
FILE PHOTO: The Chief Executive Officer (CEO) of ride-hailing company Uber, Dara Khosrowshahi, on stage during an event in New York City, New York, U.S., September 5, 2018. REUTERS/Carlo Allegri/File Photo
Uber perusahaan teknologi berbasis berbagi tumpangan (ride hailing) sudah menawarkan saham perdana (IPO) di lantai bursa New York akhir pekan lalu. Hasilnya kurang menggembirakan karena harga sahamnya jatuh 7,6 persen ketika pasar ditutup. Valuasi Uber yang semula diperkirakan mencapai di atas 100 miliar dollar AS sudah tentu tak tercapai. Pelajaran berharga bagi pelaku bisnis berbagi tumpangan di Indonesia.
Menjelang penawaran saham perdana, euforia mewarnai hari-hari menjelang IPO yang dilakukan Jumat (10/5/2019) waktu Amerika Serikat. Salah satu analis menyebutkan, valuasi saham Uber yang beredar di pasar-pasar privat sekitar 76 miliar dollar AS, namun saat IPO diperkirakan bisa mencapai 90 miliar dollar AS hingga 120 miliar dollar AS. Akan tetapi, penawaran saham perdana Uber ini dibayangi-bayangi nasib tragis IPO pesaing Uber yaitu Lyft. Pasca IPO saham mereka malah turun.
Kecemasan terhadap nasib saham Uber juga tak terhindarkan karena usaha mereka tak akan segera membuat keuntungan dalam waktu dekat. Mereka masih "membakar uang". Cara ini dilakukan dengan membuat subsidi harga yang diharapkan bisa menarik pengemudi dan juga penumpang. Mereka tengah berkompetisi dengan perusahaan sejenis sehingga melakukan langkah itu. Diversifikasi usaha mereka juga berbiaya sangat mahal. Perusahaan seperti ini cenderung ekspansif namun mulai terlihat datar dalam mencari pengemudi dan penumpang baru.
Penawaran saham perdana Uber ini dibayangi-bayangi nasib tragis IPO pesaingnya, yaitu Lyft. Pasca-IPO saham mereka malah turun.
Masalah lainnya selama ini mereka dirundung berbagai skandal seperti tuduhan pelecehan seksual, pengintipan data, dan penggunaan perangkat lunak untuk menghindar dari otoritas. Berbagai kasus ini sudah barang tentu membuat citra Uber tercoreng. Beberapa investor sempat meminta penjelasan mengenai penanganan kasus ini. Travis Kalanick terpaksa harus turun dari tampuk pimpinan Uber hingga digantikan oleh Dara Khosrowshahi yang menjadi CEO hingga saat ini.
Bisnis transportasi daring ke depan juga dilihat salah satu analis sebagai bisnis yang tak mudah memproteksi konsumen dan pengemudi hanya bersandar pada satu aplikasi. Mereka tak memiliki kesetiaan tunggal. Mereka memiliki beberapa aplikasi dan selalu membandingkan keuntungan masing-masing aplikasi saat mereka menggunakannya. Salah satu analis mengatakan, bila demikian sampai kapan mereka akan mendapat profit?
Tak mengherankan bila Uber menawarkan saham ke pengemudi mereka yang setia untuk menarik mereka menggunakan aplikasi Uber secara terus menerus. Uber ingin mendapatkan kesetiaan dari para pengemudi dengan menawarkan saham itu. Perusahaan-perusahaan transportasi daring juga terus mencari cara agar menarik bagi konsumen.
Meski hari pertama yang tak menggembirakan, ada analis yang mengingatkan, dulu sewaktu IPO, Amazon juga mirip dengan Uber. Para pembeli saham Amazon yang terjebak pada pemikiran keuntungan saja mengabaikan saham ini karena tak terlihat keuntungan dalam waktu dekat. Sebaliknya para pembeli saham yang melihat pertumbuhan valuasi perusahaan itu akhirnya memetik buah manis setelah beberapa tahun.

Ilustrasi _ Former ojek (motorcycle taxi) drivers of ride-hailing service Uber register with Grab in Srengseng, West Jakarta, on Tuesday (3/4). The Uber ojek drivers were forced to find a new ride-hailing service to work for following Grab's acquisition of Uber's Southeast Asia operations. The registration aims to improve security of the drivers and the customers.
Apa makna kasus Uber ini bagi perusahaan sejenis di dalam negeri? Secara umum mereka yang terjun ke bisnis ini perlu memastikan tak terjadi skandal, secara khusus skandal terkait data, yang memperburuk citra mereka. Skandal menjadi beban dalam berkomunikasi dengan investor.
Mereka juga perlu mencari langkah untuk memberikan sinyal ke investor bahwa mereka akan memberi keuntungan pada masa depan. Sinyal ini memang tak mudah didapat karena menaikkan harga bakal memukul balik mereka. Ketika harga naik konsumen bisa lari dari aplikasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar