Cari Blog Ini

Selasa, 24 Januari 2017

TAJUK RENCANA: NIIS dan Pemusnahan Budaya (Kompas)

Sebutan apa yang paling pas atau paling tepat bagi mereka yang menghancurkan warisan budaya, bukti peradaban umat manusia?

Pertanyaan tersebut kiranya perlu kita kemukakan terkait dengan tindakan milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), yang untuk kedua kalinya, menghancurkan situs kepurbakalaan di Palmyra, Suriah. NIIS melakukan tindakan tidak berbudaya itu hanya sebulan setelah mereka merebut kembali kota tersebut dari kekuasaan pasukan Pemerintah Suriah.

Maret tahun lalu, mereka merusak dan menghancurkan situs kepurbakalaan di Palmyra, sebuah kota yang terletak sekitar 215 kilometer sebelah timur Damaskus, ibu kota Suriah. Tindakan NIIS waktu itu tidak hanya menimbulkan keprihatinan dunia, tetapi juga kecaman.

Bukan hanya situs kepurbakalaan Palmyra yang menjadi sasaran penghancuran NIIS. Sejumlah situs kepurbakalaan, kota kuno, serta museum yang menyimpan benda-benda bersejarah yang menjadi saksi dan bukti tingginya peradaban umat manusia juga mereka hancurkan, baik yang terdapat di Suriah maupun Irak.

NIIS, misalnya, menghancurkan situs kota Nimrud. Nimrud adalah ibu kota kedua Assyria, sebuah kerajaan kuno yang berdiri sekitar 900 SM. Mereka juga menghancurkan Museum Mosul di Irak dengan menghancurkan artefak-artefak kuno yang ada di museum itu. Perpustakaan Mosul dan perpustakaan Universitas Mosul juga menjadi sasaran mereka.

Mengapa mereka sangat anti situs-situs kepurbakalaan, peninggalan peradaban masa lalu, juga buku-buku yang memberikan pencerahan akal budi manusia? UNESCO menyatakan tindakan mereka termasuk sebagai kejahatan perang dan pemusnahan kebudayaan.

NIIS melakukan tindakan tersebut, menghancurkan situs kepurbakalaan dan warisan budaya manusia, dengan tujuan untuk membuat shock dunia, untuk memperlihatkan kemampuan mereka melakukan tindakan dengan impunitas sekaligus menggambarkan ketidakmampuan komunitas internasional mencegah tindakan mereka.

Tindakan tersebut juga bagian dari propaganda mereka. Sebuah propaganda untuk mendongkrak moralitas mereka yang telah terpojok di banyak tempat. Oleh karena itu, kalau dunia berdiam diri, katakanlah hanya sekadar mengecam dan tidak melakukan tindakan untuk sekurang-kurangnya melindungi situs-situs warisan dunia, atau bersama-sama menghadapi NIIS, mereka pun akan terus melakukan hal seperti itu.

Rasanya, sebagai masyarakat dunia yang beradab, sudah sepantasnya kalau ada tindakan yang lebih tegas dan nyata untuk menghentikan tindakan penghancuran situs-situs peradaban dunia itu.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Januari 2017, di halaman 6 dengan judul "NIIS dan Pemusnahan Budaya".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger