Bidvertiser

Sabtu, 19 Januari 2019

PSIKOLOGI: Kritik Antar-pasangan Vs Sikap ”Ndablek” (SAWITRI SUPARDI SADARJOEN)

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO (RON)

Sawitri Supardi Sadarjoen

 

Sikap ndablek (bahasa Jawa) artinya 'sikap membatu dan sikap diam seribu basa', 'tidak peduli dan tidak menunjukkan kepekaan perasan terhadap isu penting yang disampaikan oleh pasangan'.

Berkonflik dalam kehidupan keluarga adalah suatu yang tidak dapat dihindarkan. Namun, jika pertengkaran berlanjut dengan diikuti kritik merendahkan pasangan pada umumnya membuat pasangannya menutup mulut dan telinga serta berbuat sekehendak hatinya.

Tentu saja konflik yang bernilai positif juga sering terjadi, yaitu konflik yang menggiring pasangan untuk mengetahui dan memahami apa yang diinginkan pasangannya. Sementara konflik yang fatal terjadi sebagai akibat jika antar-pasangan perkawinan berlanjut berkonflik tanpa upaya mencari solusi yang tuntas. Maka dapat dipahami jika perkawinan itu berakhir dengan perceraian.

Kasus

L (32 tahun, perempuan) dan N (37 tahun, laki-laki) datang kepada saya kira-kira delapan bulan sebelum mereka akan memutuskan untuk bercerai. N datang dan menyatakan bahwa L secara menetap dan sering melontarkan kritikan-kritikan, seperti contoh berikut ini. "Jangan menambah air terlalu banyak saat memasak makaroni" dan "Jangan pakai pisau itu kalau memotong sayuran". Itu semua yang membuat N merasa tidak memiliki kebebasan dalam melakukan apa pun di rumahnya sendiri.

Sebenarnya saya sebagai konselor perkawinan telah memberi tahu kedua pasangan ini untuk menyusun kalimat yang pas dalam memberikan larangan ataupun menyampaikan apa yang diinginkan pasangannya.

Dari uraian di atas, saya mencatat, saat L mengemukakan isu penting, L menumpahkan kekesalannya tanpa tedeng aling-aling, artinya tidak membatasi penyertaan emosi negatifnya, sehingga ungkapan keluhan L terhadap perilaku N sebagai berikut.

"Saya kesal kepadamu karena kamu telah berjanji akan mengontak saya jika akan terlambat pulang oleh berbagai urusan, kamu ingkari janjimu sendiri". "Ketahuilah bahwa dalam satu minggu ini kamu mengabaikan janjimu sebanyak dua kali".

Cara itu terasa lebih bijak dibandingkan dengan teguran L seperti berikut ini. "Kamu tidak pernah memikirkan orang lain, kamu hanya mementingkan dirimu sendiri". "Saya tidak bisa mempertimbangkan janji-janjimu lagi".

Jenis kritik semacam ini menyertakan serangan terhadap kepribadian pasangan dan bersifat tidak konstruktif karena lebih tertuju pada perilaku-perilaku spesifik dari pasangan yang gagal dalam menjalin relasi dengan istri/suami.

Dengan latihan-latihan taktik komunikasi seperti contoh di atas, akhirnya L bisa memperbaiki iklim relasinya dengan N. Perbaikan cara komunikasi di antara dua pasangan dengan mempertimbangkan perasaan masing-masing pasangan menjadi sesuatu yang harus dilakukan demi berlanjutnya ikatan perkawinan sampai "kaken-ninen" (artinya sampai akhir hayat kedua pasangan).

Sebab, setiap individu memiliki persepsi yang berbeda satu sama lain. Hal yang menurut kita mudah menjadi sangat sukar bagi orang lain, bahkan yang kita anggap sukar ternyata sangat mudah bagi orang lain pula. Terdapat beberapa jenis negativitas yang terjadi antar-pasangan melalui konflik yang terjadi saat aspek emosi negatif dari kedua belah pihak ikut berperan sebagai berikut.

1. Perilaku kritik-mengkritik

Kritik-mengkritik adalah serangan personal yang menyertakan beberapa perkataan negatif tentang karakter dan kepribadian pasangan kita. Misalnya, "Mengapa kamu selalu lebih mementingkan teman-teman dan mengiyakan saja ajakan temanmu untuk pergi makan malam, sementara saya menjadi urutan terakhir dari perhatianmu. Sebenarnya kita, kan, sudah sepakat untuk pergi nonton film petang ini".

Cara menegur pasangan seperti ini sangat berbeda dengan cara konstruktif yang ditujukan pada aksi spesifik atau perilaku yang gagal dilakukan oleh pasangan kita. Seperti, "Kamu sebaiknya kontak saya dulu sebelum memutuskan ajakan makan malam dengan temanmu. Saya ingin sekali menghabiskan malam minggu hanya denganmu".

2. Sikap yang bertujuan menghina pasangan

Sikap yang bermakna menghina bisa saja dengan menyebut nama lengkap (padahal pada keseharian kedua pasangan memanggil dengan kata "Yang" kependekan dari kata "Sayang", atau misalnya mengungkap humor-humor yang mengandung kebencian, sarkastis, yang bermaksud merendahkan harga diri pasangan, seperti: Istrinya mengeluh tentang keterlambatan suami untuk pergi makan malam berdua, lalu sang suami menjawab keluhan istri dengan mengatakan: "Jadi apa yang akan kamu lakukan, mengajukan saya ke pengadilan?"

3. Sikap defensif

Cara mengutarakan pendapat yang bermakna defensif adalah sebagai berikut. "Persoalannya bukan pada saya, tetapi hal itu adalah akibat perbuatan kamu!" Saat itu kita gagal untuk mendengar aktif, mempertimbangkan kontribusi kita dalam masalah yang kita hadapi, dan gagal dalam meminta maaf, dan bahkan gagal mengubah perilaku kita.

4. Membatukan diri

Sikap membatu kita terjadi jika salah satu pasangan kita melepaskan diri dari pasangan dan mencoba melepaskan diri dari relasi yang tercipta. Kita pergi dan duduk terdiam seperti halnya dinding batu yang tidak bernyawa, atau meninggalkan ruangan, atau tetap berkomunikasi dengan cara menjawab tanpa memperhatikan apa yang dibicarakan dan didiskusikan pasangan kita.

Kita tidak menginginkan apa yang dikatakan pasangan memengaruhi diri kita. Sikap membatu itu merupakan pernyataan ketika kita memproteksi diri melawan perasaan negatif yang membanjiri diri kita. Biasanya kaum pria sering menunjukkan sikap membatu ini.

Pasangan perkawinan modern pada awal perkawinan terlihat tanpa masalah dan segala sesuatunya berjalan dengan lancar, sampai pada waktunya lahir seorang bayi.

Kelahiran bayi pertama membuat pasangan tanpa disadari seolah kembali pada tatanan tradisional baik bagi istri yang berperan sebagai ibu maupun suami yang berperan sebagai ayah.

Apabila pasangan kita mengeluh, kita berargumentasi, menyerang balik mengangkat kesalahan-kesalahannya dan meningkatkan moral yang kita anut sebagai dasar argumentasi yang kita sampaikan.

Kenyataan yang kita simak bersama adalah sebagai berikut. Sebanyak 80 persen dari urusan anak dan urusan rumah tangga menjadi tanggung jawab istri dan hanya 20 persen dari urusan domestik menjadi tugas suami.

Sementara itu, saat menunggu kelahiran anak kedua, suami harus bekerja lebih keras karena kebutuhan finansial keluarga semakin besar. Istri menjadi semakin terbelenggu dengan urusan anak-anak dan rumah tangga serta sedikit sekali ibu yang masih dapat memiliki kebebasan untuk berkarya di ranah formal.

Sementara asisten rumah tangga yang memenuhi standar kelayakan kemampuan urusan anak dan rumah tangga pun sulit diperoleh.

Lelah karena urusan domestik dan merawat anak membuat istri merasa lelah fisik dan mental yang membuatnya tidak lagi punya minat yang cukup pada masalah seksual, yang cepat atau lambat bisa menjadi isu penting bagi keserasian kehidupan perkawinan kelak pada kemudian hari.

Salah satu cara untuk bertahan dalam perkawinan adalah jalinan komunikasi yang tidak menyertakan kritik berlanjut yang, antara lain, membuat pasangannya merasa terhina, terendahkan, dan terpuruk oleh kesibukan domestik dan anak-anak.

Karena itu, diperlukan pertimbangan pada berbagai cara komunikasi yang terungkap di atas sehingga konflik tidak berlanjut dan iklim relasi antar-pasangan juga menjadi lebih sehat.

Kompas, 19 Januari 2019

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

TAJUK RENCANA: Tekanan AS atas China Berlanjut (Kompas)


AFP/NICOLAS ASFOURI

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) berjalan beriringan dengan Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan Trump ke Beijing, China, pada 9 November 2017. Perang dagang antara AS dan China dikhawatirkan sejumlah pihak menimbulkan efek negatif bagi perekonomian global. 

Pertarungan" antara Amerika Serikat dan China terus berlanjut. Kali ini terlihat dalam langkah yang dilakukan sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat.

Seperti diberitakan harian ini, Jumat (18/1/2019), beberapa anggota Kongres AS baik dari Demokrat maupun Republik mengusulkan rancangan undang-undang yang melarang penjualan cip atau komponen pengolah informasi buatan AS kepada perusahaan telekomunikasi China, termasuk Huawei serta ZTE. Dalam RUU ini, perusahaan China dicegah mendapatkan produk cip buatan AS karena dinilai melanggar regulasi negara itu mengenai sanksi.

Khusus untuk Huawei, tekanan juga datang dari penyidik federal AS yang sedang menginvestigasi perusahaan pemasok peralatan telekomunikasi terbesar di dunia itu. Huawei dituduh mencuri rahasia bisnis operator telekomunikasi seluler AS, T-Mobile, dan perusahaan AS lainnya.

Semua itu menambah panjang daftar tekanan terhadap Huawei. Sebelumnya, pejabat tinggi Huawei ditangkap di Kanada atas permintaan AS karena dituduh melakukan tindakan yang dikategorikan mendukung dilanggarnya sanksi atas Iran. Insiden penangkapan putri pendiri Huawei itu mendapatkan perhatian besar dari publik domestik China serta memunculkan sentimen nasionalisme.

Pejabat Huawei di Polandia, salah satu anggota NATO, juga ditangkap atas tuduhan melakukan mata-mata untuk China. Perusahaan Huawei membantah terlibat dalam tindakan yang dilakukan karyawannya itu. Huawei juga menyatakan telah memecat karyawan itu.

Tekanan datang pula lewat langkah bersama AS dan sejumlah sekutunya yang melarang Huawei terlibat dalam proyek peningkatan jaringan telekomunikasi 5G. Hal ini merupakan pukulan telak mengingat produk Huawei selama ini sudah masuk di banyak negara, termasuk sekutu AS.

Patut dicatat, tekanan terhadap Huawei berlangsung saat AS dan China menjalankan negosiasi guna mencari titik temu perselisihan dagang di antara mereka. Negosiasi bertujuan merampungkan isu pemaksaan perusahaan AS untuk melakukan transfer teknologi kepada perusahaan China serta defisit perdagangan yang dialami oleh AS.

Isu teknologi merupakan salah satu poin utama perselisihan kedua negara setelah Beijing mengumumkan program yang bertujuan membuat China menjadi raksasa teknologi. Lewat program itu, China ingin tidak lagi tergantung dengan asing dalam hal pengadaan cip.

Negara China selama ini memang cukup tergantung dengan cip buatan asing, khususnya AS, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Perkembangan teknologi dalam kehidupan sehari-hari (ponsel cerdas, gawai, dan teknologi kecerdasan buatan) di China telah membuat negara itu membutuhkan begitu banyak cip.

Persaingan AS dan China masih jauh dari selesai. Kedua negara sadar, siapa yang menguasai teknologi akan menjadi "penguasa".

Kompas, 19 Januari 2019

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

ARTIKEL OPINI: Melukis Harapan di Era Kegeraman (AIRLANGGA PRIBADI KUSMAN)

Sebuah kepemimpinan politik yang tepat dalam sebuah zaman yang tengah bergerak mensyaratkan tiga kriteria.

Pertama, kemampuan pemimpin untuk melukiskan harapan, memperlihatkan bintang penjuru (leitstar) bagi masa depan yang berdasarkan kenyataan (bukan kebohongan) kepada rakyatnya. Kedua, kemampuan pemimpin untuk membangkitkan kepercayaan diri kepada rakyatnya. Ketiga, kemampuan pemimpin untuk membangun solidaritas dan persatuan melampaui pembelahan sosial yang menghancurkan.

Demikianlah Presiden Sukarno menguraikan kriteria- kriteria kepemimpinan yang besar untuk Indonesia dalam salah satu kuliah tentang Pancasila di Istana Merdeka pada 16 Juni 1958.

Pidato Bung Karno lebih dari 60 tahun silam itu agaknya masih relevan bagi kita. Kebutuhan atas kepemimpinan yang mampu menunjukkan arah, membangkitkan rasa percaya diri dan kemampuan menyatukan di tengah partikularitas yang merusak saat ini menjadi penting.

Kebutuhan hadirnya kepemimpinan seperti itu semakin terasa terutama pada hari-hari belakangan ini, menjelang Pilpres 2019, di tengah merajalelanya strategi politik yang memainkan ketakutan sebagai cara untuk mengonsolidasikan dukungan. Juga, kemarahan politik yang hampir-hampir tidak menyisakan ruang untuk saling memahami, dan kedangkalan kampanye tim-tim sukses kandidat presiden yang hampir-hampir tidak menghadirkan konsepsi-konsepsi bernegara bagi masa depan kita.

Apa yang tengah terjadi di Indonesia saat ini bukanlah sebuah perkecualian. Sosiolog prolifik asal Inggris, Frank Furedi, dalam sebuah wawancara pada tahun 2018 tentang menyebarnya politik populisme global, menjelaskan bahwa di tengah menyeruaknya kegeraman massa, berbagai kekuatan politik memainkan kartu ketakutan untuk saling menyerang lawan politiknya.

Setiap kekuatan politik memperlihatkan keutamaan dirinya dengan cara saling menempelkan stigma ancaman terhadap rival politiknya dengan menyebarkan wabah ketakutan kepada konstituen politik. Permainan kartu politik ketakutan dan ancaman hadir di tengah impotensi masing-masing pihak untuk melukiskan asa atau harapan dalam terang kemajuan (progress) dan sapuan warna cerah kemanusiaan (humanism).

Kegeraman dan ketakutan

Apa yang tengah berlangsung dalam keadaan politik global juga tengah kita alami saat ini. Polarisasi dan pembelahan politik yang tengah berlangsung dalam kontestasi politik menjelang Pilpres 2019 tidak dibangun berdasarkan agenda-agenda utama politik seperti demokrasi, hak-hak asasi manusia, dan rumusan ideologi programatik menuju keadilan sosial.

Polarisasi politik terbangun berdasarkan "keakuan" masing-masing pihak. Satu pihak merasa memegang klaim sebagai satu-satunya pihak yang absah mendefinisikan kebangsaan melalui jargon "Aku Pancasila", sementara di pihak satunya lagi menyatakan diri merekalah sebagai pemilik absah otoritas keumatan dengan menyatakan yang lain sebagai "Musuh Umat".

Di tengah benturan kegeraman antarpihak, pada lapisan terdalam mentalitas masyarakat kita tengah berjangkit problem neurosis politik. Sebuah mentalitas di mana pihak-pihak yang tengah bertikai saling dilanda kecemasan dan ketakutan yang tidak sehat atas masa depan negeri ini.

Bagi pihak yang menempatkan diri sebagai pemegang absah klaim kebangsaan, hadir dan menguatnya posisi dari rival politiknya dipandang sebagai potensi eksklusi terhadap diri mereka untuk berpartisipasi membentuk negerinya. Sementara bagi kekuatan sosial yang merasa memegang klaim keumatan, kemenangan pihak yang lain dianggap sebagai sinyal sekaligus langkah awal bagi marjinalisasi umat untuk berkontribusi bagi masa depan Indonesia.

Dalam beberapa hal, ketakutan yang diidap masing-masing pihak cukup beralasan, meskipun tidak sedramatis seperti yang digambarkan oleh masing-masing pihak yang tengah bertarung.

Satu hal yang dilupakan oleh agensi-agensi politik utama—dan tentunya para pemimpin negeri ini—adalah bahwa kegelapan tidak dapat diakhiri dengan menyebarkannya ke mana-mana. Kegelapan hanya bisa diakhiri dengan menghadirkan terang, menyalakan obor, dan menunjukkan terang bintang penjuru (leitstar) di langit Indonesia.

Arah kepemimpinan Indonesia masa depan sudah seharusnya segera ditempatkan untuk membangkitkan kepercayaan diri dari rakyat untuk meraih masa depannya. Sebuah jalan yang hanya bisa diraih dengan menempatkan kembali cita-cita demokrasi yang meninggikan demos—kepercayaan rakyat—sebagai platform politik dan ideologi serta turunan programatiknya dalam menyongsong Indonesia ke depan oleh berbagai kekuatan politik yang tengah berkontestasi.

Sayangnya, saat ini, di tengah kebutuhan akan tampilnya kepemimpinan autentik yang mampu membangkitkan kepercayaan rakyat (demos) bagi masa depan dirinya justru kehilangan satu prasyarat yang substansial. Prasyarat tersebut adalah sepinya isu-isu yang terkait agenda penting demokrasi, seperti kebebasan sipil, penguatan hak-hak warga, problem oligarki, corak demokrasi sosial-ekonomi, dan pemulihan hak-hak kemanusiaan sebagai kata-kata kunci dalam program kampanye.

Saat ini kita tengah berhadapan dengan kebutuhan akan lahirnya gagasan-gagasan besar, sementara yang ada di sekitar kita justru adalah pemain-pemain politik kecil, politisi kelas medioker!

Problem intelektual

Tentu ini bukan saja persoalan yang semata-mata bisa dialamatkan pada figur-figur personal pemimpin belaka. Iklim intelektual yang tengah menggejala saat ini memberi andil bagi tidak lahirnya gagasan-gagasan brilian dan autentik di negeri ini.

Dan, yang hadir di hadapan kita adalah lapisan-lapisan intelektual yang mengambil posisi partisan di masing-masing kekuatan politik yang tengah bertikai. Benar bahwa partisanship—keberpihakan—bukanlah sesuatu yang haram bagi kalangan intelektual. Namun, kehadiran mereka di masing-masing kubu saat ini tidak lebih dari sekadar menjadi aparat pengetahuan yang mereproduksi budaya kegeraman dan kemarahan yang ada.

Saat ini kita kehilangan lapisan intelektual yang masih bersetia dalam tugas ideasionalnya yang mampu menunjukkan peta sosial. Peta sosial yang berfungsi sebagai arah navigasi yang dibutuhkan oleh setiap pemimpin untuk melukiskan harapan bagi kepercayaan diri dari rakyat untuk membangun negerinya.

Sebuah panggilan Tanah Air sedang berkumandang saat ini untuk kaum yang sadar dan merasa ada yang harus dibenahi dalam mendung politik Indonesia. Sebuah panggilan untuk menyelesaikan warisan kelam masa yang telah lampau, menyudahi demonstrasi politik ketakutan dan kemarahan yang ditujukan tak lebih untuk melayani kelompok oligarki, serta menyatukan segenap energi kerakyatan bagi pemenuhan cita-cita Indonesia yang demokratik, manusiawi, dan berkeadilan sosial.

Airlangga Pribadi Kusman Pengajar Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga; CEO The Initiative Institute

Kompas, 19 Januari 2019

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

‎”Autobahn” Indonesia//Tanggapan BPJS//Harus Akurat (Surat Pembaca Kompas)


"Autobahn" Indonesia

Pada libur akhir tahun (dari 29/12/2018 hingga 3/1/2019) saya dan istri menyusuri Jalan Tol Trans-Jawa untuk menjajal, menikmati, sekaligus menilai seberapa nyaman mengendarai mobil dari Jakarta ke Surabaya.

Rute Jalan Tol Trans-Jawa kami susuri mulai dari Jakarta, Semarang, hingga Surabaya. Rute pulang kami pilih Surabaya, Cirebon, dan Jakarta. Secara garis besar kami menikmati perjalanan menyenangkan ini meski ada kekurangan di sana sini.

Misalnya, saat melalui jalan tol Jakarta-Cirebon, banyak kendaraan yang menggunakan lajur kanan sebab lajur kiri agak bergelombang. Alhasil, di lajur untuk melaju cepat, kami hanya bergerak lamban. Beberapa tempat istirahat belum sepenuhnya berfungsi. Kendati begitu, kami tetap bisa beristirahat, mengisi tangki bensin, atau membeli sesuatu di tempat istirahat itu.

Namun, selepas Cirebon, jalan tol Semarang dan Surabaya mulus dan terasa nyaman berkendara. Tidak terasa guncangan berarti ketika melesat dengan laju 100 km per jam. Tidak ada kemacetan berarti. Kami berdua dapat menikmati pemandangan indah selama perjalanan.

Tentu perjalanan menyusuri Tol Trans-Jawa dengan perjalanan saya beberapa tahun lalu menyusuri Autobahn (jalan tol yang terkoordinasi secara nasional di Jerman) dari Berlin ke Muenchen tidak bisa disamakan. Namun, kenyamanan, keamanan, dan kesempatan menikmati pemandangan indah di Jalan Tol Trans-Jawa bolehlah dibilang mirip dengan yang saya rasakan di Autobahn.

Saya bangga, Indonesia punya Autobahn. Bitte fahren Sie vorsichtig! (Hati-hati mengemudi!)

Zulkifli Nasution
Jalan Mushola, Kemang,
Jakarta Selatan

Tanggapan BPJS

Sehubungan dengan surat Bapak Haposan P Silitonga, "Obat Hilang dari Daftar BPJS" di Kompas (11/1/2019), kami sampaikan hal berikut.

Sesuai dengan regulasi yang berlaku, pelayanan obat bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat mengacu pada daftar obat yang ditetapkan Kementerian Kesehatan dalam Formularium Nasional.

Terkait pengadaan obat, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah untuk menetapkan merek dagang obat, penyedia obat, dan harga obat sebagaimana tercantum dalam e-Katalog Obat.

Obat dengan merek dagang Ventolin Inhaler memang sudah tidak tercantum di e-Katalog Obat. Meski demikian, saat ini dalam e-Katalog Obat Tahun 2018 Provinsi Jawa Barat terdapat merek dagang lain dengan kandungan dan khasiat yang sama. Bapak Haposan dapat mengambil obat itu di Apotek Kimia Farma 352, Jalan Margonda Raya 326 Depok, telepon 021-78884611.

BPJS Kesehatan telah mengunjungi Bapak Haposan. Beliau telah memahami dan menerima penjelasan tersebut dengan baik sehingga masalah yang dialami telah selesai.

Irfan Humaidi
Sekretaris Utama BPJS Kesehatan,
Jakarta Pusat

Harus Akurat

TV-One, Kompas, dan Metro TV adalah media pemberitaan nasional yang terkemuka. Karena itu, akurasi harus diutamakan. Di tayangan Jumat (11/1/2019) tentang teror "bom" di rumah Ketua KPK, TV-One menampilkan seorang brigjen (pol) dari Polri yang mengatakan bahwa salah satu bahan dari serbuk putih "bom" itu A12O3. Karena siaran langsung, kesalahan itu tak dapat dicegah. Seharusnya dapat diluruskan kemudian oleh TV-One bahwa yang benar ialah Al2O3 [oksida alumin(i)um].

Di kolom politiknya di Kompas (12/1/2019), Subhan menulis "Perang Dunia I (1939- 1945)". Seharusnya "Perang Dunia I (1914-1918)".

Di Editorial Metro TV (12/1/2019) disebutkan nama penanggap dari NTT "Anton Maumere". Apakah bukan "Anton yang tinggal di Maumere, NTT"?

L Wilardjo
Klaseman, Salatiga, Jawa Tengah


Kompas, 19 Januari 2019

#suratpembacakompas

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

TAJUK RENCANA: Jadikan Politik Lebih Rasional (Kompas)

Debat perdana calon presiden telah berlangsung. Meskipun belum sempurna, debat menjawab skeptisisme bahwa debat hanya seremonial belaka.

Awalnya publik memandang miring melihat debat ketika KPU memberikan kisi-kisi pertanyaan soal debat. KPU pun diragukan netralitasnya. KPU di-bully karena dianggap tidak independen. Namun, debat semalam, meski belum sempurna, telah memberikan ruang kepada calon presiden (capres) untuk menyampaikan visi dan misi serta gagasannya.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Ketua KPU Arief Budiman (tengah) di antara pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebelum dimulainya debat perdana capres-cawapres Pilpres 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1/2019). Tema debat yaitu hukum, hak asasi man usia, korupsi, dan terorisme.

Selamat harus diucapkan kepada KPU sebagai penyelenggara debat. Kedua pasangan calon bisa menyampaikan gagasannya dan menyampaikan pesan persatuan dan kedamaian ketika debat usai. Meskipun moderator mengajak pasangan calon untuk saling memberikan apresiasi dalam pernyataan penutup—dan tidak terjadi—bahasa tubuh kedua pasangan calon tetap menyampaikan pesan persatuan dan kedamaian.

Penyelenggara debat tidak boleh berpuas diri. Masih ada empat debat lagi yang harus dipersiapkan. Debat harus lebih tajam menghadirkan solusi untuk menjawab permasalahan negeri. Publik mengharapkan ada kebaruan dan program konkret yang ditawarkan pasangan. Dari debat perdana, unsur kebaruan ditawarkan calon presiden Prabowo Subianto yang menempatkan posisi presiden sebagai chief of law enforcement officer untuk mengatasi problem hukum di Indonesia.

Posisi presiden sebagai chief of law enforcement sebagaimana dibayangkan Prabowo tidak dielaborasi lebih jauh. Sejumlah panelis yang menyusun pertanyaan tak diberi kesempatan bertanya untuk mempertajam jawaban Prabowo. Pasangan calon pun tidak ingin berdebat lebih jauh soal proposal baru yang ditawarkan Prabowo.

Debat pertama yang mengambil tema soal hukum, korupsi, hak asasi manusia, dan terorisme sebenarnya belum menawarkan gagasan baru, misalnya untuk memerangi korupsi Indonesia. Kedua pasangan calon sama-sama ingin memperkuat KPK, tetapi belum tergambar secara jelas bagaimana operasionalisasinya, bagaimana strateginya untuk melindungi KPK dari berbagai "serangan" politik ataupun intimidasi.

Gagasan pembahasan korupsi masih terlalu biasa, termasuk resep menaikkan gaji hakim, jaksa, dan polisi. Kenyataannya, seorang Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar, yang penghasilannya besar, ditangkap KPK. Bahkan, penyelesaian isu pelanggaran HAM masa lalu juga tidak terbahas sama sekali.

Debat diharapkan menjadikan politik lebih rasional dan bukan lagi emosional. Debat adalah sarana pendidikan politik bagi calon presiden untuk membangun kontrak sosial baru. Untuk mendapatkan gagasan orisinal yang kuat, terobosan baru, debat diperlukan untuk menguji gagasan itu. Dengan perdebatan antarcapres, kita berharap solusi-solusi untuk menyelesaikan masalah bangsa bisa didapatkan. Untuk itu, pelaksanaan debat perlu lebih dipertajam untuk mendapatkan substansi dan tidak hanya mengambang di awang-awang.



Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.