Penahanan pada Jumat pekan lalu itu memberi harapan segera jelasnya duduk perkara penyelamatan Bank Century melalui pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. Pemberian FPJP akhir tahun 2008 sebesar Rp 6,7 triliun dianggap merugikan negara.
Upaya KPK mengurai sisik melik kasus Bank Century harus berjalan demi kepastian hukum dan memenuhi rasa keadilan masyarakat. Pengungkapan kasus Bank Century diharapkan akan menjaga kredibilitas Bank Indonesia sebagai otoritas kebijakan moneter nasional tertinggi.
Penting menjaga kewibawaan dan kredibilitas BI mengingat posisinya. Juga, karena ke depan tantangan dari dalam negeri dan dunia internasional tidak ringan.
Dari dalam negeri, tantangan datang dari defisit transaksi berjalan yang bukan hanya berasal dari defisit perdagangan, melainkan juga pada strategi pembangunan kita.
Membesarnya defisit akan memengaruhi cadangan devisa dan nilai tukar rupiah. Rupiah termasuk yang terdepresiasi cukup besar pada Agustus lalu saat Bank Sentral Amerika Serikat mengumumkan rencana mengurangi pembelian obligasi pemerintahnya (quantitave easing).
Dalam pertemuan tahunan Bankers' Dinner di BI pekan lalu, Gubernur BI Agus DW Martowardojo menyebut tiga tantangan: ketidakpastian kecepatan pemulihan global, meluasnya ketidakpastian seiring ketidaktegasan kebijakan di Amerika Serikat, dan ketidakpastian harga komoditas.
Pernyataan Gubernur BI menegaskan kembali tantangan kita. BI perlu bahu-membahu dengan pemerintah sebagai pemegang kebijakan fiskal untuk menjaga momentum pembangunan.
Harga komoditas yang tinggi di pasar dunia menyebabkan pemerintah lalai membangun industri bernilai tambah dalam rantai nilai. Defisit perdagangan disebabkan ketergantungan sangat besar pada ekspor komoditas mineral, tambang, dan perkebunan. Sepanjang sejarah, harga komoditas selalu bergejolak di pasar internasional.
Untuk naik kelas menjadi negara berpenghasilan menengah-atas, pertumbuhan tidak bisa digantungkan pada komoditas. Meski sudah agak terlambat, industrialisasi dengan teknologi dan inovasi wajib segera dilakukan.
Sementara, impor bahan bakar migas dan barang yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri, terutama memenuhi kebutuhan kelas menengah, terus meningkat.
Transformasi strategi pembangunan dengan membangun industrialisasi hingga ke hulu tidak dapat dihindari. Tanpa transformasi, energi perekonomian Indonesia akan habis digunakan untuk respons yang lebih reaktif menghadapi gejolak perubahan global.
Akibatnya, pembangunan tidak mampu mengejar pertumbuhan jumlah penduduk dengan peningkatan kebutuhannya, kesenjangan akan terus melebar. Bukan itu pembangunan yang kita inginkan.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003223720
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar