Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 01 Maret 2014

TAJUK RENCANA: Pukulan Telak bagi Erdogan (Kompas)

KEKERASAN, politik uang, dan korupsi mewarnai praktik politik di banyak negara untuk mempertahankan atau meraih kekuasaan.
Apa yang terjadi di Turki belakangan ini menegaskan hal itu. Kemarin diberitakan, beredar rekaman pembicaraan telepon antara Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan dan anaknya, Bilal Erdogan. Rekaman suara yang mirip dengan suara Erdogan dan anaknya itu beredar lewat Youtube serta mudah diakses dan didengar setiap orang.

Dalam rekaman suara itu, mereka membicarakan soal uang suap yang diberikan oleh Sitki Ayan, pemilik perusahaan Som Petrol, yang diberi fasilitas bebas pajak oleh pemerintah. Erdogan menyarankan Bilal agar tidak menerima uang yang ditawarkan, 10 juta dollar AS, karena dianggap terlalu rendah.

Inilah kali kedua pembicaraan telepon Erdogan dan anaknya bocor, dalam sepekan terakhir. Dan, beredar luas di masyarakat yang dengan serta-merta ditangkap lawan-lawan politiknya untuk menyerangnya.

Erdogan memang telah membantah semua rekaman suara tersebut. Ia menyebutnya sebagai "serangan pengkhianatan". Terlepas dari adanya bantahan itu, pembocoran percakapan telepon tersebut menjadi sangat menarik dalam konteks pertarungan politik di Turki akhir-akhir ini. Apalagi, akhir Maret mendatang Turki akan menggelar pemilu.

Selama ini, Erdogan yang menjadi perdana menteri sejak 14 Maret 2003, diusung Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), dinilai sebagai tokoh yang bersih, moderat, berpikiran modern, dan berjuang untuk menegakkan demokrasi di Turki. Salah satu jasa Erdogan adalah mengirim kembali tentara ke barak dan mengeluarkan dari panggung politik.

Ia melancarkan operasi besar-besaran untuk membersihkan Turki dari praktik korupsi serta menyingkirkan dan mengadili para tentara. Namun, dari sinilah muncul titik balik serangan terhadap Erdogan. Sebagian besar jaksa dan penyelidik—baik terhadap masalah korupsi dan pengadilan militer—adalah pengikut lawan politik Erdogan, Fethullah Gulen, seorang ulama yang kini tinggal di AS.

Sangat masuk akal kalau kemudian muncul dugaan bahwa pembocoran pembicaraan Erdogan dan anaknya itu dilakukan oleh lawan politiknya. Terlepas benar tidaknya dugaan tersebut, bocornya pembicaraan tentang suap yang Erdogan sebut "tuduhan sensasional" itu telah mencoreng wajahnya.

Kalau bocoran pembicaraan itu benar, benarlah pendapat yang selama ini beredar bahwa korupsi itu memang lekat dengan praktik kekuasaan. Sebab, kecenderungan kekuasaan adalah semakin memperkokoh dominasi. Untuk itu dibutuhkan fasilitas penopangnya, yakni ekonomi, keuangan.

Sumber: Kompas cetak edisi 1 Maret 2014
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger