Cari Blog Ini

Sabtu, 21 Januari 2017

TAJUK RENCANA: Korut yang Selalu Cari Perhatian (Kompas)

Apa sesungguhnya yang dicari dan diinginkan Korea Utara dengan berulang kali melakukan uji coba peluru kendali meski sudah dikecam dunia?

Tidak mudah menjawab pertanyaan di atas. Ada yang berpendapat, sikap Korut tersebut untuk tujuan propaganda (kepentingan dalam negeri). Bisa jadi serangkaian uji coba rudal itu sebagai bentuk dari perasaan paranoianya, rasa takut yang berlebihan; takut kepada negara tetangga yang juga saudaranya, Korea Selatan, yang dalam banyak hal jauh lebih maju.

Dalam konteks politik internasional, yang dilakukan oleh Korut bisa jadi dalam rangka untuk mencari perhatian dunia. Apabila jawabannya demikian, pertanyaan lanjutannya adalah untuk apa mereka mencari perhatian dunia? Di masa lalu, "kenakalan" Korut lebih dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mendapatkan bantuan pangan karena kegagalan panen yang mengakibatkan kekurangan pangan.

Apakah cara tersebut sekarang tetap dilakukan? Tidak ada yang tahu persis tentang kondisi sebenarnya di Korut. Yang pasti, penguasa Korut sekarang ini masih muda. Kim Jong Un, Pemimpin Korut, lahir pada 8 Januari 1983. Jadi, bulan ini baru berusia 34 tahun lebih 13 hari! Masih muda, belum banyak pengalaman, belum bijaksana, dan masih sangat membutuhkan pengakuan dari rakyatnya. Karena itu, ia berusaha semaksimal mungkin menampilkan diri sebagai seorang pemimpin yang kuat, punya prinsip, memiliki keberanian, bahkan nekat.

Namun, akibatnya justru merugikan negeri, merugikan rakyatnya. Dengan berulang kali nekat melakukan percobaan rudal, sekarang melakukan uji coba peluru kendali balistik interkontinental (ICBM) yang membahayakan negara tetangga, bahkan tujuannya mengancam Amerika Serikat, Korea Utara pun hanya memperoleh kecaman.

Akibat selanjutnya adalah bukan tepuk tangan dan pujian, melainkan kecaman. Bahkan, bisa-bisa sanksi terhadap negeri itu yang pernah dijatuhkan tahun lalu karena melakukan uji coba senjata nuklir akan diperketat. Tindakan tersebut juga justru akan mendorong dunia untuk menyisihkan Korut dari pergaulan dunia.

Masyarakat dunia pencinta damai tidak bisa berdiam diri dan membiarkan Korut terus mengancam perdamaian. Negara-negara besar yang memiliki kuasa besar—AS, Tiongkok, Rusia, dan Jepang—dengan dukungan PBB harus terus membujuk—karena tekanan justru bisa-bisa akan mendorong Pyongyang bermata gelap dan bertambah nekat—untuk tidak lagi melakukan uji coba rudal. Sementara itu, upaya untuk mengakhiri permusuhan dengan Korea Selatan perlu dihidupkan lagi.

Banyak cara dan jalan perlu dilakukan untuk mengendurkan nafsu rezim yang berkuasa di Korut demi terciptanya kawasan Semenanjung yang aman dan damai.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Januari 2017, di halaman 6 dengan judul "Korut yang Selalu Cari Perhatian".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger