Blog ini berisi KLIPING aneka kritik, opini, solusi yang dihimpun dari berbagai media. Situs ini merupakan kliping pribadi yang dapat diakses publik. Selamat membaca
Upacara peringatan hari lahir Pancasila di halaman Gedung Pancasila, Kementrian Luar Negeri, Jakarta, Sabtu (1/6/2019). Presiden Joko Widodo memimpin langsung upacara ini. Hadir pula dalam upacara ini presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri, wakil presiden ke-6 Try Sutrisno, dan Wapres ke-11 Boediono. Upacara berlangsung semarak, meriah, dan penuh warna karena hampir semua peserta yang hadir mengenakan pakaian adat Nusantara.
Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni dijadikan momentum untuk mempertegas lagi posisi Pancasila sebagai benteng pertahanan dan rumah bersama kebangsaan.
Penegasan tentang Pancasila sebagai benteng pertahanan dan rumah bersama kebangsaan disampaikan Presiden Joko Widodo pada pidato peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni lalu di Jakarta. Sebagai benteng pertahanan, nilai-nilai luhur Pancasila, seperti persatuan dan toleransi, merupakan kekuatan penangkal terhadap gempuran ideologi lain yang bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Benteng pertahanan dalam arti fisik ataupun metaforis perlu diperkuat dalam upaya terus-menerus melindungi dan mengamankan rumah bersama untuk seluruh komponen bangsa. Konstruksi benteng pertahanan, yang dibangun dengan sistem nilai Pancasila dan semangat gotong royong, perlu diperkuat dan diperbesar dari waktu ke waktu di tengah arus perubahan zaman yang tidak pernah berhenti, ibarat sungai yang terus mengalir, panta rhei.
Keganasan arus perubahan belakangan ini bahkan digambarkan berlangsung begitu cepat dan serempak, membuat waktu tidak lagi berlari tunggang langgang, run away, atau terbang, time flies, tetapi sudah meluncur lebih cepat daripada terjangan badai dan tsunami, bahkan adu cepat dengan sambaran petir. Sejauh ini, bangsa Indonesia dinilai mampu melewati berbagai guncangan keras arus perubahan terutama karena terus bertumpu kuat pada Pancasila.
Posisi strategis Pancasila sebagai orientasi sistem nilai bangsa Indonesia bertambah relevan dalam menghadapi era pasca-kebenaran, post truth, yang mengguncang hebat dunia karena menjungkirbalikkan fakta, kebenaran, dan makna. Tekanan terasa semakin keras karena era pasca-kebenaran tumpang tindih dengan munculnya ideologi kekerasan, radikalisme, ekstremisme, negativisme, dan nihilisme.
Tentu saja tantangan selalu datang silih berganti. Jauh lebih penting sebenarnya bagaimana menanggapi tantangan. Sangat relevan pernyataan Presiden yang menegaskan, dengan berlandaskan Pancasila, bangsa Indonesia yang besar dan majemuk mampu menghadapi masa-masa sulit. Bahkan, bangsa Indonesia kian kokoh bersatu saat menghadapi tantangan.
Setelah jauh berjalan 74 tahun, Republik Indonesia diharapkan semakin memperkokoh semangat persatuan, persaudaraan, dan gotong royong yang mengacu pada Pancasila dalam perjalanan panjang jauh ke depan untuk menggapai kesejahteraan seperti amanat Mukadimah Konstitusi. Tidak perlu berkecil hati pula karena tidak sedikit bangsa di dunia selalu mampu mengubah tantangan menjadi peluang.
Sekadar ilustrasi, Jepang dan Korea Selatan dengan sumber daya alam sangat terbatas dapat memacu kemajuan dan kemakmuran melalui upaya menggali kekuatan pada budaya yang menjadi kepribadian dan jati diri bangsanya. Kiranya bangsa Indonesia juga dapat menjadikan Pancasila yang merupakan jati diri budaya dan kepribadian bangsa sebagai sumber kekuatan dalam upaya menggapai kesejahteraan.
Kompas, 3 Juni 2019
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.
Tim kuasa hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang diketuai oleh Bambang Widjojanto mendaftarkan gugatan atas hasil Pilpres 2019 Gedung Mahkamah Konstitusi ( MK), Jakarta, Jumat (24/5/2019).
Penetapan hasil suara Pilpres 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (21/5/2019) tidak serta-merta meredam gejolak konstelasi politik nasional. Sebaliknya, momentum itu menjadi penyulut eskalasi politik dan pecahnya kerusuhan 22 Mei lalu. Informasi dan spekulasi mengenai auktor intelektualis, jaringan pelaku, penyuplai logistik, hingga target utama aksi kerusuhan masih terus berkembang.
Namun, dampak destruksi sosial, politik, dan ekonomi yang ditimbulkannya sudah benar-benar dirasakan. Selain menelan korban jiwa dan mendegradasi citra demokrasi Indonesia di mata dunia, kerusuhan 22 Mei juga merugikan perdagangan senilai ratusan miliar rupiah. Semua itu biaya mahal yang sepatutnya tak perlu dikeluarkan (unnecessary political-economic costs).
Kini, konstelasi politik pasca-Pilpres 2019 memasuki babak baru. Ketidakpuasan kubu 02 terhadap hasil pemilu telah disalurkan melalui langkah konstitusional. Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengajukan permohonan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) presiden dan wakil presiden ke Mahkamah Konstitusi (MK). Namun, upaya netralisasi konflik melalui jalur hukum itu tak menjamin akan memangkas akar konflik yang ada.
Sebaliknya, potensi sengketa hukum untuk berubah menjadi ancaman konflik horizontal berskala besar masih tetap terbuka. Kekhawatiran itu cukup relevan jika masyarakat mencermati poin-poin petitum atau materi tuntutan yang diajukan.
Misalnya, kubu Prabowo-Sandi meminta MK untuk membatalkan keputusan KPU tentang penetapan hasil pilpres dan menyatakannya sebagai keputusan yang tidak sah. Selanjutnya, kubu Prabowo-Sandi meminta MK untuk mendiskualifikasi pasangan calon presiden-wakil presiden Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dari Pilpres 2019 karena dianggap telah melakukan pelanggaran pemilu dan kecurangan secara terstruktur, sistematis, dan masif.
Mencermati dua dari tujuh petitum yang diajukan tersebut, ada nuansa strategi politik tijitibeh, 'mati siji mati kabeh', alias 'mati satu, mati semua'. Artinya, dugaan kecurangan sebagian saja itu kemungkinan akan digunakan untuk menghapus sebagian besar hasil tahapan pemilu, yang dianggap sah dan legitimate.
Konstruksi berpikir ini lahir karena adanya keyakinan mendalam atas terjadinya kecurangan masif, meski tak mudah membuktikannya. Apalagi selisih perolehan suara hampir 17 juta suara. Dalam ruang post-truth politics, di mana entitas kebenaran dan kebohongan semakin kabur, keyakinan atas suatu obyek, termasuk yang masih semu, akan relatif mudah dipertahankan (Wu, et al. 2017; Bullock, 2007).
Potensi kebuntuan politik Di lain pihak, kubu 01 juga memberikan pernyataan terkait ribuan laporan dugaan kecurangan yang menguntungkan kubu 02. Artinya, dugaan kecurangan terjadi di kedua belah pihak. Dalam situasi itu, kemungkinan munculnya kebuntuan politik (political deadlock) semakin terbuka.
Jika MK tidak mengabulkan materi gugatan, pihak penggugat berpotensi menolak (political denial) untuk memberikan pengakuan legitimasi atas produk kepemimpinan nasional, yang dihasilkan oleh berbagai tahapan demokrasi yang terlaksana.
DIDIE SW
Opini: Ancaman Instabilitas dan Strategi Rekonsiliasi– M Iftitah S Suryanagara
Di tengah masyarakat digital yang sangat terbuka ini, sikap politik tersebut berpotensi menjalar cepat ke akar rumput hingga melahirkan pembangkangan politik publik (political disobedience) dalam skala besar. Di sisi lain, pasangan petahana Jokowi-Amin tentu akan mempertahankan kemenangan yang telah mereka raih. Karena itu, jika tidak diantisipasi dengan baik, benturan kepentingan ini bisa berubah menjadi mobilisasi kekuatan massa yang akan saling berhadapan.
Mediasi untuk rekonsiliasi Potensi ancaman benturan massa dan konflik horizontal pasca-putusan MK hanya dapat dinetralkan dengan upaya rekonsiliasi antara capres Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Bahkan, pertemuan keduanya saja dapat menjadi oase bagi ketegangan politik nasional.
Untuk mewujudkan rekonsiliasi itu, perlu adanya penyelesaian politik (political settlement) di level elite sebagai fondasi terwujudnya rekonsiliasi. Setiap pihak harus menurunkan tensi dengan tidak mengeluarkan upaya provokatif, termasuk bagi para pendukung. Sejauh ini, capres petahana Joko Widodo telah mengirimkan utusan khusus sebagai juru rundingnya guna menemui capres Prabowo Subianto. Sejumlah nama seperti Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan hingga Wakil Presiden Jusuf Kalla telah muncul di permukaan.
Dalam mediasi, dialog yang setara antarelite dan pemangku kepentingan menjadi syarat utama. Prinsip winner takes all bukanlah pilihan bijak untuk menghadirkan perdamaian (Moore, 2014; Galtung dan Fischer, 2013). Kemampuan untuk mencari titik temu (win-win solution) dalam visi kebangsaan menjadi keniscayaan.
Dengan demikian, pemerintahan mendatang dapat menjalankan tugasnya dengan baik, yang tidak hanya berbekal asas kepatuhan hukum (putusan MK), tetapi juga adanya penerimaan dan pengakuan legitimasi dari rival politik.
Di tengah pentingnya dialog nasional, penegakan hukum harus juga mempertimbangkan kepentingan yang lebih besar. Upaya penegak hukum yang menangkap orang-orang yang diduga menyebarkan hoaks atau ujaran kebencian haruslah tidak berpihak dan menjunjung tinggi asas keadilan. Sebab, rasa keadilan merupakan syarat fundamental akan hadirnya perdamaian (Gandhi, 2007; Rahardjo, 2005).
Memang, tidak mudah melakukan pendekatan politik di tengah ketegangan situasi. Dibutuhkan mediator andal untuk bisa merangkul kedua belah pihak. Pertemuan terakhir Jusuf Kalla dan Prabowo mungkin menyisakan harapan tercapainya titik temu tersebut, kendati belum muncul tanda-tanda keberhasilan hingga sekarang.
Sebagai alternatif, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpotensi menjadi mediator. Selain memiliki rekam jejak dalam proses resolusi konflik, SBY tidak memiliki resistansi psikologis dan politik dengan keduanya. SBY juga pernah menjadi penanggung jawab penyelenggara Pemilu 2014 ketika Jokowi dan Prabowo berlaga pertama kalinya.
Alternatif lainnya, selain individu-individu yang bisa menjadi mediator, kedua belah pihak juga dapat menggunakan kolektivitas beberapa tokoh, yang dianggap mampu menjembatani komunikasi keduanya.
Opsi terakhir, Presiden Jokowi selaku petahana dapat menyampaikan undangan terbuka kepada Prabowo guna menjaga kesejukan dan stabilitas politik nasional. Undangan terbuka itu dapat disampaikan langsung melalui konferensi pers agar diketahui khalayak umum serta tidak menimbulkan fitnah tentang adanya politik transaksional. Jika undangan tak berbalas, undangan selanjutnya dapat diulangi kembali sebagai konfirmasi atas keseriusan niat berekonsiliasi.
Respons setiap pihak akan memberikan kesempatan bagi rakyat, khususnya setiap pendukung, untuk memberikan penilaian terhadap kualitas dan keseriusan pemimpin mereka untuk merumuskan masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejatinya, masyarakat Indonesia yakin, setiap capres pasti memiliki harapan mulia atas masa depan bangsa ini.
M Iftitah S SuryanagaraPraktisi Strategi, CEO dan Founder Romeo Strategic Consulting
Kompas, 3 Juni 2019
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.
Jenasah Ibu Negara keenam Ani Yudhoyono tiba di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Minggu (2/6/19). Ani Yudhoyono dimakamkan secara militer di TMP Kalibata.
Pada 1 Juni, pas pada Hari Pancasila, kami menerima berita duka bahwa Ibu Ani yang kami cintai dan banggakan telah berpulang ke pangkuan Allah SWT. Rasa sedih yang mendalam menyelimuti diri kami. Sebagai pembantu Presiden SBY, selama 10 tahun, kami merasakan sentuhan Ibu Ani, sebagai seorang ibu yang selalu memberikan semangat, dukungan, perlindungan, dan mengayomi kita semua. Beliau seorang yang kuat, karismatik, dan pada saat yang bersamaan hangat dan rendah hati.
Ibu Ani sudah berpulang ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Kita tak bisa bertemu lagi, berkeluh kesah, ataupun bertawa riang. Namun, warisan Ibu Ani akan terus hidup di antara kita dan terus menginspirasi kita. Berdasarkan pengalaman pribadi dan interaksi kami dengan Ibu Ani, sebagai Ibu Negara, beliau dapat menggunakan posisinya untuk meninggalkan berbagai warisan penting.
Pertama, peran Ibu Ani dalam memperjuangkan peran perempuan. Ibu Ani mempunyai peran dalam memprioritaskan peningkatan peran perempuan dalam banyak hal. Sebagai salah satu menteri perempuan pada Kabinet Presiden SBY, kami sangat merasakan dukungan, perlindungan, dan dukungan moril dari beliau. Beliau menghargai dan memahami posisi perempuan yang berkarier dan profesional, baik sebagai menteri perempuan maupun profesional lain.
Beliau juga selalu mengedepankan isu perempuan secara lebih luas, apakah perlindungan terhadap TKI perempuan yang tidak diperlakukan dengan baik, nasib dan kesejahteraan pembatik dan pedagang-pasar perempuan, sampai dengan hak-hak perempuan secara hukum. Bahkan dalam beberapa hal, beliau tidak hanya peduli, tetapi juga mendorong supaya ada suatu tindakan dan kebijakan yang diambil.
Kedua, peran beliau sebagai katalisator untuk mengembangkan wastra dan busana Nusantara, mulai dari batik. Menurut hemat kami, baik Ibu Ani maupun Pak SBY sangat berperan dalam mencetuskan gerakan penggunaan batik. Kami masih ingat bagaimana Ibu Ani berpesan, jika kita ingin masyarakat Indonesia bangga menggunakan batik, harus dimulai dari diri kita sendiri.
Berbagai gerakan dilaksanakan, termasuk penggunaan batik pada hari Jumat, di acara-acara pemerintahan (termasuk acara internasional) dan yang akhirnya menyebar ke daerah dan swasta, serta menjadi lebih populer lagi setelah mendapat sentuhan dari para desainer mode.
Beliau tidak lelahnya mempromosikan batik dan mendorong agar batik diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia oleh UNESCO, yang tercapai pada 2 Oktober 2008, yang akhirnya menjadi Hari Batik Nasional. Salah satu ucapan Ibu Ani yang tidak akan saya lupakan adalah harapan beliau bahwa batik bisa hidup seribu tahun lagi, dan hal tersebut hanya mungkin jika kita terus mengembangkan batik, memperhatikan perajin batik, mengembangkan desain, dan kreatif dalam penggunaannya secara kontemporer.
Selain batik, Ibu Ani juga mendorong tenun serta semua wastra dan busana Nusantara dengan prinsip yang sama, dan juga selalu tampil anggun dalam menggunakan busana Nusantara, sehingga menjadi panutan bagi kita semua. Beliau juga mempunyai kepedulian agar warisan budaya perlu didokumentasikan agar masyarakat menjadi lebih peduli dan bangga. Ada beberapa buku mengenai batik dan tenun yang beliau prakarsai yang menjadi referensi penting.
Ketiga, dukungan beliau terhadap ekonomi kreatif. Sebagai menteri yang menangani ekonomi kreatif, mulai dari sejak kami di Kementerian Perdagangan, baik Bapak SBY maupun Ibu Ani merupakan pendorong dan penyemangat utama dari berkembangnya ekonomi kreatif.
Beliau sendiri, atau dengan Pak SBY, selalu hadir dalam semua acara terkait ekonomi kreatif pada awal-awal proses mengaktivasi pentingnya ekonomi kreatif sebagai kekuatan baru, ide untuk menularkan virus K (Kreatif) dan berbagai acara, seperti Bulan Ekonomi Kreatif, di mana kami bekerja sama dengan pusat perbelanjaan untuk menyediakan tempat bagi pelaku kreatif untuk memajang produknya.
Beliau juga mendukung ide menyalurkan berbagai binaan pemerintah yang sudah berhasil di sejumlah sektor industri kreatif di dalam suatu wadah yang menjadi etalase the best of Indonesia. Wadah tersebut adalah alun-alun yang akhirnya menjadi tempat untuk juga menjamu tamu negara. Dukungan beliau tidak terbatas kepada wastra, mode, dan kriya Indonesia, tetapi juga terhadap semua sektor ekonomi kreatif, seperti animasi, musik, film, dan termasuk pengembangan karya Indonesia untuk edukasi anak-anak.
Apresiasi dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan memberikan penghargaan Dharma Cipta Utama pada 2014, atas peran beliau dalam melestarikan warisan budaya dan pengembangan ekonomi kreatif, rasanya tidak sebanding dengan kontribusi beliau.
Selamat jalan, Ibu Ani. Kami menulis ini dengan meneteskan air mata, sedih campur bahagia karena pernah bersentuhan dengan Ibu Ani, dan dalam keyakinan warisan Ibu untuk Indonesia akan hidup seribu tahun lagi.
Mari PangestuMenteri Perdagangan 2004-2011 serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2011-2014
Kompas, 3 Juni 2019
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.
Aku gundah. Ya! Gundah memikirkan nasib keturunan Daouda dan Dibo, temanku sewaktu aku di Mali, Afrika Barat, 51 tahun yang lalu. Daouda dan Dibo meninggal dalam persaudaraan. Namun lain dengan kerabat dan keturunannya, yang kini saling bantai. Di negeri Dogon yang indah itu, di Ogossagou pada tanggal 23 Maret 2019.
Aku masih teringat sungai besar, Bani, yang bermuara di sungai mahabesar Niger, mungkin 1 kilometer lebarnya, di kota Mopti. Sungai itu membawa air—dan kehidupan—di tengah negeri-negeri yang tanpa aliran air pasti menjadi lahan kering nyaris tak berpenghuni. Yang menguasai aliran kedua sungai itu adalah suku Bozo. Di pelabuhan Mopti kita melihat perahu mereka membawa hasil pancingannya ke pasar. Ditukar dengan sorgum, untuk dimasak para wanita di pulau-pulau mungil pinggiran sungai yang menjadi pemukiman favoritnya.
Daouda adalah seorang Fulani, suku penggembala yang telah memperkenalkan ayat-ayat suci ke negeri-negeri antarsungai di atas. Ayat tersebut konon disalin dari kitab-kitab kuno asal Maroko yang disimpan di kota Timbuktu yang termasyhur itu, pintu Gurun Sahara, 300 km di utara. Alhmarhum ayahnya adalah seorang marabout, ahli Al Quran yang anak sulungnya telah "diminta" penjajah Perancis untuk bersekolah di Bamako, hampir 30 tahun sebelumnya. Sekarang dia kembali mengunjungi desa kelahirannya.
Sesampainya di Bandiagara, kami masih harus berjalan kaki berjam-jam. Kendaraan sangat langka waktu itu. Kami melangkah diguyur keringat. Sangha tidak jauh lagi. Sudah terlihat gubuk-gubuk tanah popolannya di kaki tebing di kejauhan.
Tiba-tiba, 100 meter ke depan, terdengar suara lantang memanjang: "Eeeh Hoo, kau dari mana, siapa kau…?" "Saya putra almarhum Mamadou Tall, sang Marabout Sangha", saut Daouda.
Suasana melengang sejenak, lalu sautan terdengar lantang kembali: "Lamaaa kau pergi, Daouda, saya Dibo, 'budak' ayah kau… syukurlah, kau kembali ke rumah akhirnya"… Acara bersaut-sautan selesai, Daouda dan Dibo saling mendekat dan berangkulan dengan erat sesuai dengan adatnya.
Lalu, sembari berjalan Daouda bertutur, di dalam bahasa Perancis: "Dibo memang 'budak' dalam adatku, leluhurnya telah takluk pada leluhur saya, satria Fulani, pada abad ke-19. Dia juga 'saudara' sekampung, teman sepemburuanku waktu kecil. Ayahnya adalah tetua Dogon, suku mayoritas di daerah ini. Orang Dogon 'lain' dari kami. Biarpun takluk, mereka tidak pernah merangkul Islam. 'Kami tidak perlu,' kata mereka. Kami sudah memiliki kebenaran Amma,' dewa utamanya. Saya masih mengenang dalih yang konon dikedepankannya: 'bukankah kebenaran bagai puncak bukit Bandiagara: ada saja beberapa lorong menuju ke sana'…. Bukankah itu toleransi adat?"
Perlukah meneruskan sambutan keluarga Daouda, pesta para keluarga "budak-budak" Dogonnya? Tidak. Cukup mengatakan betapa saya terharu membiarkan perbedaanku lentur dalam persamaan….
Tahun-tahun kemudian berlalu. Lima puluh tahun. Saya menua, kini di Indonesia. Mali pun berubah: kekeringan meluas, ternak kian ringkih. Sepeda motor menggantikan kuda dan unta. Sekolah dibuka. Buku-buku didatangkan entah dari Paris atau dari Jeddah. Jip-jip turis berbondong ke Sangha, tertarik oleh Dewa Amma dan penari sakralnya.
Lalu, apakah karena kata-kata telah berganti makna? Apakah karena para ksatria Fulani dipanggil "feodal"? Dan para "budak" Dogon dipanggil kafir? Bisa jadi. Yang pasti tanah damai kini telah menjadi tanah rusuh. Ternak orang Fulani dicuri. Datanglah berita sejumlah pemuda Fulani berkumpul dengan sang emir Amadou Koufa. Dan tiba-tiba maut menyambar: 135 kerabat Daouda dibantai kerabat Dibo.
Dan bagaimana saya kini, di Indonesia? Prihatin. Mengingat perkataan bijak sobat Bali: "Bagi kami agama bak sungai; semua berasal dari gunung untuk semua bermuara di laut," berdengung di telingaku tuturan si tetua Dogon: "kebenaran bagai puncak bukit Bandiagara: ada saja beberapa lorong menuju ke sana".
Teman-teman Indonesia yang saya cintai. Mari kita bersama memandang ke depan: janganlah membiarkan sungai Indonesia dikotori merah darah sebagaimana orang Mali telah membiarkan lorong-lorong Bandiagara dikotori merah darah pula. Ingatlah bahwa puncak-puncak tak pernah berdarah.
Kompas, 2 Juni 2019
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.
Saya sedang asyik menyaksikan film di telepon genggam saat peranti itu tiba-tiba mati karena baterai yang sudah habis. Jengkelnya luar biasa. Selamatnya, sekarang saya sudah dapat lebih mengontrol emosi. Kalau itu terjadi beberapa tahun lalu, bisa jadi telepon genggam itu tak akan berbentuk lagi.
Kesal
Setelah peranti itu mati, saya diam di sofa. Perasaan saya masih diliputi kekesalan yang sangat. Saya kesal karena di saat merasakan serunya jalan cerita, tiba-tiba harus berakhir secara tak terduga. Dengan perasaan yang masih kesal itu, saya berkata dalam hati. "Kayak gini kali ya, perasaan orang itu kalau lagi merasa sehat-sehatnya terus divonis dokter dengan penyakit yang mematikan."
Mungkin seperti ini perasaan seorang pengusaha ketika usahanya sedang berjalan baik-baik saja, kemudian tiba-tiba sebuah problem muncul entah itu karena faktor luar atau dari dalam, yang membuat usahanya itu bangkrut. Mungkin begini rasanya ketika seorang ibu atau orangtua yang melihat anaknya di pagi hari masih sehat walafiat, tiba-tiba menerima berita bahwa anaknya meninggal dunia karena kecelakaan atau bunuh diri di siang hari.
Mungkin kesalnya setengah mati bagi pasangan yang hubungan pernikahannya berjalan dengan baik bertahun lamanya, tetapi tiba-tiba dikagetkan dengan sebuah perselingkuhan yang tak diketahui telah berlangsung selama usia pernikahan itu.
Mungkin sekarang saya bisa membayangkan kesalnya atau kagetnya perasaan teman saya ketika di suatu hari memergoki suaminya berpacaran dengan sesama pria. Mungkin begitu kesalnya perasaan seseorang ketika pertemanan yang bertahun lamanya berjalan dengan begitu menyenangkan, tiba-tiba harus hilang karena perbedaan cara pandang politik.
Di siang itu, sejuta kata mungkin berseliweran di kepala saya. Saya dapat membayangkan betapa mengesalkannya kehilangan sesuatu atau seseorang di puncak kesenangan sebuah pertemanan, di puncak kebahagiaan sebuah pernikahan atau kesendirian, dan di puncak ketenangan sebuah perjalanan.
Setelah sejuta kata mungkin berhenti berseliweran di kepala, saya melanjutkan berdialog dengan diri saya sendiri seperti biasanya. Dialog yang terjadi itu untuk mengakali bagaimana caranya untuk melupakan kekesalan yang terjadi.
Dialog yang dibuat itu untuk membuat kejadian yang mengesalkan tersebut dapat dianggap sah terjadi. Dialog yang hanya punya satu tujuan untuk meredamkan rasa kesal itu.
3, 2, dan 5
Maka saya mulai meyakinkan diri saya sendiri untuk tidak kesal karena peristiwa semacam cerita saya di atas itu selalu akan terjadi selama kehidupan ini berlangsung. Ada pelangi setelah hujan, ada kedamaian setelah huru-hara, ada kebencian setelah percintaan, ada kecemburuan setelah ada asmara, ada akhir setelah awal, ada sehat setelah sakit, ada penerimaan setelah penolakan, ada kematian setelah hidup.
Saya manggut-manggut mendengar dialog saya sendiri. Saya sangat mengerti semua yang saya tuliskan di atas karena memang demikianlah kehidupan yang saya lihat dan alami sendiri. Saya tak bisa mengelak bahwa kekesalan itu terjadi.
Saya tak bisa meniadakan kekesalan, saya tak bisa meniadakan kekagetan yang disodorkan kehidupan. Saya tak bisa selalu mengontrol situasi yang memungkinkan kesenangan saya tak dirampas di puncak kenikmatan.
Karena pengorbanan dan usaha yang saya buat untuk memiliki perusahaan yang sukses, memiliki hubungan asmara yang sehat dan kalau bisa langgeng, mencintai anak-anak saya tanpa meminta imbalan, memelihara pertemanan dan hubungan agar tak terjadi friksi yang berarti, tak menjamin bahwa semuanya tak akan dirampas kehidupan secara tiba-tiba.
Pengorbanan saya untuk memelihara agar ginjal hasil transplantasi saya bisa baik bertahun lamanya, ternyata tak menjamin apa-apa karena beberapa minggu lalu, hasil CT Scan saya menunjukkan adanya pembengkakan pada ginjal itu.
Kelegawaan saya untuk menerima berita itu dari mulut seorang dokter juga tak membuat kehidupan itu berhenti menambahkan pembengkakan di tempat lain, yang sampai tulisan ini Anda baca, tak seorang pun dari dua dokter yang saya datangi tahu mengapa itu terjadi.
Semua itu terjadi secara tiba-tiba di tengah saya sedang menikmati kehidupan profesional yang menantang, kehidupan personal yang membahagiakan. Sampai saya berpikir bahwa kehidupan itu mungkin tak memiliki belas kasihan.
Bahwa kehidupan tak berhitung dengan cara saya berhitung. Kalau saya sudah dapat 3 penyakit, maka kehidupan akan merasa iba untuk tidak memberikan tambahan 2 penyakit lagi. Ternyata tidak. Ternyata saya keliru besar. Kehidupan seolah tak peduli dengan angka 3, 2, dan 5.
Kehidupan dapat mengambil kebahagiaan, kesehatan, atau kesuksesan saat di puncak. Ia tak berbelas kasihan. Karena kehidupan itu yang memberikan kebahagiaan, dan kehidupan itu yang dapat mengambilnya kembali. Dialog saya hentikan dan memilih untuk berbaring dengan mata riyep-riyep. Meski kekesalan masih membara di hati.
Kompas, 2 Juni 2019
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.