Jumat pekan lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengumumkan Rolls-Royce melalui perantara diduga menyuap Emirsyah selaku Direktur Utama Garuda 2005-2014. Tujuannya agar Emirsyah menggunakan mesin buatan perusahaan itu untuk 50 pesawat Airbus yang dibeli Garuda. Dalam kesempatan lain, Emirsyah membantah melakukan perbuatan tercela itu.
Selain menetapkan Emirsyah yang diduga menerima suap Rp 20 miliar, KPK juga menetapkan Sutikno Soedarjo, penerima manfaat (beneficial owner) dari Connaught International Pte Ltd sebagai tersangka. KPK berkeyakinan bukan hanya Emirsyah yang diduga menerima suap, melainkan juga ada pejabat lain. KPK pun berkomitmen untuk menelusuri semua pihak terkait.
Praktik suap-menyuap, korupsi, komisi, jelas merupakan musuh bangsa ini. Dibutuhkan semua elemen masyarakat untuk mendukung KPK dan Presiden Joko Widodo untuk membersihkan bangsa ini dari para benalu korupsi, para perampok uang negara secara ilegal. Berdasarkan dokumen Serious Fraud Office (SFO) Inggris yang dimiliki KPK, gurita suap-menyuap itu menyentuh banyak pejabat Indonesia.
Dari dokumen Pengadilan Tinggi London juga terungkap bagaimana Rolls-Royce telah menyuap sejumlah orang berpengaruh di Indonesia untuk memenangi proyek pada periode 1989-1998. SFO juga menemukan adanya dugaan suap orang berpengaruh di lingkungan istana pada waktu itu.
Indonesia bisa memanfaatkan momentum keterlibatan lembaga anti korupsi lintas negara untuk membersihkan pejabat korup di Indonesia. Melalui tukar-menukar dokumen dan saling memanfaatkan dokumen pengadilan, praktik suap-menyuap dan korupsi akan kian terbuka. Dukungan kepemimpinan nasional Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan tentunya dukungan masyarakat, amat sangat diperlukan untuk membersihkan Indonesia dari pejabat bermental korup.
Akumulasi dana yang diperoleh dari korupsi bisa saja dimanfaatkan untuk mengganggu penyelidikan, termasuk merongrong jalannya pemerintahan. Karena itulah, dukungan DPR, partai politik, lembaga swadaya masyarakat, ormas, dan masyarakat untuk mengungkap kasus ini amat sangat dibutuhkan. Kita tak ingin skandal korupsi Rolls-Royce terhadap pejabat Garuda dan pejabat lain bernasib sama dengan hasil audit investigasi Petral yang sudah selesai dilakukan, tetapi tak kedengaran lagi ceritanya. Tampaknya ada upaya menenggelamkan.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Januari 2017, di halaman 6 dengan judul "Momentum Bersih-bersih".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar