Cari Blog Ini

Jumat, 13 November 2015

TAJUK RENCANA: Berikutnya Rekonsiliasi Myanmar (Kompas)

Presiden Myanmar Thein Sein mengucapkan selamat kepada Aung San Suu Kyi atas kemenangan besar partainya dalam pemilu, 8 November lalu.

Hal itu diungkapkan Menteri Informasi Myanmar U Ye Htut kepada BBC. Bukan hanya itu, Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing pun dalam akun Facebook-nya berjanji akan bekerja sama dengan pemerintah baru Myanmar setelah kemenangan besar partai Suu Kyi, NLD.

Ye Htut menyebutkan, pelaksanaan Pemilu Myanmar secara umum berlangsung dengan baik, lancar, bebas, dan adil. Suu Kyi pun menyatakan, walaupun di beberapa tempat ada kecurangan, seperti intimidasi, secara umum pemilu berlangsung dengan baik.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengucapkan selamat kepada Pemerintah Myanmar karena telah sukses menyelenggarakan pemilu yang bebas dan adil, serta janji pemerintah dan pimpinan militer untuk melakukan pengalihan kekuasaan kepada pemerintah yang baru secara mulus.

Buat Suu Kyi, kemenangan besar dalam Pemilu 2015 ini seperti pengulangan atas kemenangan yang diraihnya dalam Pemilu 1990, 25 tahun yang lalu, ketika NLD meraih 59 persen suara dan 81 persen kursi parlemen. Namun, pada saat itu militer tidak siap untuk kalah. Militer menempatkan Suu Kyi di dalam tahanan selama 21 tahun, 15 tahun di antaranya sebagai tahanan rumah.

Yang menarik adalah Suu Kyi langsung mengirimkan surat kepada Presiden Thein Sein, Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Min Aung Hlaing, dan Ketua Parlemen Shwe Mann guna mengadakan pertemuan untuk membicarakan rekonsiliasi nasional pekan depan.

Ajakan pertemuan rekonsiliasi itu disambut baik, dengan catatan sebaiknya dilakukan setelah penghitungan suara selesai dilakukan dan hasilnya diumumkan. Komisi Pemilu Myanmar menyatakan, pengumuman itu akan dilakukan setidaknya 10 hari setelah pemilu.

Kita memuji langkah Suu Kyi yang mengupayakan rekonsiliasi dengan pihak militer. Pujian itu kita berikan karena melalui langkah itu, Suu Kyi menunjukkan bahwa ia menempatkan masa depan negaranya di atas kepentingan pribadinya. Ia menyadari bahwa kekuatan militer di Myanmar masih sangat besar sehingga, tanpa mengajak militer bekerja sama, rasanya sulit bagi NLD menjalankan pemerintahan dengan baik.

Kita kembali mengingatkan kepada Suu Kyi bahwa rekonsiliasi dengan militer memang sangat penting untuk dilakukan, tetapi yang tidak boleh dilupakan adalah mengupayakan penyelesaian atas masalah yang dihadapi Rohingya. Kelompok etnis Rohingya berdiam di bagian barat yang masih termasuk wilayah Myanmar, tetapi tidak diakui sebagai warga negara Myanmar.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 November 2015, di halaman 6 dengan judul "Berikutnya Rekonsiliasi Myanmar".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger