Temuan harian Kompas memperlihatkan pengembangan bandara internasional utama di Tanah Air, Bandara Soekarno-Hatta, terlambat mengantisipasi pertumbuhan lalu lintas orang dan barang melalui Bandara Soekarno- Hatta.
Keluhan tentang lamanya waktu tunggu untuk lepas landas atau mendarat bukan hanya datang dari para penumpang, melainkan juga dari sejumlah duta besar negara Uni Eropa. Para pilot dan maskapai penerbangan paling merasakan akibat keterbatasan kemampuan bandara mengelola jumlah pesawat yang akan terbang dan mendarat per satuan waktu.
Hal itu tecermin dari padamnya aliran listrik selama lima menit pekan lalu serta ketidakpastian waktu lepas landas dan mendarat. Ini juga merupakan kerugian bagi penumpang. Bagi maskapai penerbangan, ini menjadi biaya tambahan yang dibebankan kepada konsumen. Di atas segala hal tersebut adalah faktor keselamatan penerbangan itu sendiri.
Menjadi pertanyaan besar sebenarnya, mengapa pengembangan Bandara Soekarno-Hatta begitu terlambat. Pertumbuhan jumlah kelas menengah Indonesia sudah ditengarai sejak lebih dari lima tahun lalu.
Pemerintah memprioritaskan pembangunan infrastruktur. Dalam sejumlah laporan tentang Indonesia, infrastruktur selalu menjadi penghalang pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan.
Alasan yang kerap dikemukakan adalah tidak tersedianya dana pemerintah, padahal tiap tahun besar APBN selalu bertambah. Akan lebih baik apabila dana yang terbatas tersebut digunakan dengan lebih terfokus dalam strategi pembangunan yang jelas. Pada saat yang sama, setiap tahun selalu ada anggaran pembangunan terserap.
Keluhan sejumlah pihak tentang layanan Bandara Soekarno-Hatta tidak dapat dianggap remeh. Bukan hanya karena bandara ini wajah Indonesia, melainkan juga karena kerugian ekonomi yang nyata.
Harus ada strategi mengatasi persoalan kepadatan lalu lintas pesawat dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Mengembangkan landasan pacu baru wajib segera dilaksanakan. Perancangan pembangunan bandara baru harus segera dimulai untuk mengantisipasi pertumbuhan ekonomi dan membesarnya jumlah kelas menengah baru.
Sementara itu, memfungsikan bandara di daerah pada malam hari untuk mengurangi tekanan kepadatan penerbangan pada siang hari juga harus dilakukan, selain meningkatkan pemanfaatan Bandara Halim Perdanakusuma. Semua itu memerlukan kepemimpinan dan konsistensi pemerintah pusat. Bandara hanyalah cermin dari kurang fokusnya tujuan, arah, dan strategi pembangunan kita.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003241745
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:
Posting Komentar