Pemerintah Amerika Serikat pada Selasa lalu mengumumkan persetujuannya atas penjualan rudal-rudal antiserangan balistik kepada Jepang.

Entah kebetulan atau tidak, pengumuman persetujuan itu dilakukan di tengah maraknya pemberitaan mengenai pertemuan Korea Selatan-Korea Utara. Setelah tidak berdialog selama dua tahun, kedua negara bertatap muka di kawasan perbatasan dengan agenda utama membahas keikutsertaan atlet Korut dalam Olimpiade Musim Dingin di Korsel.

Penjualan empat rudal antibalistik itu masih harus mendapat persetujuan dari Kongres AS. Rudal-rudal buatan Raytheon Co dan BAE ini bernilai 133 juta dollar AS.

Penjualan tersebut selaras dengan keinginan Washington yang disampaikan Presiden Donald Trump saat berkunjung ke Tokyo, November silam. Ketika itu, AS meminta Jepang agar lebih banyak membeli sistem persenjataan dari AS. Permintaan ini sangat dapat dipahami di tengah penerapan kebijakan Trump untuk mengutamakan kepentingan AS, yang diartikulasikan lewat retorika "America First".

Lewat kebijakan itu, Pemerintah AS antara lain berupaya mengatasi defisit perdagangan dengan sejumlah negara. Dalam perdagangan dengan Jepang, pihak AS mengalami defisit sebesar 63,3 miliar dollar AS pada 2017. Angka ini menurun ketimbang defisit tahun 2016, yakni 68,8 miliar dollar AS.

Dalam kunjungan ke Tokyo pada November 2017, kedua belah pihak juga mempertegas aliansi militer yang sudah terjalin selama ini. Aliansi Jepang-AS terbentuk pada awal 1950-an atau di akhir pendudukan militer Sekutu atas negara itu setelah Perang Dunia II. Aliansi ini menjadi dasar bagi kehadiran aktif AS di kawasan.

Terkesan ingin menyesuaikan diri dengan arah kebijakan Trump, kabinet PM Jepang Shinzo Abe pada Desember 2017 menyetujui anggaran pertahanan sebesar 46 miliar dollar AS untuk 2018 yang dialokasikan, antara lain, bagi peningkatan kekuatan pertahanan dengan membeli pencegat rudal SM-3 Block IIA yang dirancang untuk menghancurkan rudal balistik di angkasa. Penggunaannya juga diarahkan bagi pembaruan rudal Patriot dan persiapan pembangunan sistem radar Aegis Ashore buatan AS.

Kabinet Jepang juga menyetujui tambahan 208 juta dollar AS bagi sistem pencegat rudal generasi baru. Laporan menyebutkan, pengeluaran yang sebagian besar untuk membeli peralatan dari AS akan membuat berkurangnya produksi peralatan pertahanan dalam negeri Jepang.