Kepada para pejabat negeri berasap, entah berapa banyak orang yang merasakan kekesalan, keresahan, dan kesakitan akibat munculnya asap yang menjadi rutinitas "pentas budaya tahunan" di Provinsi Riau. Sungguh suatu ironi, di daerah yang sangat kaya sumber daya alam dan dipimpin oleh orang-orang bergelar cerdik pandai di depan dan di belakang nama mereka, bencana asap tak bisa diatasi.
Lebih hebat lagi, penduduk Riau selalu dipersilakan beramai-ramai mengisap asap bakaran calon lahan perkebunan setiap tahun. Kalau kebakaran hutan dan lahan ini sudah berlangsung sejak tahun 1970-an, bayangkan entah sudah berapa puluh ribu anak dan orang tua yang menderita penyakit pernapasan karena terpaksa menghirup "segarnya" udara tahunan Riau ini.
Sungguh ajaib, jangankan mencegah terulangnya "penyakit" asap, bahkan untuk mencari para pembakar itu pun para pejabat yang terhormat seakan tidak mampu dan selalu terlambat bertindak.
Yang terhormat para pejabat yang berkuasa, jika Anda tidak sanggup mencegah dan mengatasi ini, hendaklah Anda memiliki malu, mengakui ketidaksanggupan Anda, dan mundur segera. Janganlah banyak berucap mencari pembenaran dan alasan.
Pemerintah pusat, mohon segera bertindak!
ANDY MARLIANO, DURI, RIAU
Tanggapan Indihome
Menanggapi surat Bapak Burhan Siregar (Kompas, 5/8) perihal layanan Indihome, atas nama manajemen Telkom, kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami.
Telkom telah menghubungi Bapak Burhan Siregar dan petugas Telkom sudah menarik jaringan dan setting paket Indihome. Selanjutnya administrasi penagihan Indihome juga sudah diselesaikan.
RETNO DYAH ARUMSARI, MANAGER PUBLIC RELATION JAKARTA
"Hard Disk" Hilang
Rabu (19/8) saya naik pesawat Lion Air JT 355 rute Padang-Jakarta pukul 15.05. Seperti biasa, barang berukuran besar masuk ke bagasi.
Dalam bagasi itu terdapat hard diskuntuk menyimpan data. Setelah dua hari di Jakarta, saya baru sempat melihat isi tas. Ternyata hard disk yang saya simpan di dalam tas merah kecil sudah tidak ada, hanya tersisa tasnya.
Dalam peraturan penerbangan, kehilangan bisa dilaporkan dalam waktu 1 x 24 jam sehingga lapor pun sia-sia. Saya yakin barang itu hilang saat di bagasi pesawat karena selama perjalanan saya naik mobil pribadi.
Mohon pengetatan pengamanan bagasi di bandara.
FAKHRI HERMANSYAH, KOMPLEKS IKIP DUREN SAWIT, JAKARTA TIMUR
Nasib Siberian Husky di Mampang
Bulan lalu, saya berkunjung ke daerah Mampang di kawasan Tegal Parang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Turun dari taksi, saya mendengar lolongan anjing yang sangat menyayat, berasal dari rumah di seberang rumah kawan saya.
Menurut kawan saya, anjing itu jenis siberian husky, umur sekitar tiga tahun, dikurung sejak pemilik rumah pindah ke situ kira-kira dua tahun lalu. Kandangnya kecil sehingga anjing itu tidak bisa berdiri dan badannya sudah bungkuk.
Halaman rumah itu kecil dan tidak ada pohon pelindung sehingga anjing itu kepanasan. Ia ditinggal di kandang seharian karena pemilik rumah bekerja.
Kawan saya, yang kebetulan pencinta binatang, menawarkan kepada pemiliknya untuk menitipkan anjing itu di rumahnya agar bisa diajak bermain dan berjalan-jalan. Malam, saat pemiliknya pulang, dikembalikan. Namun, hal itu hanya berjalan seminggu dan setelah itu pemiliknya menolak dengan alasan yang tidak jelas.
Siapa pun yang masuk ke Jalan Mampang Prapatan VIII RT 001 RW 001 bisa mendengar raungan anjing itu siang dan malam. Saya bukan pencinta anjing, tetapi hati saya tergetar mendengar rintihannya.
Saya mengimbau kelompok pencinta binatang agar berkunjung, meminta anjing itu dari pemiliknya, dan mencarikan pemilik baru karena pemiliknya tidak bisa merawat. Kalau tidak bisa merawat, sebaiknya memang tidak perlu memelihara binatang. Mungkin sudah saatnya pula pemerintah daerah Jakarta membuat peraturan daerah tentang perlindungan terhadap hewan peliharaan.
LELA MADJIAH, JL H SINEN RT 007 RW 007, RAGUNAN, PASAR MINGGU, JAKARTA SELATAN
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 September 2015, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar