Protes hari Sabtu lalu, setelah Trump dilantik pada hari Jumat (20/1), terjadi di ibu kota Washington DC dan di kota-kota lain, seperti New York, Boston, Atlanta, St Louis, dan Los Angeles.
Protes serupa terjadi di kota-kota pada sejumlah negara, antara lain di London, Paris, Barcelona, Sydney, dan Nairobi di Kenya, tempat asal ayah Barack Obama. Peserta protes adalah perempuan dan laki-laki lintas jender, berbagai usia, warna kulit, dan profesi.
Meskipun membawa nama Women's March, peserta protes menyerukan pemenuhan hak-hak sipil, yang juga adalah hak-hak perempuan. Mereka bersuara karena pernyataan Trump selama kampanye terhadap perempuan, minoritas, Muslim, dan imigran. Protes bahkan menentang Trump karena menyatakan AS akan mundur dari kesepakatan Paris mengenai perubahan iklim yang mengharuskan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil.
Peserta aksi memprotes soal hak reproduksi dan hak orientasi seksual. Kedua hal ini sebetulnya telah lama menjadi pembeda antara Partai Republik dan Partai Demokrat.
Kini, hal tersebut mengundang aksi turun ke jalan karena pernyataan dan perbuatan Trump dianggap melecehkan, mendiskriminasi, dan mengatur hak perempuan atas tubuh. Mereka juga memprotes pernyataan bahwa warga Muslim harus mendaftarkan diri, yang mendiskriminasi berdasar prasangka.
Protes Women's March tidak dapat dilihat sebagai satu gerakan terpisah yang eksklusif. Gerakan ini menyuarakan kekhawatiran banyak orang sekaligus peringatan atas munculnya kebangkitan nasionalisme sempit yang menampakkan ciri tidak toleran pada yang berbeda, liyan, terutama di Barat, yang dianggap telah maju demokrasinya.
Selain di AS, nasionalisme sempit dan intoleransi juga terjadi di Inggris, tecermin dari menangnya kelompok yang ingin memisahkan diri dari Uni Eropa. Di Perancis, Belanda, dan Austria juga memperlihatkan kemunculan gerakan yang sama.
Trump memang baru tiga hari berkuasa dan belum mengumumkan kebijakan resminya, kecuali pernyataan melalui Twitter atau langsung di depan publik. Namun, suara sebagian warga di AS dan sejumlah negara mewakili keresahan banyak orang, termasuk di negeri kita, tentang munculnya gejala menurunnya toleransi. Terhadap perihal ini, kita harus selalu berjaga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar