Cari Blog Ini

Sabtu, 16 November 2013

TB Simatupang Pahlawan Nasional (Sayidiman Suryohadiprojo)

Oleh:  Sayidiman Suryohadiprojo

ALMARHUM Letjen TNI TB Simatupang mendapat penghargaan negara Republik Indonesia dengan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.
Sebagai yunior almarhum dalam TNI dan sesama pejuang kemerdekaan, saya merasa gembira dan bangga atas pengangkatan ini serta mengucapkan selamat kepada keluarga Simatupang dan masyarakat Tapanuli.

Saya mengenal Pak Sim (begitulah dia biasa disebut para yuniornya di TNI) sejak 1945. Ketika pada November 1945 diterima menjadi taruna Akademi Militer di Yogyakarta, saya menjadi anggota Kompi 2 Seksi 2. Komandan Seksi 2 adalah Letda Ramelan yang suatu saat minta saya datang di tempat tinggalnya. Pak Ramelan tinggal di Jalan Gondokusuman,  serumah dengan Kapten TB Simatupang.   Penghuni utama rumah itu, Mayor Djoko Soejono,  atasan langsung Pak Sim. Ia kepala bagian organisasi di Markas Besar Tentara (MBT) dan atasan Pak Ramelan di PETA zaman Jepang .

Ketika sore hari Kun, teman satu seksi, dan saya datang di tempat tinggal Pak Ramelan, ia mengatakan ingin memperkenalkan kami kepada Pak Simatupang agar kami sebagai taruna mendapat wejangan dari Pak Sim yang di zaman penjajahan Belanda menjadi kadet di Koninklijke Militair Academie (KMA) di Bandung. Beruntunglah kami bahwa Pak Sim tak keberatan bertemu dua taruna untuk mohon nasihat dan wejangan Pak Sim. Sejak itu saya mengenal Pak Tahi Bonar Simatupang itu.

Orang pintar
Dari cerita Pak Sim, kami tahu bahwa Pak Sim sejak 1940 menjadi kadet KMA Bandung Jurusan Zeni. Bersama dia sebagai kadet adalah Abdul Harris Nasution yang pada 1945 memimpin Divisi Sliwangi. Hanya Pak Nasution adalah kadet infanteri, demikian pula Pak Alex Kawilarang yang ketika itu memimpin brigade di lingkungan Siliwangi.  Yang kadet artileri adalah Pak Askari.

Setelah pertemuan pertama itu, kami beberapa kali bertemu Pak Sim lagi. Saya mendapat informasi bahwa di lingkungan kadet KMA Bandung, Pak Sim terkenal sebagai orang pintar. Sebab itu, mungkin Pak Oerip Soemohardjo sebagai pemimpin MBT menetapkan Pak Sim sebagai Kepala Organisasi MBT. Selanjutnya, Pak Sim besar perannya dalam reorganisasi dan rasionalisasi TRI dan terbentuknya TNI sebagai gabungan semua laskar dengan TRI.

Pak Sim juga aktif menentukan strategi militer menghadapi Belanda. Bersama kawan-kawannya di MBT, Pak Sim memikirkan bahwa untuk mencapai hasil positif dan efektif dalam menghadapi kekuatan militer Belanda, perjuangan militer kita tak dapat hanya secara frontal atau  konvensional. Pak Nas sebagai Panglima Siliwangi  juga memberi
pendapatnya atas dasar kenyataan dalam pasukan yang ia pimpin.

Militer Belanda yang didukung oleh Inggris berhasil
membentuk kekuatan dengan persenjataan dan peralatan lebih unggul dari yang ada pada TNI. Dengan demikian, perlawanan frontal terhadap militer Belanda tak dapat memberi hasil yang positif-efektif bagi perjuangan kita.

Pak Sim dan kawan-kawan mempelajari sejarah militer, khususnya Perang Dunia 2. Kesimpulan mereka adalah perlawanan yang efektif  terhadap keunggulan teknologi musuh harus dilakukan dengan cara perang kewilayahan, bukan garis atau frontal.

Disimpulkan bahwa kita harus membentuk wehrkreise atau wilayah perlawanan di sekitar posisi musuh. Musuh mungkin saja bisa bergerak maju cepat dengan memanfaatkan keunggulan senjata dan peralatannya, tetapi ia tak mungkin menguasai seluruh wilayah dan hanya menguasai titik penting dalam wilayah itu. Kemudian dengan taktik gerilya musuh dipereteli kekuatannya tanpa mampu memukul kekuatan kita yang cepat menghilang sehabis memukul.

Ermattungsstrategie ini disetujui Jenderal Sudirman sebagai Panglima Besar TNI dan dilaksanakan ketika Belanda melancarkan serangan pada 18 Desember 1948. TNI yang telah disiap- kan dan diorganisasi untuk Perang Rakyat Semesta itu memang tak dapat menolak Yogyakarta direbut Belanda dan bagian terbesar Pemerintah RI ditahan.

Setelah itu TNI bersama rakyat di bawah pimpinan Panglima Besar Sudirman, yang tak sudi tinggal di Yogya sekalipun sakit keras, melakukan pukulan-pukulan kepada Belanda yang meyakinkan dunia internasional bahwa Belanda tak mampu menguasai Indonesia. Serangan 1 Maret 1949 atas Yogyakarta, kembalinya pasukan Siliwangi di Jawa Barat, dan pertempuran di kota Solo, itu indikasi Belanda gagal menguasai Indonesia.

Berperan besar
Dunia internasional, khususnya AS yang sedang ber-Perang Dingin dengan Uni Soviet, tidak mau Indonesia kacau. Belanda didesak mengakui kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia. Hal itu terjadi pada 27 Desember 1949 setelah  Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag menghasilkan pengakuan Belanda itu. Pak Sim yang sudah
naik pangkat menjadi kolonel dan duduk dalam delegasi Indonesia berperan besar  dalam KMB.   

Sejak awal perjuangan kemerdekaan, Pak Sim berperan besar dalam hal-hal menyangkut pemikiran, sekalipun bukan perwira yang memimpin pasukan di lapangan. Tak mengherankan,
pada 1950, setelah Panglima Besar Sudirman wafat, Pak Sim-lah yang ditetapkan sebagai Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) dengan pangkat letnan jenderal.

Namun, setelah 1954 terjadi perkembangan politik dalam negeri RI yang rupanya oleh Pak Sim kurang dapat didukung. Pak Sim mengajukan pengunduran diri kepada Presiden Soekarno pada 1959 dan selanjutnya pensiun sebagai letnan jenderal.

Setelah itu, Pak Sim lebih aktif di dunia nonmiliter dan mencurahkan perhatian kepada dunia Gereja Kristen Protestan sampai wafatnya pada Januari 1990 di usia hampir 70 tahun.

Berkat pengabdiannya kepada perjuangan bangsa Indonesia, te- patlah bahwa Pak Tahi Bonar Simatupang mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Sayidiman Suryohadiprojo,  Mantan Gubernur Lemhannas   

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003111690
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger