Cari Blog Ini

Sabtu, 21 Januari 2017

TAJUK RENCANA: Pertemuan Para Presiden (Kompas)

Pertemuan presiden ke-3 RI, BJ Habibie, dan Presiden Joko Widodo berlangsung di Istana Merdeka. Sebelumnya, Presiden bertemu mantan Wapres Try Sutrisno.

Peristiwa hari Kamis itu menggembirakan, apalagi dalam pertemuan itu mantan Presiden BJ Habibie bertukar pikiran dengan Presiden Jokowi soal kondisi politik di Tanah Air. Habibie berbicara soal Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, pluralisme, dan toleransi antarumat beragama. Pandangan serupa disampaikan Try Sutrisno mengenai perlunya pemantapan nilai Pancasila.

Pertemuan pemimpin bangsa ini memberikan harapan. Pertemuan tertutup seperti itu diharapkan makin sering untuk berbagi informasi dan saling membangun pengertian. Pertemuan tatap muka lebih penting daripada berbicara melalui media massa atau media sosial.

Budaya politik itulah yang mau kita dorong. Silaturahim dan komunikasi di antara pemimpin bangsa. Masyarakat membutuhkan panutan, membutuhkan contoh bagaimana para pemimpinnya bersatu, serta saling berbagi keprihatinan dan syukur-syukur bisa saling memberikan masukan untuk menyelesaikan masalah bangsa.

BJ Habibie, yang menjadi presiden menggantikan Soeharto, mempunyai peran besar dalam melakukan liberalisasi politik, liberalisasi pers yang sekarang kita nikmati. Meski masa jabatannya singkat, Habibie yang memimpin Indonesia 21 Mei 1998-20 Oktober 1999 punya kontribusi besar terhadap jalannya politik Indonesia dan menyelamatkan Indonesia pada masa-masa sulit pasca Soeharto.

Ciri silaturahim di antara pemimpin bangsa dekat dengan ciri bangsa Indonesia dan dekat dengan dasar negara Pancasila, khususnya soal musyawarah-mufakat. Pertemuan seperti itu bukan khas Indonesia. Di Amerika Serikat dikenal The Presidents Club. Nancy Gibbs dan Michael Duffy, penulis buku The Presidents Club: Inside The World's Most Exclusive Fraternity (2012), menggambarkan bagaimana hubungan silaturahim di antara Presiden Amerika Serikat berjalan. Komunikasi antarpresiden terjadi. The Presidents Club dibentuk saat pelantikan Dwight Eisenhower, 20 Januari 1953 (Kompas, 24/3/2016).

BJ Habibie dan Try Sutrisno adalah negarawan-negarawan sejati yang tidak punya keinginan atau pikiran soal pemilihan umum atau pilkada. Pemikiran keduanya adalah pemikiran untuk bangsa dan wujud kecintaan mereka kepada bangsa. Masukannya tidak perlu dibuka kepada publik dan juga tidak perlu publik tahu, yang kadang hanya menimbulkan kontroversi dan polemik, tetapi cukup diberikan kepada Presiden Jokowi yang memerintah.

Budaya ini baik dan selayaknya diteruskan dengan presiden lainnya untuk mengembangkan politik sejuk.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Januari 2017, di halaman 6 dengan judul "Pertemuan Para Presiden".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger