Saya duduk dengan tenang sebelum ibadah dimulai. Sejujurnya saya malas sekali hari itu untuk pergi ke rumah ibadah. Tak lama setelah itu, seorang ibu datang dengan suaminya yang duduk di kursi roda.

Keder
Mereka terlihat sudah lanjut usia dan duduk tepat di depan saya. Suaminya yang duduk di kursi roda tak bisa duduk dengan tegap sehingga sepanjang kebaktian ia membungkukkan badannya.

Ketika pikiran saya melayang ke mana-mana melihat kondisi dua orang tua itu, seorang ibu memasuki rumah ibadah dengan menuntun suaminya yang dengan susah payah berjalan. Keduanya sudah lanjut usia.

Melihat semua itu, saya sempat berpikir mengapa tiba-tiba saya dikelilingi oleh orang-orang tua yang kondisinya begitu menyengsarakan. Tentunya menyengsarakan untuk mata saya. Saya tak tahu apakah dua wanita itu merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan, sungguh saya tak tahu.

Kalau melihat dari sikap dua wanita itu yang dengan sabar menuntun suaminya, saya berasumsi mereka sudah terbiasa dengan kesengsaraan itu. Dengan demikian, apa yang saya anggap sebagai sebuah hal yang menyayat hati tampaknya tidak berlaku untuk kedua wanita itu.

Saya sendiri tak bisa membayangkan kalau seandainya pasangan saya menderita penyakit seperti itu dan saya harus mendampinginya entah sampai kapan. Melihat dua pria tua yang tak berdaya itu, konsentrasi saya di rumah ibadah itu terpecah-pecah, bahkan bisa dikatakan pecah berantakan.

Ketuaan dua pria itu dan tak berdayanya mereka karena penyakit yang diderita membuat saya keder setengah mati. Dan pertanyaan pertama yang terlintas di kepala adalah "Apakah kejadian itu akan menimpa saya?"

Kalau menjadi tua itu sudah pasti, ketuaan sudah menimpa saya. Sekarang saja orang-orang muda memanggil saya dengan sebutan oom, bapak, dan bukan lagi mas. Panggilan itu saja sudah membuat saya keder. Sudah membuat saya merasa tambah tua meski orang mengatakan yang penting hatinya masih muda.

Maka, di hari Minggu itu, ketika saya sungguh sangat malas untuk beribadah, kedua pasangan lanjut usia itu bisa jadi pemicu mengapa di tengah kemalasan yang sangat, saya masih tetap datang ke rumah ibadah dan duduk di antara manusia lanjut usia itu. Ini benar-benar sebuah peringatan.

Tahan banting
Sebuah peringatan untuk menjaga kesehatan. Karena sudah menjadi kebiasaan ketika saya masih sehat, saya berpikir bahwa kejadian tidak sehat tak akan menimpa saya. Ketika saya masih mampu berlari, bekerja, berjalan, mampu melakukan aktivitas dari pagi hingga subuh hari, saya merasa tak perlu untuk berinvestasi pada kesehatan.

Sudah jamak, bahwa penyesalan selalu datang belakangan. Sudah jamak kalau saya baru mau sehat kalau sudah sakit. Saya tak pernah berinvestasi kalau belum sakit, kalau belum melihat kejadian seperti di rumah ibadah itu. Mungkin ada baiknya saya disetrum melalui peristiwa semacam itu.

Sore hari di rumah ibadah itu, saya memohon kepada Yang Mahakuasa untuk memberi saya kesehatan di masa tua dan meninggal tanpa harus sakit bertahun lamanya. Dengan begitu, saya tak perlu sampai harus menyengsarakan kehidupan orang lain. Saya tak tahu apakah permohonan itu dikabulkan.

Kejadian di rumah ibadah itu juga menjadi sebuah peringatan buat saya, untuk menjadi setia dengan pasangan saya dalam suka dan duka. Melihat kedua wanita itu saya dapat membayangkan kesabaran mereka merawat pasangan hidup mereka yang sudah seperti anak kecil. Yang tak berdaya untuk berjalan,
tak berdaya untuk bangun, dan mungkin tak berdaya untuk memandikan dirinya sendiri.

Kesetiaan yang diuji pada masa sulit yang entah kapan akan berakhir. Saya yakin pertahanan kedua wanita itu tetap kokoh karena cinta mereka kepada pasangannya. Cinta yang membuat mereka mengambil segala risiko menikahi laki-laki itu apa pun yang terjadi.

Saya tak tahu apakah kedua wanita itu berpikir untuk berselingkuh karena nafkah lahir batinnya tak terpenuhi. Saya tak tahu apakah keduanya menyesal menikahi pasangannya yang sekarang sudah mirip anak kecil. Saya tak tahu apakah mereka kesal terhadap perjalanan hidupnya dan pernikahannya.

Sejujurnya saya tak sanggup untuk melakukan seperti kedua wanita itu. Mereka mengurus suaminya tanpa bantuan siapa pun. Mereka datang ke rumah ibadah itu hanya berdua saja. Tak ada anak, tak ada pengasuh. Mereka yang menuntun pasangannya, mereka yang menyapu air liur suaminya.

Itu sebuah peringatan buat saya, bahwa memiliki sebuah hubungan itu membutuhkan kekuatan lahir dan batin di luar cinta yang besar. Kekuatan yang tak runtuh dalam keadaan apa pun dan tak bisa disesali.