Pernahkah Anda dihadapkan pada sebuah pilihan? Misalnya, Anda memilih untuk bekerja keras atau mau memilih korupsi untuk mendapatkan kekayaan. Atau, Anda mau berlaku jujur mengisi laporan pajak atau tak mau jujur. Atau Anda berniat memilih menjadi pasangan yang baik atau menjadi simpanan yang baik. Singkatnya, dalam memilih, apakah Anda mau menjadi pemilih yang benar atau tidak.

Evaluasi

Saya itu bertanya kepada Anda gara-gara pertanyaan yang sama diajukan nurani saya beberapa minggu lalu, bertepatan ketika saya sedang duduk dengan tenang di dalam rumah ibadah, setelah tidak ke rumah ibadah satu bulan lamanya karena diserang rasa malas yang sangat.

Tentu saya tak menjawab suara bawel itu di rumah ibadah. Setelah satu bulan absen beribadah, saya tak bermaksud menambah rasa bersalah dengan meladeni nurani bawel itu. Namun, saya memberi jawaban beberapa hari setelah itu, ketika saya berniat untuk melakukan pilihan. Mau puasa menjelang Paskah atau tidak puasa.

Kalau saya memilih puasa, saya bingung. Puasa selama 40 hari bukanlah waktu yang sebentar. Apalagi harus melakukan pantangan. Terus, pantangan apa yang harus saya pilih. Memilih pantang makan enak atau pantang ngomongin orang.

Gara-gara pertanyaan itu, saya mencoba berpikir keras, apakah selama setengah abad lebih, dalam menentukan pilihan, saya lebih banyak menggunakan niat yang tidak baik ketimbang yang baik. Apakah dalam memilih saya lebih cenderung melakukan pilihan yang emosional atau yang obyektif.

Baru saja saya mau berpikir keras, nurani ceriwis itu melantunkan suara berisik. "Kamu nggak usah mikir dalam-dalam. Nggak usah mikir terlalu lama. Kamu itu emang cenderung memilih dengan emosional. Lupa, ya, kalau di kantor rekan usahamu sengaja tidak menceritakan sebuah kejadian ke kamu karena takut kamu emosi terus bakalan memilih jalan keluar yang emosional. Lupa?"

Sungguh saya jengkel kalau suara nurani saya berisik seperti itu, meski kalau dipikir-pikir lagi, kebawelannya yang menyakitkan itu ada benarnya.

Dan seperti biasa, setelah mendengar nurani berisik itu, saya selalu dibuat jadi berpikir. Mengapa saya bisa memilih hidup seperti itu. Memilih melakoni hidup dengan jalur yang tidak benar.

Sehat, tetapi tidak bugar

Kemudian lamunan saya kembali kepada masa yang lalu, masa ketika saya melakukan begitu banyak pilihan yang tidak benar. Dari memilih untuk berselingkuh sampai berbohong kepada begitu banyak orang. Memilih menulis untuk menjatuhkan, dan menceritakan keburukan orang lain, sampai lupa bahwa saya sendiri lebih buruk dari mereka yang saya ceritakan.

Saya memilih untuk merasa saya yang paling benar, yang paling pandai, dan orang lain adalah yang paling tidak benar dan paling goblok. Saya sampai lupa, yang goblok itu sejujurnya adalah saya. Lha wong kepala sekolah saya saja mengatakan bahwa otak saya seperti otak ayam saking gobloknya. Saya percaya Anda masih ingat dengan cerita saya itu.

Saya memilih menggunakan kaca pembesar untuk melihat kekurangan orang lain dan enggan menggunakan kaca pembesar untuk melihat kebobrokan yang ada dalam diri sendiri. Saya mudah menggoblok-goblokkan orang dan enggan mengakui bahwa sebagai pemimpin, sebagai anak, sebagai teman, sebagai makhluk sosial, saya juga banyak gobloknya.

Nurani bawel itu cukup sukses membuat saya terinspirasi untuk mencari penyebab mengapa saya mampu melakukan pilihan buruk itu. Maka, saya mulai melakukan evaluasi. Apakah penyebabnya karena cara orangtua saya membesarkan saya? Apakah masa kecil saya yang saya pikir bahagia justru bisa jadi tidak bahagia?

Sehingga saya membuat pilihan di masa dewasa menjadi orang yang getir. Selain dipengaruhi tingkat intelektual atau soal kondisi emosional, apakah memilih pilihan yang tidak benar itu karena terselip adanya kekesalan yang terpendam di masa kecil dahulu atau kekecewaan yang besar terhadap begitu banyak hal.

Di siang itu, saya benar-benar bingung. Saya berhenti beberapa menit sebelum melanjutkan menulis karena saya jadi penasaran mengapa pilihan saya seperti itu. Saya tak tahu apakah penyebab yang saya tulis ini benar apa tidak. Menurut saya yang IQ-nya seperti ayam, pilihan yang saya buat itu semata-mata didasari oleh batin yang tidak sejahtera.

Saya bisa saja terlihat bahagia, tetapi saya tidak sejahtera. Saya teringat kata dokter yang memeriksa saya setahun lalu. Kata-katanya tak akan dapat saya lupakan. "Kamu itu sehat, tetapi kamu tidak bugar."