Cari Blog Ini

Selasa, 24 Januari 2017

TAJUK RENCANA: ”Hoax” dan Upaya Melawannya (Kompas)

Jika ada fenomena yang banyak menimbulkan wacana karena meresahkan, bahkan bisa merusak demokrasi, itu adalah hoax atau berita bohong.

Kita suka berpikir, apakah di antara penyebarnya kurang pekerjaan hingga ia habiskan waktu untuk mengarang berita yang dari isinya tidak benar atau tidak jarang justru bertentangan dengan realitas? Disiarkan foto pasar terbakar, padahal pasar sedang dipenuhi pengunjung, dan ternyata foto itu diambil dari kejadian beberapa tahun silam atau hasil rekayasa. Hoax mutakhir, misalnya, berisi pejabat tinggi menyatakan satu hal, padahal tidak.

Terhadap merebaknya hoax, Presiden Joko Widodo menyatakan, Pemerintah Indonesia tidak akan berhenti melawan informasi/berita bohong yang disebar melalui berbagai medium. Pertarungan melawan informasi bohong, menurut Presiden, akan berlangsung terus dan masyarakat perlu dilibatkan dalam pertarungan ini (Kompas, 23/1).

Dua minggu sebelumnya, ada sejumlah aktivitas untuk melawan hoax. Misalnya, Komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoax mendeklarasikan gerakan menolak segala bentuk hoax. Deklarasi dikumandangkan serentak di enam kota. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam enam bulan ke depan akan menggelar pertemuan dengan pengguna internet, terutama dari kalangan NU, di sejumlah daerah untuk membangun narasi balik melawan berita bohong.

Di antara elemen gerakan yang dapat kita catat adalah menyampaikan tata cara melaporkan konten berita bohong di media sosial dengan mengirimkan surat elektronik ke aduankonten@mail.kominfo.go.id. Di sisi lain, diluncurkan aplikasi telepon seluler bernama "Turn Back Hoax". Aplikasi ini berisi aduan dan konfirmasi tentang informasi yang diduga bohong.

Reaksi di atas memperlihatkan bahwa masyarakat bangkit melawan hoax. Semua dilandasi oleh keyakinan, hoaxtidak saja memicu kemarahan dan kebencian terhadap pihak lain, tetapi lebih dari itu, juga mengancam persatuan dan ideologi bangsa (Kompas, 9/1).

Dengan mempertimbangkan sekitar 80 persen pengguna internet di Jawa, aktivitas penyuluhan akan dimulai di Jawa dan baru ke pulau lain. Menkominfo Rudiantara telah memblokir hampir 800 situs. Namun, yang terpenting bukan penutupan situs, melainkan meningkatkan kemampuan masyarakat memilih informasi yang benar.

Ini kita garis bawahi, mengingat—dari hasil survei Kompas—hanya 36,7 persen pengguna media sosial yang selalu mengecek kebenaran berita dan lebih dari separuh responden menyatakan jarang memeriksa atau sesekali saja mengecek kebenaran informasi. Jalan melawan hoax masih panjang, tetapi kita berbesar hati karena semakin luas kalangan masyarakat yang menyadari jahat dan tidak bermanfaatnya hoax.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Januari 2017, di halaman 6 dengan judul ""Hoax" dan Upaya Melawannya".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger