|
Blog ini berisi KLIPING aneka kritik, opini, solusi yang dihimpun dari berbagai media. Situs ini merupakan kliping pribadi yang dapat diakses publik. Selamat membaca
Cari Blog Ini
Kamis, 21 Juli 2011
Fw:Purnawirawan TNI: SBY Sudah Tak Peduli Kondisi Negara dan Bangsa
Senin, 04 Juli 2011
Dua Wajah Kemiskinan
|
Senin, 13 Juni 2011
OPINI: Penegakan Hukum Campur Selera dan Kepentingan
|
Kamis, 02 Juni 2011
Kesalahan Sri Mulyani by @IndahS99
| Kesalahan Sri Mulyani : 1. ada 14 RUU bidang ekonomi dan keuangan yg penyusunannya diintervensi & sarat kepentingan AS, IMF dan World Bank Kesalahan Sri Mulyani : 2. Menerbitkan SUN, ORI dan Surat utang RI lainnya dgn bunga tertinggi sedunia (9 - 11 %) Gilaakkk !! Kesalahan Sri Mulyani : 3. Memberikan jaminan pd investor/spekulan asing dptkan keuntungan maksimal dgn cara tekan nilai rupiah. Kesalahan Sri Mulyani ; 4. Akibat rupiah dipatok rendah, ekpor hancur, impor bengkak, Indonesia jd ngra konsumer, semuanya beli produk asing Kesalahan Sri Mulyani : 5. program reformasi birokrasi di depkeu hanya slogan kosong. Cuma naikkan gaji dan boroskan APBN 47 Triliun/thn Kesalaha n Sri Mulyani : 5. Mental dan moral PNS depkeu makin hancur. Sdh terima tunjangan sampe 50 jt/ bulan, korupsi jalan terus ! Kesalahan Sri Mulyani : 6. Semua institusi keuangan nasional diarahkan dan digencet agar dapat dikuasai asing ! Kesalahan Sri Mulyani 7 : Setiap ada keputusan strategis, SMI terbirit2 telp pejabat tinggi World Bank dan IMF ! Kesalahan Sri Mulyani : 8. Pejabat2 penting mulai eselon I, II, III, IV yg mau ditunjuk, dia konsultasi dulu dengan WB & IMF. minta restu ! Kesalahan Sri Mulyani : 9. jor2an pinjam dr WB milyaran US$, padahal pinjaman tsb idle alias tak terpakai. Yg penting RI bayar komitmen fee Kesalahan sri mulyani : 10. Komitment fee dari pinjaman LN tsb sebagian masuk ke kantong2 pejabat depkeu sbg komisi atau kickback ! Kesalahan Sri Mulyani : 10. menerbitkan PMK2 dan peraturan2 lain yg beratkan institusi keuangan nasional dan untungkan institusi asing ! Kesalahan Sri Mulyani : 11. membiarkan/ menyetujui rekayasa pembentukan opini publik seolah2 dia menkeu terbaik asia. Kerjaan mafia int'l Kesalahan Sri Muyani : 11. Menyetuji bail out Century yg 12 kali lipat lebih besar dari yg disetujui DPR ! Kesalahan Srim Mulyani : 12..Utang LN indonesia catat rekor tertinggi. Agus marto sampe geleng2 kepala. Kok banyak utang yg ga ada gunanya Lanjut ..kesalahan SMI : 12. Menggunakan jabatan dan institusi kemenko/depkeu utk amankan dan untungkan asing khusunya spekulan, WB dan AS Kesalahan SMI : 13. Dengan kekuasaannya yg tak terbatas (back SBY full) SMI ciptakan kelompok mafia2 di kemenko/Depkeu yg sgt berkuasa. 14. sampai saat ini, agus marto belum berhasil kikis mafia2 itu karena mafia itu hotline dgn SMI di Washington. 15. Jika mafia2 itu mau ditindak Agus Marto, mereka tlp SMI, SMI gunakan networknya di Washington DC utk tekan Agus ! Bangsat ga tuh ?? 16. Setiap kontrak utang LN, SMI selalu berikan fasilitas & keleluasaan kpd kreditor utk keruk keuntungan luar biasa. Kita cuma dpt sampah ! 17. Seperti kata JK, tanpa sepengetahuan Wapres, SMI buat perjanjian dgn China beli pesawat MA60 dgn harga mark up. Negara rugi US$ 64 juta 18. SMI tak pernah mau berikan persetujuan/back up jika ada utang dgn negara lain yg kasih bunga sgt murah. Takut dominasi AS/WB terganggu 18. Kesalahan Sri Mulyani : 5 tahun jd menteri hasilnya : institusi keuangan swasta nasional dipaksa jual ke asing. sesuai saran Bank Dunia 19. Kesalahan SMI : Prioritas pembangunan hanya pasar modal, pasar uang. IHSG anjlok ribut. petani/nelayan mati, infrastruktur hancur 20 Kesalahan SMI : sok2an ikut G-20, tandatangan CAFTA, WTO dll..Indonesia babak belur diserbu produk impor murah. Sektor riel kita hancur 21. Kesalahan Sri Mulyani : Menggunakan institusi depkeu utk hantam saingan2 politik SBY. 22. kesalahan Sri Mulyani : Tidak menyetujui Bank Pertanian yg sdh bertahun2 diusulkan. Pertanian dan petani indonesia ga dianggap penting 22. Kesalahan Sri Mulyani : Tidak menyetujui asuransi bencana utk rakyat indonesia. Dia maunya pake asuransi asing supaya aman komisinya 23. Kesalahan Sri Mulyani : merekayasa kehancuran Asuransi AJB Bumiputer 1912. Supaya bisa ditakeover asing. 24. Kesalahan SMI : Mendesak revisi UU No. 2 tahun 92 ttg Asuransi agar asing bisa takeover Bumiputera. untung DPR tak setuju. 25. Kesalahan SMI : mempersulit izin utk lembaga2 keuangan nasional dgn persyaratkan modal yg luar biasa besar. Spya asing saja yg bisa. 25. Mencari2 kesalahan pengusaha keuangan nasional utk kemudian dipaska merger atau diakusisi asing. 25. Kesalahan Sri Mulyani : lucu dan fatal...saking begonya, SMI krim surat mengenai pembahasan APBN ke DPR. DPR marah..harusnya dari SBY. 26. Kesalahan SMI : menurunkan bea masuk sekian banyak product impor. akibatnya, insdtri lokal mati. pabrik2 tutup. pengangguran nambah. 27. Kesalahan Sri Mulyani : tak pernah mau berikan garansi utk proyek infrastruktur, tapi jor2an berikan garansi utk spekulan pasar uang 28. Kesalahan SMI : tak pernah setujui kenaikan harga dasar gabah petani yg diusulkan bulog. SMI maunya petani miskin teyussss.. 29. Kesalahan SMI : tak pernah setuju utk back up finansial PLN dlm rangka konversi bahan bakar Pembangkit dari BBM ke Gas dan PLTA. 30. Kesalahan SMI : Tidak pernah menyetujui penambahan modal Reindo (BUMN reasuransi) agar devisa premi reasuransi ga lari ke luar negeri. 31. Kesalahan Sri Mulyani : memaksa depkeu utk takeover saham BI di Askrindo Rp. 500 M yg kemudian terbukti disalahgunakan. Askrindo kollaps Baru sebulan menjabat, Agus Marto kaget dan marah luar biasa. Ternyata banyak utang LN yg tak terpakai. hanya utk perkaya pejabat2 depkeu Courtesry: milis AIPI Politik |
Selasa, 31 Mei 2011
Sewot SMS Bodong II
SMS itu beredar Sabtu (28/5) yang dikirim dari telepon seluler nomor Singapura. Pengirimnya bernama M Nazaruddin, yang menyebut dirinya 'telah dijebak, dikorbankan, dan difitnah. Karakter, karier, masa depan saya dihancurkan'.
Isi SMS itu (demi kepatutan tidak kita beberkan) membuat kita geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecut. Isinya menohok sejumlah tokoh sentral Partai Demokrat mulai dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum, hingga Andi Nurpati.
Sejak SMS itu beredar, elite Demokrat hingga kalangan Istana Kepresidenan ramai-ramai membantah isi SMS. Mereka menilai isi SMS itu hanyalah fitnah terhadap Presiden dan Partai Demokrat.
Bantahan itu ternyata tidak memuaskan. Buktinya, Presiden Yudhoyono terjun langsung menanggapi SMS itu. Sebelum berangkat ke Pontianak, Kalimantan Barat, kemarin, di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Presiden menggelar konferensi pers khusus menegaskan lagi bahwa isi SMS itu sepenuhnya fitnah yang dilemparkan dari ruang gelap.
Presiden menyerukan agar negeri ini tidak menjadi tanah dan lautan fitnah karena hal itu tidak mencerdaskan bangsa. Para penyebar fitnah dinilai sebagai pengecut dan tidak kesatria.
Kita semula mengira SMS gelap itu tidak akan ditanggapi, apalagi dibantah. Sikap itu misalnya diperlihatkan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum yang enggan menanggapi SMS tersebut. Karena itu, kita tersentak sekaligus prihatin ketika Presiden menanggapi SMS tersebut. Sikap reaktif itu bisa menuai reaksi balik, jangan-jangan isi SMS itu benar.
Tentu saja kita tidak ingin anggapan itu muncul dan berkembang di tengah publik. Akan tetapi, siapakah yang dapat membendungnya tatkala publik justru memercayai isi SMS itu karena Presiden menanggapinya? Bukankah publik bisa berpandangan bahwa ada asap karena ada api?
Di sebuah negara yang baru mengalami euforia demokrasi dan gandrung ber-SMS, kita menduga akan banyak muncul SMS sejenis di masa mendatang. Lagi pula, dari sudut substansi, sesungguhnya apakah bedanya SMS gelap yang menggunakan teknologi modern dengan surat kaleng yang juga gelap? Menanggapi surat kaleng jelas perkara yang tak elok, seperti kurang kerjaan, bahkan menunjukkan kurang pede.
Pemimpin mestinya tegar menghadapi segala macam situasi. Dia harus mampu memilah isu besar yang menjadi tanggung jawabnya dan hal-hal remeh temeh yang perlu diabaikan. Surat kaleng tetaplah surat kaleng sekalipun menggunakan baju canggih bernama short message service alias SMS.
SMS bodong itu diakui muncul dari ruang gelap, dikirim pengecut yang tidak kesatria. Tetapi, mengapa menanggapi hantu? Mengapa pemimpin bangsa menanggapi pengecut? Apakah kesatria menanggapi yang bukan kesatria?
Kita teringat pepatah lama; kalau tiada angin bertiup, takkan pokok bergoyang.
Jumat, 27 Mei 2011
Mari Elka Pangestu Menteri Indonesia yang Aneh
| Mari Elka Pangestu Menteri Indonesia yang Aneh Kamis, 26 May 2011 09:30 WIB RIMANEWS - Direktur Eksekutif Econit Advisory Group, Hendri Saparini mengatakan nasionalisme Mari Elka Pangestu yang sudah dua periode menjadi Menteri Perdagangan, patut dipertanyakan. Secara umum kebijakan Mari Elka menghancurkan basis industri dalam negeri dan di saat bersamaan menciptakan pengangguran yang merupakan basis kemiskinan yang meluas. Menurut Hendri yang dihubungi beberapa saat lalu, bukti paling dekat dari nasionalisme Mari yang patut dipertanyakan itu adalah saat dia menjadi ketua delegasi Indonesia dalam forum renegosiasi China Asean Free Trade Agreement (CAFTA) bulan April tahun lalu. Ketika itu ada 228 pos tarif yang sedang diperbincangkan. Renegoisasi tersebut sangat krusial karena kalau gagal dapat mengancam kehidupan sembilan subsektor industri dalam negeri. Tetapi, Mari Elka Pangestu seakan berpihak kepada RRC dengan menyatakan Indonesia siap menerima barang China dalam jumlah yang lebih banyak. Hasil pembicaraan antara Mari Elka Pangestu dan Menteri Perdagangan China, Chen Deming, di Jogja itu dituangkan dalam tujuh butir kesepakatan. Menurut Hendri kesepakatan Jogja itu jelas merugikan Indonesia. Misalnya butir kelima yang menggarisbawahi peningkatan kredit ekspor dan impor serta kredit buyer. "Kebijakan ini jelas merugikan industri dalam negeri, karena akibatnya importir-importir Indonesia harus tetap mengimpor barang-barang dari Cina lebih banyak," ujar Hendri. Dalam kesepakatan itu, juga disebutkan bahwa Indonesia dan China akan menekan defisit perdagangan kedua negara. Menurut hemat Hendri, dari pasal ini saja terlihat betapa Mari Elka Pangestu tidak berfikir lebih jauh mengenai dampak negatif yang akan terjadi di Indonesia, setelahnya. "Indonesia ditekan untuk selalu megekspor bahan mentah dan bahan baku. Sedangkan China mengimpor barang-barang jadinya. Ini kan aneh. Jelaslah China sangat senang dan untung kalau dapat banyak bahan mentah dan baku dari Indonesia," ujar Hendri lagi. Di sisi lain, kehadiran mass product China ke pasar domestik merusak industri dalam negeri. Dengan demikian, dapat dipahami bila kalangan yang akhirnya menilai bahwa kebijakan Mari Elka Pangestu selama ini anti ekonomi domestik. Hendri juga mencatat Mari Elka Pangestu sebagai figur yang sangat agresif untuk memberikan keuntungan kepada bangsa lain. Sikap ini juga terlihat dalam penyusunan kesepakatan Free Trade antara Uni Eropa dan Asean. Berbeda dengan negara Asean lain yang membutuhkan waktu untuk membangun sistem yang dapat memperkuat perekonomian dalam negeri mereka, Mari Elka malah sangat mendorong, agar kesepakatan itu terwujud secepatnya. Hendri menuding Mari tidak pernah mempertimbangkan manfaat kesepakatan perdagangan bebas. Menurutnya, menteri tersebut sangat agresif di satu sisi, namun tidak memperhatikan solusinya di sisi lain. Mari seharusnya memperkuat industri dalam negeri dengan mempersiapkan strategi yang matang dan membangun iklim kompetisi dalam negeri yang kuat. "Tetapi faktanya Mari justru lebih agresif dalam membela kepentingan asing sehingga industri dalam negeri kita terpukul. Dan itu dibiarkannya," demikian Hendri Catatan Bambang Soesatyo UNFAIR trade yang dipraktikan China terhadap Indonesia sedang merusak sendi-sendi kemandirian ekonomi bangsa. Semua elemen bangsa harus menyadari kecenderungan ini, serta terus berupaya menghentikan proses pengrusakan itu. Jika terus terbuai oleh produk impor dari China berharga murah, kita mewarisi bom waktu bagi anak-cucu kita. Kasus pembelian 15 unit pesawat MA-60 buatan China yang dioperasikan Merpati Airlines memang tidak menyenangkan banyak kalangan. Tetapi, kalau pembelian itu menimbulkan kerugian bagi Indonesia, nilai kerugiannya tidak sebanding dengan proses pengrusakan sendi-sendi kemandirian ekonomi bangsa akibat praktik unfair trade China terhadap Indonesia. Namun, debat seputar untung-rugi pembelian MA-60 itu, berikut semua kejanggalan prosesnya, patut dijadikan momentum untuk memperbarui desakan kepada pemerintah untuk mengoreksi kebijakan kerjasama perdagangan dengan China. Berdasarkan kepentingan dan semangat itulah, saya pekan lalu menyuarakan kecaman kepada Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu. Sebelumnya, dalam konteks hubungan dagang RI-China, saya mengecam para menteri ekonomi dengan mengatakan mereka tidak militan membela kepentingan nasional. Lalu, ketika banyak kalangan mulai cemas melihat banjir produk China di pasar dalam negeri, muncul kesan pemerintah melakukan pembiaran. Ada juga yang menyebutnya sebagai legalisasi penyelundupan produk China. Pembiaran atau legalisasi penyelundupan itu saya ibaratkan sebagai subversi terhadap ekonomi negara. Dari penyikapan yang kritis-tegas itu, harapannya tak muluk-muluk, kecuali membangunkan keprihatinan pemerintah serta mendorong inisiatif mengoreksi kebijakan perdagangan dengan China. Tercatat bahwa berbagai elemen masyarakat sudah berulangkali menyuarakan keprihatinan yang sama, serta mengingatkan pemerintah bahwa pembiaran terhadap agresivitas China sangat membahayakan kepentingan nasional. Deindustrialisasi sedang dan terus berproses. Itu berarti ketahanan ekonomi nasional sedang menghadapi ancaman sangat serius. Kalau hanya berpikir tentang kepentingan jangka pendek, kita boleh saja tidak memedulikan agresivitas China yang unfair itu. Akan tetapi, marilah kita berpikir strategis dan demi kepentingan jangka panjang, kepentingan anak- cucu atau generasi penerus kita. Kalau pun generasi terkini belum mampu mewujudkan kemandirian ekonomi bangsa dalam artian utuh, kita setidaknya tidak mewarisi bom waktu kepada mereka. Pembiaran terhadap proses deindustrialisasi saat ini adalah bom waktu yang belum tentu mampu ditanggung anak-cucu kita di masa yang akan dating. Itulah salah satu alasan strategis kita untuk terus dan terus mendesak pemerintah mengoreksi atau me-renegosiasi Kesepakatan Perdagangan Bebas ASEAN-China (CAFTA). Renegosiasi mutlak diperlukan karena kita harus menjaga dan melindungi kepentingan nasional, terkini dan masa depan. Sebagai pasar yang besar, kita menolak jika Indonesia hanya dijadikan pasar oleh China atau India. Kita yakin mampu mewujudkan kemandirian, dan karena itu kita menolak skenario yang akan menjadikan Indonesia memiliki ketergantungan pada negara lain atau raksasa-raksasa ekonomi dunia. Kita menerima kesepakatan perdagangan bebas dengan siapa saja, tetapi semua negara mitra dagang harus fair, tidak boleh mengeksploitasi kelemahan dan kekurangan kita. Akan tetapi, karena imbauan dan keprihatinan publik itu tidak juga ditanggapi pemerintah, sebuah kecaman yang lebih keras diperlukan agar presiden dan para menteri selalu sadar dan tahu bahwa rakyat tidak sependapat dengan sikap dan kebijakan pemerintah menghadapi agresivitas dan unfair trade yang dipraktikan China. Sebab, kebijakan mengenai hubungan dangan China sudah menimbulkan kerusakan yang sangat mengkhawatirkan. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) sudah memastikan bahwa banjir produk China mendorong pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) mengalihkan orientasi atau banting setir menjadi importir atau penjual produk impor karena lebih menguntungkan. Apindo memprediksi, kecenderungan itu akan berlanjut bila banjir produk China serta India dengan modus dumping tidak dibendung. Kalau sebelumnya banyak UMKM mengkreasi produk, kini semangat itu sudah tidak ada lagi. Skala usaha kecil sudah diturunkan menjadi skala mikro, sementara usaha berskala mikro diturunkan sektor informal. Apindo mencatat, kecenderungan perubahan itu melanda sektor garmen, kerajinan tangan, furniture, serta sektor makanan dan minuman. Keberpihakan Itulah proses deindustrialisasi. Risikonya sangat menakutkan, karena kemampuan UMKM menyerap tenaga kerja anjlok. Kalau pada 2009, sekitar 52 juta unit bisnis UMKM mampu menyerap hingga 96 juta pekerja, kini sisa daya serap itu hanya sekitar sepertiganya saja. Harap digarisbawahi, 30% UMKM dimiliki dan dikelola oleh kaum perempuan. Kalau ilustrasi singkat ini tidak juga membuat pemerintah prihatin, kepada siapa sebenarnya pemerintahan ini mengabdi? Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), defisit perdagangan China – Indonesia kian melebar. Impor dari China ke Indonesia per Maret 2011 mencapai 1,37 miliar dari bulan sebelumnya (Februari) yang 1,34 miliar dolar AS. Mayoritas produk impor dari China adalah barang modal dan barang konsumsi.. Para ahli perdagangan dan praktisi sudah memberi banyak masukan atau opsi untuk membendung agresivitas dan unfair trade yang diterapkan China. Opsi renegosiasi bilateral RI-China bagi implementasi CAFTA ternyata tidak terlaksana. Inisiatif pemerintah kedua negara dalam pertemuan di Yogyakarta untuk memperketat pengawasan ekspor-impor pun nyaris tidak membuahkan hasil apa pun. Lalu, sampai pada opsi membuat hambatan dengan menerapkan kebijakan Bea Masuk Antidumping (BMAD) dan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) atau safeguard. Opsi BMAD dan BMTP pun tidak ditanggapi. Lalu, tidakkah rakyat Indonesia berhak bertanya; dengan strategi apa pemerintah akan menjaga dan melindungi kepentingan negara dan melindungi perekonomian rakyat Indonesia dari agresivitas dan unfair trade yang dipraktikan China? Ketika kita mendapatkan jawaban yang meyakinkan, apakah semua warganegara pun harus diam saja? Lalu, siapa lagi yang akan menjaga negara ini kalau bukan rakyatnya sendiri? Kita mencatat bahwa sudah sejak awal Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkap kecurangan China dalam implementasi CAFTA, yang mengakibatkan terjadinya proses deindustrialisasi di Indonesia.. Dia sudah mengambil prakrasa untuk renegosiasi, namun dia diperintah untuk membatalkan agenda renegosiasi itu. Padahal, dalam konteks mengamankan kepentingan nasional, implementasi CAFTA harus dikoreksi melalui kesepakatan bilateral RI-China. Kalau pemerintah terlihat begitu minimalis, wajar bila muncul pertanyaan tentang keberpihakan pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dalam konteks CAFTA itu. Berpihak pada negara atau mitra dagang? Juga aneh jika pemerintahan ini tidak prihatin dengan proses deindustrialisasi yang berkelanjutan di dalam negeri. Padahal deindustrialisasi itu sendiri bukan isapan jempol. Banyak bukti sudah dikemukakan, bahkan termasuk oleh institusi pemerintah sendiri. Beberapa kalangan seperti sudah kehilangan argumentasi, sehingga tidak tahu lagi bagaimana caranya agar pemerintahan ini bisa disadarkan tentang fakta deindustrialisasi itu. Pembiaran terhadap proses deindustrialisasi adalah bom waktu bagi anak cucu. Sebab, deindustrialisasi akan mereduksi dan menghilangkan puluhan juta lapangan kerja di dalam negeri, kegiatan produksi barang modal maupun barang konsumsi sangat minim. Sektor manufaktur akan lumpuh, karena aneka ragam keperlun dipenuhi dengan cara impor.Karena lapangan kerja yang tersedia sangat minim, akan ada begitu banyak orang yang sulit mencari penghasilan karena menganggur. Kegagalan negara mengatasi pengangguran menyebabkan terjadinya proses pendalaman masalah kemiskinan. Gelisah karena menganggur dan miskin akan menjadi sumbu pemicu ledakan sosial. Sekarang ini, Kita boleh saja meremehkan potensi masalah itu. Tetapi, siapa yang bisa menduga apa yang akan terjadi dalam rentang waktu lima hingga 10 tahun mendatang, ketika jumlah penganggur dan warga miskin terus membengkak? Tidak ada maksud apa pun ketika saya mengecam Mari Pangestu. Apalagi dibelok-belokan ke soal sara, etnis atau isu rasis. Saya hanya ingin mengingatkan agar Presiden dan para menteri ekonomi tidak mewariskan bom waktu.(RM/rima) http://www.rimanews.com/read/20110526/29420/mari-elka-pangestu-menteri-indonesia-yang-aneh |
Anas Urbaningrum Ternyata Jadi Bagian dari Gurita Bisnis Keluarga Nazaruddin di Riau
| Jumat, 27 May 2011 04:42 WIB PEKANBARU, RIMANEWS- Gurita bisnis keluarga mantan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat Nazaruddin di Riau ternyata juga melibatkan ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Anas masuk dalam jajaran Komisaris di bisnis perkebunan sawit PT Panahatan yang dipimpin Direktur Utama (Dirut) Muhammad Nasir yang juga kakak sepupu Nazaruddin. "Iya benar, keluarga Nazaruddin dan Nasir punya bisnis perkebunan sawit di Duri (PT Panahatan). Mereka juga menguasai berbagai bisnis dan proyek lainnya di Riau, seperti jasa kontruksi dan tender proyek di rumah sakit," kata Koordinator Divisi Kaderisasi, Pendidikan, dan Pelatihan DPD Partai Demokrat Riau Ronny Riansyah seperti dirilis Media Indonesia, Kamis (26/5). Ronny mengungkapkan bisnis sawit keluarga Nazaruddin yang masih berhubungan saudara dengan Muhammad Nasir yang kini duduk sebagai anggota DPR-RI Partai Demokrat pemilihan Riau sempat menjadi sorotan media massa, karena lahannya bermasalah dan bersengketa dengan warga sekitar. Namun perkembangan kasus sengketa itu tiba-tiba terhenti yang dari keterangan warga diduga akibat adanya pengaruh orang kuat di Senayan, Jakarta. "Dulu pernah ribut tentang bisnis sawit mereka itu di surat kabar lokal. Bisnisnya bermasalah," ujar Ronny. Dari informasi yang berhasil dihimpun Media Indonesia, bisnis sawit keluarga Nazaruddin bersama istrinya Neneng, dan kakaknya Muhammad Nasir, menempatkan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum sebagai Komisaris dengan kepemilikan saham sebesar 35%. Sedangkan Nazaruddin duduk di kursi Presiden Komisaris dengan porsi saham yang sama yakni 35%. Sementara Muhammad Nasir menjadi Direktur Utama dengan kepemilikan saham 30%. "Lahan sawit di pematang pudu itu berada kawasan hutan lindung Suaka Margasatwa Balai Raja. Daerah itu adalah ring road populasi gajah. Di sana kerap terjadi konflik kematian gajah," ujar Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau Hariansyah Usman. Menurut Hariansyah, adanya perkebunan sawit di daerah itu jelas-jelas melanggar karena kawasan tersebut adalah