayakan kemerdekaan, kita pun bisa menggapai penurunan signifikan. Kasus konfirmasi positif di Indonesia sudah berada di bawah posisi gelombang pertama dan terus mengecil.

Semoga, ini menjadi pertanda dari mulai melandainya kurva kematian.

Penurunan serupa juga harus terjadi pada angka kematian. Di India, angka kematian pada gelombang kedua naik 3,9 kali lipat dari gelombang pertama. Pada gelombang kedua, angka kematian tertinggi terdata 5.015 kasus per hari pada 23 Mei 2021. Dalam waktu 34 hari, angka kematian berhasil ditekan ke posisi gelombang pertama, yaitu 1.287 kasus.

Pada gelombang pertama di Indonesia, angka kematian per hari tertinggi tercatat 476 kasus pada 28 Januari lalu. Pada gelombang kedua, kasus kematian per hari, naik  3,3 kali lipat, hingga mencapai 1.566 kasus. Kemarin, 25 Juli 2021, angka kematian mulai menurun menjadi 1.266 kasus. Semoga, ini menjadi pertanda dari mulai melandainya kurva kematian.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Warga antre melakukan verifikasi data saat akan mencairkan bantuan sosial tunai (BST) di Kelurahan Peninggilan, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Banten, Sabtu (24/7/2021). Hari itu, sebanyak 1.562 warga Kelurahan Peninggilan diundang untuk mencairkan dana BST sebesar Rp 300.000. Pemerintah daerah di Jabodetabek menyalurkan BST mulai awal pekan ini.

Kebijakan PPKM darurat yang dilakukan mulai tanggal 3 Juli telah terbukti berhasil menekan mobilitas penduduk. Hal itu terlihat dari data indeks  mobilitas Google. Per tanggal 21-25 Juli, PPKM level 4 pun diterapkan dan mulai berbuah pada penurunan angka kasus. Karena itu, perpanjangan seminggu ke depan harus terus diefektifkan.

Menghadapi kondisi yang tidak mudah ini, daya lenting bangsa dan kita semua diperlukan. Pada satu sisi harus memiliki kemampuan untuk menahan dampak tekanan, pada sisi lain punya kemampuan memulihkan diri. Indonesia sebagai bangsa pejuang, dan dikenal bersemangat solidaritas yang tinggi, memiliki modal untuk menghadapinya.

"Dua pejuang yang paling berkuasa adalah kesabaran dan waktu," kata Leo Tolstoy. 


Sumber: Kompas.id - 26 Juli 2021


Sabtu, 24 Juli 2021

TAJUK RENCANA: Refleksi Setelah Bezos Mengangkasa (Redaksi Kompas)


JOE RAEDLE/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/GETTY IMAGES

Kru kapssul New Shepard Blue Origin (kiri-kanan) Wally Funk dan Jeff Bezos berjalan bersama setelah terbang ke antariksa dengan roket, Selasa (20/7/2021), di Van Horn, Texas, Amerika Serikat.

Sembilan hari setelah miliarder Richard Branson mengangkasa dengan Virgin SpaceShip Unity, giliran miliarder lain, yakni Jeff Bezos, Selasa (20/7/2021).

Pendiri Amazon.com itu sukses terbang ke ruang angkasa, menguatkan keterjangkauan antariksa bagi warga "kebanyakan". Kebanyakan yang dimaksud baru terbatas pada kriteria kemampuan fisik dan jiwa yang berbeda dengan antariksawan generasi awal tahun 1960-an yang umumnya berasal dari pilot pesawat tempur. Dalam kapsul Blue Origin yang ditumpangi Bezos, ada saudaranya, Mark; perempuan pilot Wally Funk (82); serta remaja lulusan SMA, Oliver Daemen (18).

Selebihnya wisata angkasa—setidaknya saat ini—masih terbatas bagi kalangan eksklusif. Ongkos sekali terbang 28 juta dollar AS atau sekitar Rp 392 miliar (Kompas, 21/7/2021).

Diproyeksikan dengan situasi dan kondisi Tanah Air, penerbangan Branson dan Bezos bisa menjadi satu paradoks superironis. Seseorang mengeluarkan dana Rp 392 miliar untuk wisata berdurasi sekitar 10 menit, betapa pun spektakuler destinasinya. Pada saat yang sama, di negara kita, tak sedikit warga yang harus bergulat untuk mendapatkan 2 dollar AS atau sekitar Rp 30.000 setiap hari demi menyambung hidup.

JOE RAEDLE/GETTY IMAGES/AFP

Kru New Shepard Blue Origin (kiri ke kanan) Oliver Daemen, Jeff Bezos, Wally Funk, dan Mark Bezos berpose bersama setelah terbang ke antariksa, Selasa (20/7/2021), di Van Horn, Texas, Amerika Serikat.

Ironi lebih terasa jika kita kontraskan aktivitas turisme angkasa dengan kondisi penanggulangan pandemi yang masih tersuruk di negara kita, yang oleh media asing justru disebut sebagai episenter Covid-19. Semoga kita bisa menyikapi kontras ini dengan arif.

Kemajuan memang diperuntukkan bagi mereka yang punya visi jauh ke depan, bekerja keras untuk mencapai tujuan masa depan, dan mengatasi berbagai remeh-temeh perpolitikan. Tentu kita masygul, menjelang 76 tahun merdeka, masih terus berkubang dalam masalah kebutuhan dasar, permasalahan dasar pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.

Sosok Richard Branson dan Jeff Bezos bukan saja membuka jalan bagi manusia untuk melanglang ke antariksa, melainkan tak berhenti di situ. Dalam visi mereka, ikhtiar itu ditujukan untuk menyehatkan Bumi dengan pindah aktivitas ke ruang angkasa. Membuka koloni baru jika Bumi tak layak huni lagi.

JOE RAEDLE/GETTY IMAGES/AFP

Lauren Sanchez menyimak konferensi pers ketika kekasihnya, Jeff Bezos, berbicara tentang penerbangannya ke antariksa dengan kapsul New Shepard, Selasa (20/7/2021), di Van Horn, Texas, Amerika Serikat.

Dengan keberhasilan menerobos antariksa, yang disebut sebagai "perbatasan terakhir" (the last frontier), mereka sudah berinvestasi banyak untuk riset keantariksaan, membuat roket peluncur yang andal, menguasai teknis penerbangan antariksa berawak, meluncurkan manusia ke ruang angkasa dan membawanya kembali ke Bumi dengan aman, serta tentu punya pikiran untuk menambang berbagai industri kompetitif lain. Ada sejumlah material unggul, misalnya untuk farmasi, yang bisa dibuat murni jika diramu di kondisi tanpa gravitasi.

Ketinggalan satu-dua abad ini yang harus menjadi kerisauan kita. Apa boleh buat, sekarang kita sedang mengerahkan segenap akal budi untuk menanggulangi pandemi Covid-19. Ketika seusai pandemi, kita jangan abai terhadap berbagai pekerjaan rumah di pundak jika ingin menjadi bangsa yang besar seperti jargon yang sering kita kumandangkan 

Sumber: Kompas.id - 22 Juli 2021



Kamis, 22 Juli 2021

PENANGANAN PANDEMI: Turbulensi Kehidupan (YASRAF A PILIANG)


DIDIE SW

Didie SW

Hari-hari terakhir ini lukisan kehidupan anak bangsa amat memprihatinkan, mencekam, bahkan menakutkan. Hampir setiap kali kita membuka postingan pesan Facebook, WAG atau Twitter, berderet panjang berita tentang teman, adik, kakak, ibu, ayah atau sanak saudara lainnya yang terinfeksi Covid-19, dirawat di rumah sakit, diisolasi mandiri, dijemput ambulans, sekarat di tempat tidur, hingga mengembuskan napas terakhir.

Juga, berita-berita media tentang rumah sakit-rumah sakit yang kewalahan menampung pasien, kelangkaan tabung oksigen, jalan-jalan yang ditutup, antrean di pemakaman—semuanya adalah lukisan muram anak bangsa yang tengah berjuang keras untuk hidup.

Semua ini tidak hanya tentang aroma ketakutan, kesedihan dan derai air mata, tetapi juga tentang lorong ketakpastian hidup. Anak bangsa ini ada di lorong panjang ketakpastian itu: antara terinfeksi atau imun, sehat atau sakit, negatif atau positif, pulih atau meninggal, tetap di rumah atau bepergian, dapat makan atau kelaparan, terus bekerja atau diberhentikan.

Pasung ketidakpastian ini menelikung segenap lapisan masyarakat, setiap kelas sosial, semua kelompok gaya hidup, seluruh suku dan segala ras—tidak ada yang tersisa. Inilah titik ambang batas (threshold) dalam dunia kehidupan, yang menyisakan kebimbangan dan kegamangan hidup—the turbulence of lifeworld.

Dalam segala keterbatasan, manusia tentu berupaya melepaskan diri dari telikung ketakpastian ini. Misalnya, upaya pemerintah memberlakukan aturan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat mulai tanggal 3 Juli lalu di beberapa wilayah.

Meskipun belum maksimal, setidaknya ada efek perubahan gerak-gerik masyarakat—individu, kelompok, komunitas—ke arah kepatuhan terhadap protokol kesehatan.

Meningkatnya penjualan beberapa jenis vitamin dan suplemen setidaknya juga menjadi indikator bahwa masyarakat berusaha meningkatkan imunitas tubuh mereka. Artinya, dalam telikung ketidakpastian, gerakan "perang melawan virus" itu tetap hidup!

Efek kepanikan dari turbulensi ini telah mengancam ketahanan fisik, sosial, ekonomi dan budaya.

Turbulensi sosial

Pandemi Covid-19—khususnya varian baru Delta—layaknya hantaman tsunami, telah menimbulkan kekacauan, ketakpastian dan turbulensi dalam kehidupan sosial. Efek kepanikan dari turbulensi ini telah mengancam ketahanan fisik, sosial, ekonomi dan budaya.

Turbulensi secara filosofis adalah keadaan antara atau mengambang: antara keberaturan dan kekacauan, antara kepenuhan dan kehampaan, antara determinisme dan indeterminisme, antara ada dan tiada, antara yang dapat diprediksi dan tak-dapat diprediksi, antara integrasi dan disintegrasi, antara kesatuan dan keterpecahan, antara sehat dan sakit, atau antara hidup dan mati. (Serres, 1998)

Turbulensi lahir karena ada pengganggu atau recok (noise), seperti virus atau parasit. Dan, Covid-19 adalah sang pengganggu itu, yang merecoki kehidupan anak bangsa.

Virus dan parasit sama-sama pembonceng, perecok, pembajak dan penumpang gelap pada tubuh manusia sebagai inang, yang dapat menimbulkan efek kerusakan multi-dimensi. Ada hubungan asimetris antara parasit dan inang. Inang memberi semuanya, dan tak mengambil apapun.

Sebaliknya, parasit mengambil semuanya dan tidak memberi apapun. (Serres, 1995). Pandemi Covid-19 menimbulkan turbulensi kehidupan karena ia merecoki kehidupan biologis, sosial, ekonomi, politik dan kultural anak bangsa, bahkan merusak peradaban—the noise of civilization.

DIDIE SRI WIDIYANTO

Didie SW

Turbulensi menciptakan ambang batas bersifat multidimensi: fisik, sosial, psikis dan kultural. Ambang batas adalah sesuatu yang mengambang atau terombang-ambing pada garis batas. (Kristeva, 1991). Pandemi Covid-19 telah menciptakan titik ambang batas fisik: antara imun dan terinfeksi, antara sehat dan sakit, antara hidup dan mati.

Ia juga menciptakan kondisi ambang batas psikis: antara aman dan terancam, antara tenang dan takut, antara lepas dan terkungkung. Ia juga menciptakan ambang batas sosial: antara berkumpul dan berjarak, antara kebebasan dan isolasi, antara integrasi dan disintegrasi. Kondisi ambang batas ini telah memperkelam lorong ketakpastian.

Covid-19 telah menimbulkan kekacauan, keacakan dan ketakpastian dalam aneka skala. Ketakpastian lalu membawa pada kondisi ketakter-prediksi-an maksimum pada aneka sistem, karena tingginya jumlah pilihan-pilihan dan sifatnya yang acak: sosial, ekonomi, politik, budaya, seni. (Campbell, 1984).

Tetapi, harus diingat, recok sudah setua sejarah penciptaan manusia, yang sudah ada sejak awal kejadian manusia di bumi. Iblis yang merayu Adam dan Hawa agar memakan buah kuldi adalah satu bentuk recok pertama. Recok kemudian menjadi "panggung belakang" dari seluruh sejarah kehidupan manusia hingga kini dan juga seterusnya nanti. (Serres, 1998).

Selain itu, pandemi Covid-19, layak pula menjadi sebuah bahan refleksi diri tentang makna kehidupan. Beban derita dan ketakutan yang dialami manusia akibat pandemi Covid-19 memang tidak terlukiskan. Akan tetapi, dalam kondisi normal, bukankah manusia itu juga virus dan parasit?

Covid-19 telah menimbulkan kekacauan, keacakan dan ketakpastian dalam aneka skala.

Meniru perilaku virus, manusia juga pembonceng dan recok bagi manusia lain serta alam. Manusia menguras sumberdaya alam demi pemuasan hasrat, tanpa pernah memberi apapun sebagai imbalan. Manusia juga "mempermudah" pandemi Covid 19, karena virus "membonceng" pada kemudahan yang disediakan teknologi produksi, transportasi, dan distribusi global ciptaan manusia.

Meskipun demikian, "perang melawan virus" toh harus tetap digelar demi mempertahankan hidup. "Bio-politik" adalah jalan politik untuk mempertahankan hidup dalam sebuah sistem dan kondisi yang ada. Sementara, bio-power adalah "hidup yang menjadi sasaran komando politik," (Foucault, 1986).

Anak bangsa kini terlibat di kedua bentuk "politik" ini. Di satu pihak, setiap orang harus mempertahankan hidup dalam ancaman hebat pandemi, dengan segala cara. Di pihak lain, pemerintah menggunakan otoritasnya untuk mengatur, mengendalikan dan membatasi masyarakat, demi mengurangi dampak pandemi Covid-19.

Konflik terjadi, ketika ada jurang antara bio-politik dan bio-power, yaitu kontradiksi antara gerak-gerik masyarakat dalam mempertahankan hidup dan gerak gerik pemerintah dalam mengatur. Kian besar jurang antara gerak-gerik masyarakat dan pengaturan pemerintah, kian besar efek turbulensi dan ketakpastian yang ditimbulkan dalam perang melawan virus, seperti yang terjadi di beberapa negara.

Sebaliknya, kian melekat chemistry antara suasana batin masyarakat dan langkah kebijakan, program dan gerak-gerik pemerintah, kian tangguh mesin perang anak bangsa melawan virus.

DIDIE SW

Didie SW

Resiliensi budaya

Seberat apapun beban kehidupan, respons melawan virus harus diberikan, untuk tetap bertahan hidup. Resiliensi adalah respons kognitif, perilaku dan emosi yang fleksibel terhadap aneka kesulitan, yang sangat ditentukan oleh sikap dalam menghadapinya.

Ia adalah jalan untuk membangun kebertahanan dan bangkit dari kesulitan bersifat disruptif, seperti pandemi Covid-19. (Neenan, 2018).

Aneka cara, metode, dan teknik telah dilakukan oleh berbagai elemen bangsa untuk meningkatkan kebertahanan menghadapi efek pandemi. Proses pemulihan mungkin akan panjang, yang akan menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru. (Fiksel, 2015)

Akan tetapi, resiliensi harus didukung oleh pemahaman komprehensif, terintegrasi dan mendalam tentang virus dengan segala dimensinya. Selain sudut pandang virologi, virus harus dilihat dari sudut pandang lebih luas dan terintegrasi: sosial, politik, ekonomi, budaya, seni dan keagamaan.

Patografi adalah pendekatan lintas-disiplin macam ini, sebagai ramuan narasi historis, biologis, sosial, politik, ekonomi dan kultural penyakit dan penularannya. Inilah metanarasi tentang krisis atau penyakit di ruang-waktu tertentu, termasuk pandemi Covid-19 dan aneka variannya. (MacPhail, 2014)

Dalam perang melawan Covid-19, selain lintas-disiplin, diperlukan pula pendekatan lintas-sektoral dan lintas-institusional. Pada tingkat akademis, perlu dihasilkan pemikiran, konsep, sistem, bentuk atau produk-produk terkait virus melalui aneka temuan ilmiah lintas-disiplin, yang melibatkan aneka disiplin kedokteran, virologi, sains, teknologi, sosiologi, ekonomi, psikologi, kebudayaan, seni, dan lain-lain.

Pada tingkat kepemerintahan, perlu kebijakan, program dan tindakan lintas-sektoral dan lintas-institusional terintegrasi. Pada tingkat masyarakat, perlu gerakan akar rumput tingkat individu, komunal dan sosial dalam semangat "gotong royong" mengatasi masalah bersama, melampaui segala perbedaan sosial-politik.

Selain itu, perlu optimalisasi dan integrasi atas tiga upaya yang tengah dilakukan. Pertama, memaksimalkan kepatuhan terhadap prosedur kesehatan yang sudah digariskan secara nasional. Kedua, memaksimalkan imunitas diri sesuai dengan kemampuan, dan bila memungkinkan menemukan gagasan-gagasan inovatif terkait kebertahanan dan imunitas.

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ

Yasraf A Piliang

Ketiga, intensifikasi pendekatan diri kepada Tuhan melalui doa, karena agama mengajarkan bahwa segala penyakit pasti ada obatnya. Memang, virus tak bisa dibasmi karena ia bagian historis keseimbangan alam. Tetapi, ia harus dilawan untuk meredam guncangan turbulensi dan efek merusaknya pada kehidupan. Semoga anak bangsa diberi kekuatan, imunitas dan kesehatan.

Yasraf A Piliang Pemikir sosial dan kebudayaan ITB 

Sumber: Kompas.id - 22 Juli 2021


Rabu, 21 Juli 2021

KETAHANAN KELUARGA: Keluarga Benteng Pertahanan Utama Melawan Korona (MARGARETHA ARI ANGGOROWATI)


KOMPAS/SUPRIYANTO

Supriyanto

Kluster keluarga telah menjadi penyumbang besar dalam penyebaran kasus Covid-19. Dikatakan kluster keluarga dapat menularkan 10 kali lebih tinggi dari kluster lainnya. Pada bulan Januari 2021, 40,1 persen penyebaran Covid-19 di DKI Jakarta disebabkan oleh kluster keluarga. Jika seharusnya keluarga menjadi tempat yang paling aman bagi seseorang maka pada penyebaran virus Covid-19 justru sebaliknya keluarga menjadi wilayah paling berbahaya dalam penularan Covid-19.

Kluster keluarga terjadi ketika anggota keluarga tertular virus Covid-19 saat berada di rumah. Hal ini dapat terjadi karena salah satu anggota keluarga terpapar virus Covid-19 kemudian ia akan menularkan kepada anggota yang lain.

Penularan di dalam keluarga menjadi sangat mudah karena di dalam keluarga sulit untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes) setiap saat. Hal ini menjadi lebih cepat terjadi karena sebagian besar keluarga diam di rumah di saat dilakukan pembatasan mobilitas masyarakat, namun di sisi lain masih ada anggota keluarga yang melakukan aktifitas di luar rumah dan berpeluang terpapar virus Covid-19. Saat di dalam rumah, terjadi interaksi antar anggota keluarga secara dekat dan peluang penularan terjadi.

Penularan di dalam keluarga menjadi sangat mudah karena di dalam keluarga sulit untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes) setiap saat.

Benteng pertahanan 

Melakukan isolasi permasalahan penularan virus Covid-19 dan pencermatan khusus penanganan penularan dalam kluster keluarga menjadi penting untuk dilakukan. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Keluarga menjadi salah satu pusat kekuatan sebuah populasi dan memiliki potensi dalam peningkatan kesejahteraan.

