Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 05 Januari 2026

BOLEH MENGEJAR SURGA AKHIRAT, TAPI JANGAN LUPA SURGA KECIL DI DUNIA - Po...

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Indonesia dikenal sebagai salah satu negara paling religius di dunia. Tidak heran kalua ada sebutan kota sejuta masjid, kota Injil, dan kota Seribu Pura. Tempat ibadah berdiri megah di setiap sudut kota; doa dan seruan religius menggema di ruang publik, media sosial, hingga institusi pemerintahan.

 

Namun, di balik religiositas itu, kita menyaksikan ironi yang menyakitkan: korupsi masih merajalela, kemiskinan belum teratasi, dan keadilan sosial sering terasa jauh dari nyata. Bahkan dana untuk bantuan social dan pembangunan rumah ibadahpun  juga dikorupsi.

 

Bisa dikatakan, kita adalah bangsa yang sangat rajin mengejar surga akhirat, tetapi sering lupa membangun surga kecil di dunia—sebuah kehidupan yang tertib, jujur, sejahtera, bertanggung jawab dan bermartabat bagi semua.

 

Agama yang Berhenti di Ritual

 

Banyak orang Indonesia memahami agama lebih cenderung sebagai kewajiban ritual dan simbolik ketimbang tanggung jawab sosial. Keberagamaan diukur dari seberapa sering seseorang beribadah, bukan dari seberapa besar integritas dan kasih sayang yang ia tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Filsuf Immanuel Kant pernah mengatakan, moralitas sejati tidak lahir dari ketakutan akan hukuman neraka atau harapan akan ganjaran, melainkan dari kesadaran bahwa berbuat baik adalah kewajiban moral itu sendiri. Namun dalam realitas sosial kita, moral sering kali berhenti pada level simbolik.

 

Agama menjadi perisai identitas, bukan jalan pembebasan. Orang bisa sangat rajin beribadah, tetapi dalam urusan publik tetap menyeleweng. Banyak orang lupa, Tuhan tidak hanya hadir di rumah ibadah, tetapi juga di ruang kerja, di pasar, dan di ruang publik tempat kejujuran diuji.

 

Budaya Fatalistik

 

Di balik wajah religius masyarakat, terselip pula mentalitas fatalistik: semua dianggap sudah diatur Tuhan, sehingga manusia tidak perlu bersusah payah berjuang memperbaiki hidup. Ungkapan “rezeki sudah diatur” sering kali dijadikan pembenaran untuk malas berinovasi atau menghindari kerja keras dan tanggung jawab.

 

Padahal, hampir semua kitab suci menegaskan pentingnya kerja keras dan tanggung jawab. Iman tanpa perbuatan adalah kosong. Spiritualitas sejati dari agama justru diwujudkan dalam bagaimana seseorang berkarya, bekerja jujur, dan menghadirkan kesejahteraan bagi sesama.

 

Filsuf Zygmunt Bauman menyebut fenomena ini sebagai bentuk “moral privat tanpa tanggung jawab publik.” Iman hanya berhenti di ruang pribadi, sementara keadilan dan kebaikan sosial tidak tumbuh di ruang bersama.

 

Belajar dari Negeri yang Agamis

 

Menarik membandingkan Indonesia dengan negara seperti Jepang dan Korea Selatan. Kedua negara ini tidak dikenal religius dalam pengertian formal, tetapi memiliki etos sosial yang sangat tinggi.

 

Mereka menanamkan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, rasa malu bila gagal, dan penghargaan terhadap kerja keras—sebuah “agama sipil” yang melahirkan integritas kolektif. Korupsi di sana sangat rendah bukan karena mereka takut neraka, melainkan karena mereka malu mengkhianati kepercayaan public dan tanggung jawab.

 

Sosiolog Max Weber dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism menjelaskan bahwa kemajuan ekonomi Barat bukan lahir dari keserakahan, tetapi dari pemahaman teologis bahwa kerja adalah panggilan suci (vocation). Setiap pekerjaan—sekecil apa pun—adalah bentuk pelayanan kepada Tuhan dan sesama.

 

Sayangnya, di Indonesia, semangat “kerja sebagai panggilan suci” justru jarang tumbuh. Kita lebih sibuk menyiapkan bekal menuju surga, tetapi kurang serius menyiapkan masa depan bangsa dan kebaikan Bersama di dunia.

 

Iman yang Membumi

 

Bangsa ini membutuhkan pergeseran paradigma dari agama ritualistik ke agama etis dan sosial. Menjadi religius tidak cukup dengan sering berdoa; religius berarti menghadirkan kasih dan keadilan di dunia nyata.

 

Agama seharusnya mengajarkan etika sosial, bukan sekadar tata ibadah. Agama menumbuhkan etos kerja: bahwa bekerja keras adalah bagian dari ibadah. Agama juga  seyogiyanya menanamkan tanggung jawab publik: bahwa mencuri uang rakyat adalah bentuk penistaan terhadap Tuhan. Yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa agama harus mengajarkan spiritualitas kesejahteraan: bahwa membangun ekonomi dan ilmu pengetahuan juga bagian dari misi iman.

 

Sejatinya, iman yang hidup bukanlah iman yang menjauhkan manusia dari dunia, melainkan yang memampukan manusia memperbarui dunia dengan kasih dan kejujuran.

 

Membangun “Surga Kecil” di Bumi

 

Kita memang mendambakan surga akhirat, tetapi Tuhan pun menghendaki manusia menciptakan kebaikan manusia di bumi. “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga,” atau "Tuhan, tunjukkanlah kepada kami mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah/batil" demikian doa universal yang diucapkan banyak umat beragama.

 

Surga kecil itu sederhana: ketika pejabat jujur mengelola anggaran publik; ketika pengusaha tidak menipu timbangan; ketika guru mendidik dengan kasih, bukan dengan kekerasan; dan ketika rakyat hidup damai dalam keberagaman.

 

Surga kecil bisa hadir ketika iman diterjemahkan menjadi tanggung jawab sosial—ketika agama tidak hanya mengatur hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga horizontal dengan sesama manusia dan alam.

 

Indonesia tidak kekurangan orang saleh, tetapi kekurangan orang jujur. Tidak kekurangan doa, tetapi kekurangan etika publik. Tidak kekurangan ahli agama, tetapi kekurangan rasa malu ketika mengkhianati Amanah dan kepercayaan publik.

 

Karena itu, mengejar surga akhirat memang mulia, tetapi jangan lupa membangun surga kecil di dunia—tempat di mana keadilan ditegakkan, kesejahteraan dirasakan, dan cinta akan Tuhan, sesame manusia dan alam menjadi bahasa universal.

 

Agama seharusnya membuat kita lebih manusiawi, bukan lebih tinggi dari manusia lain. Sebab, jalan ke surga sejati selalu dimulai dari langkah kecil menghadirkan kebaikan di bumi. (PS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger