Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 23 Januari 2021

ANUGERAH KEBUDAYAAN 2021: Dari Singkawang hingga Banggai, Berkembang dan Terangkai (AGUS DERMAWAN T)


KOMPAS/RATIH P SUDARSONO

Rumah dinas Payen di Kebun Raya Bogor yang masih terawat hingga kini. Di rumah ini, Raden Saleh kecil tinggal selama dididik pelukis kebun raya tersebut di Bogor. Foto diambil Minggu (7/7/2019).

Dr Bima Arya Sugiarto, Wali Kota Bogor (Jawa Barat), duduk di sebuah kursi di satu sisi landai taman indah di Kebun Raya, Bogor. Di sebelahnya tampak dua anggota stafnya yang siap untuk mengerjakan apa yang diperlukan.

"Ibu dan Bapak Juri yang terhormat. Sekarang saya sedang duduk di tempat yang bersejarah. Karena di sinilah pada akhir Juni 2017 Bapak Presiden Joko Widodo dan mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama beramah tamah sambil minum teh. Momentum besar itu ingin kini saya ulang, sambil bersilang dialog dengan topik Kota Bogor sebagai kota kebudayaan."

Kang Bima, yang dikenal sebagai komunikator ulung, lantas bercerita tentang berbagai program yang telah dan akan dilakukan serta berbagai sukses pembangunan kota dengan basis budaya, yang sudah dilaksanakan. Ia berulang kali membanggakan pembangunan monumen di simpang Tugu Kujang, yang bertuliskan semboyan masyarakat Bogor, "Sahitya Raksa Baraya", yang artinya: Solidaritas untuk saling menjaga, memelihara, dan melindungi sesama warga.

Sebagai wali kota yang bertaut hati dengan seni, ia juga mengungkap niatnya untuk memperluas dan memperindah kompleks makam pelukis Raden Saleh, ikon kota Bogor selama 1,5 abad, yang sampai sekarang terimpit di sebuah kampung di kawasan Bondongan.

"Saya ingin menjawab keinginan para pengamat kebudayaan, yang mengharap kebesaran Raden Saleh tidak dikalahkan oleh Olivia Mariamne, istri Stamford Raffles, yang makamnya terbangun anggun di Kebun Raya," katanya.

KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRA

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat, Jumat (14/2/2014), dimeriahkan dengan pawai 640 tatung. Tatung merupakan orang yang memeragakan kekebalan tubuh dan diarak menggunakan tandu. Atraksi kekebalan tubuh itu untuk mengusir roh-roh jahat di kota.

Tjhai Chui Mie, SH, MH, Wali Kota Singkawang (Kalimantan Barat), tampil di sebuah ruangan yang menghadirkan suasana kontemporer, dengan gemerlap lampu ala interior gedung sinema XXI atau Mega Blizt. Ia sengaja tampil glamor untuk mengimbangi citra kotanya yang bertahan "kuno" dan tradisional dan terkenal sebagai "Negeri Seribu Kelenteng".

Dengan mengenakan ciongsam (busana khas wanita Tionghoa) berwarna merah, ia menjabarkan apa yang ada dalam proposal dan video. Dari ihwal Tidayu (Tionghoa, Dayak, Melayu) yang menjadi suku terbesar di Singkawang, sebutan "Kota Toleran", sampai soal para amoy Singkawang yang dulu acap diboyong dan dinikahi orang-orang Taiwan.

"Kunjungi Singkawang, bumi bertuah, bumi yang membawa hoki. Jangan lupa datang di kala perayaan Cap Go Meh! Jangan lupa mengenyam kue bulan," ujar Tjhai dengan lantang.

Di Banggai (Sulawesi Tengah), Bupati Dr Herwin Yatim, MM, mendaki bukit dan kemudian duduk di sebuah ayunan. Di belakang ayunan tampak pemandangan laut biru yang bukan main indahnya. Di situ ia mengatakan bahwa Luwuk Banggai sangat terkenal dengan keindahan pantainya. Filosofi "pinasa", yang menunaikan semua aspek kehidupan berbasis budaya bersih, menjadikan Banggai sebagai kabupaten yang memesona.

Itulah gambaran sekilas presentasi daring (dalam jaringan) para bupati dan wali kota dalam forum Anugerah Kebudayaan 2021. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang mengundang mereka berpresentasi di Jakarta, tahun ini, berkenaan dengan pandemi Covid-19, mereka cukup "beratraksi" di daerah masing-masing.

LITBANG KOMPAS/ALBERTUS KRISNA PRATAMA

Monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun di Parepare. Monumen yang dibangun tahun 2015 ini terletak di perempatan Jalan Bau Massape dan Jalan Karaeng Burane.

Atas hambatan untuk hadir di Jakarta ini, ada beberapa yang menyesalkan. "Betapa pun, saya sangat ingin hadir di Jakarta," kata Dr H Taufan Pawe, SH, MH, Wali Kota Pare-pare (Sulawesi Selatan), yang menjuluki kotanya sebagai "Negeri Cinta Sejati Habibie Ainun" dan "Kota Industri Tanpa Cerobong Asap". Namun di balik keterbatasan itu muncul hikmah, ia berusaha maksimal menghadirkan secara visual daya tarik daerahnya lewat foto dan video.

Maka Dr Nungki Kusumastuti (penari, bintang film) yang didapuk sebagai Ketua Dewan Juri pun bertutur, "Tahun lalu mereka hanya bisa hadir di Jakarta dengan pakaian tradisional. Kini di daerah masing-masing mereka bisa tampil komplet: dengan pakaian khas, dengan setting lokasi khas, dengan interior yang khas!" Pendapat itu disepakati oleh juri lain: Atal S Depari (Ketua PWI), Prof Dr Ninok Leksono (pendidik, wartawan senior), Yusuf Susilo Hartono (penyair, pelukis, wartawan), dan Agus Dermawan T (penulis kebudayaan dan perjalanan).

Pemenang Anugerah Kebudayaan

Keempat bupati dan wali kota di atas memenangi tropi Anugerah Kebudayaan 2021, kompetisi yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, yang bekerja sama dengan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), dan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi). Selain empat di atas, dewan juri juga memilih enam kepala daerah lain untuk dijunjung sebagai bupati/wali kota paling berbudaya pada setahun ini.

Mereka adalah IB Rai Dharma Wijaya Mantra, SE, MSi. Wali Kota Denpasar (Bali) ini secara sistematis menjadikan kotanya sebagai etalase kebudayaan dan kesenian Bali. Dan mendudukkan kebudayaan Bali sebagai aset utama Orange Economy, atau ekonomi yang berbasis kultural. Ia pun mendirikan gedung Dharma Negara Alaya, yang dikonsepkan sebagai "imperium kreatif".

Dr H Karna Sobahi, MPd, Bupati Majalengka (Jawa Barat) yang terus mengaktualisasi Kawin Batu, Festival Edelweis, Karnaval Rumah Adat Panjalin, tradisi Ceramic Festival, sampai peragaan Jebor (binaraga riang gembira perajin genteng).

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO

Pianis Surabaya, Gabriella Prisca Handoko, memainkan SR1928 The Awakening Concert Grand Piano dalam pembuatan video klip Rapsodia Nusantara dan Kejayaan Nusantara di kompleks Candi Bajang Ratu, Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu (3/10/2020).

H Dedy Yon Supriyono, SE, MM, Wali Kota Tegal (Jawa Tengah), sang pengatur keharusan berbahasa Tegal kepada masyarakatnya pada setiap Kamis. Hj Ika Puspitasari, SE, Wali Kota Mojokerto (Jawa Timur), yang terus menghidupkan kerja budaya Festival Bakar Sate, tarian kuda lumping, pengembangan batik khas, sampai khasiat jamu seperti temulawak, beras kencur dan pahitan, "jamu berbasis budaya" untuk melawan Covid-19. Programnya untuk mendirikan Museum Mojopahit dianggap sebagai hasrat yang spektakuler.

Sementara itu, Semarang (Jawa Tengah), yang diwalikotai Hendrar Pribadi, SE, MM, dengan tertib mempertahankan diri sebagai kota majemuk. Dan tetap mengumandangkan acara dugderan(kombinasi bedug dan petasan). Sebuah tradisi yang dirintis Bupati Prabuningrat pada 1881. Hewan mitologis Warak Endog yang berkepala naga (China), berbadan buraq (Arab), dan berkaki kambing (Jawa) dijadikan sebagai simbol asimilasi budaya.

Kabupaten Sumedang (Jawa Barat), yang dipimpin Bupati Dr H Dhoni Ahmad Munir, ST, MM, tak henti mengembangkan tekatnya untuk jadi tuan rumah Festival Keraton Nusantara 2021. Selain punya tahu sumedang yang maknyus dan legendaris, kota ini juga memiliki perda SPBS (Sumedang Puseur Budaya Sunda). Seleret peraturan daerah yang jadi landasan pelestarian bahasa, manuskrip, adat istiadat, ritus, permainan tradisional, dan sebagainya.

Sebelum sampai ke-10 pilihan itu, berpuluh-puluh kepala daerah mengirimkan proposal dan video mengenai daerahnya masing-masing. Dengan demikian, dewan juri didorong untuk serius membaca ratusan halaman pemaparan yang berkait dengan Indikator Kerja Sasaran (IKS), Indikator Kerya Utama (IKU),  Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pokok-pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD), sampai Strategi Pemajuan Kebudayaan (SPK). Pemaparan literer itu diilustrasi oleh video yang bercerita tentang keindahan dan keunggulan daerah, dengan infografik mendetail.

KOMPAS/MOHAMAD FINAL DAENG

Pemandangan Kota Luwuk, ibu kota Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, 26 Juni 2019.

Lima rekomendasi

Setelah mempelajari dan menilai pemaparan para bupati dan wali kota, dan memilih 10 kepada daerah yang paling berbudaya, dewan juri lantas menawarkan rekomendasi untuk penanganan kebudayaan di daerah.

Pertama: Setiap daerah (kabupaten/kota) perlu memiliki perda (peraturan daerah) yang bisa dipakai sebagai payung hukum, sebagai landasan formal gerak pemajuan kebudayaan berkelanjutan di tingkat lokal. Sekaligus ujung tombak pemajuan kebudayaan nasional.

Kedua: Di era kesejagatan nyata maupun maya, semua daerah perlu memiliki strategi jitu dalam pewarisan dan pemasyarakatan aspek-aspek kebudayaan lokal kepada generasi milenial agar kebudayaan lokal (sebagai bagian dari kebudayaan nasional) di daerah terus berkelanjutan.

Ketiga: Selain pengalokasian anggaran yang memadai, daerah perlu meningkatkan sumber daya manusia kebudayaan, infrastruktur nyata maupun maya, program-program yang bermutu, jejaring nasional, hingga internasional agar kebudayaan lokal bisa ikut mewarnai gerak laju kebudayaan global.

Keempat: Memandang penciptaan baru dalam dinamika kebudayaan sebagai keniscayaan. Sementara ekonomisasi karya budaya harus tetap menghormati aspek-aspek pokok kebudayaan, yang berkait dengan identitas, pemilikan hak cipta, kepentingan sosio kultural, hingga kepentingan religiusitas bagi daerah tertentu.

Kelima: Sebagai pilar demokrasi keempat, media massa daerah wajib mengawal kebudayaan. Apalagi oleh UNESCO Indonesia dianggap sebagai negara superpower di bidang kebudayaan. Dengan begitu, diperlukan para wartawan daerah yang memiliki kompetensi di bidang penulisan kebudayaan.

Ujung kalam, tropi Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2021 akan diserahkan kepada bupati dan wali kota pada 9 Februari 2021 di Jakarta dalam upacara Hari Pers Nasional, bersama Presiden Joko Widodo.

(Agus Dermawan T, Penulis tentang budaya dan perjalanan)


Kompas, 23 Januari 2021


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

CATATAN URBAN: Mulailah Jujur Mengakui Penyebab Bencana (NELI TRIANA)


KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Sisa terjangan banjir bandang di Gunung Mas, Desa Tugu Selatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/1/2021).

What have we become

Just look what we have done

All that we destroyed

You must build again

Penggalan lagu "When the Children Cry" dari White Lion itu tiba-tiba menusuk kalbu ketika mata menatap layar gawai menyimak berbagai bencana alam menerjang sejumlah wilayah di Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, nyaris bersamaan, banjir, longsor, dan gempa terjadi menimbulkan tangis anak-anak hingga lanjut usia. Seperti refrain lagu yang terus diulang, di setiap musim hujan dari tahun ke tahun, bencana mengakrabi negeri yang selalu digembar-gemborkan gemah ripah loh jinawi ini.

Fenomena alam, seperti pasang laut, debit air sungai yang naik kala hujan deras, hingga gunung meletus dan gempa akibat pergeseran lempeng bumi, sebenarnya hal yang lumrah terjadi karena bumi ini memang tidak diam saja. Ada sistem yang bekerja di luar kuasa manusia.

Ketika fenomena alam itu mengusik manusia, orang-orang menjadi terluka, kehilangan harta benda, sampai hilang nyawa, barulah kita menyebutnya sebagai bencana. Ketika permukiman manusia yang kian kompleks, seperti di perkotaan, turut didera fenomena alam tersebut dan memakan korban jiwa, serta kerugian materiil dalam jumlah besar disebutlah telah terjadi bencana alam yang kian masif daya rusaknya.

Pendapat awam itu membuat kita lupa bahwa manusialah yang secara disadari atau tidak merangsek dan menduduki lokasi rawan bencana.

Pengorganisasian dan interaksi yang tepat antara keempat elemen penting dalam ekosistem manusia dan menjaga kelestarian sumber daya kritis, khususnya alam, menjadi penentu ekosistem manusia dapat berfungsi dan berkelanjutan.

Dalam diskusi terkait lingkungan perkotaan, sering kali dibahas tentang kota sebagai ekosistem buatan yang sangat dinamis. Ekosistem buatan ini ada di atas ekosistem alami yang  menerus berubah, tetapi dengan sangat lambat.

Manusia membangun peradabannya dengan menduduki suatu lahan tertentu. Dengan jumlah yang terus berkembang, manusia mengubah bentang alam sesuai kebutuhannya. Hutan menjadi areal persawahan, menjadi hunian, menjadi lokasi pabrik, menjadi ruas-ruas jalan baru. Tak jarang bukit diratakan atau dibelah, lembah ditimbun, sempadan sungai, dan pantai tak luput diokupasi.

Gary E Machlis bersama kedua rekannya, Jo Ellen Force dan William R Burch JR yang intens mengkaji ekosistem manusia, berpendapat bahwa ada empat elemen penting ekosistem manusia. Keempat elemen tersebut, yaitu sumber daya kritis atau terpenting (critical resources), institusi sosial, siklus sosial, dan tatanan sosial (identitas, norma, dan hierarki). Sumber daya kritis meliputi alam, sosial ekonomi, dan budaya.

Machlis menyebut, adaptasi terhadap alamlah yang memengaruhi budaya dan sosial ekonomi manusia dan memengaruhi ketiga elemen lain. Pengorganisasian dan interaksi yang tepat antara keempat elemen dan menjaga kelestarian sumber daya kritis, khususnya alam, menjadi penentu ekosistem manusia dapat berfungsi dan berkelanjutan.

Baca juga: Heboh Duo "R" Cermin Keragaman Penghuni Kota

Namun, kenyataan saat ini, ekosistem manusia telah berkembang sedemikian pesat. Dengan sekitar 7 miliar jiwa manusia, sebagian daratan sudah dihuni. Kota-kota membengkak, area non-urban pun kian disesaki manusia dan tinggal menunggu waktu menjadi kota baru. Jangan lupa, manusia juga memiliki kemampuan tak terbatas untuk mengeksplorasi alam guna memenuhi kebutuhannya yang terus bertambah.

Kasarnya, setiap kota selalu rakus menyerap apa saja yang ada di daerahnya, juga tak segan mendedah daerah lain demi memasok asupan yang dibutuhkan warga kota. Asupan itu, mulai dari bahan pangan, mineral dan aneka bahan tambang, listrik, dan masih banyak lagi. Ini memang menggerakkan ekonomi, tetapi potensi efek samping pengganggu keseimbangan lingkungan juga bukan main besarnya.

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Foto udara bangunan rumah sakit Mitra Manakarra yang ambruk akibat gempa berkekuatan Magnitudo 6,2 di Mamuju, Sulawesi Barat, Minggu (17/1/2021).

Pada 10-20 tahun lalu, untuk melihat masa kini, mungkin Majene dan Mamuju di Sulawesi Barat tidak sepadat sekarang. Seiring waktu, kedua kabupaten tersebut berkembang. Apakah pemerintah daerah dan warga setempat sadar bahwa kawasannya berada di antara lempeng bumi yang setiap saat bergerak dan memicu gempa? Apakah sudah ada mitigasi yang dilakukan sebagai kawasan berpenduduk di area rawan gempa? Bagaimana tata ruang wilayah kedua kabupaten itu?

Lalu, Kalimantan dengan sungai-sungai besarnya, secara alami pula memiliki tutupan hutan lebat dan luas yang berfungsi sebagai penyerap dan penahan air di sana. Puluhan tahun terakhir, hutan dirambah dan dialihfungsikan atas nama kepentingan manusia. Kota-kota berkembang pesat, permukiman semakin padat dan meluas hingga merambah kian dekat aliran sungai. Masuk akal jika sebagian area hunian penduduk seperti di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan, terendam kala volume air sungai bertambah berkali lipat saat hujan deras tak berhenti turun, lalu melimpas ke area sekitarnya.

Kita perlu berpikir dalam konteks yang sama saat mempersoalkan banjir besar di Sidoarjo, Jawa Timur. Begitu pula ketika membahas banjir di Cirebon, longsor di Sumedang, dan tak lupa banjir bandang di Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Setiap kali mengubah bentang alam tanpa diikuti rekayasa agar keseimbangan lingkungan terjaga, kita ibaratnya menabung potensi bencana dan siap menuai limpahannya suatu saat nanti.

Baca juga: Tipisnya Irisan Tempe yang Mengusik Keamanan Pangan Kita

Peta rawan bencana (hazard maps) di Indonesia.

BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA

Peta persebaran daerah rawan bencana banjir di Indonesia.

Pertumbuhan kawasan perkotaan di Indonesia seiring laju pertumbuhan penduduk selaras dengan Laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tentang Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Dari laporan tersebut, diketahui tingkat pertumbuhan penduduk perkotaan di Indonesia 2,75 persen per tahun dan rata-rata nasional 1,17 persen per tahun. Empat tahun mendatang, 2025, jumlah penduduk yang tinggal perkotaan Indonesia mencapai 68 persen dan diperkirakan menjadi 82 persen pada tahun 2045.

Sebelumnya, Bappenas juga banyak mengkaji tentang perkotaan di Indonesia. Kota-kota kategori sedang, yaitu berpenduduk 100.000-500.000 jiwa, menempati proporsi terbesar dan mendominasi perkembangan kawasan di luar Pulau Jawa. Di Jawa dan Sumatera, selain kota sedang, sebagian kawasannya tumbuh menjadi kota besar (lebih dari 500.000 jiwa penduduk) dan metropolitan dengan lebih dari 1 juta jiwa penduduk. Sementara pertumbuhan kota kecil terjadi merata di seluruh negeri.

Bersamaan dengan situasi itu, tingkat kemiskinan, masalah-masalah sosial, dan tak ketinggalan kerusakan lingkungan terus meningkat di semua wilayah. Daya dukung dan daya tampung lingkungan terancam terlewati, yang sebagian bahkan sudah terlewati.

Sarana dan prasarana kota rata-rata juga masih minim. Pembangunan transportasi umum belum menjadi acuan pembangunan di semua wilayah, baik kota maupun kabupaten. Kondisi ini berkontribusi terhadap masih rendahnya daya saing kota-kota di Indonesia.

Baca Juga: Tren Vakansi Sehat Warga Kota di Tahun 2021

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Kereta api melintasi kawasan padat penduduk di Bukit Duri, Jakarta Selatan, Selasa (22/9/2020). Mengelola kota dengan meminimalkan dampak buruk bagi lingkungan alam sekitarnya merupakan bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Melihat kenyataan menyedihkan itu, Indonesia menetapkan acuan strategi pembangunan baru yang disebut  "Kota 2045". Dokumen Kota 2045, Kebijakan dan Strategi Pembangunan Perkotaan Nasional (KSPPN) dari Bappenas itu ditandatangani Presiden Joko Widodo pada Mei 2019.

Berdasarkan kebijakan baru itu, Indonesia menekankan kewajiban pembangunan kota berkelanjutan yang dimaknai sebagai kawasan perkotaan yang didesain, dibangun, dan dikelola untuk memenuhi kebutuhan warga kota dari aspek lingkungan, sosial, ekonomi, tanpa mengancam keberlanjutan sistem lingkungan alami, lingkungan terbangun, dan lingkungan sosial.

Visi Kota 2045 seakan membenarkan dan mengadopsi pendapat Machlis. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, pembangunan yang ramah dengan kondisi alam setempat tak pelak lagi memang dibutuhkan jika tidak ingin menuai bencana berulang kali.

Visi Kota 2045 adalah menjadi kota berkelanjutan dan berdaya saing untuk kesejahteraan masyarakat. Caranya adalah  dengan membangun identitas perkotaan Indonesia berbasis karakter fisik, keunggulan ekonomi, dan budaya lokal. Selain itu, membangun keterkaitan dan manfaat antarkota dan desa-kota dalam sistem perkotaan nasional berbasis kewilayahan.

Visi tersebut untuk menjawab tantangan pembangunan perkotaan, yaitu globalisasi yang menempatkan kota sebagai pusat aktivitas yang kompetitif dan bertaraf internasional, desentralisasi, dan demokratisasi tata pemerintahan sesuai kebijakan nasional, serta ketahanan kota terhadap dampak perubahan iklim, bencana, dan penurunan kualitas lingkungan.

Berkaca dari Visi Kota 2045, ada kata kunci, yaitu setiap kota memiliki ciri khasnya sendiri, baik dari lingkungan alamnya maupun sosial budayanya. Pembangunan kawasan wajib berbasis kewilayahan yang berarti tidak dapat dipukul rata satu program pembangunan untuk semua kota.

Kata kunci yang sama menjadi pegangan merumuskan kebijakan dan program pembangunan kawasan yang adaptif terhadap lingkungan sekitar. Untuk itu, rencana tata ruang wilayah (RTRW) setiap daerah sewajarnya berbeda antara satu kawasan dan yang lain, tetapi karena ada irisan-irisan juga adanya kesatuan bentang alam, kesesuaian RTRW amat dibutuhkan.

Sungguh diharapkan "Kota 2045" tidak semata menjadi dokumen, tetapi benar-benar diterapkan. Sebelumnya, mengambil contoh tata ruang Ibu Kota dan sekitarnya, nyatanya kesesuaian RTRW antarprovinsi dan kabupaten/kota di Jabodetabek tak kunjung ada. Padahal, aturan, undang-undang, dan kajian riset dari para ahli mendorong hal itu sejak belasan atau puluhan tahun sebelumnya

Yang sudah-sudah terjadi, seperti di Jabodetabek, bukannya melakukan sesuai apa kata undang-undang atau hasil penelitian para pakar. Contohnya, antara lain, sungai-sungai dikeruk, diperlebar, dan dibeton, sedangkan  kawasan hulu lambat sekali revitalisasinya. Betonisasi aliran sungai memperlancar air mengalir ke hilir, yang ujung-ujungnya para ahli memperkirakan endapan di Teluk Jakarta bisa semakin cepat menebal. Dampaknya, saat pasang laut, kawasan pesisir semakin rentan diterjang banjir rob. Itulah yang sudah dan sedang terjadi, seperti di kawasan Muara Angke.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Lanskap Kampung Bengek yang menempati lahan milik PT Pelindo II di kawasan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara yang dikelilingi sampah, Senin (2/9/2019).

Saat bencana benar-benar menerjang, warga menjadi korban, merana, dan menghiba. Pemerintah gelagapan memobilisasi ribuan tenaga dan dana untuk mengatasi dampak yang terjadi. Publik tak kalah menggalang solidaritas menyalurkan sukarelawan, bahan pangan, pakaian, juga papan bagi para korban.

Begitu terus pola yang terjadi. Nyaris setiap tahun, setiap bencana menyapa bergantian di semua penjuru negeri seperti akhir-akhir ini.

Apabila dikelola efektif, sesungguhnya dana penanggulangan bencana dari anggaran pemerintah ataupun sumbangsih publik dapat disalurkan untuk revitalisasi kawasan seperti Puncak, Bogor, yang menjadi hulu sebagian sungai-sungai di Jabodetabek atau menghijaukan kembali kawasan bekas tambang serta hutan gundul di Kalimantan atau Sumatera.

Baca juga: Era Baru Membangun Infrastruktur Perkotaan

Dengan dana yang ada, bisa pula menginisiasi tata kawasan tahan bencana, dimulai dari penerapan pembangunan hunian tahan gempa, ramah banjir, atau memberi ruang air yang memadai di sekitar kita. Hasilnya, bukan tak mungkin dalam lima tahun saja atau kurang, potensi berbagai bencana dapat drastis diminimalkan.

Namun, yang perlu digarisbawahi, kita haruslah jujur dulu menerima kenyataan bahwa pemicu bencana itu sesungguhnya adalah perilaku kita sendiri. Dari sana, baru kemudian pemerintah dan masyarakat bisa bersama-sama berbenah demi dunia yang baru, dengan menerapkan kebijakan terpadu hulu hingga hilir dalam penanggulangan bencana. Demi tangis yang berganti nyanyian, bergenerasi.

When the children cry

Let them know we tried

'Cause when the children sing

Then the new world begins

Kompas, 23 Januari 2021

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

ULAS BAHASA: Saltik alias Salah Tik (NUR ADJI)


CAHYO HERYUNANTO

Saltik atau salah tik dalam penulisan terkesan sepele, tetapi sebenarnya dapat mengurangi kualitas tulisan.

"Pencairan Korban Kecelakaan Sriwijaya Air Terus Berlangsung". Demikian judul berita pada sebuah media daring.

Sekilas tidak ada yang salah dari judul tersebut. Kalimat pada judul itu mengikuti kaidah tata bahasa.Pencairan Korban Kecelakaan Sriwijaya Air merupakan subyek danTerus Berlangsung merupakan predikat.

Namun, jika kita cermati, informasi pada kalimat tersebut sesungguhnya tidak sesuai dengan informasi yang terjadi. Dalam berita dinyatakan bahwa Basarnas dan tim lain sedangmencari korban pesawat jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Mencari, bukan mencair.

Baca juga: Di Balik Istilah Polisi Tidur

Jadi, sesungguhnya yang dimaksud si pembuat berita adalah pencarian, bukan pencairan. Tim penolong bukanmelakukan pencairan (mencair),melainkan melakukan pencarian(mencari) korban yang terkena musibah.

Dalam kasus lain terdapat tulisan berita seperti ini: Truk bermuatan kacang keledai itu melaju dari arah selatan ke utara. Setelah melintasi jalan layang, laju truk tak terkendali sehingga menabrak minibus dan lima sepeda motor.

Selintas, juga tidak ada yang salah dari kalimat tersebut. Barulah setelah kita baca lebih teliti, kita mendapati bahwa yang dibawa truk ternyata adalah kacang kedelai, bukan kacang keledai.

Kesalahan tik bisa juga berupa penempatan atau penambahan huruf sehingga kata yang dimaksud betul-betul salah. Penulis, misalnya, hendak menulis Angkatan Laut dan Angkatan Darat, ternyata yang muncul adalahAngkatan Luat dan Aangkatan Darat.

KOMPAS/FRANSISKUS WISNU WARDHANA DANY

Dalam penulisan sering kali ditemukan kesalahan tik yang mengganggu kualitas tulisan secara keseluruhan. Sebagai contoh judul berita "Pencairan Korban Kecelakaan Sriwijaya Air Terus Berlangsung", semestinya ditulis "Pencarian Korban Kecelakaan Sriwijaya Air Terus Berlangsung".

Macam-macam penyebab

Kasus salah tik sejenis itu bisa ditemukan pada sejumlah tulisan. Tidak hanya di media (cetak ataupun daring), juga di tulisan-tulisan skripsi, tesis, dan disertasi. Penyebabnya bisa macam-macam.

Pertama, penulis beranggapan bahwa tidak ada yang salah dari tulisannya. Dia percaya bahwa tulisannya baik-baik saja dan dia langsung memublikasikan tulisannya.

Kasus salah tik bisa ditemukan pada sejumlah tulisan. Penyebabnya bisa macam-macam.

Penyebab pertama ini biasanya berhubungan dengan pekerjaan yang menuntut kecepatan. Informasi yang lebih dahulu tersebar dan dibaca publik, dianggap penulis tersebut, lebih penting daripada akurasi kata. Dengan kata lain, penulisan kata tidak menjadi fokus perhatiannya.

Penyebab kedua, penulis beranggapan bahwa tulisannya akan dibaca orang lain yang kedudukannya lebih tinggi daripada dirinya. Biasanya kesalahan jenis ini berhubungan dengan tempat bekerja si penulis yang hierarkinya berjenjang.

Baca juga: Pewaris Versus Ahli Waris

Di media massa, umpamanya, tulisan berawal dari reporter. Selanjutnya si reporter menyerahkan tulisannya kepada editor yang merupakan atasannya.

Seharusnya editor memeriksa secara keseluruhan naskah setoran si reporter. Namun, yang terjadi, si editor hanya memeriksa keamanan berita dari tulisan tersebut. Ia menyerahkan pemeriksaan bahasa kepada bagian lain.

Di media tertentu, yang menangani bahasa adalah penyunting atau redaktur bahasa. Lagi-lagi reporter atau editor tidak memperhatikan akurasi kata dari pekerjaannya.

KOMPAS/PINGKAN ELITA DUNDU

Kesalahan tik terkesan "sepele", tetapi bisa menjadi kesalahan fatal karena arti yang jauh berbeda. Misalnya, "Mahalnya harga keledaimembuat perajin tahu dan tempe mogok berproduksi", seharusnya "Mahalnya hargakedelai membuat perajin tahu dan tempe mogok berproduksi".

Yang jadi masalah kemudian adalah muncul kelengahan dari bagian penyunting bahasa. Alih-alih diharapkan menjadi penjaga terakhir urusan bahasa, bagian ini malah juga melakukan kesalahan.

Kata salah tik yang tidak terpantau oleh reporter dan editor akhirnya juga tidak terbaca radar penyunting bahasa. Lalu terjadilah kesalahan.

Jadi, anggapan yang muncul dari reporter dan editor, yang "menanggungjawabkan" pekerjaan kepada bagian lain, bisa berujung cacat kredibilitas. Tidak salah dari awal dan dari diri sendiri lebih baik daripada akhirnya salah di semua lini.

Penyebab berikutnya adalah "kecerobohan". Lazim diketahui bahwa ada segelintir orang yang memang mengutamakan satu hal, tetapi "menyepelekan" hal lain.

Baca juga: Pecinta, Pencinta, Bercinta

Kasus seperti ini biasanya terjadi pada penulis yang adakalanya tidak memedulikan lagi hasil pekerjaannya. Yang penting tugasnya menulis sudah selesai, demikian prinsipnya.

Penyebab lain adalah program bahasa pada komputer. Kita tahu bahwa program bahasa pada komputer berbasis bahasa Inggris. Itulah sebabnya, kata yang dalam bahasa Indonesia sudah lazim dipakai, tetapi terbaca "salah" oleh komputer, kata tersebut kemudian diubah secara otomatis oleh komputer.

Kasus kata teh menjadi the, atau bisamenjadi bias, dapat menjadi salah dua contoh yang sering ditemukan.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Waspadai kesalahan tik yang disebabkan fiturautocorrect pada program pengolah kata di komputer yang berbasis bahasa Inggris. Kesalahan yang sering terjadi, teh menjadi the atau bisamenjadi bias.

Enggan membaca ulang

Dari semua penyebab itu, sesungguhnya keengganan membaca ulang tulisan yang dibuat merupakan penyebab yang paling penting. Maka, agar kesalahan tidak terjadi, membaca kembali dengan cermat tulisan yang sudah dibuat wajib dilakukan. Pembacaan ulang tidak hanya menyangkut isi, tetapi juga bahasa.

Pembacaan ulang bisa saja dilakukan berkali-kali, apalagi jika tidak sedang dikejar tenggat. Dua kali membaca ulang paling tidak sudah cukup untuk meminimalkan kesalahan.

Baca juga: Kalimat Sejajar dan Tidak Sejajar

Kita harus percaya bahwa produk yang baik tidak boleh mengandung kesalahan. Meski kesalahan tersebut adalah kesalahan tik, produk yang dihasilkan menjadi berkurang nilainya.

Padahal, seperti contoh di atas, kesalahan tik bisa menyebabkan kesalahan makna. Yang mesti diingat adalah tulisan yang baik, yang akurat, mencerminkan siapa penulisnya.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Membaca ulang naskah tulisan akan membantu kita menemukan terjadinya kesalahan tik atau kesalahan bahasa.

Berikut, antara lain, beberapa kata yang berpotensi salah tik karena sebab-sebab di atas.

kelapa x kepala

lain x lian

bisa x bias

teh x the

usap x suap

baht x bath

subsisten x subsistem

pertanahan x  pertahanan

tempat makan x tempat makam

penertiban x penerbitan

....

Silakan menambahkan.

Nur Adji, Penyelaras Bahasa Kompas

Kompas, 23 Januari 2021

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.
Powered By Blogger