Cari Blog Ini

Kamis, 31 Oktober 2019

ANALISIS POLITIK: Pemerintahan Indonesia Maju (AZYUMARDI AZRA)

ABK

Azyumardi Azra

Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin telah terbentuk. Pemilihan nama Kabinet Indonesia Maju menunjukkan orientasi pemerintahan Jokowi-Amin dalam lima tahun ke depan, yaitu membawa Indonesia ke alam kemajuan.

Melihat format dan komposisi menteri di Kabinet Indonesia Maju (KIM), orang patut bertanya, sejauh mana pemerintahan Indonesia maju akan berhasil menjalankan misinya memajukan Indonesia?

Meminjam pernyataan Jokowi dalam pidato pelantikannya sebagai presiden periode 2019-2024 pada 20 Oktober lalu, apakah pemerintahan Indonesia maju dapat deliver, memenuhi janji untuk mewujudkan Indonesia maju? Menteri-menteri di KIM tidak dapat hanya sekadar sent—sekali lagi meminjam pernyataan Jokowi—sekadar mengirim pesan mengandung harapan yang bisa jadi ternyata kosong melompong.

Jelas tidak mudah memprediksi kinerja Pemerintah Indonesia lima tahun ke depan karena banyak faktor internal dan eksternal yang memengaruhi. Namun, setidaknya dalam 100 hari ke depan, ketika setiap menteri mulai mengungkapkan agenda pokoknya, publik sedikit banyak bisa meraba ke arah mana Pemerintah Indonesia melangkah beserta peluangnya.

Menteri tidak hanya harus mampu men-deliver, tetapi lebih jauh lagi, yaitu membuat berbagai terobosan signifikan ke arah kemajuan.

Selain itu, komposisi kabinet dengan para menteri berikut portofolionya masing-masing sedikit banyak memberi isyarat apakah setiap menteri mampu memenuhi harapan? Guna membawa Indonesia ke kemajuan, para menteri tidak hanya harus mampu men-deliver, tetapi lebih jauh lagi, yaitu membuat berbagai terobosan signifikan ke arah kemajuan.

Sejak masa awal pembentukannya, KIM telah menjadi sasaran kritik banyak kalangan. Dalam pandangan kritis, pertama-tama, KIM cenderung "terlalu gemuk" dengan 34 menteri dan 12 wakil menteri (wamen). Belum lagi pejabat setingkat menteri yang bakal mengepalai badan baru, seperti Badan Legislasi Nasional, Badan Manajemen Pengembangan Talenta, Badan Riset Nasional, dan Lembaga Ekonomi Syariah.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Ma'ruf Amin berfoto bersama para menteri di halaman depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Kabinet yang gemuk memunculkan pertanyaan tentang agenda reformasi birokrasi untuk menciptakan pemerintahan efektif dan efisien. Pemerintahan yang gemuk juga tak selaras dengan pernyataan Presiden Jokowi sebelumnya, yang akan memangkas jabatan eselon tiga dan eselon empat.

Kedua, KIM cenderung terdiri atas para menteri yang mencerminkan akomodasi berbagai kekuatan politik, baik partai politik yang ada di parlemen (PDI-P, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Persatuan Pembangunan) maupun parpol yang tidak ada di parlemen, seperti Perindo dan Partai Solidaritas Indonesia.

Di satu sisi, fenomena ini boleh jadi mencerminkan pembagian kekuasaan, yang bisa menciptakan kepaduan politik. Namun, dari sisi lain, akomodasi politik yang menciptakan koalisi besar pemerintahan Indonesia maju di mata banyak kalangan tidak lain daripada bagi-bagi kekuasaan dalam kerangka political deals atau transaksi politik.

Sulit diharapkan dapat terwujud kinerja kementerian yang efektif dan efisien.

Pemerintahan yang dibentuk melalui transaksi politik, yang tetap saja menyimpan berbagai agenda politik tersembunyi dari setiap pihak, agaknya sulit diharapkan dapat mencapai hasil maksimal untuk kemajuan. Bukan tidak mungkin terjadi pergumulan politik di antara mereka, baik secara terbuka maupun terselubung.

Apalagi dalam kerangka politik transaksional ada ketidaksesuaian keahlian dan pengalaman antara menteri dan wamen. Ada wamen yang ditempatkan di posisi di mana dia tidak punya keahlian atau rekam jejak terkait tugas kementeriannya. Sebagian wamen lain dipasang lebih sebagai representasi politik. Dalam keadaan seperti itu, sulit diharapkan dapat terwujud kinerja kementerian yang efektif dan efisien.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Ma'ruf Amin bersama para calon wakil menteri pada Kabinet Indonesia Maju bersiap mengikuti upacara pelantikan di Istana Merdeka Jakarta, Jumat (25/10/2019). Tercatat ada 12 wakil menteri untuk 11 kementerian yang dilantik pada hari itu.

Pemerintahan koalisi besar mungkin "menjanjikan" stabilitas pemerintahan atau lebih jauh lagi stabilitas politik. Kalaupun ada pertikaian di antara kekuatan politik dalam koalisi besar tersebut, tampaknya hal itu boleh jadi tidak terlalu menonjol ke depan publik.

Pemerintahan dengan koalisi besar menyisakan hanya sedikit kekuatan di luar pemerintahan (Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Amanat Nasional) tampaknya sulit membangun "oposisi" efektif. Kekuatan politik minoritas tersebut paling banter hanya bisa mengungkapkan nada politik berbeda, tetapi sulit menjadi ancaman serius bagi pemerintahan dengan segala kebijakan dan langkahnya.

Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Amanat Nasional tampaknya sulit membangun "oposisi" efektif.

Namun, kegaduhan lama atau baru di luar pemerintahan masih dapat terjadi. Kegaduhan sosial-politik yang muncul dari kalangan masyarakat karena kebijakan pemerintahan dapat menciptakan situasi tak terlalu kondusif pada awal masa kerja KIM; sedikit banyak bisa memengaruhi stabilitas politik.

Hal ini terlihat dari munculnya berbagai reaksi di masyarakat karena pernyataan tentang menteri-menteri yang mendapat tugas khusus mengatasi radikalisme. Presiden Jokowi menyebut Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD dan Menteri Agama Fachrul Razi sebagai pemikul tugas khusus dalam bidang ini. Menteri Pertahanan dan Menteri Dalam Negeri secara implisit juga memikul tugas yang sama.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD menghadiri "Bincang Seru Mahfud: Inspirasi, Kreasi, Pancasila" di Universitas Padjadjaran (Unpad), Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (30/10/2019). Mahfud mengajak generasi muda mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Di kalangan tokoh Muslim muncul reaksi terhadap tugas khusus beberapa menteri untuk mengatasi radikalisme tersebut. Mereka menganggap pernyataan atau penugasan itu berlebihan dan cenderung memojokkan umat Islam tertentu.

Dalam berbagai segi, isu tentang radikalisme cenderung kontraproduktif. Jelas, radikalisme di kalangan warga terus menggejala. Namun, cara penanganannya tak bisa dengan pernyataan yang hanya coba menangani simtom di hilir. Penanganan radikalisme harus dari hulu dengan melibatkan banyak kementerian atau lembaga pemerintah. Warga juga harus terlibat.

Presiden Jokowi sepatutnya mencermati berbagai dinamika itu secara saksama dan mengambil kebijakan yang tepat.

Hal penting lain yang mengganjal pada masa awal pemerintahan baru ini adalah tentang (revisi) Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi. Mahasiswa dan berbagai kelompok masyarakat sipil di sejumlah kota kembali menggelar unjuk rasa, meminta Presiden mengeluarkan Perppu KPK.

Baca juga : Kabinet Impian Rakyat

Presiden Jokowi sepatutnya mencermati berbagai dinamika itu secara saksama dan mengambil kebijakan yang tepat. Dengan demikian, publik bisa lebih nyaman dan lebih optimistis dengan Presiden Jokowi, Kabinet Indonesia Maju, dan masa depan Indonesia yang lebih maju.

Azyumardi Azra, Profesor Sejarah UIN Syarif Hidayatullah; Anggota KK AIPI

Kompas, 31 Oktober 2019

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

INDUSTRI DIGITAL: SoftBank, Investor Global yang Bikin Iri (ANDREAS MARYOTO)

KOMPAS/ILHAM KHOIRI

Andreas Maryoto, wartawan senior Kompas

Ketika usaha rintisan WeWork batal melakukan penawaran saham perdana (IPO) dan valuasinya turun dari 46 miliar dollar AS menjadi sekitar 12 miliar dollar AS, beberapa kalangan menanti aksi SoftBank, perusahaan pendanaan yang berinvestasi di usaha rintisan itu.

Duit yang mencapai 100 miliar dollar AS telah digelontorkan, tak hanya di WeWork, tetapi juga di usaha rintisan lain, melalui sebuah seri pendanaan yang disebut Vision Fund 1. Orang kemudian menebak, SoftBank bakal mengalami kesulitan.

Berbagai isu pun terus bergulir. Rencana pendanaan Vision Fund 2 yang diharapkan bisa mengumpulkan dana hingga di atas 100 miliar dollar AS dikabarkan berjalan lambat. Investor lain mungkin ragu-ragu untuk bergabung, tidak seperti dalam Vision Fund 1 yang disambut beberapa investor.

Apalagi usaha rintisan yang didanai SoftBank lainnya, yaitu Uber, juga tak sukses saat melakukan penawaran saham perdana beberapa bulan lalu. Investor lain jadi pusing dan makin berhati-hati mendanai usaha rintisan karena melihat SoftBank yang sebenarnya cukup dingin dalam pendanaan, tetapi beberapa kali gagal.

REUTERS/ISSEI KATO

Logo SoftBank dipasang untuk menandai debut perusahaan itu di bursa saham Tokyo (Tokyo Stock Exchange), Tokyo, Jepang, 19 Desember 2018.

Akan tetapi, semua itu kembali berubah ketika SoftBank diberitakan dipercaya kembali oleh investor lainnya untuk mengelola dana mereka. Public Investment Fund of Saudi Arabia kemungkinan akan ikut dalam Vision Fund 2 dengan mengucurkan dana sekitar 45 miliar dollar AS sesuai rencana Oktober tahun lalu. Fox Business, media yang pertama kali melaporkan hal ini, menyebutkan kedua pihak akan bertemu dalam sebuah acara bertema inisiatif investasi pada masa depan di Arab Saudi dalam pekan ini.

Informasi ini membuat usaha rintisan dan investor lain mencari informasi dan menunggu kepastian langkah lembaga pendanaan dari Arab Saudi itu. Apabila terjadi, maka dunia pendanaan usaha rintisan akan kembali bergairah.

Pasca-pembatalan saham perdana WeWork, dunia pendanaan telah memilih untuk sangat berhati-hati dalam mengucurkan dana. Mereka langsung banting stir, tidak lagi terlalu peduli dengan pertumbuhan valuasi usaha rintisan, tetapi berfokus pada rencana bisnis mereka, seperti jalan menuju profit dan juga penanganan sejumlah beban usaha.

SoftBank boleh dibilang menjadi penentu bagi lembaga pendanaan lainnya. Langkah SoftBank akan diikuti dan menjadi pijakan bagi investor lain. Maklum saja jumlah dana yang digelontorkan sangat besar sehingga memiliki pengaruh yang kuat dalam dunia pendanaan.

REUTERS/KIM KYUNG-HOON

CEO SoftBank Masayoshi Son saat menghadiri jumpa pers di Tokyo, Jepang, 5 November 2018.

CNN Business pernah melaporkan, langkah SoftBank seperti saat bekerja sama dengan Arab Saudi membuat kalangan investor lain grogi. CEO SoftBank Masayoshi Son disebut sebagai "king maker".

Kebesaran SoftBank ini yang menjadikan investor lain iri. Bak pohon yang makin tinggi, maka terpaan angin pun akan makin besar dan tentu bergoyang-goyang. SofBank berkali-kali terkena masalah. Ketika terjadi pembunuhan jurnalis Arab Saudi yang kerap mengkritik kerajaan, yaitu Jamal Khashoggi, beberapa pihak mengkritik kerja sama SoftBank dengan Arab Saudi itu.

Sempat muncul kecemasan investor lain lari dari Vision Fund 1 sebagai protes kemungkinan "peran" kerajaan dalam kasus itu. Saham SoftBank di Tokyo sempat anjlok gara-gara kejadian itu.

SoftBank juga dicibir karena beberapa usaha rintisan yang didanai ternyata berkinerja buruk. Uber yang melakukan penawaran perdana awal tahun ini sahamnya malah terus turun. Di usaha rintisan ini SoftBank menaruh dana 7,6 miliar dollar AS.

REUTERS/KIM KYUNG-HOON

CEO SoftBank Masayoshi Son berdiri di depan daftar nama sejumlah perusahaan yang didanai SoftBank, 5 November 2018.

Usaha rintisan lain, yaitu Slack yang didanai SoftBank senilai 335 juta dollar AS, valuasinya drop 30 persen dan harga sahamnya jatuh sekitar 8,8 persen. Valuasi usaha rintisan yang didanainya pun mulai dicurigai karena terlalu cepat membesar.

Apa pun yang dibicarakan tentang SoftBank, banyak orang terkagum dengan kejelian mereka memasuki bisnis pendanaan usaha rintisan. Pendanaan mereka pada masa awal di Alibaba, Yahoo Jepang, dan Sprint menjadikan SoftBank diakui ketajamannya dalam melakukan pendanaan. Tokopedia, usaha rintisan Indonesia, juga mendapat pendanaan dari SoftBank. Mereka juga berinvestasi di Grab.

Perjalanan pendiri SoftBank, Masayoshi Son, sangat menarik. Anak peternak babi ini malang melintang studi di Amerika Serikat, kemudian mendirikan SoftBank yang tak terkait dengan industri keuangan. Usaha awalnya adalah perangkat lunak, salah satunya perangkat lunak untuk bank.

AFP/TIMOTHY A CLARY

Kantor WeWork di New York, Amerika Serikat, 19 Juli 2019. Pasca-pembatalan saham perdana WeWork, dunia pendanaan memilih untuk lebih berhati-hati dalam mengucurkan dana. SoftBank adalah salah satu investor WeWork.

Melihat semua itu, pantas saja berbagai kalangan iri dengan SoftBank. Pertemuan dengan keluarga Kerajaan Arab Saudi, pekan ini, dan tentu kabar kesepakatan investasi Vision Fund 2 tentu ditunggu banyak kalangan.

Investor lain dan usaha rintisan bakal mengambil langkah baru begitu mereka mengumumkan hasil pertemuan itu. Kesepakatan mereka akan menentukan arah bagi investasi dan juga masa depan usaha rintisan yang mulai cemas dengan investor yang makin berhati-hati mengucurkan dana.

Kompas, 31 Oktober 2019

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Rabu, 30 Oktober 2019

TAJUK RENCANA: Ketidakpastian Tetap Menghantui (Kompas)

Ketidakpastian masih tetap menghantui Brexit setelah Uni Eropa memundurkan batas waktu bagi Inggris untuk hengkang dari organisasi kawasan tersebut.
AFP/ISABEL INFANTES

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson meninggalkan 10 Downing Street, London, Inggris, Selasa (29/10/2019). Johnson mengupayakan kembali percepatan pemilu setelah sempat ditolak parlemen Inggris. Kubu oposisi, Partai Buruh, kini mendukung pelaksanaan pemilu yang dipercepat.

Persetujuan Uni Eropa memundurkan tenggat dari 31 Oktober 2019 menjadi akhir Januari 2020 diumumkan Senin lalu. Hal ini sesuai keinginan kubu oposisi di Parlemen Inggris. Namun, dimundurkannya batas waktu tentu saja bertentangan dengan janji Perdana Menteri Boris Johnson terhadap para pendukungnya. Ia selama ini menegaskan sikapnya yang menghendaki Inggris keluar dari UE pada akhir Oktober meski tanpa kesepakatan sekalipun (no deal).

Namun, Johnson diwajibkan undang-undang yang disahkan parlemen pada bulan lalu untuk mengajukan perpanjangan tenggat. Karena itu, dengan enggan, ia mengajukan penundaan kepada UE. Dalam surat kepada pejabat UE di Brussels, ia menyebut penundaan—yang menurut dia dipaksakan oleh parlemen—adalah sesuatu yang "tak diinginkan".

Garis politik Johnson dan sebagian besar politisi Partai Konservatif memang mewujudkan hasil referendum Brexit pada 23 Juni 2016. Dalam referendum itu, 17,4 juta pemilih atau 51,9 persen mendukung Inggris hengkang dari UE. Adapun sisanya, 16,1 juta orang atau 48,1 persen, memilih negara itu tetap berada UE.

AFP/JOHN THYS

Seorang petugas memasang bendera Inggris di pintu masuk bangunan Consilium di Markas Uni Eropa di Brussels, Belgia, Senin (28/10/2019).

Pada kenyataannya, dinamika politik di Parlemen Inggris berlangsung tak semulus yang diperkirakan Johnson. Setelah menggantikan Theresa May sebagai perdana menteri, Johnson mendapati tidak mudah merealisasikan Inggris keluar dari UE sesuai hasil referendum. Skenarionya, seperti hengkang tanpa kesepakatan, terus ditentang Partai Buruh, Liberal Demokrat, serta Partai Nasional Skotlandia.

Saat ini, dinamika di Parlemen Inggris beralih pada penentuan pemilihan umum. Konservatif merasa memerlukan pemilu karena menurut survei, posisi mereka sedang unggul cukup baik ketimbang Buruh. Setelah rencana Johnson menggelar pemilu ditolak parlemen, kini ada sinyal kuat pemilu akan digelar pada Desember. Sinyal ini muncul setelah pemimpin Buruh, Jeremy Corbyn, mengumumkan partainya siap menghadapi "kampanye paling radikal selama ini". Ia mau mendukung penyelenggaraan pemilu karena syarat yang diajukannya, yakni penghapusan opsi Brexit tanpa kesepakatan, telah dipenuhi berkat persetujuan UE memperpanjang tenggat hingga 31 Januari 2020.

Bersama perang dagang Amerika Serikat-China, Brexit merupakan salah satu isu yang dinilai dapat menghambat pertumbuhan ekonomi global akibat ketidakpastian yang ditimbulkannya.

Dengan demikian, hal yang harus ditunggu ialah bagaimana hasil pemilu mendatang. Bisa jadi Konservatif unggul sehingga parlemen segera menyetujui skema Brexit yang disusun partai itu. Namun, bisa pula oposisi mendulang tambahan kursi.

Baca juga : Penemuan 39 Jenazah di Inggris

Bersama perang dagang Amerika Serikat-China, Brexit merupakan salah satu isu yang dinilai dapat menghambat pertumbuhan ekonomi global akibat ketidakpastian yang ditimbulkannya. Dinamika terakhir Brexit memperlihatkan bahwa ketidakpastian itu akan terus terjadi. Dunia pun masih harus sabar menunggu hasilnya.

Kompas, 30 Oktober 2019

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

TAJUK RENCANA: Lunasi Utang Sejarah (Kompas)

KOMPAS/RIZA FATHONI

Petugas medis membawa perusuh yang terluka ke ambulans di Jalan KS Tubun, Petamburan, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019). Kerusuhan pecah di sejumlah titik di kawasan Tanah Abang, Petamburan dan Slipi.

Temuan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia soal kerusuhan 21-23 Mei 2019 menjadi utang sejarah jika berhenti hanya sebagai rekomendasi.

Seperti diberitakan harian ini, 29 Oktober 2019, Komnas HAM menemukan indikasi penembak yang menyebabkan korban tewas dalam kerusuhan 21-23 Mei 2019 merupakan orang profesional dan terlatih. Akan tetapi, Komnas HAM menegaskan, pelakunya bukan dari kepolisian.

Kerja Komnas HAM haruslah dihargai. Publik punya hak untuk mengetahui (right to know) apa yang sebenarnya terjadi di balik kerusuhan 21-23 Mei 2019. Kerusuhan diawali dengan unjuk rasa damai di Gedung Badan Pengawas Pemilu untuk memprotes hasil Pemilu 17 April 2019. Unjuk rasa damai itu berujung kerusuhan di sebagian wilayah di sekitar Jalan MH Thamrin.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Para perusuh merobohkan pagar pemisah jalan untuk memblokir Jalan KS Tubun, Petamburan, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019). Kerusuhan pecah di sejumlah titik di kawasan Tanah Abang, Petamburan dan Slipi.

Temuan Komnas HAM soal kerusuhan Mei 2019 sebenarnya tak jauh berbeda dengan rekomendasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kerusuhan 12-14 Mei 1998. Rekomendasi TGPF Kerusuhan Mei 1998 juga menemukan adanya kelompok terorganisasi, kelompok terlatih dalam pergumulan elite politik pada Mei 1998. Namun, sayangnya publik tidak pernah mendapatkan informasi, siapa kelompok terorganisasi dan siapa kelompok terlatih di balik kerusuhan Mei 1998 maupun kerusuhan Mei 2019.

Di tingkat elite, rekonsiliasi boleh dibilang sudah terjadi. Rival Presiden Joko Widodo dalam Pemilu Presiden 17 April 2019 telah diangkat Presiden Jokowi sebagai Menteri Pertahanan. Sebuah jabatan strategis. Namun, kita tetap menginginkan kegelapan sejarah kerusuhan Mei 2019 harus diungkap. Publik dan keluarga korban tetap berhak mengetahui siapa penembak terlatih yang menembak korban. Posisi korban juga perlu diperjelas, apakah mereka pengunjuk rasa atau memang perusuh dan siapa yang menggerakkannya?

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Menteri Pertahanan Kabinet Indonesia Maju, Prabowo Subianto, melakukan inspeksi pasukan dalam upacara penyambutan serah terima jabatan Menteri Pertahanan dari pejabat sebelumnya Ryamizard Ryacudu kepada Prabowo Subianto di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Kamis (24/10/2019). Turut hadir dalam acara tersebut sejumlah pejabat negara antara lain Menkopolhukam Mahfud MD, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad.

Masa-masa gelap sejarah, penculikan aktivis 1997, kerusuhan Mei 1998, kerusuhan Mei 2019, dan sejumlah kekerasan lain menjadi catatan gelap sejarah Indonesia. Masa lalu akan selalu menggelayuti perjalanan demokrasi Indonesia ke depan. Meskipun elite telah berangkulan atas nama kekuasaan, menjadi hak rakyat untuk mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi di balik kekerasan-kekerasan berlatar belakang politik tersebut. Elite politik itu meraih kekuasaan adalah karena suara dari rakyat, siempunya kedaulatan.

Presiden Jokowi memikul tanggung jawab sejarah untuk mengungkap kekerasan politik Mei 2019. Ada peluang dan kesempatan bagi Presiden Jokowi untuk mengungkap itu semua. Kekuatan politik yang berada di tangan Presiden Jokowi dengan dukungan lebih dari 74 persen kursi di DPR merupakan modal politik Presiden Jokowi untuk menuntaskan pekerjaan rumah bangsa, menyelesaikan kasus pelanggaran hak asasi manusia.

Presiden Jokowi bisa dibilang sukses dalam pembangunan infrastruktur. Jika ada keinginan dari Presiden Jokowi, bukan tidak mungkin kekerasan politik juga akan bisa diungkap.

KOMPAS/SHARON PATRICIA
Wajah Prabowo Subianto dan Wiranto terpampang sebagai terduga pelanggarHAM berat dalam aksi kamisan, Kamis (24/10/2019) di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat.

Kompas, 30 Oktober 2019

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

OPINI: Satu Salam “Mengindonesia” (RASID RACHMAN)

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato usai dilantik menjadi Presiden 2019-2024 dalam sidang paripurna MPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2019).Pada pidatonya, Presiden Joko Widodo menyampaikan sejumlah program prioritas seperti pembangunan SDM, melanjutkan proyek infrastruktur, pembenahan regulasi dan tata kelola birokrasi, serta transformasi ekonomi.

Beragamnya budaya dan suku bangsa Indonesia, dari barat sampai ke timur, menghasilkan berbagai tata krama sapaan salam yang tak terhitung jumlahnya.

Sebut saja beberapa yang terkenal: "Horas!" dan dijawab "Horas" (Batak Toba), atau "Sampurasun" dan dijawab "Rampes" (Sunda atau Tatar Pasundan), "Sugeng" atau "Wilujeng" (Jawa), "Tabik" (Makassar, Toraja, Bugis, Melayu) atau "Tabik Pun" (Lampung), "Hari Baek" (Flores, Halmahera), "Rahayu-rahayu-rahayu" (Kejawen), dan yang paling nasional adalah "Selamat".

Semua sapaan itu, sekalipun berbeda arti secara harfiah, namun bermakna harapan baik dan keselamatan mendalam bagi yang disapa. Sebagai orang Indonesia, kita seharusnya bersyukur memiliki keragaman salam dalam bineka keindonesiaan, namun sekaligus juga memiliki kesatuan salam tunggal, ketika banyak bangsa lain hanya memiliki satu salam atau beragam salam.

Semua sapaan itu, sekalipun berbeda arti secara harfiah, namun bermakna harapan baik dan keselamatan mendalam bagi yang disapa.

Salam berdasarkan agama

Sayangnya, akhir-akhir ini sapaan salam milik Nusantara terkikis oleh tata  krama lain di ruang publik. Masyarakat, baik tokoh, juru-juru kampanye hingga tetangga dan warga mulai terbiasa, dan mungkin menjadi keharusan tak tertulis, dalam pertemuan umum menyapa dengan mengucapkan salam dalam bingkai agama.

Lebih jelasnya malah dalam bingkai ibadah agama yang bersifat eksklusif. Eksklusif, karena pengucapan salam bingkai agama ini lebih dipahami oleh sesama umat agama tersebut.

KOMPAS/ALIF ICHWAN

Mural Bhinneka Tunggal Ika – Warga melintasi sambil mengamati gambar mural yang berada di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Sabtu (31/3). Mural tersebut menampilkan sejumlah model dengan berpakaian adat istiadat daerah di Indonesia. Mural ini di buat untuk menggambarkan adanya rasa ke-Bhinnekaan Tunggal Ika yang ada di masyarakat Indonesia.

Semakin banyak penyapa salam mengucapkan: "Assalamu'alaikum"atau "Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh" dan dijawab "Wa'alaikumus Salam" atau "Wa'alaikumus Salam Warahmatullahi Wabarakatuh" (Islam), "Syalom" (Kristen, padahal beberapa kalangan Kristen justru jengah dengan salam ini), "Salam sejahtera" (Kristen), "Namo buddhaya" (Buddha, padahal ini bukan salam, tetapi ungkapan penghormatan kepada Sang Buddha), "Om swastyastu" (Hindu Bali), "Salam kebajikan" (Konghucu).

Lengkapnya atau panjangnya, kurang lebih sapaan sederet salam "indonesia" itu seperti ini: "Bismillahirrahmanirrahiim, assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam, syalom, salam sejahtera bagi  kita semua, om swastyastu, namo buddhaya, dan salam kebajikan!"

Sayangnya, akhir-akhir ini sapaan salam milik Nusantara terkikis oleh tata  krama lain di ruang publik.

Penyampai salam sepanjang itu bisa jadi berniat baik. Mungkin, supaya lebih akrab dengan umat-umat berbagai agama yang hadir. Akan tetapi, agama di Indonesia tidak hanya sejumlah itu, apalagi budaya dan suku-suku bangsanya. Lagi pula, apakah salam sebaris itu telah "mengindonesia"?

KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA

Ustad Desa Hargobinangun H Bagidjo sedang berdoa dalam upacara merti bumi (syukuran atas hasil alam) di Padukuhan Wonorejo Dusun Ponggol Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ia diapiti tokoh agama katolik DI Yogyakarta Rm Sindhunata SJ (kedua dari kiri) dan Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijaga Wedi Klaten, KH Eko Susilo (kiri pertama), dan ketua panitia R Pudyas Eko. Dari Padukuhan Wonorejo memberi pesan perdamaian dan kerukunan bagi seluruh warga Indonesia.

Seandainya disebut "mengindonesia" pun, sederet salam tersebut tetap tidak menyapa seluruh masyarakat Indonesia, baik yang beragama apalagi yang menganut aliran kepercayaan. Yang menyedihkan, sapaan "selamat" yang sederhana dan seharusnya bisa menyatukan kebinekaan seluruh orang Indonesia, justru tidak diucapkan.

Sapaan, terutama salam, adalah hal penting dalam ranah ritual keseharian. Arnold van Gennep memasukan sapaan salam ke dalam ritus incorporation (The Rites of Passage, 32-33). Dengan mengucapkan salam, seorang tuan/nyonya rumah membuka diri atau rumahnya, membuka acara, dan membuka percakapan kepada seseorang atau orang asing yang datang ke rumahnya atau dalam sebuah pertemuan.

Sapaan, terutama salam, adalah hal penting dalam ranah ritual keseharian.

Orang asing atau tamu itu disambut dalam komunitas. Dengan demikian, menurut Ronald Grimes, decorum salam membuka interaksi dan mengundang seseorang asing untuk datang lagi (Beginnings in Ritual Studies, 37).

KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERIN (FRN)

Wakil Uskup Diosis Amboina untuk Kota Ambon Pastor Amandus Oratmangun ( kedua dari kanan) dan Ketua Klasis Pulau Ambon Utara Pendeta Abraham Beresaby (kanan) menyalami satu per satu para jemaah calon haji asal Kota Ambon, Maluku di Gedung Azhari, Kota Ambon, Selasa (1/8). Sebanyak 336 jemaah calon haji asal Kota Ambon yang akan berangkat menuju Tanah Suci di Arab Saudi.

Dalam kekristenan, baik Protestan maupun Katolik, ibadah diawali dengan sapaan salam. Ibadah dalam kekristenan sejak awal, sejak sebelum menjadi ritual ibadah seperti saat ini, bersifat pertemuan. Dalam pertemuan, orang yang baru datang atau hendak berbicara mengucapkan salam.

Sapaan berlaku umum di banyak budaya bahwa asyluum dalam budaya Syammar (salah satu suku Arab) salaam dalam Islam, syalom dalam Yahudi, atau "kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah menyertai kamu" dalam budaya Kristen-Yahudi, merupakan sapaan sehari hari.

Ketika pertemuan kekristenan menjadi ritual ibadah gereja, salam yang digunakan adalah "Vobiscum Dominum" (Tuhan besertamu), dijawab: "Et cum spiritu tuo" (dan beserta rohmu). Saat ini, salam dalam ibadah gereja yang diucapkan berdekatan dengan sapaan Latin itu adalah: "Tuhan sertamu" dan dijawab "Dan sertamu juga." Bisa juga, sapaan singkat itu diperpanjang menjadi: "Salam sejahtera, Tuhan sertamu," lantas dijawab: "Dan sertamu juga."

Salam "mengindonesia"

Pada 28 Oktober 1928, 91 tahun lalu, para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda dengan tekad, sebagai berikut.

Pertama: Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia (Aswab Nanda Pratama, editor: Bayu Galih, "Sejarah Sumpah Pemuda, Tekad Anak Bangsa Bersatu demi Kemerdekaan").

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Video mapping yang mengambi cerita "Hai Pemuda Pemudi Indonesia" diproyeksikan pada sisi depan Gereja Katedral Jakarta dalam acara peringatan Hari Sumpah Pemuda, Sabtu (26/10/2019). Kegiatan yang melibatkan orang-orang muda tersebu mengusung tema "Dalam Semangat Sumpah Pemuda dan Amalkan Pancasila Kita Rajut Kesatuan dalam Kebhinekaan Indonesia".

Dengan demikian, di Indonesia yang memiliki Pancasila sebagai dasar negara—bukan agama—mengapa tidak memilih salam yang menunjukkan kesatuan tanah air, bangsa, dan bahasa?

Dengan demikian, di Indonesia yang memiliki Pancasila sebagai dasar negara—bukan agama—mengapa tidak memilih salam yang menunjukkan kesatuan tanah air, bangsa, dan bahasa?

Sapaan salam "selamat" dengan waktu, selain sederhana dan mengandung makna dalam, juga mudah dipahami baik yang mengucapkan maupun yang menjawabnya, apalagi bagi masyarakat yang majemuk.

Pada satu sisi, Grimes menekankan bahwa sekali pun decorum, semisal salam, merupakan perilaku konvensional, namun ia menyatakan kesetaraan antar lawan bicara. Pada lain sisi, Catherine Bell menyatakan bahwa sapaan salam dapat menyamakan prinsip-prinsip dasar dari seluruh sistem kontrol sosial.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Pelajar dengan berbusana adat nusantara membawa bendera merah putih sepanjang 2000 meter dalam rangkaian Sumpah Merah Putih di area Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (26/10/2019).

Mengucapkan salam "selamat pagi", walaupun tidak perlu mengatur "salam apa di urutan mana" dulu, tidak memiliki kekuatan dan pengaruh sebagai kontrol sosial. Oleh karena itu, ia tidak "mengindonesia" dibandingkan dengan salam menurut lima atau enam agama berpengaruh.

Pada lain sisi, Catherine Bell menyatakan bahwa sapaan salam dapat menyamakan prinsip-prinsip dasar dari seluruh sistem kontrol sosial.

Timbal balik

Konon, pengucapan salam masyarakat kita disebabkan oleh latah presidennya. Setahu saya, semua presiden di Indonesia mengucapkan salam berdasarkan agama, baik salah satu agama maupun lebih. Namun, sebaliknya, presiden juga mengikuti praktik di dalam masyarakat. Siapa yang mengajarkan presiden mengucapkan syalom, jika bukan orang Kristen Karismatik.

Mungkin, sejak merdeka, ada satu-dua presiden atau menteri yang satu-dua kali dengan sengaja tidak menyapa berdasarkan agama, namun suara dan berita mereka tidak terdengar. Jika tanpa kemujaraban, maka ritus menjadi sia-sia, terutama kontrol sosial.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Pelajar membawakan sosio drama "Kita Merah Putih" dalam rangkaian Sumpah Merah Putih di area Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (26/10/2019).

Ada dua hal, menurut hemat saya, yang bisa menjadi catatan.
Pertama, masih jauh Indonesia akan mendapatkan tokoh panutan yang dalam menyapa masyarakat menurut budaya Indonesia, bukan budaya agama dan bukan budaya suku-suku bangsa.

Konon, pengucapan salam masyarakat kita disebabkan oleh latah presidennya.

Kedua, masyarakat termasuk tokoh agama, sebaiknya tidak berpuas diri ketika salam agamanya digunakan sebagai sapaan di ruang publik untuk menggantikan salam universal.

Ketiga, masyarakat sebaiknya mulai membiasakan diri dengan sapaan "selamat" di ruang-ruang publik sebagai salam yang "mengindonesia".

Rasid Rachman, Pengamat Masalah Sosial dan Budaya.

Kompas, 30 Oktober 2019

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Powered By Blogger