Secara fisik memang keluarga menjadi demikian rawan terhadap penyebaran Covid-19, tetapi dengan "kecerdasan dan komitmen kuat" keluarga maka gempuran virus Covid-19 akan dapat ditahan dalam sebuah benteng pertahanan keluarga. Jika saat ini keluarga menjadi lubang hitam penyebaran Covid-19 maka di sisi lain justru keluarga juga menjadi peluang benteng kekuatan kita untuk melawan penyebaran virus Covid-19.

Menjaga kesehatan keluarga menjadi hal utama dalam memutus rantai penyebaran virus. Vaksin akan membantu bagaimana setiap individu dalam keluarga menjadi lebih kuat terhadap serangan virus Covid-19, tetapi hal utama yang turut menentukan adalah perilaku setiap individu untuk lebih taat dalam menjaga kesehatan.

Komitmen untuk menjaga prokes di dalam dan di luar rumah dan mematuhi seluruh aturan pemerintah harus menjadi bagian dari kesepakatan di dalam keluarga. Komitmen di dalam keluarga diharapkan akan lebih mudah dibangun jika dibandingkan dengan berbagai himbauan dari luar baik pemeritah maupun masyarakat.

Kesadaran untuk melindungi sesama anggota keluarga diharapkan dapat menumbuhkan motivasi setiap orang untuk ketat menjaga prokes di mana pun berada. Jika ada salah satu keluarga terpapar virus Covid-19 diharapkan keluarga menjadi pihak pertama yang mengawal dan terus membantu seseorang melewati masa-masa perjuangan untuk pulih sesuai protokol dan aturan yang ada.

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Warga yang terkonfirmasi Covid-19 menunggu bus sekolah uuntuk menjalani perawatan di RT 03 RW 03 Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Jumat (21/5/2021). Lebih dari 80 orang di RT tersebut terkonfirmasi Covid-19.

Menopang keluarga

Penanganan terhadap tiap individu dalam masa penyebaran virus Covid-19 secara langsung oleh pemerintah akan sangat memberatkan. Upay luar biasa oleh pemerintah sudah dilakukan dengan melakukan pelayanan kesehatan yang maksimal, vaksin, dan lain-lain. TNI/Polri dikerahkan untuk membantu melakukan layanan kesehatan, pemberian vaksin, menjaga keamanan pelaksanaan pada masa pembatasan dan sebagainya.

Peran pemerintah seharusnya dapat dilakukan untuk menjaga utamanya pada level keluarga. Setiap keluarga kemudian menjaga seluruh anggota keluarganya. Peran-peran dalam keluarga harus dioptimalkan. Hanya pada keluarga-keluarga tertentu dengan kondisi terbatas pemerintah kemudian turun tangan secara langsung.

Keluarga harus dapat memahami apa saja yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan seluruh keluarga dari penyebaran virus Covid-19. Bagi keluarga terdampak dapat memahami kebutuhannya dan mengkomunikasikan dengan mengakses berbagai layanan yang sudah disediakan pemerintah.

Keluarga harus dapat memahami apa saja yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan seluruh keluarga dari penyebaran virus Covid-19.

Lingkungan terkecil seperti RT dan RW sampai saat ini sudah banyak bergerak untuk membantu warganya. Keterbukaan dan komunikasi setiap keluarga kepada lingkungan setempat menjadi kunci kemampuan tiap keluarga untuk menjadi berdaya. Sampai saat ini mungkin masih banyak keluarga yang tergagap-gagap dalam menghadapi pandemi Covid-19. Mereka tidak tahu harus bagaimana dan harus kemana ketika di keluarga mereka ada yang terkena dampak dari berbagai sisi.

Secara teknis peran pemerintah dalam mendampingi keluarga dapat dibagi sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dari setiap kementerian lembaga. Peran ini kemudian akan berinteraksi ke masyarakat melalui mekanisme perangkat desa yang sudah sampai ke level terkecil yaitu RT. Sebagai contoh BKKBN dimana salah satu tupoksi BKKBN adalah pemberdayaan dan peningkatan peran serta organisasi kemasyarakatan tingkat nasional dalam pembangunan keluarga melalui ketahanan dan kesejahteraan keluarga", dapat ambil bagian secara khusus.

Diperlukan perluasan peran BKKBN untuk membantu memberdayakan keluarga agar menjadi kuat dan tangguh di masa pandemi. Para kader BKKBN di setiap RT dapat membantu untuk melakukan sosialisasi dan penjelasan teknis terkait bagaimana menjaga kesehatan keluarga di wilayahnya masing-masing. Hal ini dapat dengan mudah dilakukan melalui jaringan komunikasi digital. Mereka dapat pula diberi peran untuk mengawasi perilaku masyarakat di lingkungan terdekat.

DOK PEMERINTAH KECAMATAN BOJONG

Pemerintah Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah melakukan sosialisasi terkait pembatasan akses masuk Dusun Duren, Desa Kajenengan kepada warga setempat, Jumat (28/5/2021). Di dusun itu, ada 41 orang yang terpapar Covid-19.

Peran Polri juga dapat diperluas tidak hanya melakukan pengawasan langsung di jalan-jalan dan wilayah-wilayah umum tetapi bisa melakukan hal yang lebih luas misal para Polwan bekerja sama dengan ibu-ibu PKK setempat melakukan koordinasi terkait petunjuk teknis apa saja yang harus dilakukan oleh tiap keluarga agar dapat bertahan dalam empasan virus Covid-19.

Pembinaan terhadap keluarga tidak cukup hanya dilakukan dengan berbagai imbauan dan sosialisasi. Imbauan 5M rasanya tidak cukup lagi. Serangan virus Covid-19 yang semakin ganas menuntut adanya kemampuan dan kesadaran tiap keluarga untuk memproteksi secara kuat keluarganya masing-masing. Apa yang harus dilakukan dana apa yang tidak boleh dilakukan.

Serangan virus Covid-19 yang semakin ganas menuntut adanya kemampuan dan kesadaran tiap keluarga untuk memproteksi secara kuat keluarganya masing-masing.

Pengetahuan ini harus diberikan dalam sebuah petunjuk teknis yang jelas dan secara simultan diawasi pelaksanaannya oleh pihak-pihak yang diberi wewenang. Keluarga tidak sekadar tahu bahwa harus pakai masker dan cuci tangan, tetapi mereka harus bisa mencermati kondisi kesehatan anggota keluarganya masing-masing khususnya jika menunjukkan gejala-gejala ke arah infeksi virus Covid-19.

Setelah mengetahui maka kemudian memahami apa yang harus dilakukan untuk segera memberi dukungan dan bantuan kepada anggota keluarganya. Hal ini menjadi sangat penting agar tidak semua mereka yang bergejala dikirim kepada rumah sakit dan di sisi lain mereka juga dapat menghindari dan mampu memproteksi anggota keluarga lain agar tidak tertular. Jika mereka membantu anggota keluarga tanpa pengetahuan yang cukup maka isolasi mandiri yang dilakukan justru menjadi kluster baru penularan.

Baca juga: Meningkatkan Ketahanan Keluarga

Pemahaman dan kemampuan keluarga dalam menghadapi pandemi Covid-19 harus segera diperkuat. Keluarga menjadi sumber kekuatan utama untuk menghadapi Covid-19. Penguatan keluarga harus dilakukan sekuat mungkin dalam masa distribusi vaksin dilakukan. Menahan kekuatan selama menuju tercapainya kekebalan komunal menjadi titik kritis. Pada titik inilah peluang kerjasama antara pemerintah dan setiap keluarga akan terbuka dalam sebuah proses penyelamatan di masa pandemi.

Sudah saatnya setiap keluarga Indonesia semakin kuat, bertumbuh dan berkembang walau harus dibentuk dengan melewati masa-masa sulit pandemi Covid-19. Meraih berkah dan memaknai setiap pengalaman adalah guru terbaik bagi setiap keluarga untuk terus berjuang. Jangan bebankan semua kepada usaha pemerintah. Setiap keluarga adalah berdaya.

Margaretha Ari AnggorowatiStatistisi Ahli Madya BPS, Dosen Polstat STIS 


Sumber: Kompas.id - 19 Juli 2021


Powered By Blogger