Bidvertiser

Sabtu, 20 Oktober 2018

PSIKOLOGI: Bantuan Pertama Psikologis (KRISTI POERWANDARI)

Kristi Poerwandari

 

Menyusul musibah besar atau kejadian bencana, berbagai kelompok menunjukkan kepedulian lalu melaksanakan program-program bagi masyarakat yang terkena dampak bencana. Program ini seyogianya disusun dan dilaksanakan dengan pemahaman mengenai bagaimana memberikan bantuan secara tepat.

Psychological first aid (sering disingkat PFA) merupakan bantuan pertama yang bersifat psikologis dalam merespons situasi traumatis dan segera/darurat yang prinsip-prinsip dan ketrampilannya perlu dikuasai sukarelawan dan pekerja kemanusiaan. Tulisan pendek ini mengacu pada tulisan Singaravelu (2012) yang menggabungkan berbagai sumber.

Mengurangi tekanan psikis

PFA diberikan dengan tujuan mengurangi tekanan situasi yang dihadapi dan membantu diperolehnya kembali fungsi adaptif segera ataupun jangka lebih panjang dari masyarakat penyintas. Meminta penyintas bercerita mengenai persepsi, pikiran, dan reaksi emosionalnya tidak bermanfaat bagi mereka, bahkan dapat berdampak merugikan. Karena itu, dengan PFA, sukarelawan atau pekerja kemanusiaan tidak menggali detail pengalaman traumatis, tidak pula memberi label atau mendiagnosis.

Komunitas penyintas akan menunjukkan variasi reaksi awal yang berbeda-beda. Sukarelawan tidak memaksa memberi bantuan, tetapi perlu menyediakan diri bagi siapa pun yang memerlukan. Yang mungkin lebih memerlukan adalah mereka yang mengalami luka serius dan memerlukan perawatan medis segera, yang terlalu terguncang, sehingga tidak mampu merawat diri sendiri atau merawat anak-anaknya juga yang dikhawatirkan dapat melukai diri sendiri atau orang lain.

Reaksi pada masa krisis dapat beragam. Ada yang menunjukkan reaksi bersifat fisik (gemetar, sakit kepala, dan badan lemas), ada yang psikologis (menangis, ketakutan, terus waspada, marah, serta merasa bersalah karena ia selamat dan anggota keluarganya hilang). Ada pula yang menunjukkan perubahan tingkah laku, misalnya mematung saja, tidak bicara sepatah kata pun, dan lupa namanya sendiri. Sebagian besar akan pulih kembali sejalan dengan waktu, utamanya jika mereka memperoleh dukungan dan dapat terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya.

Anak dan remaja, terutama yang terpisah dari keluarga, perlu memperoleh perhatian karena mereka butuh perlindungan dari eksploitasi. Demikian pula kelompok lain yang rentan, seperti difabel, orang lanjut usia, ibu hamil dan merawat bayi, serta yang kehilangan rumah dan keluarga. Pastikan yang terlihat sangat tertekan tidak ditinggalkan sendiri.

Mungkin saja penyintas mengalami hal yang sangat sulit dicerna atau ingin disembunyikannya, misalnya mendapatkan kekerasan seksual. Karena itu, akan baik jika dalam berbagai keterbatasan yang ada, sukarelawan dapat menemukan suatu sudut yang memungkinkan penyintas bicara dengan lebih nyaman dan aman.

Di lokasi

Sebelum memasuki lokasi, kita perlu membekali diri dengan pengetahuan mengenai apa yang telah terjadi dan bagaimana perkembangan terkini situasinya. Juga mengecek pihak-pihak mana saja yang telah turun dan bantuan apa saja yang telah atau belum diberikan? Ada pulakah pertimbangan keamanan lingkungan yang perlu diketahui?

Yang dilakukan adalah berkomunikasi dengan penyintas dengan cara yang tidak mendesak/memaksa; menghadirkan kenyamanan fisik, psikologis, dan rasa aman; serta menenangkan individu yang kacau situasi emosinya.

Sukarelawan dapat bertanya kebutuhan penyintas yang segera serta memberikan bantuan praktis dan informasi yang diperlukan.

Sukarelawan menyampaikan informasi yang dapat membantu pemulihan, membantu mengidentifikasi kekuatan dan kemampuan penyintas, serta membangun keyakinan bahwa mereka dapat melewati situasi yang sulit.

Dalam keadaan krisis, orang dapat menjadi bingung dan marah, sukarelawan perlu paham hal ini sehingga dapat tetap menjaga sikap sabar dan tenang.

Sukarelawan perlu paham bias-bias dan prasangka pribadinya sendiri, tidak memaksakan bantuan, tidak membuat janji-janji yang tidak dapat ditepati, atau memberikan informasi yang salah. Sukarelawan perlu paham budaya setempat agar tidak melakukan kesalahan dalam pendekatan dan harus paham keterbatasannya sendiri dengan tidak melakukan hal-hal di luar kompetensinya.

Periksalah keamanan dan pemenuhan kebutuhan dasar dari penyintas. Adakah yang sangat mendesak memerlukan hal tertentu, adakah yang menunjukkan reaksi sangat tertekan? Adakah yang perlu mendapat perhatian khusus karena risiko akan mengalami eksploitasi atau kekerasan?

Sukarelawan perlu mengamati dan mendekati pihak-pihak yang secara lebih khusus memerlukan bantuan. Kadang ada rumor atau berita negatif beredar. Sukarelawan tetap perlu bersikap tenang, positif, dan terbuka bagi semua pihak dengan tetap memfokus pada tugas utamanya. Sukarelawan juga dapat meminta penyintas yang panik untuk menenangkan diri, misalnya dengan memfokus pada napas mereka, dengan mengambil napas (menarik napas dan mengembuskan napas) perlahan berulang-ulang.

Menghubungkan

Sukarelawan umumnya hanya bertemu penyintas dalam waktu singkat. Karena itu, penting untuk membantu menyadarkan mereka mengenai kekuatan yang dimiliki untuk menghadapi situasi sulit. Penyintas juga disemangati untuk memfokus pada strategi-strategi mengatasi masalah yang lebih positif. Misalnya, rasa bosan diatasi dengan bermain dengan anak atau dengan membantu penyintas lain yang berada dalam kondisi lebih sulit.

Satu bagian penting dari PFA adalah menghubungkan penyintas dengan pihak-pihak yang dapat memberikan dukungan yang diperlukan. Misalnya, ibu yang sedang hamil besar dihubungkan dengan layanan kesehatan yang dapat membantu melahirkan.

Yang juga sangat penting jika dapat dilakukan adalah menghubungkan dengan jaringan sosial penyintas itu sendiri (mempersatukan kembali anak dengan orangtua, mempertemukan penyintas dengan keluarga atau orang dari komunitasnya).

Pada akhirnya, sukarelawan perlu menyiapkan diri dan menjaga kesehatannya dengan baik. Jangan sampai ia sendiri syok dengan keadaan lapangan dan bukannya membantu malah jadi menyusahkan.

Kompas, 20 Kompas 2018

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

ESAI: Kritik tentang Kritik Film (NURMAN HAKIM)

STEFANUS ATO UNTUK KOMPAS

Suasana saat pelaksanaan Malam Anugerah Lembaga Sensor Film Indonesia di studi Kompas TV, Jakarta, Jumat (19/10/2018).

Tumbuh kembangnya film Indonesia dalam satu dasawarsa ini dari segi kualitas juga kuantitas (lebih dari 100-an judul film bioskop per tahun) tidak diikuti dengan perkembangan kritik film. Segelintir saja kritikus film dan jumlah kritik film, tidak sepadan dengan kemunculan film-film baru.

Film Indonesia akhir-akhir ini seolah telah meninggalkan kritik film yang seharusnya bisa berdampingan dan saling berkontribusi dalam pemajuan film Indonesia. Film Indonesia dibiarkan bergerak sendiri tanpa didampingi kritik film yang berkualitas. Padahal, kritik film adalah bagian dari ekosistem perfilman.

Banyak tulisan tentang film yang beredar di media massa cetak dan daring. Namun, bisakah tulisan itu dikatakan sebagai kritik film? Dan, apa perbedaan antara review (ulasan) film dan kritik film. Pemahaman akan dua hal itu acap kali bercampur dan membingungkan satu sama lain.

Ulasan film adalah tinjauan film secara umum untuk memberi rekomendasi kepada calon penonton. Ulasan film bicara baik dan buruk sebuah film dan bersifat dokumentatif, mengiringi rilis sebuah film ke publik. Ulasan film biasanya mengenai cerita dan logikanya juga premis sebuah film. Kalaupun menyentuh aspek teknis film, hal-hal umum saja yang dibahas. Siapa pun bisa melakukan ulasan film.

Sementara kritik film menganalisis, menginterpretasi, serta mengevaluasi kekuatan dan kekurangan dari film sebagai formal system, baik secara form (bentuk-naratif) maupun secara style (medium-aspek teknis), dan bagaimana kedua aspek itu bekerja dalam membentuk makna (David Bordwell, Film Art).

Kritik film dilakukan orang yang mempunyai pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang medium film dan tentu diperlukan teori untuk membedah dan menganalisis sebuah film.

Sementara itu, ada lagi yang namanya kajian film. Ia lebih mendalam dan lebih spesifik dari kritik film. Bisa dikatakan kajian film adalah perpanjangan dari kritik film. Kritik film adalah "anak" dari kajian film.

Namun, ada sedikit perbedaan di antara keduanya. Kajian film tidak bicara soal kelemahan sebuah film, ia hanya bicara makna apa yang ingin disampaikan dari sebuah film. Film sebagai teks sehingga kode-kode tanda pada teks itu diungkap, dibaca, dan dianalisis secara mendalam dengan menggunakan teori-teori tertentu (misal: psikoanalisis, feminisme, dan postmodernisme) untuk mendapatkan lapisan-lapisan arti.

Istilah kritik film dan kajian film tak perlu dibedakan dengan mencari definisinya sendiri seperti yang ditulis Seno Gumira Ajidarma di harian ini ("Kritik Esensialis dan Kajian Konstruktivis", Kompas, 16 September 2017).

Seno memaknai kritik film berangkat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kritik: kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.

Memaknai kata kritik dan kajian dalam konteks film dengan berangkat dari arti kedua kata itu pada KBBI adalah tindakan yang mereduksi makna. Jika ingin mencari arti kata itu, seharusya dicari asal muasal kata kritik diadopsi dan padanan kata kajian.

Kata kritik secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, kritikos, yang berarti 'mampu membuat penilaian', lalu diserap ke bahasa Inggris, criticism, yang dalam Oxford Dictionary diberi arti the analysis and judgement of the merits and faults of a literary or artistic work (analisis dan penilaian terhadap kelebihan dan kekurangan sebuah karya sastra atau karya artistik).

Adapun padanan kata kajian adalah kata study: a detailed investigation and analysis of a subject or situation (analisis dan investigasi secara rinci atas suatu subyek atau situasi). Jadi, kritik dan kajian sama-sama tindakan menganalisis, tetapi kajian lebih rinci dan mendalam. Dan, tak ada arti kecaman serta baik-buruk.

Dunia kritik film di Amerika dan Eropa membagi kritik film menjadi dua bagian. Kritik film jurnalistik dan kritik film akademis. Yang pertama banyak beredar di media-media cetak, dalam tulisan pendek, mengingat keterbatasan ruang. Yang kedua, banyak ditulis para akademisi yang mengkaji film dalam bentuk tulisan panjang yang termuat di jurnal-jurnal, skripsi, tesis, dan disertasi. Yang kedua ini punya ruang cukup luas untuk membedah, mengkaji, dan menganalisis sebuah teks film.

Roger Ebert yang menulis untuk Chicago Sun Times adalah salah satu nama yang dikenal sebagai kritikus film jurnalistik. Andre Bazin, Rudolf Arhnheim, David Bordwell, Jean Luc Godard, dan Francois Truffaut adalah contoh kritikus film akademis yang mengkaji film secara mendalam sehingga dikenal sebagai teoritikus film. Bazin dengan bukunya What is Cinema, Bordwell dengan bukunya Film Art, dan Godard bersama kelompok Nouvelle Vague (gelombang baru sinema Perancis pada akhir tahun 1950-an) dengan Cahier du Cinema.

Bahkan, begitu kuatnya teori Godard dan Truffaut tentang film, teori Art Cinema Narration, yang awalnya dimaksudkan untuk melawan dominasi sinema Hollywood (Classical Narrative Hollywood), memberi pengaruh dan menjadi acuan para pembuat film di Eropa sesudahnya, khususnya di Perancis.

Godard dan Truffaut yang juga seorang pembuat film mengaplikasikan sendiri teorinya itu ke dalam film-filmnya.

Ketika film Citizen Kane yang sangat termasyhur itu ditayangkan di publik pada 1941, sebagian memuji, tetapi banyak pula yang "menyerang" (film ini mendapat sembilan nominasi Oscar, tetapi hanya mendapatkan satu penghargaan, skenario terbaik), termasuk dari sastrawan tersohor Jorge Luis Borges. Borges mengatakan, film Citizen Kane layaknya labirin yang tak ada pusat. Mungkin yang ia maksud, cerita film ke mana-mana dan tak jelas arahnya.

Bahasa sinema

Andre Bazin-lah yang kemudian memuji dan menulis kritik soal film Citizen Kane dalam tulisannya "The Technique of Citizen Kane". Bazin menjelaskan, film pertama Orson Walles itu adalah pencapaian baru bahasa sinema dan bagaimana sinema menjadi lebih dekat pada realitas, salah satunya dengan penggunaan deep focus dan blocking pemain tanpa harus terus-menerus mengandalkan editing cut to cut kepada subyek.

Bazin membuka pemahaman penonton terhadap film Citizen Kane sehingga film itu terus dibicarakan dan menjadi bahan studi sampai saat ini. Bahkan, British Film Institute menetapkan film Citizen Kane sebagai film terbaik dan terbesar sepanjang sejarah film dunia setelah film Vertigo karya Alfred Hitchcock.

Semestinya kita bisa belajar dari sepotong sejarah itu bahwa peran kritikus (teoritikus film) itu sangatlah penting, "menemukan" film-film yang bermutu dan membangun ekosistem perfilman. Tidak cukup dengan pengulas film saja.

Idealnya, film-film yang muncul didampingi dan melangkah beriringan dengan kritik film yang bermutu. Bukan tertinggal puluhan langkah. Jika tertinggal, siapa yang akan menjelaskan film-film bermutu dari sineas-sineas baru yang terus tumbuh di tanah Indonesia ini, seperti halnya Bazin menjelaskan Citizen Kane?

Nurman Hakim Sutradara Film Tinggal di Jakarta



Kompas, 20 Oktober 2018

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

ARTIKEL OPINI: Masa Istirahat Pikiran (DAMHURI MUHAMMAD)

KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

HS100 merupakan perangkat pintar yang dihadirkan TP-Link untuk kebutuhan rumah pintar dengan kemudahan mengatur rumah dari jarak jauh, Jumat (26/5). TP-Link berniat agresif menggarap pasar ini di Indonesia.

Akibat ketergesaan di hari-hari sibuk, kita kerap abai pada hal-hal remeh. Sebutlah seperti mengunci pintu atau mencabut colokan listrik di dapur.

Namun, kealpaan-kealpaan kecil yang bisa berakibat besar itu kini bukan perkara yang mencemaskan. Dalam perjalanan, kita hanya perlu menyentuh sebuah tombol digital di telepon pintar yang terkoneksi dengan sistem lock dan unlock di gagang pintu. Satu sentuhan saja, pintu akan terkunci otomatis. Begitu juga dengan peranti lunak pengontrol arus listrik di rumah. Dengan sekali sentuhan pada gawai yang terhubung dengan rupa-rupa perkakas elektronik, sistem akan beralih dari on menjadi off. Sepanjang jaringan internet menyala, semuanya akan terkendali secara niscaya.

Apabila persediaan telur, daging, atau bumbu dapur di kulkas menipis, kulkas itu tak perlu menunggu diperiksa terlebih dahulu karena peranti lunak yang terpasang di dalamnya akan mengirim notifikasi ke gawai Anda, lengkap dengan data jumlah persediaan bahan makanan dan karena itu Anda harus segera berbelanja. Atau jika perangkat lunak di kulkas itu terintegrasi dengan peranti lunak e-dagang yang menjual bahan pokok, ia akan langsung mengirim notifikasi ke minimarket digital itu untuk segera mengirimkan penawaran. Tanpa memeriksa kulkas, tanpa rencana berbelanja, akibat komunikasi machineto machine (M2M) di sekitar Anda, di balik pagar sudah berdiri seorang kurir dengan kantong penuh persediaan makanan yang akan kembali mengisi laci-laci di kulkas Anda.

Internet untuk segala

Mesin-mesin itu saling terhubung, saling berbagi data, berkat jaringan internet. Sepanjang ketersediaan jaringan internet terpastikan, benda-benda itu akan terus berinteraksi, berkarib-kerabat guna melayani kebutuhan para penggunanya. Inilah yang disebut dengan internet of things (IoT) atau dalam bahasa awamnya internet untuk segalanya.

Dalam pemahaman sederhana, IoT adalah teknologi yang memungkinkan benda-benda di sekitar kita terhubung dengan internet sehingga dapat menjalankan fungsi-fungsi otomatisnya. Teknologi informatika (TI) yang berkembang sedemikian rupa telah menciptakan keterhubungan antara produk-produk berkomponen mekanik dan produk-produk berkomponen elektronik. Berkat revolusi digital, keterhubungan itu membentuk sistem yang kompleks dengan penggabungan perangkat keras, perangkat lunak, sensor, penyimpanan data, dan konektivitas.

Dalam catatan Michael Porter, sebagaimana dikutip Makers Institute (2017), IoT adalah fase ketiga (1990-sekarang) dari revolusi TI ketika TI telah jadi bagian tak terpisahkan dari produk. Sensor, prosesor, perangkat lunak, dan konektivitas bersekutu dalam produk. Setiap produk terhubung dengan cloud. Data yang ditangkap oleh sensor dikumpulkan dan dianalisis, lalu ditambah dengan peranti lunak yang dapat meningkatkan kemampuan dan kinerja produk tersebut. Pada fase sebelumnya atau gelombang kedua (1980-1990), TI hanya berkontribusi pada cara perusahaan terhubung dengan pelanggan, kanal, pemasok, dan terintegrasi tanpa kendala oleh kondisi geografis. Ia dapat meningkatkan produktivitas, tetapi belum berpengaruh banyak terhadap "kepintaran" produk itu sendiri.

Kecerdasan dan konektivitas adalah dua kata kunci untuk memahami IoT. Kecerdasan didukung sensor, penyimpanan data, sistem operasi, dan user interface, misalnya engine control unit, antilock braking system, atau sistem wiper otomatis dengan sensor hujan. Sementara konektivitas didukung protokol sistem koneksi nirkabel yang menghubungkan satu produk dengan produk lain atau satu produk dengan pabrik. Konektivitas juga dapat menghubungkan satu produk dengan banyak produk, seperti mobil Tesla yang terhubung ke sistem pabrikan yang dapat memantau kinerja mobil dan menyediakan layanan remote service.

Kecerdasan yang dimaksud bukan kecerdasan manusia yang bersumber dari akal, melainkan kecerdasan buatan atau lazim disebut kecerdasan buatan (AI). "Dapatkah komputer berpikir?" begitu tanya mula-mula Alan Turing (1912-1954), matematikawan dan ahli komputer, dalam Computing Machineri and Intelligence (1950), saat mendiskusikan persyaratan cerdas bagi sebuah mesin.

Di pengujung 1955, Newel dan Simon mengembangkan The Logic Theorist yang kelak dikenal sebagai program AI pertama di dunia. Program itu memetakan masalah dengan alegori pohon, lalu pemecahannya dilakukan dengan memilih cabang-cabang pohon yang akan menghasilkan kesimpulan paling benar. Setahun kemudian, ilmuan komputer dari MIT, John McCarthy (1927-2011), menggelar The Dartmouth Summer Reasearch Project on Artificial Intelligent, sebuah konferensi yang mempertemukan para ahli AI. Di forum itu, John McCarthy mengusulkan definisi AI sebagai cabang ilmu komputer yang fokus pada pengembangan komputer untuk memiliki kemampuan dan berperilaku seperti manusia.

Mesin pembelajaran

Untuk menjadi "manusia", komputer mesti dibekali pengetahuan dan dilatih bernalar. Proses belajar yang ditempuh guna meraih kecerdasan itu disebut machine learning (pembelajaran mesin). Dalam proses belajar yang tak henti-henti itu, komputer akhirnya memiliki kemampuan memetakan pola, kategorisasi, persepsi, mengalihkan bahasa lisan ke bahasa teks, bahkan kemampuan pengambilan keputusan yang nyaris akurat. Sepanjang ia diberi asupan data, algoritma di tubuhnya tak akan letih membaca tren, memetakannya secara periodik, merekam gejala-gejala baru, membandingkannya dengan gejala-gejala lama, lalu membuat keputusan.

Sistem yang bekerja untuk mobil kendali otomatis terbukti mampu mengenali rambu-rambu lalu lintas, memetakan situasi lalu lalang kendaraan, membaca peta cuaca, hingga macam-macam rintangan sepanjang perjalanan berkat data yang direkam sensor. Lambat laun benda-benda tak bernyawa, seperti GPS, sistem pengukur detak jantung pada arloji pintar, pemantau kadar kolesterol, serta dan rupa-rupa aplikasi pemesanan tiket, hotel dan kredit perbankan, yang bekerja 24 jam di perangkat iOs atau Android, makin cerdas akibat data yang tak henti-henti kita masukkan ke dalam sistemnya.

"Secangih-canggihnya mesin, tak akan melampaui kecerdasan manusia." Begitu dulu kita meragukan kemampuan setiap benda canggih. Rupanya mesin-mesin itu terus belajar. Sepanjang kita masih menyuapinya dengan data, pengetahuannya terus bertambah. Konektivitasnya dengan mesin-mesin lain yang berkaitan dengan data kita semakin tak berjarak hingga kecerdasannya berpotensi melampaui kecerdasan manusia. Dalam ilustrasi Yuval Noah Harari (2018), jika ratusan tahun silam Homo sapiens—dengan algoritma biokimianya—mampu menguasai hewan dan menaklukkan alam liar, demikian pula data dan algoritma cerdasnya mengendalikan manusia abad ke-21.

Kapan harus berbelanja kebutuhan dapur, kenapa harus membeli mobil baru, di mana destinasi wisata paling top guna merayakan tahun baru, hingga siapa kandidat presiden yang mesti didukung adalah pilihanpilihan yang keputusannya tak lagi ditentukan oleh kita sebagai manusia. Sebab, hampir semua keputusan dalam hidup manusia mutakhir ada dalam kuasa mesin dengan algoritma cerdasnya. Lalu, apakah sudah waktunya kita mengucapkan selamat istirahat pada pikiran, kesadaran, dan kebudayaan manusia? Kita tunggu saja jawaban Google.

Damhuri Muhammad Pengajar Filsafat Universitas Darma Persada, Jakarta

Kompas, 20 Oktober 2018

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

ARTIKEL OPINI: Musim Semi Muhammad bin Salman (ZUHAIRI MISRAWI)

Setahun lalu, Muhammed bin Salman dipuji setinggi langit karena terobosan barunya perihal modernisasi Arab Saudi dalam pelbagai sektor kehidupan, terutama ekonomi, politik, budaya, dan pandangan keagamaan.

Untuk pertama kalinya, perempuan Arab Saudi dapat merasakan kebebasan di ruang publik: mengemudikan mobil, berbisnis, dan menjadi tentara. Ia akan menyulap Laut Merah sebagai megawisata Timur Tengah pada tahun 2030.

Namun, kini pujian terhadap Muhammed bin Salman (MBS) berubah jadi kecaman dan kutukan. Dunia internasional menyoroti dugaan keterlibatan MBS dalam tragedi tewasnya Jamal Khashoggi. Hal tersebut setelah melihat hasil investigasi Turki terhadap tragedi tersebut. Sulit mengabaikan keterlibatan MBS dalam kematian Khashoggi.

Pihak Turki, yang kemudian dikutip media-media terkemuka di AS, seperti New York TimesThe Washington Post, dan CNN, menegaskan dugaan kuat keterlibatan MBS karena 15 orang yang datang ke Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, pada hari yang sama saat Khashoggi mengunjungi konsulat, 2 Oktober lalu, ditengarai punya kedekatan kuat dengan MBS. Bahkan, pihak Turki menemukan adanya komunikasi intensif antara Maher Muthrib sebagai otak pelakunya dan kantor MBS.

Di pihak lain, sejak kasus tersebut mencuat, MBS selalu menepis hasil investigasi Turki dengan berdalih Khashoggi sudah meninggalkan gedung konsulat. Bahkan, setelah Turki memastikan Khashoggi tewas di dalam konsulat, pihak Arab Saudi sebagaimana dinyatakan Donald Trump menegaskan kematian Khashoggi di tangan penjahat.

Satu hal yang sama sekali tidak bisa diingkari dan dibantah MBS bahwa saat memasuki kantor konsulat, Khashoggi menggunakan jam tangan Apple yang dapat merekam seluruh kejadian yang tersambung langsung ke telepon selulernya. Pihak Turki punya rekaman audio dan video perihal proses pembunuhan secara sadis terhadap Khashoggi yang berlangsung selama tujuh menit yang disebarkan ke sejumlah media lokal dan internasional.

Kritik-kritik Khashoggi

Kini, seluruh perhatian berpusat pada Arab Saudi, khususnya MBS. Pasalnya, kasus ini termasuk kasus spektakuler karena seorang warga negara dibunuh di kantor konsulat yang berada di negara lain. Kantor konsulat di mana pun mestinya memberikan pelayanan terbaik kepada warganya, tetapi yang terjadi pada Khashoggi justru sebaliknya: petaka!

Selain itu, Jamal Khashoggi merupakan seorang jurnalis senior yang kini menetap di AS. Dalam setahun terakhir, ia jadi kolomnis The Washington Post. Dalam kolom-kolomnya, Khashoggi secara leluasa melakukan kritik terhadap MBS.

Barangkali MBS tidak pernah berpikir bahwa kasus kematian Khashoggi akan mendapatkan perhatian luas dari dunia internasional. Dalam setahun terakhir, MBS dengan leluasa melakukan penangkapan besar-besaran terhadap warganya yang kritis, bahkan konon jumlahnya ribuan, termasuk aktivis, para pangeran, dan ulama. Khashoggi sendiri bisa bebas dari penangkapan karena berhasil eksodus ke AS. Selama menetap di AS ia menulis kritik-kritiknya pada MBS, mewakili suara-suara kritis yang dibungkam negaranya.

Menurut Khashoggi, seperti yang ditulis di The Washington Post, ia ingin agar reformasi dalam penegakan hukum dan paham keagamaan berlangsung secara transparan, akuntabel, dan partisipatif. Semua pihak dapat terlibat dalam pertukaran pikiran yang terbuka dan rasional. Misalnya soal pemberantasan korupsi, ia memandang mestinya pemberantasan korupsi berlangsung secara adil, imparsial, dan tidak tebang pilih. Semua pihak, termasuk MBS, tidak kebal dari penegakan hukum dalam konteks pemberantasan korupsi. Isu kepemilikan kapal pesiar dan rumah mewah MBS yang harganya ratusan miliar riyal, bahkan triliunan riyal, juga harus diusut tuntas.

Kritik Khashoggi juga terkait upaya MBS dalam menumpas ekstremisme dan membangun kembali moderasi Islam. Hal yang sangat ironis, mereka yang punya pikiran reformis justru dipenjara karena semata-mata kritis terhadap kebijakan MBS. Sementara mereka yang mempunyai pikiran ekstremis justru mendapatkan posisi strategis di lingkarannya. "Bagaimana seorang yang mempunyai pikiran ekstremis dapat ditoleransi oleh MBS, sementara mereka yang punya pikiran reformis konstruktif justru ditangkap?" tulis Khashoggi dalam salah satu kolomnya di The Washington Post.

Menurut Khashoggi, sikap standar ganda yang diperankan MBS sangat tidak bagus bagi Arab Saudi. Mestinya semua pandangan diberi ruang yang sama untuk menguji setiap kebijakan dan menampung aspirasi dari setiap warga. Namun, hal itu tidak dilakukan MBS. Alih-alih membuka ruang diskusi dan partisipasi publik, MBS justru melakukan penangkapan yang menunjukkan Arab Saudi semakin represif. Karena itu, sikap MBS mirip sikap Putin di Rusia.

Padahal, dunia punya harapan besar terhadap MBS dengan pikiran-pikiran terbuka dan berkemajuan akan membawa Arab Saudi pada zaman baru. Kaum milenial merasa terwakili oleh MBS. Mereka dapat menikmati suasana baru dalam konteks konektisitas dengan dunia luar.

Namun, kematian Khashoggi menutup semua harapan itu. Dunia internasional semakin tahu dapur kekuasaan MBS. Madawi al-Rasheed dalam www.middleeasteye.net menyebut kematian Khashoggi dapat memasukkan Arab Saudi sebagai negara yang berbahaya (rouge state) karena MBS ditengarai terlibat dalam pembunuhan warganya di luar wilayah kekuasaannya. Melakukan pembunuhan secara sistematis di kantor konsulat merupakan sebuah kebiadaban dan kebrutalan.

Jadi lilin kebebasan

Oleh karena itu, kasus Khashoggi menjadi musim semi bagi MBS. AS yang selama ini menjadi mitra strategis dengan dukungan persenjataan dan politik di kawasan, sekarang mulai berpikir untuk meninggalkan Arab Saudi. Dalam kasus Khashoggi ini, baik Demokrat maupun Republik, mempunyai pandangan yang sama bahwa Arab Saudi harus mendapatkan sanksi yang berat. Hanya Donald Trump berusaha bersikap moderat dengan alasan adanya transaksi penjualan senjata kepada Arab Saudi yang jumlahnya mencapai 110 miliar dollar AS.

Namun, suara-suara yang mengemuka di AS saat ini cenderung berpandangan bahwa AS tidak memerlukan Arab Saudi. Sebaliknya, Arab Saudi yang sebenarnya lebih memerlukan AS. Begitu pula negara-negara Eropa mulai menyudutkan Arab Saudi karena pembunuhan secara brutal terhadap jurnalis merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang tak bisa ditoleransi.

Intinya, tak mudah bagi Arab Saudi keluar dari tekanan internasional saat ini. Dalam upaya modernisasi dan moderasi, MBS butuh dukungan besar dari dunia internasional. Pukulan telak yang harus ditelan, sejumlah sponsor, investor, dan media menarik diri dalam perhelatan forum investasi yang akan digelar akhir bulan ini. Dunia internasional sangat tidak menoleransi sikap brutal MBS terhadap Khashoggi.

Maka, sebagaimana dinyatakan Hatice Cengiz, tunangan Khashoggi di New York Times, kekasihnya adalah martir dan seorang patriot. Khashoggi meninggal untuk lahirnya kebebasan di Arab Saudi. Seorang tiran harus membayar atas dosa-dosa yang sudah dilakukan kepada warganya. Dan Khashoggi telah menjadi lilin bagi kebebasan dan perlunya melawan kaum tiran itu.

Zuhairi Misrawi Analis Pemikiran dan Politik Timur-Tengah The Middle East Institute, Jakarta

Kompas, 20 Oktober 2018

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

ARTIKEL OPINI: ”Quo Vadis” Sistem Peradilan Perdata (BINZIAD KADAFI)

KOMPAS/SATRIO PANGARSO WISANGGENI

Hakim Agung Mahkamah Agung dalam pelantikan Pri Pambudi Teguh dan Abdul Manaf menjadi Hakim Agung pada Rabu (15/8/2018) pagi di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta. Abdul Manaf sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Surabaya sedangkan Pri Pambudi sebelumnya menjabat sebagai Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi Semarang.

Pada awal 2018, Mahkamah Agung menyampaikan secara terbuka Laporan Tahunan 2017. MA adalah satu dari sedikit lembaga yang konsisten melakukannya. Acara dihadiri Presiden Joko Widodo (Kompas, 1/3/2018). Pertama kalinya seremoni laporan tahunan MA didengar langsung kepala negara sehingga isinya lebih menarik untuk ditilik.

Dari ratusan halaman laporan, terdapat data yang sekilas sangat teknis hukum, tetapi memuat dimensi sosial yang luas. Data itu adalah jenis dan jumlah perkara pidana umum yang dimintakan kasasi ke MA sepanjang 2017. Di urutan teratas ada penipuan. Pada urutan berikutnya ada penggelapan. Setelah itu pemalsuan. Semuanya membentuk hampir separuh perkara kasasi pidana umum pada 2017. Fakta yang sama ternyata ditemukan di tahun-tahun sebelumnya.

Rumusan delik-delik itu beririsan dengan hukum perdata. Penipuan bisa ditemukan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan dalam konsep perdata. Sebagai salah satu alasan pembatalan perjanjian, penipuan harus dibuktikan secara pidana, tak cuma dipersangkakan. Mereka yang berseteru dan ingin membatalkan perjanjian perdata dengan pihak lain punya motif menggulirkan proses pidana penipuan.

Penggelapan adalah penguasaan terhadap aset milik pihak lain secara melawan hukum. Meski melawan hukum, menurut KUHP, terjadinya penguasaan aset tersebut bukan karena kejahatan. Perselisihan bisa memicu tuduhan penggelapan, yang merupakan tindak pidana, atas tindak penguasaan yang awalnya bersifat perdata.

Adapun pemalsuan menyangkut ketidakbenaran suatu surat yang jadi bukti atau dasar timbulnya hak, perikatan, atau pembebasan utang merupakan hubungan perdata. Jika ada konflik di hubungan tersebut, tuduhan pemalsuan bisa dipakai untuk mewarnai.

Data di atas mengindikasikan setidaknya dua hal. Pertama, kaburnya garis batas antara perkara perdata dan pidana, terutama dalam praktik. Kedua, kuatnya kecenderungan kriminalisasi sengketa perdata.

Problem peradilan perdata kita

Kedua indikasi itu sesungguhnya bukan hal baru. Daniel S Lev sudah mengungkapnya sejak lama (1966). Indikasi itu pun akan lebih bermakna jika dikaitkan dengan data lain, salah satunya hasil survei kemudahan berusaha Bank Dunia (2018). Dalam survei itu kemudahan berusaha Indonesia di peringkat ke-72 dari 190 negara. Namun, Indonesia masih ada di peringkat ke-145 untuk "penegakan kontrak", istilah Bank Dunia bagi sistem peradilan perdata.

Peradilan perdata kita dipersepsikan lambat. Butuh 390 hari untuk menyelesaikan gugatan di pengadilan negeri (PN) sampai eksekusi. Penyelesaian sengketa perdata juga dipersepsikan mahal. Butuh biaya hingga 74 persen dari nilai sengketa untuk menyelesaikan perkara hingga melaksanakan putusan perdata. Lebih umum, peradilan perdata masih dianggap kurang berdaya. Banyak hambatan agar putusan perdata bisa dilaksanakan guna memulihkan hak pencari keadilan.

Bermacam persepsi itulah yang sejak dulu menggiring pihak berperkara ke kantor kepolisian untuk melaporkan pidana lawan sengketanya (Gautama, 1979; Burns, 1980). Ancaman penjara dijadikan amunisi tambahan untuk memaksa lawan memenuhi kewajiban perdatanya. Kepolisian pun sulit menolak laporan pidana yang masuk. Akibatnya, proses pidana banyak menghantui proses perdata tentang persoalan yang sama. Padahal, ada kebijakan untuk tak memidanakan urusan perdata. Misalnya UU HAM yang melarang memidanakan utang atau peraturan disiplin kepolisian yang melarang polisi menjadi penagih piutang.

Memperkuat sistem peradilan perdata

Tulisan ini tak berpretensi melemahkan penegakan hukum, termasuk di ranah pidana. Penulis juga tak bermaksud menegasikan hak warga melaporkan tindakan yang nyatanya memenuhi rumusan delik.

Dibentuknya sistem peradilan pidana toh untuk menegakkan tertib hukum sekaligus melindungi masyarakat hukum (Remmelink, 2003). Sistem pemasyarakatan—terlepas dari berbagai masalahnya seperti overkapasitas lapas—berfungsi melakukan modifikasi, intervensi, dan memulihkan konflik di masyarakat (Sulhin, 2010). Tulisan ini lebih untuk mendorong pengambil kebijakan—pimpinan MA, presiden, dan lainnya—segera memperkuat sistem peradilan perdata yang masih kurang digunakan.

Jumlah gugatan perdata yang ditangani semua PN di Indonesia masih minim dibandingkan populasi pelaku usaha, apalagi jumlah penduduk Indonesia (Kadafi, 2016). Jumlah itu pun relatif stagnan selama beberapa tahun (MA, 2016, 2017, 2018). Padahal, di sisi lain pemerintah sedang menggeliatkan ekonomi di mana peradilan perdata seharusnya jadi tumpuan penyelesaian setiap potensi sengketa yang muncul dari sana.

Karena itu, berbagai persepsi negatif tentang sistem peradilan perdata harus dikikis habis. Untuk itu, MA pernah memperkenalkan mekanisme penyelesaian gugatan sederhana pada 2015 meski hanya bagi sengketa perdata di bawah Rp 200 juta. Mekanisme yang lebih sederhana itu ternyata disambut antusias. Jumlah pengguna meningkat puluhan kali lipat sejak awal diterapkan (MA, 2018).

Namun, publik butuh kerja lebih keras pengambil kebijakan dalam meyakinkan bahwa berperkara perdata itu bisa cepat, sederhana, berbiaya ringan, berdaya guna, dan bersih.

Jika sistem peradilan perdata berfungsi baik, tanpa harus membatasi penegakan hukum pidana yang sejatinya memang upaya terakhir (ultimum remedium), pendekatan kriminalisasi sangat mungkin ditinggalkan. Sebab, peradilan perdata dan putusannya bisa diandalkan warga dalam memulihkan hakhak hukumnya sambil memaksa pihak berseberangan memenuhi kewajiban perdatanya.

Binziad Kadafi Pengajar STH Indonesia Jentera; Kandidat PhD Tilburg Law School; Praktisi Hukum

Kompas, 20 Oktober 2018

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.