suaka margasatwa. Adapun konflik kematian gajah yang kerap terjadi disebabkan oleh semakin membeludaknya lahan sawit di daerah tersebut. "Kita sering terima pengaduan warga soal sengketa sawit disana," jelas Hariansyah. Senada dengan itu, Eri, pemilik kebun sawit yang berbatasan langsung dengan 2.000 hektare kebun sawit PT Panahatan yang diduga kongsi bisnis Nazaruddin dan Anas Urbaningrum, menjelaskan sengketa lahan yang terjadi disebabkan karena banyaknya surat tanah ilegal yang diperjual belikan secara bebas. Konflik terjadi karena perusahaan di sekitar pemukiman warga di Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau sering mencaplok lahan warga. "Kita tak tahu siapa pemilik perusahaan-perusahaan itu. Tapi mereka suka ambil lahan dan itu membuat warga marah," ujarnya. Sementara itu, dari hasil penelusuran Media Indonesia, Nazaruddin ternyata memiliki keluarga besar di Pekanbaru. Mertuanya, Nurmani merupakan warga Jl Amal, Kecamatan Sukajadi Pekanbaru. Istri Nazaruddin, Neneng, juga merupakan anggota Partai Demokrat. Neneng juga pernah ikut pemilihan anggota DPR-RI Dapil II dari Riau. Sedangkan sepupu Nazaruddin, Muhammad Nasir selain anggota DPR RI juga mantan pengurus DPD Partai Demokrat Riau. Begitu juga kakak sepupunya, Rita Zahara merupakan Bendahara Umum (Bendum) DPD Partai Demokrat Riau sekaligus Ketua Fraksi Demokrat DPRD Riau. Keluarga besar Nazaruddin ini menempati tanah keluarga seluas 220 meter persegi di Jl Amal tersebut. Abang Neneng, Syafrizal membuka usaha warung rumah makan di dekat rumah keluarga itu. Di sampingnya kini berdiri bangunan mewah berlantai dua yang hampir rampung. Rumah mewah bergaya minimalis ini, menurut Syafrizal dibangun secara bergotong royong sesama keluarga besar Nurmani. Nazaruddin dan Neneng disebut-sebut sebagai penyumbang terbesar untuk membantu pembangunan rumah orang tuanya itu yang ditaksir senilai Rp2 miliar. "Biaya pembangunan rumah ini ditanggung bersama. Namun sebagian besar dana berasal dari Nazaruddin dan istrinya, Neneng,? kata pria yang akrab disapa Eri ini. Rumah mertua Nazaruddin yang tengah dibangun itu terbilang paling mewah dibandingkan dengan rumah-rumah yang berada di sekitarnya. Rumah mertua Nazaruddin itu persisnya mulai dibangun sejak delapan bulan lalu.[ach/MI] http://www.rimanews.com/read/2011052...-nazaruddin-di |
Nazarudin Juga Danai Ibas dan Anas Rp 10 M
| 2011-05-27 Nazarudin Juga Danai Ibas dan Anas Rp 10 M JAKARTA - Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin benar-benar orang berpengaruh dan kuat. Pasalnya, selain memberikan sumbangan uang yang cukup besar ke Partai Demokrat yakni Rp 13 miliar, anggota Komisi III DPR RI ini ternyata juga membiayai kegiatan Anas Urbaningrum, Ketua Umum PD dan Ibas, Sekjen PD yang setahunnya mencapai Rp 10 miliar. "Dia punya catatan tentang penggunaan dana. Semuanya dicatat termasuk biaya penyewaan pesawat untuk kegiatan Anas dan Ibas yang setahunnya mencapai Rp 10 miliar," ujar sumber yang tidak mau disebutkan namanya. Selain bukti-bukti itu, sumber itu juga meyakinkan Nazar memiliki bukti-bukti aliran uang ke sejumlah petinggi PD, seperti, Jhoni Allen Marbun, serta keluarga SBY. Pernyataan Nazar, tentu saja bukan tudingan sembarangan.Sebagai bendahara umum, Nazar sudah pasti tahu asal muasal dan penggunaan uang partai. Maka tidak aneh bila ia mengklaim punya data terkait tudingannya, meskipun belakangan ia seperti mengurungkan niatnya untuk membuka aib koleganya. Alasannya bukti-buktinya masih dikumpulkan. Bila sikap Nazar akhir-akhir ini agak melembek, bagi orang dekatnya bukan karena Nazar tidak punya bukti. Nazar diyakini punya bukti-bukti itu. Hanya saja Nazar tidak mau mengungkapnya lantaran tudingan tersebut hanya untuk menggertak saja."Tapi kalau situasi berubah bisa saja ia bakal habis-habisan melawan," kata orang dekat Nazar yang tidak mau disebut namanya itu. Gertakan Nazar terkait sejumlah petinggi PD akhirnya berbuah komitmen. Jangan heran kalau kemudian Nazar mengatakan pemecatannya sebagai bendahara umum oleh DK PD belum final. Soalnya, kata Nazar, keputusan DK belum mendapat legitimasi dari DPP PD. "Itu keputusan DK masih harus disampaikan ke DPP. Sebab keputusan resmi bukan di DK melainkan rapat pleno yang dipimpin Ketua Umum PD Anas Urbaningrum," ujar Nazar Kabur ke Singapura Posisinya yang tidak menguntungkan ternyata membuat Nazaruddin mengambil pilihan. Politisi Demokrat itu kini dikabarkan pergi ke Singapura. Hebatnya, ia bisa berangkat sebelum dicegah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang suratnya keluar 24 Mei. "Dia pergi tanggal 23 Mei," ujar Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar. Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar tidak mau berpolemik tentang hal ini. Yang jelas, kata dia, imigrasi bekerja berdasarkan permintaan KPK. "Tanyakan pada yang bersangkutan (Nazaruddin) saja," kata Patrialis saat ditanya kemungkinan Nazar tahu soal pencegahan ini. Hal tersebut disampaikan di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Kamis (26/5). Menurut Patrialis, Nazar pergi pukul 19.30 WIB malam menggunakan pesawat Garuda. Sementara, surat permintaan cegah ke luar negeri baru dikirim tanggal 24 Mei 2011 pukul 18.00 WIB sore. "Jam 6 sore. Jadi sekitar 24 jam-lah, setelah keberangkatan apa Nazaruddin," imbuhnya. Melihat kondisi tersebut, Ketua DPP PD Ruhut Sitompul akan memintanya pulang. "Oh tentu kita akan meminta pulang," kata salah seorang Ketua DPP PD Ruhut Sitompul, Kamis (26/5) Namun, sampai saat ini, sebenarnya Ruhut belum mengetahui secara persis apakah Nazaruddin memang pergi ke Singapura. Dia tidak tahu keberadaan Nazaruddin saat ini. Bila memang Nazaruddin benar pergi ke Singapura, Ruhut yakin kader Demokrat yang diduga terlibat kasus suap di Kemenpora itu tidak berniat kabur dari masalah yang menjeratnya. "Mungkin saja kan check up, nggak mungkin lah kabur," kata dia. Dia menegaskan PD tidak akan melindungi kadernya yang bermasalah dengan hukum. "Tentu kalau dipanggil (KPK) kita kader-kader kita akan datang," ungkapnya. jak http://www.surabayapagi.com/index.ph...80bf39b4b1255a |
Rabu, 02 Februari 2011
“Mungkin Sekali Kita Sendiri Juga Maling "
Oleh Taufiq Ismail
Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda, terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia.
Penganggur 40 juta orang, anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang, VCD koitus beredar 20 juta keping, kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan
... dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiah.
Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol diruang tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya, ... dan dipunggung kita dicap sablon besar-besar: Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia.
Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu, menjual tenaga dengan upah paling
murah sejagat raya.
Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh harapan dan angan-angan di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka berdukacita
karena majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang disiksa malah diperkosa dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula.
Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.
Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi kolonialis banyak
bangsa. Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya.
Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah dipatahkannya.
Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.Berbagai format
perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian.
Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi.
Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram, ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.
Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret, jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras, yang diatas tukang tindas.
Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung. Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.
Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu'.
Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.
Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.
Begitu khusyu'nya, engkau kira mereka beribadah.
Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?
Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya, membentang dari depan sampai ke belakang, melimpah dari atas sampai ke bawah, tambah merambah panjang deretan saf jamaah.
Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.
Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?
Bagaimana menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi dari atas sampai ke bawah?
Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang senjata dan yang memerintah.
Bagaimana ini ? .......
Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up Operation), tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan
sekolahan.
Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari, kaki kanannya
bersedekah, pergi umrah dan naik haji.
Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran, otak kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.
Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?
Jamaahnya kukuh seperti dinding keraton, tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang, malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang, penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian.
Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu, barangkali sekitar satu juta orang ini, cukup jadi sebuah negara mini, meliputi mereka yang pegang kendali perintah, eksekutif, legislatif, yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan mengendalikan meriam, yang berjas dan berdasi.
Bagaimana caranya mau diperiksa dan diusut secara hukum ?
Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?
Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?
Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan ?
Percuma
Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan Insya Allah tak akan terselesaikan.
Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?
Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia mengembalikan jarahan yang berpuluh tahun dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan.
Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka orang yang shalat juga, orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga.
Kita bujuk baik-baik dan kita doakan
mereka.
Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada hubungan darah atau teman sekolah, maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati menegurnya.
Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita, orang seagama atau sedaerah, Kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu
dimakruh-makruhkan dan diam-diam berharap semoga kita mendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan.
Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati.
Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap.
Kayu kosen, tiang, kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai.
Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap. Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia dijarah anai-anai.
Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah Indonesia sudah mulai habis dikunyah-kunyah rayap. Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna.
Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.
Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.
"Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!" teriak mereka.
"Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!" bantahku.
Mereka berteriak dan mendekatiku dengan sikap mengancam.
Aku melarikan diri kencang-kencang.
Mereka mengejarkan lebih kencang lagi
Mereka menangkapku.
"Ambil bensin!" teriak seseorang.
"Bakar Rayap," teriak mereka bersama.
Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.
Seseorang memantik korek api.
Aku dibakar.
Bau kawanan rayap hangus.
Membubung Ke udara.
Inikah akhir kehidupan rayap ? Semoga !
Sabtu, 15 Januari 2011
Setgab Sebagai Manifestasi Politik Neoliberal
|
Fw: [corona_mea_vos_estis] Pidato Inggris Gado-gado
1. Dalam melakukan evaluasi kita harus merujuk pada parameter
dan ukuran yang jelas. Correct measurement.
2. Jangan mengukur sesuatu yang tidak menjadi rencana yang
dijalankan pemerintah pada 2010 kemarin, termasuk means yang kita
gunakan…
3. …bukan hanya ditinjau dari implementasi dari kinerja
pemerintah. Tetapi, secara umum, in general, kita harus juga melihat…
4. Pemulihan ekonomi untuk menjaga kesejahteraan rakyat, atau
dengan bahasa bebas saya katakan minimizing the impact of the global
economic crisis.
5. Kita tetapkan sejumlah kebijakan, policies, dan tindakan
nyata, actions.
6. …dan segala upaya yang intinya adalah economic recovery dan
maintaining people's welfare.
7. …mari kita lihat satu persatu, pertumbuhan ekonomi growth…
8. Insya Allah tahun 2010 ini kita bisa mencapai enam persen,
close to six percent.
9. …tujuan untuk sebuah pemulihan ekonomi, economic recovery itu dicapai.
10. Inilah yang mendongkrak perekonomian kita sekarang ini, dan
insya allah growth itu akan menjadi lebih sustain.
11. Unemployment menurun. Banyak negara yang meledak unemploymentnya.
12. Kalau kita bicara pertumbuhan harus disertai dengan pemerataan,
growth with equity.
13. …didukung tata kelola good governance.
14. Sekarang seperti apa structure, magnitude dan sasaran APBN 2011..
15. Supaya saudara tau makna dan arti penting APBN sebagai means
sebagai tools untuk mencapai tujuan dan sasaran.
16. APBN dalam arti government expenditure, government spending…
17. …menuju sebuah anggaran yang berimbang, balance badget.
18. …yang menyakitkan, yang painful.
19. … ternyata hanya mencapai 0,62 persen. Why? Bukan karena kita
tidak membelanjakan, tetapi revenue itu ternyata lebih tinggi
sepanjang 2010.
20. Tapi, kami pemerintah mengatakan, it is achievable, bisa dicapai.
21. …lebih baik yang realistic, achievable, attainable.
22. Apa faktor yang bisa menggagalkan pencapaian sasaran itu, atau
dari perspektif yang lain what kind of assumptions yang bisa kita
tetapkan…
23. …semua proyeksi, semua estimate, di semua negara bagus, global
economy will grow.
24. Tidak ada yang meramalkan, semuanya everything is nice.
25. Dunia ini ada siang ada malam, ada good news, ada bad news.
26. Bad news yang saya maksudkan adalah we have to anticipate kita
harus mengantisipasi sesuatu yang bisa memberikan dampak pada
perekonomian kita.
27. Dunia tengah menyusun kembali, economic order atau financial architecture.
28. Kebijakan mata uang yang "dilemahkan" , dalam teori ekonomi
adalah strategic currency untuk kepentingan special purpose.
29. Ini kalau melebihi kepatutan, dicari-cari, menjadi tidak sehat,
menjadi unfair. Meskipun kita tahu ekonomi itu ya unfair memang.
30. Ekonomi itu unfair, unstable, unsustainable.
31. …yang juga menjadi faktor adalah climate change.
32. Chile bulan februari dihantam gempa bumi 8.8 skala richter. This
morning dihantam lagi 7,1 skala richter. Memang chile sama dengan
Indonesia pada ring of tectonic plates itu yang mudah sekali terjadi
gempa dan tsunami.
33. Perubahan climate yang ekstrim mengubah pola pertanian. Bisa
mengganggu supply pada komoditas pangan dunia.
34. Insya allah tidak ada lah negara yang menyerang Indonesia secara
militer itu. Tetapi yang non-traditional security threat itu banyak.
35. Kita pegang pula tujuan dan sasaran pembangunan yang harus kita
capai yang handak kita capai dan mari kita pahami kebihajan dan
strategi yang telah kita tetapkan to achieve our national goal yang
saya sampaikan tadi.
36. Kita ingin menjadi emerging nation.
37. Kita punya RPJPN yaitu time horizonnya 2025.
38. KiIta ingin menjadi emerging nation dengan tingkat kemajuan
level of development dan kesejahteraan the prosperity yang jauh lebih
HAM KEBEBASAN BERIMAN & PESAN CADENABBIA
Dari: Nikolas Juntak <nsplaw@yahoo.com>
Kepada: forum-iska@yahoogroups.com
Terkirim: Rab, 12 Januari, 2011 09:42:23
Judul: [forum-iska] HAM KEBEBASAN BERIMAN & PESAN CADENABBIA
Kraeng Theo Bela, Mas Mul dan Kang Liona & Rekan-rekan ISKA,
Kurang-lebih selama 20-an tahun sy aktif dlm Dialog Lintas-Agama & Lintas
Kultural serta lebih dari 10-an thn sy mengajar HAM tentang KEBEBASAN
HATINURANI, BERFIKIR & BERIMAN. Saya kira, selain hrs banyak bicara dan bergiat,
tetapi juga sangat diperlukan kini Gerakan Sosial Berbasis Kultur Lokal
(dekulturasi-inkulturasi) utk memprovokasi semakin banyak "Orang yang Beriman"
dalam rangka mempromosikan THE COMMON WORD berupa Butir-butir Pesan dari
Cadenabbia (Message from Cadenabbia) 1-4 Oktober 2009 antar Tokoh Islam-Kristen
se-Asia Afrika (juga Eropa-Amerika) di Cadenabbia, Italia, yang turut juga dihadiri oleh Rm. Magnis
Suseno (yg memberikan dokumen ini kpd saya), yakni antara lain:
1.Kami menyadari bahwa "cinta kepada sesama seperti terhadap diri sendiri"
menuntut agar kita melibatkan diri pada "keadilan universal, hormat terhadap
martabat setiap manusia, kebebasan suara hati dan hormat terhadap perbedaan".
2. Karena itu, kami bersama harus "menghadapi kemiskinan, keadaan buta
huruf,perusakan lingkungan hidup, penyakit, pelanggaran hak-hak asasi manusia,
diskriminasi perempuan serta konflik etnis."
3. Kami menegaskan bahwa "kami akan saling menghormati, tidak akan bicara
secara merendahkan satu terhadap yang lain, serta menolak penggunaan, atau pun
hasutan, kekerasan atas nama Tuhan atau agama.
4. Kami catat bahwa bukan hanya orang-orang Kristiani dan Muslim, melainkan
juga pengikut agama-agama lain "sudah lama biasa hidup bersama, sebagian
terbesar secara selaras; kami mempunyai pengalaman kaya dan enak dengan
identitas-identitas dan milik-milik beragam".
5. Kami menyesalkan "kelompok-kelompok ekstrem yang menyalah-gunakan
ajaran-ajaran mulia agama-agama kita serta memanipulasikan perasaaan-perasaan
religius".
6. Bicara tentang sesama berarti juga berusaha untuk saling mengerti; demi
itu para peserta menyerukan agar bahan-bahan pendidikan membahas semua agama
secara wajar, para pemimpin religius dididik untuk menghormati mereka yang
berbeda dan memajukan dialog, serta agar media massa bertindak secara
bertanggung-jawab dalam kaitan dengan agama.
7. Akhirnya para peserta menyatakan diri terlibat dalam mempromosikan
"komunitas-komunitas lokal, regional, dan global yang betul-betul dapat
dirasakan sebagai rukun tetangga dimana semua laki-laki dan perempuan dihormati
sama dan diakui martabat mereka yang sepenuhnya sebagai ciptaan mulia Allah."
Isi dokumen selengkapnya yg diberikan Rm. Magnis adalah berikut ini.
A Message from Cadenabbia (Dokumen dari Rm. FMS, SJ kepada NS)
1. As a group of Muslim and Christian scholars and activists, mainly from
sub-Saharan Africa, South- and Southeast Asia, after a process of some months of
reflection, writing and sharing papers, we met together in Villa la Collina, in
Cadenabbia (Italy), at the invitation of the Konrad-Adenauer-Stiftung (Germany),
October 1-4, 2009. We join ourselves with those Muslims and Christians who have
welcomed, studied and reflected upon the "A Common Word" document (ACW) and wish
to affirm it as an important fresh impetus towards what we hope will be a new
experience of Christian-Muslim relations. We wish to add to this discussion of
love of God and neighbour a correlative emphasis on universal justice, on
respect for the dignity of every human being, on freedom of conscience and
respect for difference.
2. Our specificity as a group is that we are coming from both religious
traditions, deeply rooted in sub-Saharan Africa, and South and Southeast Asia,
where the vast majority of the world's Muslims live; where there is a deep and
wide richness of Christian presence; where the expansion in both faiths is
likely to occur in coming decades; where we have a centuries-long experience of
living together in plural societies. From this we have something to contribute
to the worldwide discussion.
3. In our areas plurality of religion existed before the rise of
Christianity or Islam and has continued since; into this situation Muslims and
Christians in their own ways have entered. Whilst we acknowledge that we have
specific dynamics in Christian-Muslim relations, we also note that we are
susceptible to international events, forces, pressures and intrusions.
4. In our societies, not only Christians and Muslims but also followers of
other world- and traditional religions live side by side, even in the same
family or community, overwhelmingly in harmony. We therefore have something to
contribute to new contexts in our regions and in other parts of the world. In
various configurations in our regions we have experience respectively of living
as minorities, as majorities and in plurality. Therefore we have a wealth of
experience of and are comfortable with multiple identities and belongings.
5. As Christians responding to ACW we hear their assertion that Muslims are
not against Christians, and we in return affirm as Christians that we are not
against Muslims.
6. As Muslims we affirm that in this relationship we should be "vying with
one another in good deeds" as the Qur'ân exhorts us (Surat al-Ma'ida, Q 5:48).
7. Together we affirm that we will respect each other, that we will not
speak contemptuously and we renounce the use of, or incitement to, violence in
the name of God or religion.
8. We recognize and do not pretend to resolve the theological and
ideological differences, in all their diversities, within and between our two
faith communities, and yet we affirm with full accord the oneness of God whom we
serve with our whole being.
9. We accept the challenge of ACW to "love your neighbour as yourself,"
which we understand as applying to the obligation to build secure
"neighbourhoods" in the widest sense of that term. This requires us to confront
together the challenges which include poverty and illiteracy, environmental
degradation and disease, human-rights violations, gender discrimination and
ethnic conflict.
10. We want to speak and act with utmost responsibility because we know from
firsthand experience in our regions the consequences that can flow from "easy
words."
11. We deplore the actions of extreme groups who abuse the noble teachings of
our religions, and manipulate religious sentiments; and the mass hysteria that
can lead to violations of individuals and communities. We recognize that there
is a responsibility upon majority communities to uphold the human rights and
dignities of minorities within their societies.
12. We choose not to be prisoners of the negative aspects of our history and
the bitter memories we may have inherited. Rather, inspired by the hope our
religions generate, we commit ourselves to constructing a more positive future.
Those who have the burden of leadership in our communities bear a particular
responsibility not to succumb to stereotype and prejudice, but to maintain a
constructive vision.
13. We cannot talk of loving our neighbour without seeking to know, to
understand and to empathize with members of other faiths and cultural
communities. Therefore:
· We call upon those responsible for educational institutions to review and
improve wherever necessary educational resources, syllabi and the training of
teachers.
· In turning to the education and training of religious leaders from both
our traditions, we call for an open and inclusive approach both to content and
interpersonal relationships, within the context of the culture within which they
are working.
· Similarly, we acknowledge the powerful role played in society by all
forms of media and information technology, and call on those who use and control
them to play a responsible, informed and constructive role.
14. We commit ourselves to adding our voices and our resources to the process
to which ACW has now given new energy, to promote local, regional and global
societies which can truly be experienced as neighbourhoods, in which all men and
women are respected equally and accorded their full dignity as the noble
creatures of God. Love of God demands of us love of neighbour; without love of
neighbour there is no love of God.
Prof. Dr Al-Tayib Z. Al-Abdin, Khartoum, Sudan
Dr med. Che Amir Farid Bin Che Isahak, Kuala Lumpur, Malaysia
Fr James Channan OP, Lahore, Pakistan
Fr Victor Edwin SJ, Birmingham, UK
Dr C.T.R. Hewer, London, UK
Kazi Javed, Lahore, Pakistan
Msgr. Dr Matthew Hassan Kukah, Kaduna, Nigeria
Prof. Dr Daniel A. Madigan, Washington DC, USA
Prof. Dr Franz Magnis-Suseno SJ, Jakarta, Indonesia
Rev. Dr Johnson A. Mbillah, Nairobi, Kenya
Abid Hassan Minto, Lahore, Pakistan
Prof. Dr Musdah Mulia, Jakarta, Indonesia
Dr Helmut Reifeld, Berlin, Germany
Rev. Dr Hermen Shastri, Petaling Jaya, Malaysia
Dr. Ataullah Siddiqui, Markfield, UK
Rev Dr. Markus Solo SVD, Jakarta, Indonesia
Prof. Dr Christian W. Troll SJ, Frankfurt, Germany
(Dr ?) Maryam Uwais, Abuja, Nigeria
Prof. Dr Akhtarul Wasey, New Delhi, India
________________________________
Dari: "Margadana, Muliawan M" <Muliawan.Margadana@BHPBilliton.com>
Kepada: "forum-iska@yahoogroups.com" <forum-iska@yahoogroups.com>
Terkirim: Rab, 12 Januari, 2011 08:53:42
Judul: RE: [forum-iska] RE: Undangan
Pak Liona
saya kira itu ide bagus , namun memang kita tidak bisa membuat seminar asal
seminar yang kemudian hasilnya tidak jelas tentunya .. oleh karena itu
diperlukan ide-ide yang membumi dan hasilnya mengikat banyak pihak . Dalam waktu
dekat ISKA semoga dapat bertemu dengan utusan PBB soal HAM ini , jadi kalau
berbagai pihak bertemu dalam satu forum mungkin akan ramai dan bisa saja di
adakan di Jabar agar gemanya kena di sana . Selain itu teman dari Universitas
Pertahanan dan Kementrian Pertahanan saya dengar juga mau menggagas konsep
deradikalisasi . Sekedar ide .. Thanks
Regards
Muliawan Margadana
________________________________
From: forum-iska@yahoogroups.com [mailto:forum-iska@yahoogroups.com] On Behalf
Of Liona Nanang
Sent: 12 Januari 2011 8:42
To: forum-iska@yahoogroups.com
Subject: AW: [forum-iska] RE: Undangan
Pak Mul saya setuju seperti yg semalam via sms, rencananya mau ada seminar
nasional tentang ham dan kebebasan beragama, pembicaranya dari semua elemen yang
terlibat khususnya di Indonesia, barangkali ada pihak dari jawa barat secara
khusus bisa bicara secara gamblang karena di daerah inilah mayoritas terjadi
penindasannya.
salam,
liona
________________________________
Von: "Margadana, Muliawan M"
<Muliawan.Margadana@BHPBilliton.com<mailto:Muliawan.Margadana%40BHPBilliton.com>>
An: "forum-iska@yahoogroups.com<mailto:forum-iska%40yahoogroups.com>"
<forum-iska@yahoogroups.com<mailto:forum-iska%40yahoogroups.com>>
Gesendet: Mittwoch, den 12. Januar 2011, 8:13:03 Uhr
Betreff: RE: [forum-iska] RE: Undangan
Pak Theo
ada kemungkinan ISKA membuat seminar ttg HAM dalam kebebasan beragama .
Pembicaranya harus "pengambil keputusan" ( yudikatif, legislatif dan eksekutif)
bukan tokoh2 yang selama ini sudah menghargai kebebasan beragama serta satu dari
luar negeri yang dapat dijadikan model . mungkin dari PBB ? ada saran ?
Regards
Muliawan Margadana
________________________________
From: forum-iska@yahoogroups.com<mailto:forum-iska%40yahoogroups.com>
[mailto:forum-iska@yahoogroups.com<mailto:forum-iska%40yahoogroups.com>] On
Behalf
Of Theophilus Bela
Sent: 11 Januari 2011 21:02
To: forum-iska@yahoogroups.com<mailto:forum-iska%40yahoogroups.com>
Cc: Margadana, Muliawan M
Subject: Bls: [forum-iska] RE: Undangan
Pak Margadana yth.
mohon bantuan untuk mengirim ulang lagi undangan kami sebagai reminder . Dan
saya minta Anda dan beberapa kawan ISKA supaya hadir dalam acara hari Jumat
nanti
terima kasih dan Tuhan Yesus memberkati
Theophilus Bela
--- Pada Sen, 10/1/11, Margadana, Muliawan M
<Muliawan.Margadana@BHPBilliton.com<mailto:Muliawan.Margadana%40BHPBilliton.com><mailto:Muliawan.Margadana%40BHPBilliton.com>>
menulis:
Dari: Margadana, Muliawan M
<Muliawan.Margadana@BHPBilliton.com<mailto:Muliawan.Margadana%40BHPBilliton.com><mailto:Muliawan.Margadana%40BHPBilliton.com>>
Judul: [forum-iska] RE: Undangan
Kepada:
"'kikintarigan@yahoo.com<mailto:%27kikintarigan%40yahoo.com><mailto:%27kikintarigan%40yahoo.com>'"
<kikintarigan@yahoo.com<mailto:kikintarigan%40yahoo.com><mailto:kikintarigan%40yahoo.com>>,
"'Agung Pambudhi'"
<pambudhi@kppod.org<mailto:pambudhi%40kppod.org><mailto:pambudhi%40kppod.org>>,
"'Agung Pambudhi'"
<apambudhi@yahoo.com<mailto:apambudhi%40yahoo.com><mailto:apambudhi%40yahoo.com>>,
"'Agustinus Silalahi'"
<agustinusys@gmail.com<mailto:agustinusys%40gmail.com><mailto:agustinusys%40gmail.com>>,
"'Domuara Ambarita'"
<domuambarita@gmail.com<mailto:domuambarita%40gmail.com><mailto:domuambarita%40gmail.com>>,
"'Domuara Ambarita'"
<domuambarita@yahoo.com<mailto:domuambarita%40yahoo.com><mailto:domuambarita%40yahoo.com>>,
"'Conda Prihastanto'"
<galatacp@yahoo.com.au<mailto:galatacp%40yahoo.com.au><mailto:galatacp%40yahoo.com.au>>,
"'Ida Ayu'"
<ida.ayu.puspasari@gmail.com<mailto:ida.ayu.puspasari%40gmail.com><mailto:ida.ayu.puspasari%40gmail.com>>,
"'Karol M
Natasa'"
<krollmnat@yahoo.com<mailto:krollmnat%40yahoo.com><mailto:krollmnat%40yahoo.com>>,
"'Katharina Reni'"
<roskarel@yahoo.com<mailto:roskarel%40yahoo.com><mailto:roskarel%40yahoo.com>>,
"'Leonardo Renyut'"
<insp@cbn.net.id<mailto:insp%40cbn.net.id><mailto:insp%40cbn.net.id>>,
"'Maskendari'"
<upuisekawak@yahoo.com<mailto:upuisekawak%40yahoo.com><mailto:upuisekawak%40yahoo.com>>,
"'Monang Pandiangan'"
<monangpandiangan@yahoo.com<mailto:monangpandiangan%40yahoo.com><mailto:monangpandiangan%40yahoo.com>>,
"'Prasetyo
Nurharjanto'"
<paul.prasetyo@atmajaya.ac.id<mailto:paul.prasetyo%40atmajaya.ac.id><mailto:paul.prasetyo%40atmajaya.ac.id>>,
"'Sasangka Hadi'"
<tshadiam@gmail.com<mailto:tshadiam%40gmail.com><mailto:tshadiam%40gmail.com>>,
"'Swandy
Sihotang'"
<swandysihotang@yahoo.com<mailto:swandysihotang%40yahoo.com><mailto:swandysihotang%40yahoo.com>>,
"'Ulung Rusman'"
<ulungr@yahoo.com<mailto:ulungr%40yahoo.com><mailto:ulungr%40yahoo.com>>,
"'Forty'"
<juanforti@yahoo.com<mailto:juanforti%40yahoo.com><mailto:juanforti%40yahoo.com>>,
"'Putut Prabantoro'"
<pututprab@yahoo.com<mailto:pututprab%40yahoo.com><mailto:pututprab%40yahoo.com>>,
"'Ignatius Sawabi'"
<patihsawabi@yahoo.com<mailto:patihsawabi%40yahoo.com><mailto:patihsawabi%40yahoo.com>>,
"'Paulus Setio Hutomo'"
<tom_hut@yahoo.com<mailto:tom_hut%40yahoo.com><mailto:tom_hut%40yahoo.com>>,
"'Linus Setiadi Pv'"
<lmsetiadi@yahoo.com<mailto:lmsetiadi%40yahoo.com><mailto:lmsetiadi%40yahoo.com>>,
"'F Alexander FW'"
<alexferry@gmail.com<mailto:alexferry%40gmail.com><mailto:alexferry%40gmail.com>>,
"'Santi Veronica'"
<meandjoplin@yahoo.com<mailto:meandjoplin%40yahoo.com><mailto:meandjoplin%40yahoo.com>>,
"'Robertus Priya
Husada'"
<priyohusodo@gmail.com<mailto:priyohusodo%40gmail.com><mailto:priyohusodo%40gmail.com>>,
"'Liona
Nanang'"
<lionangs@yahoo.de<mailto:lionangs%40yahoo.de><mailto:lionangs%40yahoo.de>>,
"'Purwanto Hadityo'"
<purwantohadityo@yahoo.com<mailto:purwantohadityo%40yahoo.com><mailto:purwantohadityo%40yahoo.com>>,
"'Joanes Joko'"
<joanes.joko@gmail.com<mailto:joanes.joko%40gmail.com><mailto:joanes.joko%40gmail.com>>,
"'Don Sisco'"
<donsisco.p.sh@gmail.com<mailto:donsisco.p.sh%40gmail.com><mailto:donsisco.p.sh%40gmail.com>>,
"'Jimmy Tjendra'"
<Jimmy.tjendra@gmail.com<mailto:Jimmy.tjendra%40gmail.com><mailto:Jimmy.tjendra%40gmail.com>>,
"'Ferry Kesuma'"
<ferry.kesuma@cimbniaga.co.id<mailto:ferry.kesuma%40cimbniaga.co.id><mailto:ferry.kesuma%40cimbniaga.co.id>>,
"'Hermien'"
<hkleden@yahoo.com<mailto:hkleden%40yahoo.com><mailto:hkleden%40yahoo.com>>,
"'Hanjaya
Setiawan'"
<dionhs@centrin.net.id<mailto:dionhs%40centrin.net.id><mailto:dionhs%40centrin.net.id>>,
"'Steven
Pailah'"
<s_pailah@yahoo.com<mailto:s_pailah%40yahoo.com><mailto:s_pailah%40yahoo.com>>,
"'Boni Jebarus'"
<boni3_052@yahoo.com<mailto:boni3_052%40yahoo.com><mailto:boni3_052%40yahoo.com>>,
"'Emanuel Migo'"
<emanuelmigo@yahoo.com<mailto:emanuelmigo%40yahoo.com><mailto:emanuelmigo%40yahoo.com>>,
"'Emanuel Migo'"
<emanuelmigo@hotmail.com<mailto:emanuelmigo%40hotmail.com><mailto:emanuelmigo%40hotmail.com>>,
"'Yohanes Adrian'"
<yardianw@yahoo.com<mailto:yardianw%40yahoo.com><mailto:yardianw%40yahoo.com>>,
"'Arifin Muliawan'"
<arifin_mulia@yahoo.com<mailto:arifin_mulia%40yahoo.com><mailto:arifin_mulia%40yahoo.com>>,
"'Taslim'"
<lawoffice_taslim@yahoo.com<mailto:lawoffice_taslim%40yahoo.com><mailto:lawoffice_taslim%40yahoo.com>>,
"'Rm Greg
Soetomo SJ'"
<gsoetomo@hotmail.com<mailto:gsoetomo%40hotmail.com><mailto:gsoetomo%40hotmail.com>>,
"'Osbin
Samosir'"
<osbinus73@yahoo.co.id<mailto:osbinus73%40yahoo.co.id><mailto:osbinus73%40yahoo.co.id>>,
"'Anton
Doni'"
<dihen75@hotmail.com<mailto:dihen75%40hotmail.com><mailto:dihen75%40hotmail.com>>,
"'Sinta
Nirmalawaty'"
<sinta@multiconsultants.com<mailto:sinta%40multiconsultants.com><mailto:sinta%40multiconsultants.com>>,
"'Ivan
Wibowo'"
<ivanwibowo@hotmail.com<mailto:ivanwibowo%40hotmail.com><mailto:ivanwibowo%40hotmail.com>>,
"'Widhi
Wicaksono'"
<widhi_wicaksono@hotmail.com<mailto:widhi_wicaksono%40hotmail.com><mailto:widhi_wicaksono%40hotmail.com>>,
"'Robert Simbolon'"
<rsimbolon@hotmail.com<mailto:rsimbolon%40hotmail.com><mailto:rsimbolon%40hotmail.com>>,
"'Freddy Chan'"
<fchan@indo.net.id<mailto:fchan%40indo.net.id><mailto:fchan%40indo.net.id>>,
"'Jim Lomen
Sihombing'"
<j_lo_sihombing@yahoo.co.id<mailto:j_lo_sihombing%40yahoo.co.id><mailto:j_lo_sihombing%40yahoo.co.id>>,
"'Jones Batara Manurung'"
<jbm_demokratik@yahoo.com<mailto:jbm_demokratik%40yahoo.com><mailto:jbm_demokratik%40yahoo.com>>,
"'Indarto
Susanto'"
<Indarto.Susanto@nnt.co.id<mailto:Indarto.Susanto%40nnt.co.id><mailto:Indarto.Susanto%40nnt.co.id>>,
"'Gomez'"
<gomez.yansen@yahoo.co.id<mailto:gomez.yansen%40yahoo.co.id><mailto:gomez.yansen%40yahoo.co.id>>,
"'Lukito Wanandi'"
<luki@santini-group.com<mailto:luki%40santini-group.com><mailto:luki%40santini-group.com>>
Cc:
"'forum-iska@yahoogroups.com<mailto:%27forum-iska%40yahoogroups.com><mailto:%27forum-iska%40yahoogroups.com>'"
<forum-iska@yahoogroups.com<mailto:forum-iska%40yahoogroups.com><mailto:forum-iska%40yahoogroups.com>>,
"'pmkriBandung@yahoogroups.com<mailto:%27pmkriBandung%40yahoogroups.com><mailto:%27pmkriBandung%40yahoogroups.com>'"
<pmkriBandung@yahoogroups.com<mailto:pmkriBandung%40yahoogroups.com><mailto:pmkriBandung%40yahoogroups.com>>
Tanggal: Senin, 10 Januari, 2011, 10:11 AM
Dengan hormat,
Bersama ini kami mengundang Bapak-Bapak Pendeta, Ibu-Ibu Pendeta dan
Saudara/Saudari untuk menghadiri acara Refleksi Awal Tahun 2011 yang diadakan
FORUM KOMUNIKASI KRISTIANI JAKARTA (FKKJ) yang akan diadakan pada :
Hari : Jumat, tanggal 14 Januari 2011
Waktu : pukul 10.00 - pukul 14.30 WIB
Tempat : Graha Bethel
Jalan Ahmad Yani kav. 65
Cempaka Putih Timur
Jakarta 10510
(Jakarta Bypass)
Dengan para Narasumber : Dr. John Palinggi
Dr. Ribka Tjiptaning
Dr. Thamrin Amal Tomagola
Pdt. Jack Ospara, STh
Acara akan dibuka dengan doa oleh Pdt. Ferry K. Haurisa
Besar harapan kami bawa Bapak-Bapak, Ibu-Ibu serta Saudara-Saudari sempat
meluangkan waktu untuk menghadiri acara yang penting ini mengingat akhir-akhir
ini suasana kerukunan antar umat beragama dinegeri kita menunjukkan
gejala-gejala yang kurang menyenangkan . Hal ini dapat dilihat dengan
meningkatnya angka gangguan atas gereja-gereja dalam tahun 2010 yang lalu .
Menurut catatan kami di FKKJ jumlah gereja yang diganggu dalam tahun 2010 telah
meningkat menjadi 47 kasus dengan jumlah yang paling banyak terjadi diwilayah
pulau Jawa bagian Barat . Dalam tahun 2009 FKKJ hanya mencatat ada sekitar 10
kasus gangguan atas gereja-gereja jadi dalam tahun yang baru lalu telah terjadi
lonjakan sebanyak hampir lima kali lipat . Jadi keadaan ini amat memprihatinkan
kita semua . Mohon juga Anda semua membaca harian Suara Pembaruan hari Kamis
tanggal 6 Januari 2011 sore hari dihalaman 6 dimana kami telah menyatakan
keprihatinan kami atas situasi yang menyedihkan ini .
(Hari Jumat pagi Anda masih bisa menacari koran tersebut ditempat-tempat
penjualan koran)
Sekali lagi kami mengundang Bapak-Bapak, Ibu-Ibu dan Saudara-Saudari sekalian
untuk menghadiri acara tersebut diatas .
Tuhan Yesus memberkati
Salam hormat
Theophilus Bela
Ketua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta
RSVP : Bapak Gustaf Dupe, Sekum FKKJ Hp 0811 1 66 784 dan 08119 101 753
Ibu SAL Tobing, Bendahara FKKJ Hp 08161 866 869, 08139 842 5003
Sdri. Sonya, Sekertaris FKKJ Esia 021 333 962 90
Theophilus Bela, Hp 0816 180 6644
Sekertariat FKKJ : Telpon 426 5723 Fax 426 5903
Kantor FKKJ
Graha Bethel, lantai 2
Jalan Ahmad Yani kav. 65
Jakarta 10510
Berikut ini kami berikan petunjuk arah menuju gedung pertemuan Graha Bethel
sebagai berikut :
Dari arah Menteng-Salemba supaya Anda menuju Jalan Pramuka dan sampai
diperempatan Jalan Pramuka dengan Jalan Ahmad Yani dan Jalan Pemuda supaya Anda
belok kekiri menuju arah Tanjung Priok kemuadian Anda akan sampai dilampu merah
Rawasari disitu Anda supaya jalan lurus terus arah ke Tanjung Priok lalu
perhatikan sebelah kiri ada Pompa bensin Shell lalu ada pompa bensin Pertamina
dan dihadapan Anda ada gerbang tol supaya Anda mengambil jalur paling kiri
sebelah gerbang tol, nanti Anda menemukan Gedung Bertingkat Sekertariat Mahkamah
Agung, lalu ada kantor PLN lalu ada kantor BKKBN setelah itu ada sebuah gedung
bertingkat yang dihalamannya ada patung-patung rusa . Silahkan masuk kegedung
itu karena itulah Graha Bethel .
Kalau Anda dari jalan tol arah Cawang menuju Tanjung Priok maka keluarlah
digerbang Pramuka/Salemba dan Anda terus lurus menuju Priok melalui jalan layang
dan akan sampai di lampu merah Rawasari . Seterusnya ikutilah petunjuk diatas
tadi .
Kalau Anda dari jalan tol dari arah Priok menuju Cawang maka keluarlah digerbang
tol Pramuka/Salemba lalu carilah jalan balik menuju kembali ke arah Priok dan
seterusnya ikutilah petunjuk diatas tadi .
Dengan senang hati kami menantikan Bapak-Bapak Pendeta , Ibu-Ibu Pendeta serta
Saudara-Saudari sekalian untuk hadir dalam acara penting ini .
Theophilus Bela
