Sabtu, 24 September 2016

Keadilan yang Mengendap (DONI KOESOEMA A)

Anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terpangkas Rp 23,4 triliun untuk tunjangan penghasilan guru dengan alasan kelebihan anggaran. Terlepas dari apakah pengurangan ini usulan dari Kemdikbud atau "paksaan" dari Kementerian Keuangan, kelebihan anggaran selain menunjukkan buruknya manajemen pendataan guru dan tenaga kependidikan, juga abainya birokrasi pada hak guru yang sudah bersertifikasi.

Kasus guru yang sudah memiliki sertifikasi pendidik tapi tunjangannya tidak cair banyak terjadi selama empat tahun terakhir. Data yang disampaikan Nurzaman, Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, jelas menunjukkan bahwa dalam dana tunjangan penghasilan guru (TPG) yang dipotong tersebut masih ada hak-hak guru (Kompas, 31/8).

Ada 33.000 guru yang tidak berhak mendapatkan TPG karena tidak memenuhi syarat mengajar 24 jam. Ada 26.000 guru yang tidak bisa memperoleh TPG karena tidak sesuai antara apa yang diajarkan dan sertifikasi yang dimilikinya. Sebanyak 59.000 guru yang tidak memperoleh TPG ini semuanya pernah memperoleh sertifikasi.

Korban kebijakan

Guru yang jumlahnya 59.000 ini umumnya masih mengajar. Mereka tidak memenuhi kuota 24 jam, bisa jadi karena struktur Kurikulum 2013 yang memang tidak memungkinkan guru untuk memenuhi tatap muka 24 jam.

Kecilnya jam mengajar seorang guru di unit sekolah juga bisa terjadi karena banyak sekolah mengangkat guru dengan mata pelajaran sejenis. Akibatnya, terjadi kelebihan guru dan 24 jam tatap muka tidak terpenuhi. Selain itu, ada yang tidak bisa memperoleh TPG karena terkendala persoalan linearitas, baik itu linearitas kualifikasi akademis maupun sertifikasi.

Para guru ini sebenarnya korban kebijakan pendidikan. Sebelum pemerintah mengubah nomenklatur mata pelajaran Biologi dan Fisika di SMP menjadi IPA Terpadu, mata pelajaran IPA ini diampu oleh dua guru yang berbeda, yaitu guru biologi dan fisika.

Mereka yang mengajar di mata pelajaran ini memiliki kualifikasi sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Ketika proses sertifikasi terjadi, dua mata pelajaran ini telah berubah nama menjadi IPA. Maka, guru Fisika dan Biologi memperoleh sertifikasi untuk mata pelajaran IPA.

Ketika guru ini pindah ke jenjang SMA dan mengajar mata pelajaran Biologi yang memang sesuai kualifikasi akademiknya, data sertifikasi mereka tak dapat divalidasi karena kode sertifikasi mata pelajaran Biologi berbeda dengan kode sertifikasi mata pelajaran IPA SMP. Siapa yang salah di sini? Kebijakannya atau gurunya?

Para guru yang mengalami kasus ini bahkan pernah datang ke Senayan (baca: Kemdikbud) untuk mencari solusi atas persoalannya. Namun, pemerintah tidak bisa memberikan solusi. Alasannya, tidak ada aturan untuk menyelesaikan persoalan ini. Solusinya apa? Pihak Kemdikbud dengan mudah menjawab, lebih baik guru mengajar kembali ke SMP atau ikut pelatihan profesi guru (PPG) lagi.

Apabila seorang guru swasta dipindah oleh yayasan dari jenjang SMP dan dimutasi ke SMA, guru tersebut hanya bisa taat. Memangnya guru yang memiliki sekolah sehingga bisa memilih seenaknya sendiri mau mengajar di mana? Lebih dari itu, mengikuti PPG lagi jelas merupakan pemborosan waktu dan uang karena sebenarnya guru ini sudah pernah mengikuti PPG. Kebijakan ini juga merugikan peserta didik yang tidak memperoleh layanan dari guru tersebut karena harus absen lantaran mengikuti PPG.

Untuk mengatasi kelebihan guru, apa yang sudah dilakukan Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK)? Bagaimana mungkin pemerintah membiarkan sekolah-sekolah mengangkat guru seenaknya sendiri dan tidak terdeteksi sehingga terjadi kelebihan guru? Bagaimana mungkin pemerintah mengubah kebijakan nomenklatur guru tentang nama mata pelajaran dan menyertifikasi guru, tetapi ketika guru telah melaksanakan kewajibannya, haknya tidak diberikan?

Demikian juga masalah linearitas. Mutasi guru dari SMP ke SMA menjadi bermasalah karena ada perbedaan nomor sertifikasi kode mata pelajaran. Meskipun seorang guru mengampu mata pelajaran yang linear dengan kualifikasi akademisnya, tetapi karena guru tersebut menjalani sertifikasi di SMP dengan kode sertifikasi yang berbeda, ketika guru tersebut pindah mengajar ke SMA seluruh proses verifikasi dan validasi terkendala karena ada ketidaklinearan ini.

Ditemukannya endapan dana TPG di daerah terjadi bukan sekadar karena secara kebijakan Kemdikbud tidak peka dan tidak akomodatif terhadap hak guru, tetapi juga karena sistem pendataan pendidikan kita masih lemah.

Pangkalan data

Di masa lalu, guru banyak disibukkan untuk memasukkan (meng-input) dan memverifikasi data, melalui dua laman yang mengelola guru, yaitu laman Padamu Negeri dan laman Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Karena muncul berbagai polemik terkait pendataan pada laman Padamu Negeri yang tidak terintegrasi dengan Dapodik, mulai 2014 dilakukan integrasi antara data di laman Padamu Negeri dan Dapodik. Adanya dua data ini menunjukkan bahwa belum ada sinergi di dalam Kemdikbud sendiri.

Dapodik untuk pendidikan dasar dan menengah sebelumnya juga masih terpisah. Meskipun sekarang ini sudah dilakukan sinkronisasi data di dua pangkalan tersebut, hilangnya sebagian besar tunjangan sertifikasi guru terjadi ketika dua pangkalan data ini belum sinkron satu sama lain.

Apabila ada seorang guru pindah mengajar dari SMP ke SMA, proses verifikasi data pindahan ini akan bermasalah, sebab guru harus verifikasi pindah di pangkalan data satu dan melapor ke pangkalan data yang lain. Guru sibuk harus mengurus perpindahan data yang rumit dan menyita waktu.

Bila pokok persoalannya adalah sinkronisasi data, usulan pemotongan kelebihan anggaran TPG oleh Kemdikbud kepada Menkeu jelas sebuah pilihan yang rasional pada saat target penerimaan pajak tidak tercapai. Namun, persoalan dana mengendap itu bukanlah sekadar hitung-hitungan teknis sinkronisasi data. Lebih dari situ, bagaimana komitmen Kemdikbud kepada para guru yang telah melaksanakan kewajibannya, bahkan ada yang secara faktual mengajar lebih dari 24 jam, tetapi tetap tidak memperolah tunjangan sertifikasi?

Tunjangan guru itu tidak cair bukan karena guru tidak melaksanakan kewajibannya, melainkan karena peraturan tentang sertifikasi guru telah berlaku tidak adil pada guru. Hak guru ini terpangkas karena sistem dan peraturan yang tidak akomodatif dan responsif terhadap persoalan guru.

Ungkapan Nurzaman yang dikutipKompas mengindikasikan bahwa sejak lima tahun terakhir banyak dana guru yang mengendap. Mereka yang sudah bersertifikasi, meskipun uangnya sudah dianggarkan, haknya tidak terbayarkan. Jadi, hak mereka tidak terbayarkan bukan semata-mata karena kesalahan para guru. Akan tetapi, mereka menjadi korban kebijakan pendidikan yang tidak akomodatif dan abai terhadap hak guru.

Uang yang mengendap bukan sekadar tanda tidak profesionalnya birokrasi di Kemdikbud, terutama di Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan. Lebih dari itu, Kemdikbud telah abai terhadap martabat dan hak guru. Akibatnya jelas: keadilan mereka pun ikut mengendap!

DONI KOESOEMA A, PEMERHATI PENDIDIKAN; PENGAJAR DI UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA, SERPONG

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 September 2016, di halaman 6 dengan judul "Keadilan yang Mengendap".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Menteri ESDM dan Ketahanan Energi (JUNAIDI ALBAB SETIAWAN)

Kegaduhan seputar sosok menteri energi dan sumber daya mineral belakangan ini banyak membuang energi sia-sia.
HANDINING

Untuk bergerak maju, kementerian ini sesungguhnya sangat butuh menteri yang kuat, kesinambungan kebijakan, konsistensi program dan dasar hukum yang kokoh, serta tekad bersama seluruh rakyat untuk bersatu mewujudkan ketahanan energi.

Kementerian ini termasuk kementerian strategis yang tidak sekadar bertugas mengejar Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang tinggi. Lebih dari itu, juga ditantang mewujudkan ketahanan energi bangsa di tengah situasi krisis energi global yang semakin menggejala. Sementara sejumlah perundangan dan kebijakan yang ada belum mampu memadukan sikap dan kepedulian dari semua komponen bangsa untuk mewujudkan ketahanan energi dan membangun kesadaran menghadapi krisis energi yang kian dekat.

Karena itu, kementerian ini sangat butuh menteri yang kuat dalam mengemban misi nasional untuk mewujudkan kedaulatan energi, seorang nasionalis andal, yang paham konstitusi dan bukan sekadar pemain pasar.

Di ambang krisis energi

Sebagai pembantu presiden, menteri seharusnya berpegang teguh pada visi dan misi presiden ketika berkampanye. Pemerintah Jokowi-Kalla mengusung visi: "Jalan perubahan untuk Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian". Sebuah visi besar yang tidak mudah diwujudkan jika dilihat dari situasi dan kondisi Indonesia sekarang. Namun, janji adalah janji, sekali diikrarkan ia akan jadi pegangan dan alat bagi rakyat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah.

Dari visinya, kita bisa menarik pesan bahwa pemerintah memandang Indonesia sedang menghadapi tiga masalah besar. Salah satunya "kelemahan sendi perekonomian bangsa yang disebabkan kesenjangan sosial, kesenjangan antarwilayah, kerusakan lingkungan hidup akibat eksploitasi berlebihan, serta ketergantungan pangan, energi, keuangan, dan teknologi".

Ketergantungan energi merupakan masalah serius dan di situlah peran menteri ESDM diperlukan. Kementerian ESDM merupakan salah satu motor penggerak perekonomian negara, kegagalan kementerian ini dalam menjalankan tugas untuk melepaskan bangsa ini dari ketergantungan energi akan berakibat mandeknya roda perekonomian yang berdampak multidimensi.

Maka, penggantian menteri ESDM di tengah masa jabatan tentu sangat merugikan, terlebih jika disertai kontroversi yang mengundang kegaduhan. Karena saat ini, menteri dituntut agar segera menyatukan semua potensi, mengumpulkan informasi, serta memetakan masalah-masalah di seputar tugas dan fungsi kementerian. Menteri harus segera mengumpulkan dan mendengar sejumlah kepentingan, mulai dari Dewan Energi Nasional (DEN) yang telah menyusun Rencana Umum Energi Nasional, DPR, Komite Eksplorasi Nasional, SKK Migas, BPH Migas, investor pengusaha, kontraktor kontrak kerja sama (K3S), BUMN dan BUMD migas, asosiasi pemerintah daerah penghasil migas, KPK, serta penegak hukum. Tidak kalah penting, menyinergikan temuan-temuan penelitian dari pusat studi energi sejumlah perguruan tinggi.

Sejak Indonesia merdeka, kita terus mencanangkan semboyan untuk mewujudkan kedaulatan energi, tapi pengertian kedaulatan energi tampaknya terlalu abstrak sehingga menjadi bias dalam praktiknya. Tafsirnya bergantung pada arah angin kebijakan penguasa berembus dan biasanya beda pemerintahan beda pula kebijakan. Akibatnya, kebijakan yang diambil bersifat sektoral, tidak berkesinambungan.

Saat ini kita berada di ambang krisis energi yang secara alamiah akan berpengaruh pada konstelasi global. Karena itu, tantangan Kementerian ESDM ke depan adalah mewujudkan ketahanan energi dan menyiapkan simulasi dalam menghadapi krisis. Membangun kesadaran krisis harus dikampanyekan kepada seluruh rakyat, sejalan dengan visi pemerintah yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan sekaligus pelaku utama pembangunan.

Kedaulatan energi yang diinginkan visi pemerintah kali ini bukanlan kedaulatan dalam keterisolasian, melainkan berangkat dari kesadaran saling ketergantungan antarsektor, antarwarga, bahkan antarnegara. Dengan demikian, kuncinya adalah pada komitmen kebersamaan sebagai bangsa dan pemimpin yang kuat, berkarakter, dan tidak mudah terombang-ambing desakan- desakan kepentingan pragmatis.

Dalam mewujudkan ketahanan energi, pemerintah harus pandai mengukur diri dalam ketersediaan sumber daya, pengetahuan, keahlian, dan kemampuan. Serta, tentu saja, bersatu padu menyamakan pemahaman dan langkah ke depan dengan keterbukaan informasi, komunikasi, dan koordinasi lintas sektor.

Selama ini kita terbiasa berpikir dan bekerja dengan orientasi migas. Sementara migas akan semakin hilang dari perut bumi karena habisnya persediaan dan sifatnya yang tidak terbarukan.

Tanda-tanda krisis

Lembaga konsultan Norwegia, Rystad Energi, menyampaikan hasil penelitiannya: dengan kecepatan produksi saat ini, cadangan minyak dunia hanya akan bertahan selama 70 tahun. Sementara Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan, rendahnya harga minyak akan menurunkan efisiensi energi serta memicu produksi migas dan mesin berbahan bakar migas.

Data IEA menunjukkan, investasi di sektor minyak menurun pada 2015, kemudian menurun lagi di 2016. Ini merupakan penurunan dua kali berturut-turut dalam tiga dekade terakhir akibat menipisnya persediaan dan sulitnya lapangan pengeboran sehingga memerlukan biaya tinggi yang tidak sebanding dengan nilai jual. Sebab, harga minyak dunia terus mengalami penurunan akibat kelebihan pasokan lantaran tak terkontrolnya produksi minyak dunia.

Di dalam negeri, saat ini migas masih jadi penopang utama pembangunan sebagai sumber pendapatan tertinggi negara di luar pajak. Namun, persediaan migas makin berkurang dari waktu ke waktu. Cadangan minyak diperkirakan hanya cukup sampai 11 tahun ke depan, sementara cadangan gas diperkirakan cukup sampai 50 tahun ke depan.

Menurut SKK Migas, tanpa ada upaya pencarian sumur baru, produksi minyak mentah akan turun rata-rata 20 persen per tahun. Dalam kondisi itu, produksi minyak mentah Indonesia pada 3-5 tahun ke depan turun hingga 500.000 barrel per hari.

Peranan migas makin berkurang dan investasi sektor migas semakin mahal dan sulit, sementara harga minyak dunia terus turun drastis. Sumber gas yang ada belum dimaksimalkan, ditambah penemuan cadangan yang terbatas jumlahnya.

Situasi itu kini membuat pemerintah tunggang langgang. Untuk menjaga agar defisit anggaran tidak mencapai angka 3 persen, pemerintah dan DPR salah satunya bersepakat menurunkan besarancost recovery dari 11,9 miliar dollar AS menjadi 8 milliar dolar AS dalam RAPBN-P 2016. SKK Migas pun meminta agar asumsi lifting minyak dikurangi dari 800.000 barrel per hari ke angka 740.000-760.000 barrel per hari, sementara produksi gas pada angka 1,1 juta hingga 1,2 juta barrel setara minyak per hari dengan harga minyak mentah Indonesia (ICP) 40-50 dollar AS per barrel. Akibatnya, investasi migas akan makin tak menarik bagi investor.

Produksi minyak turun sementara produksi gas mengalami kenaikan, tapi daya serap masyarakat terhadap gas belum memadai karena transisi dari BBM ke bahan bagar gas (BBG) tidak diimbangi pembangunan infrastruktur hingga ke tengah-tengah masyarakat. BUMD migas hulu dan hilir yang semestinya dijadikan ujung tombak karena memiliki akses dan pengaruh langsung pada kesejahteraan masyarakat lokal justru dibiarkan mati perlahan dalam tekanan persaingan pasar bebas yang tak seimbang serta regulasi yang tak berpihak.

Indonesia diperkirakan menjadi "net importir" gas pada tahun 2030. Konsumsi migas terus meningkat, bahkan terus didukung dengan kebijakan subsidi BBM walaupun kemampuan keuangan negara sedang lemah. Ironisnya, konsumsi yang tinggi itu tidak bisa dipenuhi dari hasil produksi sendiri, tetapi bergantung pada minyak impor.

Di bidang mineral dan batubara (minerba), kebijakan baru besaran royalti, divestasi dan larangan ekspor konsentrat, serta kewajiban membangunsmelter masih berjalan lambat, ditandai ketidaktaatan investor dan lemahnya nilai tawar pemerintah. Sekalipun ditunjang kebijakan kenaikan royalti komoditas minerba—emas naik dari 1 persen jadi 3,75 persen; tembaga dari 3,75 persen jadi 4 persen; perak dari 1 persen jadi 3,25 persen; nikel dari 0,9 persen jadi 2 persen; logam dari 0,7 persen jadi 1,5 persen—tapi belum bisa berjalan secara efektif dalam membantu keuangan negara.

Indonesia juga memiliki sejumlah sumber energi baru terbarukan (EBT), seperti mikrohidro, biomassa, energi matahari, angin, nuklir, dan panas bumi. Namun, pengembangan EBT terlihat masih menghadapi kendala, terutama dari rendahnya kesadaran masyarakat terhadap arti penting EBT bagi masa depan Indonesia. Sementara pemerintah kurang masif dalam mengampanyekan EBT, sebaliknya justru cenderung memfasilitasi rakusnya pasar dan sikap konsumtif masyarakat pada bahan bakar fosil.

Beberapa catatan di atas mengingatkan betapa krisis energi sudah menghampiri kita. Mari manfaatkan waktu yang tersisa untuk bersatu mewujudkan ketahanan energi. Untuk itu, diperlukan kesadaran bersama dan kebijakan yang kuat dan berkesinambungan dari menteri ESDM di bawah pemerintahan yang berwibawa, kuat, dan berdaulat dengan tujuan memenuhi hak-hak dasar warga negara.

JUNAIDI ALBAB SETIAWAN, ADVOKAT, PENGAMAT HUKUM MIGAS

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 September 2016, di halaman 7 dengan judul "Menteri ESDM dan Ketahanan Energi".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

INVESTASI: Yang Berhak Melakukan Pengampunan Pajak (ADLER HAYMANS MANURUNG)

Pembahasan mengenai pengampunan pajak (tax amnesty) menjadi topik yang menarik dan menjadi diskusi bagi setiap pihak, bahkan di arisan keluarga juga menjadi bahan diskusi. Pertanyaan yang muncul selalu mengapa pemerintah melakukan tindakan atau mengeluarkan kebijakan ini? Siapa saja yang berhak melakukan pengampunan pajak? Bila saya seorang pensiunan, apakah saya perlu ikut pengampunan pajak sementara sebelumnya sudah bayar pajak secara teratur, tetapi lupa melaporkannya? Bagi saya yang melakukan pembayaran pajak atas pendapatan saya dan lupa melaporkan pada surat pemberitahuan (SPT), apakah saya harus ikut di mana saya masih mendapatkan pendapatan melebihi Rp 5 juta?

Pengampunan pajak sudah pernah dilakukan pemerintah terakhir sekali pada tahun 1984 dan banyak pihak dinyatakan tidak berhasil. Praduga sementara bahwa tindakan ini dilakukan karena tidak ada alternatif lain yang lebih cepat untuk mendapatkan dana. Pemerintah saat ini sedang mengalami kekurangan dana dan perlu instan dalam rangka pembangunan dan pengeluaran lainnya. Artinya, kebijakan pengampunan pajak ini diakui sebagai sebuah kebijakan yang kurang tepat, tetapi harus ada kebijakan yang bisa memasukkan dana karena adanya kebutuhan dana saat ini.

Sebenarnya, ada kebijakan yang sangat strategis bisa dilakukan, misalnya, pengenaan pajak kepada pendapatan yang dibawa pulang ke rumah (take home pay) oleh pegawai. Bila diperhatikan, pajak yang dikenakan kepada pegawai yaitu pajak atas gaji pokok. Padahal, take home pay bisa dua kali lipat dari gaji pokok. Gaji seorang direktur bisa mencapai Rp 150 juta, tetapi yang dikenai pajak hanya sekitar Rp 75 juta, sementara sisanya hanya uang tambahan bagi pegawai seperti, transportasi dan sebagainya. Bukankah metode ini bisa dipilih lebih dulu dan jelas besar yang akan didapat.

Seperti dinyatakan dalam UU Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak, dalam Pasal 6 disebutkan bahwa yang berhak melakukan pengampunan pajak adalah wajib pajak yang belum melaporkan harta dan utang pada SPT 2015. Artinya, seseorang yang belum pernah menyampaikan harta pada SPT 2015 bisa melakukan pelaporan pengampunan pajak. Kekhilafan tidak melakukan pelaporan harta dan utang harus ditebus dengan mengikuti pengampunan pajak. Pemerintah dan DPR menyetujui atas undang-undang tersebut karena dibutuhkan dana sekitar Rp 161 triliun untuk pembiayaan pengeluaran yang sudah dirancang pemerintah.

Jika ditelusuri mengapa kalimat berdasarkan aset, maka secara jelas dapat dihitung dari besaran aset yang ada di Indonesia, yaitu deposito, saham, obligasi, reksa dana, asuransi, properti, dan dana pensiun, serta yang lainnya. Nilai aset deposito sekitar Rp 3.500 triliun, saham sebesar Rp 5.500 triliun, reksa dana sekitar Rp 500 triliun, dan bisa dilihat besaran lainnya hampir setara dengan nilai tersebut.

Pada peraturan baru yang dikeluarkan kantor pajak bahwa seseorang yang mempunyai pendapatan kurang dari Rp 4,5 juta tidak diwajibkan mengikuti pengampunan pajak. Seseorang yang memiliki pendapatan sebesar Rp 4,5 juta adalah seseorang yang dianggap yang belum diwajibkan untuk membayar pajak. Artinya, orang yang berpendapatan tersebut masih perlu dibantu dan kemungkinan aset yang dimilikinya belum sebesar nilai aset yang diharapkan. Biasanya, mereka yang memiliki pendapatan sebesar nilai tersebut umumnya hanya bisa untuk membiayai kehidupan sehari-hari dan belum bisa membantu memberikan bantuan kepada pemerintah dalam bentuk pajak. Seseorang yang mempunyai pendapatan kurang dari Rp 4,5 juta umumnya belum mempunyai nomor pokok wajib pajak (NPWP) sehingga perlu melaporkan pengampunan pajak belum bisa.

Selanjutnya, seseorang sudah pensiun dan mempunyai pendapatan pensiun kurang dari Rp 4,5 juta juga tidak diwajibkan melakukan pengampunan pajak pada periode sekarang. Alasan atas tidak diikutkan pada pengampunan pajak karena pendapatan yang diperoleh tidak cukup membiayai kehidupan sehari-hari. Adapun aset yang dimiliki seakan-akan sudah membayar pajak. Tindakan ini sama seperti seseorang yang baru bekerja mendapatkan pendapatan kurang dari Rp 4,5 juta.

Mereka yang sudah pensiun dan juga mempunyai pendapatan selain uang pensiun dengan nilai melebihi Rp 4,5 juta dan juga memiliki NPWP diwajibkan melakukan pengampunan pajak. Tindakan pengampunan pajak ini diperlukan untuk kepentingan pensiunan tersebut. Bila pensiunan tersebut tidak ada yang perlu dilaporkan tentang aset dan utang, pensiunan tersebut bisa melakukan perbaikan atas SPT yang dimilikinya untuk kepentingannya.

Perbaikan laporan atas SPT periode 2015 sangat penting untuk memberikan keabsahan aset yang dimiliki. Pelaporan aset ini bisa dipergunakan pemerintah di kemudian hari dalam rangka perhitungan pajak jika pensiun tersebut melakukan penjualan aset tersebut.

Pelaporan aset atas yang kita miliki sangat penting bagi kita sendiri dan juga bagi pemerintah. Kita sebagai penduduk suatu negara sangat penting mempunyai aset yang jelas dan sangat penting dalam melakukan warisan di masa mendatang. Bila aset atau utang yang kita miliki tidak jelas, pembagian harta di kemudian hari bisa menjadi persoalan tersendiri. Saat ini, administrasi perpajakan yang kita miliki masih kurang lengkap sehingga adanya pelaporan pajak ini merupakan sebuah tindakan untuk membuat basis data yang baik.

Selayaknya, pemerintah memperbaiki pengumpulan pajak kepada masyarakat. Pengumpulan pajak terhadap sebuah usaha perlu diperbaiki karena dalam transaksi antarperusahaan dalam grup (yang dikenal transaksi afiliasi) bisa menimbulkan tidak dikenakan pajak, padahal banyak pajak yang bisa diterima dari transaksi tersebut. Penulis membimbing mahasiswa doktor pada sebuah perguruan tinggi dan menemukan transaksi afiliasi sangat banyak pajak yang dapat dihindari sehingga kantor pajak perlu fokus juga kepada transaksi ini.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 September 2016, di halaman 25 dengan judul "Yang Berhak Melakukan Pengampunan Pajak".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

PSIKOLOGI: Mengasihani Diri (AGUSTINE DWIPUTRI)

Kita semua mempunyai berbagai kebiasaan, bisa sesuatu yang baik maupun yang buruk. Kebiasaan untuk hidup sehat merupakan kebiasaan yang perlu terus dipertahankan, tetapi bagaimana menghentikan kebiasaan emosional yang merugikan diri sendiri ataupun orang lain?

Joice Meyer (2013) menyebutkan beberapa kebiasaan emosional yang berbahaya, di antaranya mengasihani diri sendiri, depresi, dan putus asa atau kesedihan yang berlebihan.

Contoh kasus

Seorang wanita, 70 tahun, cukup berada secara ekonomi, tetapi memilih tinggal di sebuah panti werda kelas menengah atas biaya dan keinginan sendiri karena merasa tidak ada lagi pasangan hidup maupun anggota keluarga yang dapat tinggal di rumah bersamanya. Fasilitas di panti sebenarnya cukup bagus, ada banyak sesama lansia yang dapat menjadi teman bicaranya. Namun, sehari-hari ia selalu menggerutu dan menemukan kesalahan mengenai segala hal. Dia sering mengatakan bahwa orang-orang tidak mengerti bagaimana sulitnya untuk menyerahkan semua barang-barangnya. Ia juga selalu mengeluh tentang kebersihan ruangan, tentang makanan yang kurang berselera. Masalahnya menjadi begitu parah sehingga semua orang takut mengunjungi dia, dan para pengurus meringis/bersikap kurang mau membantu setiap kali ia menekan tombol bel yang menandakan bahwa dia menginginkan atau membutuhkan sesuatu.

Berpikir mengenai hal-hal yang negatif dalam hidup akhirnya membuat dia marah dan depresi, dan dengan terpaksa dokter harus memberinya lebih banyak obat anti cemas dan penenang untuk menjaga agar dia cukup tenang bagi orang-orang yang menanganinya. Dia begitu mementingkan diri sendiri, ia menolak untuk keluar dari kamarnya untuk bersilaturahim dengan lansia lain atau untuk pergi ke ruang makan, ataupun ke kapel untuk berdoa bersama di panti tersebut. Akhirnya tak ada teman yang mau mengunjunginya, dan ia makin terpuruk dalam kesendirian.

Wanita lain, 40 tahun, ibu dari dua anak remaja, bercerita sebagai berikut: "Saya telah mengalami masa kecil yang kasar dengan cara mengasuh orangtua saya, kemudian suami pertama tidak setia dan entah bagaimana saya jatuh ke dalam perangkap berpikir bahwa saya memiliki hak untuk mengasihani diri sendiri. Saya berpikir bahwa setelah apa yang saya alami, sudah waktunya bagi saya untuk memiliki kehidupan yang mudah sesuai cara saya. Saya menikah lagi dengan suami kedua yang penuh kasih, tetapi masalah lain muncul yaitu anak bawaannya dari almarhum istrinya tinggal bersama kami. Saya terus-menerus marah-marah, menyalahkan suami dan anak-anak, juga lingkungan sekitar yang telah membuat saya hidup susah."

Kebiasaan emosional

Joice Meyer (2013) mengatakan bahwa kasus seperti di atas merupakan contoh mengenai bagaimana kebiasaan menampilkan emosi secara salah benar-benar dapat merusak kehidupan dan hubungan kita dengan orang lain. Mengasihani diri sendiri membuat Anda terjebak hanya berorientasi pada diri sendiri, dan diri Anda tidak bahagia. Kedua wanita tersebut memang memiliki pilihan tentang bagaimana dia akan bereaksi terhadap hidupnya, tetapi mereka membuat pilihan yang salah dan menyebabkan tahun-tahun yang menyedihkan baginya, yang sesungguhnya bisa dengan mudah dihindari. Padahal, jika mereka bersedia berpikir lebih positif dan bersyukur, pengalamannya bisa menjadi suatu kegembiraan.

Menurut Deepak Chopra (2010), mengasihani diri sendiri adalah kebalikan dari harga diri. Hal ini muncul karena Anda merasa tidak ada yang akan mengangkat Anda keluar dari kesulitan. Dengan tidak adanya seseorang atau sesuatu yang lebih kuat, lebih tua, lebih bijaksana, dan baik hati untuk membantu Anda, ada rasa kekurangan yang luar biasa. Anda tidak dapat membayangkan atau menemukan kekuatan yang dapat menjadi penyelamat, dan kesakitan dari tidak merasa berkecukupan ini dirasakan sebagai mengasihani diri sendiri atau "malangnya saya".

Cara mengatasi

Menurut Joice Meyer, mengatasi kebiasaan mengasihani diri sendiri adalah dengan mengenali dan menyadari bahwa semua perasaan itu menyakiti Anda. Belajarlah untuk mengenali tanda-tandanya dan berkata, "Tidak, saya tidak akan ke tempat gelap lagi. Mengasihani diri sendiri adalah membuang waktu secara total, dan itu membuat kita merasa buruk."

Jika Anda mulai tenggelam dalam mengasihani diri sendiri, pikirkanlah tentang berbagai berkah yang telah Anda peroleh. Tuliskan semua keberuntungan Anda dan ulangi latihan ini terus-menerus. Pergi mengunjungi atau menelepon seseorang yang kondisinya lebih buruk dari Anda. Keluarlah dari rumah dan bantulah seseorang. Apa pun yang Anda lakukan, jangan hanya tenggelam lebih dalam untuk mengasihani diri sendiri. Jika Anda memiliki tempat tinggal, makanan untuk dimakan, dan pakaian untuk dipakai, Anda sebenarnya berada dalam kondisi yang lebih baik daripada lebih dari setengah populasi manusia di dunia.

Deepak Chopra secara hampir sama menjelaskan bahwa jawaban untuk mengatasi perasaan mengasihani diri ini adalah dengan mengumpulkan beberapa kekayaan. Coba mulai mengingat kembali masa lalu Anda, apakah Anda selalu mempertahankan keinginan sebagai anak kecil untuk menjadi tergantung kepada seseorang, sehingga terus menjaga Anda dari rasa kehilangan? Dalam hal seperti ini, Anda mungkin tidak merasa memiliki berbagai kekayaan batin, tetapi Anda dapat mulai mengumpulkan hal itu. Tuliskan masing- masing kualitas dan pertimbangkan bagaimana untuk mendapatkannya. Daftar tersebut dapat berupa: rasa berkecukupan, percaya pada berbagai pilihan saya, mengambil tanggung jawab, merasa percaya diri, menangani suatu situasi yang sulit, menemukan cara untuk berhasil, merasa dipahami dan dihargai, serta dapat bertahan sendiri.

Seseorang yang dalam dirinya kaya akan merasa seolah-olah dia sudah cukup. Dia cukup kuat dan cukup baik. Dia bisa memercayai nalurinya dan merasa aman dengan pilihannya. Dia mengambil tanggung jawab untuk setiap kemenangan maupun setiap kegagalan yang dialaminya.

Lain kali Anda merasa terjerumus ke dalam rasa mengasihani diri sendiri, ambillah daftar Anda tersebut. Perasaan tersebut timbul dari situasi tertentu. Cobalah melihat situasi Anda dan menganalisis dari mana asalnya perasaan itu. Apakah dari rasa tidak cukup, tidak percaya pilihan Anda, merasa disalahpahami atau tidak dihargai?

Setelah Anda menganalisis berbagai kekurangan, tuliskan cara untuk mengisinya. Diharapkan Anda akan menemukan suatu cara untuk segera bertindak. Anda harus bersikap aktif dan berpikir positif dalam hal apa pun. Dengan demikian, diharapkan Anda bisa memperoleh yang diperlukan. Musuh Anda yang terbiasa mengasihani diri adalah apatis dan bergantung, Anda berharap seseorang akan terus menggendong Anda dan membawa Anda seperti "bayi kucing" ke tempat yang aman. Namun, bahkan jika keinginan menjadi kenyataan, Anda masih akan merasa "miskin" dan berkekurangan. Hanya tindakan Anda yang dapat mengisi rasa kekurangan, dan tindakan tersebut harus didasarkan pada siapa diri Anda dan apa yang Anda perjuangkan. Hidup adalah suatu perjuangan, bukan?

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 September 2016, di halaman 25 dengan judul "Mengasihani Diri".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

KESEHATAN: Mencegah Serangan Asma Berat (DR SAMSURIDJAL DJAUZI)

Sewaktu kecil, menurut ibu, saya menderita asma. Saya terpaksa tidak dapat ikut bermain bersama teman karena kalau saya kelelahan, saya menjadi sesak. Ibu membawa saya ke dokter dan biasanya dengan suntikan atau obat yang dihirup sesak menjadi berkurang. Untunglah sewaktu SMP asma saya membaik sendiri.

Saya tak pernah lagi menderita sesak meskipun saya ikut badminton. Saya rajin berenang sesuai anjuran dokter. Ketika saya mahasiswa semester empat, serangan asma saya kambuh kembali. Saya memang tinggal berpisah dengan orangtua, menyewa kamar di kota tempat kuliah saya. Kamar saya lembab dan banyak debu. Selain itu, pelajaran di fakultas semakin sulit. Saya harus belajar sampai malam dan sering kurang tidur. Hampir setiap minggu saya mendapat serangan asma, tetapi serangan tersebut masih dapat diatasi dengan obat hirup.

Saya berkonsultasi dengan dokter karena merasa serangan asma saya semakin sering. Dokter menganjurkan saya menggunakan obat asma hirupan secara terus-menerus. Beliau menjelaskan bahwa obat asma hirupan yang saya pakai juga berfungsi mencegah serangan. Saya merasakan lebih baik meski agak repot sebelum tidur harus menggunakan obat hirupan.

Bulan lalu saya terkena influenza yang berat. Demam tinggi, pegal-pegal, dan batuk pilek. Saya berkonsultasi lagi dengan dokter karena saya khawatir terkena demam berdarah. Untunglah hasil laboratorium menunjukkan bahwa saya tidak terkena demam berdarah. Influenza saya membaik, tetapi dahak saya menjadi hijau. Kata dokter, ada infeksi sehingga ditambah antibiotik. Meski saya minum antibiotik, batuk saya tak berkurang bahkan ditambah dengan sesak. Napas saya menjadi pendek dan berbunyi. Saya menduga saya mengalami serangan asma kembali.

Saya berencana ke dokter pagi hari karena waktu itu masih malam hari. Akibatnya, saya tak bisa tidur, sesak bertambah sehingga saya harus duduk agar tak sesak. Dengan bantuan teman, akhirnya saya berobat ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat. Saya mendapat oksigen, juga diinfus. Saya diberi berbagai obat suntikan serta hirupan. Sesak saya tak berkurang sehingga pihak rumah sakit menghubungi orangtua saya.

Pagi-pagi ayah saya terbang ke kota saya untuk mendampingi saya. Dokter menjelaskan, saya harus menjalani pemeriksaan laboratorium untuk menilai kemajuan hasil pengobatan asma. Jika semakin memburuk, kemungkinan saya harus dirawat di unit perawatan intensif. Untunglah keadaan saya membaik. Mungkin, sebagai anak perempuan, kedatangan ayah menambah semangat saya untuk sembuh.

Saya merasa lebih baik. Saya harus tetap dirawat, tetapi cukup di ruang biasa. Setelah tiga hari dirawat, saya diperbolehkan pulang. Kenapa sudah lama tak mengalami serangan asma, serangan asma sekarang menjadi berat? Apakah ada hubungan asma dengan influenza? Perlukah penderita asma mendapat imunisasi influenza? Adakah obat terbaru untuk asma? Terima kasih atas penjelasan dokter.

N di J

Serangan asma berat dewasa ini sudah lebih jarang dibandingkan dengan lima tahun yang lalu. Mungkin pemahaman pasien tentang asma bertambah baik dan obat asma yang berupa obat hirupan dapat dibawa ke mana-mana dan jika digunakan manfaatnya cepat terasa. Meski demikian, masih dapat terjadi penderita asma harus dirawat bahkan masih ada yang harus masuk ruang perawatan intensif dan harus menggunakan alat bantu napas. Untunglah keadaan ini sudah jarang, begitu pula kematian karena asma juga sudah jarang ditemukan.

Penderita asma perlu memahami apa yang terjadi pada pipa saluran napasnya ketika terjadi serangan asma. Pipa saluran napas tersebut menyempit serta dipenuhi lendir sehingga menyulitkan udara yang keluar atau masuk ke paru-paru. Acap kali napas penderita asma berbunyi karena penyempitan tersebut. Sudah tentu pada keadaan ini penderita merasa cemas karena dia mengalami sesak napas. Obat hirupan atau obat suntikan untuk melebarkan pipa saluran napas akan menghilangkan rasa sesak dan penderita dapat bernapas lega kembali.

Jadi, penyakit asma merupakan penyakit yang reversible, artinya pipa saluran napas yang menyempit dan penuh lendir tersebut dapat kembali normal. Pipa saluran napas akan melebar kembali seperti sedia kala dan lendir pun menghilang. Pada keadaan ini, sering penderita asma menghentikan sendiri penggunaan obat hirupnya karena merasa sudah sembuh. Namun, pipa saluran napas yang baru mengalami serangan asma peka untuk terangsang debu rumah, infeksi virus, atau kelelahan sehingga pipa saluran napas Anda akan menyempit kembali.

Karena itulah, pada asma kronik diperlukan obat anti-inflamasi (anti-radang) selain obat pelebar pipa saluran napas (bronkodilator). Kedua jenis obat ini biasanya menjadi satu dalam obat hirupan. Untuk mendapat manfaat terbaik obat hirupan, Anda harus menggunakan obat tersebut dengan benar. Pada prinsipnya, sebelum menghirup kosongkan saluran napas dari udara dengan cara mengembuskan napas sebanyak-banyaknya sehingga volume udara yang terisap ke arah paru bersamaan obat dapat masuk secara dalam ke sistem pernapasan. Biasanya dokter atau apoteker dapat melatih Anda menggunakan obat hirupan dengan benar.

Serangan asma dapat dicegah jika faktor pencetus dapat dihindari. Cobalah usahakan kamar Anda bersih dan pertukaran udaranya baik. Kurangi debu, hindari asap rokok. Jangan terlalu lelah dan jangan terlalu banyak pikiran. Hiduplah dengan gembira, bersih, dan makan yang bergizi. Influenza memang dapat mencetuskan serangan asma karena pada influenza selaput lendir pipa saluran napas dapat terkelupas sehingga pipa saluran napas menjadi mudah terangsang. Memang, penderita asma sebaiknya menjalani imunisasi influenza sekali setahun. Penderita asma dapat berolahraga, olahraga renang memang dianjurkan karena baik pengaruhnya bagi pipa saluran napas.

Obat asma dapat berbentuk tablet, suntikan, infus, ataupun hirupan. Obat yang populer dewasa ini adalah yang berbentuk hirupan karena mudah dibawa dan cepat terasa manfaatnya. Masa kerjanya lama sehingga dapat digunakan sekali sehari. Obat baru asma terus diteliti. Salah satu obat baru asma adalah zafirlukast, golongan obat anti leukotrien. Namun, obat ini hanya digunakan jika pengobatan yang biasa kurang memberi manfaat.

Kerja sama dokter dan pasien penting dalam mengendalikan asma. Anda perlu memahami dengan baik perubahan yang terjadi pada pipa saluran napas Anda ketika terjadi serangan asma. Anda juga harus memahami faktor pencetus serangan asma dan berupaya menghindarinya. Pasien harus memahami gejala serangan asma dan cepat memakai obat.

Jika menggunakan obat sendiri tak berhasil, harus cepat ke dokter. Jika terlambat datang ke dokter, dapat mengakibatkan serangan semakin berat. Jadi, jangan menunda berobat jika serangan tak membaik dengan obat yang biasa dipakai. Dulu dapat terjadi penderita asma meninggal sebelum sampai di rumah sakit. Untunglah kejadian tersebut sudah tak pernah lagi terjadi.

Sekarang tersedia kartu pemantauan asma yang dapat Anda minta dari dokter Anda. Melalui kartu tersebut, Anda akan memahami apakah asma Anda sudah terkendali dengan baik atau belum. Jadi, meski Anda penderita asma, Anda dapat hidup normal asalkan menghindari faktor pencetus dan menggunakan obat asma Anda secara teratur.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 September 2016, di halaman 25 dengan judul "Mencegah Serangan Asma Berat".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Sidang Sianida//Sarana di Mentawai//Aktivasi Lama (Surat Pembaca Kompas)

Sidang Sianida

Mengikuti jalannya persidangan dugaan pembunuhan dengan racun sianida yang berlangsung puluhan kali, menurut hemat saya, buang-buang waktu, energi, dan biaya. Sebagai ikhtiar penegakan hukum boleh saja karena Indonesia negara hukum, tetapi jangan berlebihan.

Yang saya maksud berlebihan adalah sidang ini berlangsung di atas 20 kali persidangan. Sidang bahkan pernah berlangsung sampai jauh malam. Entah berapa biaya yang dihabiskan untuk itu. Jaksa dan hakim adalah PNS, mereka tentu harus dibayar lemburnya. Sidang-sidang kasus tindak pidana korupsi saja tidak seserius kasus ini.

Sidang–sidang kasus sianida ini terus disiarkan secara langsung oleh dua stasiun televisi. Meski menjengkelkan, itu memang urusan mereka, entah untuk tujuan mendongkrak rating atau punya maksud lain.

Pada tahun 1967-1968 ada sidang-sidang pengadilan yang juga berlangsung hingga malam, yaitu sidang-sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mamillub). Hakim Ketua Mahmillub adalah Kolonel Ali Said dan oditur militer Letkol Durmawel Achmad yang mengadili tokoh-tokoh PKI dalam kaitan peristiwa G30S/PKI.

HA BAIDHOWI ADNAN, JALAN KUTILANG, DEPOK 16432

Sarana di Mentawai

Kepulauan Mentawai dikenal sebagai surga para peselancar dan pencinta pasir putih. Namun, sarana komunikasi dan transportasi belum memadai.

Desa Sagulubbeg, Kecamatan Siberut, merupakan contohnya. Saat ini, untuk berkomunikasi, masyarakat hanya terhubung dengan radio RIG.

Dari sisi transportasi, satu-satunya akses ke desa saat ini hanya dengan jalur laut menggunakan kapal. Dari ibu kota kabupaten, Tuapejat, perjalanan laut lebih kurang 5-6 jam.

ADI PRIMA, JALAN MENTAWAI, PADANG UTARA, PADANG

Aktivasi Lama

Saya 15 tahun menggunakan nomor Mentari prabayar 0815134913xx. Tanggal 11 September saya mengganti simcardmenjadi 4G di gerai Metropolitan Mall Bekasi. Dijanjikan akan aktif 1 jam ke depan, tetapi sampai saya menulis surat ini (Senin, 19/9), nomor tidak bisa dipakai, baik panggilan masuk maupun keluar. Tampilan di layar selalu "SIM tidak terdaftar. Untuk pertukaran SIM kontak Indosat."

Saya berulang kali menelepon ke 54388888 dan datang ke gerai, baik di Metropolitan Mall Bekasi maupun Sarinah Thamrin, sesuai lokasi tempat tinggal dan bekerja, tetapi hasil tidak ada.

Saya sangat dirugikan karena sedang mengajukan pinjaman di bank dan telepon harus siaga.

STELLA MARYANTI, KOMPLEKS BINA MARGA, JAKARTA TIMUR 13450

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 September 2016, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Prospek Damai di Suriah (IBNU BURDAH)

Apakah jalan menuju perdamaian di Suriah sudah benar- benar buntu? Jika menilik beberapa negosiasi perdamaian yang sudah terjadi, jawabannya bisa jadi benar. Kedua pihak mendekati mustahil berkompromi dalam masalah yang paling diperselisihkan, yaitu nasib Assad pada masa transisi dan pasca transisi.

Alih-alih mencapai kompromi, mengagendakan isu itu saja sudah jadi persoalan begitu berat. Kedua pihak dan segenap pendukung domestik, kawasan, bahkan internasionalnyakaku dalam persoalan ini. Bagi satu pihak, mempertahankan Assad seolah harga mati dan bagi pihak lain kejatuhan Assad tak bisa ditawar lagi. Kendati dengan rumusan yang berbeda-beda, kedua pihak dalam beberapa negosiasi damai sebelum ini memang memasang target yang hampir mustahil dicapai dalam situasi "yang berimbang" di lapangan saat ini.

Gencatan senjata

Tercapainya kesepakatan senjata beberapa hari ini di Suriah sungguh signifikan. Kendati tidak disetujui seluruh pihak yang berkonflik dan bukan gencatan senjata permanen, kesediaan hampir semua faksi untuk menghentikan pertikaian senjata menunjukkan beberapa hal. Pertama, setiap pihak sudah merasa "letih" dengan perang dengan segala akibat destruktifnya. Mereka mungkin mulai menyadari bahwa perang tak akan bisa mengantarkan mereka mencapai semua tujuan.

Betapa pun, mereka akan mengerahkan semua sumber daya yang ada sulit bagi mereka bisa menciptakan zero-summit game. Lamanya konflik menunjukkan secara jelas perimbangan kekuatan di lapangan itu nyata. Bahkan, paritas itu tak hanya meliputi kekuatan domestik, tetapi juga kekuatan-kekuatan regional dan internasional pendukung.

Kedua,tersirat bahwa kedua pihak sesungguhnya menginginkan gencatan senjata dan segera mencapai solusi damai yang permanen. Namun, bayangan mengenai isu Assad benar-benar mengganggu. Kepentingan banyak aktor dalam konflik ini sepertinya terkait juga dengan bertahan atau lengsengnya Assad.

Karena itu, kebutuhan untuk berkompromi tentang klausul ini mutlak diperlukan. Negosiasi berarti kerelaan setiap pihak membiarkan sebagian kepentingannya tidak tercapai. Dalam hal ini, lingkaran Assad, oposisi "moderat" ataupun Fath al- Syam, Iran-Hizvullah, Saudi- Turki, Rusia dan AS, harus merelakan sebagian kepentingannya demi kepentingan kemanusiaan yang jauh lebih besar dan mendesak.

Formula solusi yang kreatif sangat diperlukan dalam isu ini agar setiap pihak bisa menerima kesepakatan damai tanpa tercapainya semuakepentingannya.

Ketiga, menilik respons pihak- pihak yang terlibat pertikaian terhadap gencatan senjata, aktor dalam konflik Suriah memang berlapis dengan kepentingan yang kompleks. Salah satu persoalan krusial terkait pelaksanaan gencatan senjata adalah kelompok Fath al-Syam. Apakah metamorfosis kelompok Jabhah al-Nusra yang merupakan cabang Al Qaeda itu akan dikecualikan dari perjanjian gencatan senjata atau tidak. Apakah mereka termasuk dalam oposisi moderat atau sebagaimana Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) yang harus segera dihancurkan.

Secara ideologis dan historis, Fath al-Syam seharusnya masuk kategori teroris sebagaimana NIIS. Itu berarti kelompok itu tidak termasuk dalam gencatan senjata dan akan menjadi target bersama sebagaimana NIIS. Penghentian perang sesungguhnya didorong semangat untuk bersama-sama menghancurkan kelompok teroris.

Persoalannya di lapangan tidak sesederhana itu. Fath al-Syam saat ini tak menyebut dirinya cabang Al Qaeda atau metamorfosis dari Al Nusra. Mereka juga mengubah strategi dari "teror" ke strategi "sosial" dengan membantu penduduk memperoleh kebutuhan-kebutuhan dasar, seperti air bersih dan gandum. Kendati itu bisa dimengerti sebagai bagian dari strategi persaingan mereka dengan NIIS, simpati rakyat Suriah terhadap mereka mulai tumbuh.

Lebih drastis lagi, kelompok ini sekarang menjadi bagian dari kelompok oposisi. Bahkan, mereka merupakan faksi dominan dalam barisan oposisi dalam perang melawan Assad. Persoalannya tak akan mudah sebab Rusia, Iran, dan Assad tetap melihat kelompok ini sebagai bagian dari teroris global Al Qaeda yang harus menjadi target bersama saat gencatan senjata. Mereka tentu tak bisa melupakan begitu saja beringasnya aksi-aksi teror kelompok itu sebelumnya.

Sementara pihak oposisi bersikeras sebaliknya. Bahwa Fath al-Syam bukan kelompok teroris sehingga harus menjadi bagian dari perjanjian gencatan senjata. Faktanya, kelompok ini memang menjadi tulang punggung oposisi dalam melawan Assad beberapa waktu terakhir.

Negosiasi

Jika perbedaan dalam isu ini gagal diselesaikan, gencatan senjata kemungkinan buyar. Distribusi bantuan beberapa hari ini ke penduduk korban perangtentu sangat membantu meringankan penderitaan mereka. Ini juga salah satu tujuan penting dalam kesepakatan gencatan senjata kali ini. Itu merupakan kabar yang sangat diharapkan.

Namun, tujuan pokok kesepakatan gencatan senjata saat ini justru bisa gagal, yaitu menghancurkan kekuatan teroris yang masih merajalela di Suriah sekaligus menyediakan situasi yang kondusif bagi munculnya inisiatif-inisiatif negosiasi perdamaian. Sebab, tanpa tercapainya dua hal itu, konflik di Suriah akan terus berkobar dan perdamaian di Suriah sepertinya mustahil akan terwujud.

IBNU BURDAH, PEMERHATI TIMUR TENGAH DAN DUNIA ISLAM, DOSEN PASCASARJANA UIN SUNAN KALIJAGA

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 September 2016, di halaman 7 dengan judul "Prospek Damai di Suriah".
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.