Cari Blog Ini

Rabu, 16 September 2015

Militer Dikerahkan Atasi Pengungsi (Kompas)

Masuk akal jika negara-negara Eropa menghadapi situasi simpang siur ketika gelombang migran datang menyerbu wilayah mereka.

Di satu sisi muncul semangat kemanusiaan, di sisi lain menyadari, menerima ribuan pengungsi bukan urusan mudah. Setelah dalam beberapa bulan terakhir puluhan bahkan ratusan ribu pengungsi datang dari sejumlah negara di Afrika dan Timur Tengah, Eropa yang dipandang sebagai tanah impian harus menghadapi realita pelik.

Muenchen menjadi contoh. Ada lebih dari 13.000 pengungsi baru tiba di kota ini. Mereka untuk sementara ditampung di stadion yang digunakan untuk Olimpiade 1972. Namun, otoritas setempat khawatir mereka tak akan sanggup menangani lebih lanjut pengungsi. Yang dapat mereka lakukan adalah meminta kota lain membantu.

Langkah yang muncul adalah sesuatu yang terkesan kontradiktif. Di satu sisi muncul kesediaan menerima pengungsi, di sisi lain kontrol perbatasan di wilayah Schengen yang semula ditiadakan kini dihidupkan lagi. Ini jelas langkah untuk menghambat masuknya pengungsi. Langkah Jerman ini diikuti negara Uni Eropa lain, seperti Austria dan Slowakia. Jalan bagi pengungsi mencapai negara impian, dalam hal ini Jerman, pun semakin sulit.

Selain kontrol perbatasan, kemarin kita membaca Uni Eropa telah menyepakati rencana pelibatan militer untuk menanggulangi pengungsi yang juga terkait dengan penyelundupan manusia. Rencana ini disepakati menjelang sidang darurat menteri dalam negeri Uni Eropa. Mereka bertemu untuk membahas pembagian kuota pengungsi.

Dengan langkah baru ini, angkatan laut negara Uni Eropa bisa menaiki, menggeledah, menyita, dan mengalihkan kapal penyelundup (manusia) yang ditemui di Laut Tengah. Tampaknya Uni Eropa menyadari, dalam soal membanjirnya pengungsi ini, ada pihak yang mengambil keuntungan. Dengan alasan itu, Uni Eropa merasa perlu bertindak lebih tegas dengan memantau perairan Libya. Jika dipandang perlu, mereka akan menghancurkan kapal dan jaringan penyelundup sebelum mulai berlayar. Hal ini juga meniscayakan adanya operasi intelijen.

Kondisi di Eropa ini sungguh memprihatinkan dan memperlihatkan betapa makin peliknya masalah internasional. Kita tahu, pengungsi meninggalkan negara mereka karena kondisi sulit, baik karena konflik maupun penindasan. Ketika jumlahnya mencapai ratusan ribu, Eropa pun melihat bayangan suram. Itu masuk akal, mengingat kondisi perekonomian dunia juga sedang redup.

Sempat terdengar argumen, mungkin negara seperti Jerman bisa menampung pengungsi dan memberi mereka pekerjaan dan penghidupan. Namun, jika jumlahnya mencapai ratusan ribu, masalah sosial ekonomi pasti muncul. Ini membutuhkan pemikiran yang saksama tanpa harus kehilangan semangat kemanusiaan.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 September 2015, di halaman 6 dengan judul "Militer Dikerahkan Atasi Pengungsi".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger