Cari Blog Ini

Bidvertiser

Kamis, 02 April 2020

INDUSTRI DIGITAL: Usaha Rintisan yang Menjulang di Tengah Pandemi Covid-19 (ANDREAS MARYOTO)


Andreas Maryoto, wartawan senior Kompas

Tidak sedikit usaha rintisan yang bertumbangan dan terpaksa merumahkan karyawannya karena wabah Covid-19.

Ada pula yang tengah berjuang mengatasi masalah ketersediaan arus kas untuk membayar karyawannya.

Akan tetapi, tak sedikit pula usaha rintisan yang malah meningkat valuasi dan bisnisnya serta memperoleh pendanaan besar pada saat wabah berkecamuk. Mereka adalah usaha rintisan yang dibutuhkan di tengah wabah.

Usaha rintisan (start-up) berbasis pendidikan daring dari China, Yuanfudao, mendapatkan pendanaan 1 miliar dollar AS yang dipimpin oleh Hillhouse dan Tencent Holdings di tengah wabah Covid-19.

Investor melirik mereka karena banyak siswa yang terpaksa berada di rumah dan harus melakukan pendidikan jarak jauh sebagai upaya menekan penyebaran virus korona baru. Pendanaan ini menjadikan valuasi mereka mencapai 7,8 miliar dollar AS.

Kewajiban berada di rumah sepertinya menjadi buah bagi usaha rintisan yang terkait dengan layanan pendidikan. Usaha rintisan yang menyediakan layanan bahasa Inggris bagi anak-anak, yaitu Lingumi, mendapat banyak peminat.

PIPPA FOWLES / 10 DOWNING STREET / AFP

Konferensi video melalui Zoom antara Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan jajarannya, 31 Maret 2020. Boris Johnson positif terkena Covid-19. Aplikasi Zoom menjadi salah satu yang paling banyak digunakan karena kebutuhan bekerja dan sekolah dari rumah menyusul terjadi pandemi Covid-19.

Orangtua yang tetap memperhatikan pendidikan anak-anaknya akhirnya memilih platform ini untuk melatih bahasa Inggris. Pengguna aplikasi ini naik 50 persen ketika China melakukan penutupan wilayah. Di tengah wabah, Lingumi malah mendapat pendanaan sebesar 4 juta poundsterling.

Sesuatu yang aneh juga terjadi di tengah pandemi. Sebuah usaha rintisan pemesanan kamar hotel Pruvo yang berbasis di Israel mendapat pendanaan dasar (seed funding) 1,1 juta dollar AS.‎

Usaha rintisan yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan ini akan langsung memesankan kamar hotel begitu harganya menurun. Eksekutif mereka mengakui, mendapat pendanaan di tengah wabah adalah sesuatu yang sulit apalagi mereka masih merupakan usaha rintisan baru yang mudah sekali runtuh dan menemui banyak kesulitan. Akan tetapi, investor kemungkinan tertarik dengan ide mereka sehingga tetap mau membiayai usaha rintisan ini.

Beberapa usaha rintisan ritel daring juga mendapati pengunduh aplikasi mereka meningkat tajam di tengah wabah. Data yang dikumpulkan sebuah perusahaan analis aplikasi Apptopia menyebutkan, beberapa aplikasi yang berbasis di Amerika Serikat mencatat pengunduh harian melonjak selama Maret dibandingkan dengn Februari lalu.

Instacart naik 218 persen, Walmart Grocery meningkat 160 persen, dan Shipt naik 124 persen. Mereka sangat dibutuhkan untuk pemesanan dan pengantaran barang kebutuhan dan juga membuat stok beberapa pekan ke depan.

Kenaikan ini terjadi setelah Pemerintah Amerika Serikat meminta agar mereka mengurangi kerumunan sebagai upaya pencegahan penularan virus korona baru.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Karyawan toko ritel Hypermart Puri Indah di Kembangan, Jakarta Barat, antre melakukan pendataan barang belanjaan yang dipesan konsumen melalui fasilitas percakapan dalam jaringan Whatsapp, Selasa (31/3/2020). Layanan belanja dari rumah itu untuk mendukung imbauan pemerintah agar masyarakat tinggal dan bekerja dari rumah.

Warga juga makin merasa aman membeli barang melalui aplikasi karena usaha rintisan mengembangkan sistem tanpa kontak antara pengantar dan konsumen.

Inovasi ini menyebabkan penjualan barang melalui Instacart secara umum naik 10 kali lipat dibandingkan beberapa pekan lalu. Di beberapa negara bagian AS bahkan naik hingga 20  kali lipat. Beberapa di antara mereka terpaksa mempekerjakan tenaga tambahan hingga puluhan ribu untuk menangani pesanan.

Meski usaha rintisan mendapatkan banyak peluang di tengah pandemi, sebaiknya mereka tak melupakan ekosistemnya. Mereka didorong untuk memberi balik kepada konsumen di tengah derita wabah karena virus korona baru.

Beberapa ide muncul dari kalangan mereka sehingga publik makin mengenal usaha rintisan itu serta mengetahui kepakaran yang ada di dalamnya. Banyak ruang yang bisa digunakan di tengah wabah sekalipun oleh usaha rintisan yang masih tertatih-tatih memulai usaha.

Secara umum, mereka bisa memberikan layanan gratis untuk publik atau diskon produk untuk membantu penanganan virus korona. Mereka juga perlu mengeluarkan produk yang mendorong warga tetap di rumah sehingga menghindari kerumunan.

Usaha rintisan yang mempunyai kemampuan menghasilkan sistem atau perangkat yang bisa ikut melawan penyebaran virus korona baru menjadi peluang bagi mereka untuk terlibat.

Usaha rintisan juga disarankan terlibat dengan komunitas yang berada di sekitar mereka sehingga bisa saling membantu dalam menangani wabah ini.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN

Jimmy, pengendara ojek daring, saat memamerkan makanan gratis yang ia dapatkan dari Warteg Nurul. Di tengah wabah Covid-19, banyak pelaku usaha dan pribadi memberi bantuan kepada mereka yang terdampak penghasilannya.

Ketika wabah, tidak berarti kita duduk termenung di rumah. Usaha rintisan sangat bisa mengadakan hackathonsecara daring. Di beberapa negara, kompetisi ini sudah dilakukan terutama dengan tujuan ikut memerangi Covid-19.

Di tengah masalah malah akan muncul banyak ide yang sangat inovatif. Bahkan, setelah krisis ini berlalu, ide-ide inovatif masih diperlukan. Pada saat seperti ini, usaha rintisan juga bisa mengadakan pelatihan yang bermanfaat bagi publik.

Sumber daya di usaha rintisan bisa tampil mengeluarkan buah pikiran agar publik mendapatkan pengetahuan meski tengah berada di rumah. Tentu saja karena berbasis teknologi digital, mereka bisa banyak berperan di dalam pengetahuan tentang bekerja jarak jauh dengan menggunakan teknologi.

Usaha rintisan malah sangat mungkin menjadi pemberi solusi di tengah pandemi. Mereka yang selama ini muncul di tengah berbagai masalah saatnya ikut memberi pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. Suatu saat ketika mendung menghilang, publik akan mengingat mereka yang telah membantu pada saat mereka mengalami kesusahan.

Kompas, 2 April 2020

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

COVID-19: Altruisme di Tengah Bencana (TEUKU KEMAL FASYA)


AFP/ANDREAS SOLARO

Petugas medis dengan berpakaian khusus membawa pasien berstatus dalam perawatan intensif ke rumah sakit Columbus Covid 2 yang baru dibangun untuk menanggulangi wabah Covid-19 di Rumah Sakit Gemelli, Roma, Italia, 16 Maret 2020.

Para fan Atalanta mewakili semangat welas asih yang baik. Mereka menempatkan nilai kemanusiaan pada posisi tinggi untuk menyentuh mereka yang jadi korban dan derita. Para fan yang rata-rata kelas pekerja menyumbangkan semua uang tiketrefund mereka setelah pertandingan Liga Champions babak 16 besar antara Valencia dan Atalanta diputuskan tanpa penonton.

Uang refund tiket itu berjumlah 40.000 euro atau Rp 640 juta disumbangkan ke Rumah Sakit Giovanni XXIII di Bergamo, Italia, yang menangani pasien Covid-19.

Empati pada derita

Sikap kesetiakawanan itu tak hanya ada jauh di sana, di Italia, negara paling hancur akibat Covid-19. Di Indonesia, sikap itu juga mulai bermunculan, terutama yang oleh selebritas dan artis yang kerap digambarkan hidup glamor dan materialistis. Artis kontroversial, Nikita Mirzani, menyumbangkan Rp 100 juta pada hari ulang tahunnya untuk penanganan virus Covid-19.

Sikap kesetiakawanan itu tak hanya ada jauh di sana, di Italia, negara paling hancur akibat Covid-19.

Selegram, Rachel Vennya, melakukan penggalangan dana untuk rumah sakit yang kekurangan alat pelindung diri (APD). Ia berhasil mengumpulkan Rp 1 miliar kurang dari 24 jam. Popularitas mereka di dunia industri hiburan dan media sering mengarah hal-hal yang bernilai jual, tetapi sesungguhnya mereka solider untuk ikut berbuat di tengah pandemi global ini.

Terlepas dari kontroversialnya virus Covid-19—ada yang mempersangkakan sebagai senjata biologis akibat rekayasa genetika sehingga jadi virus paling menular—ada hal-hal yang patut dilakukan oleh kita sebagai manusia berbudi untuk membantu sesama. Wabah Covid-19 ini tidak saja menyebarnya sangat cepat, tetapi juga penanganannya di luar perkiraan semua pihak, termasuk negara.

Jika disebut hampir semua negara gagap menanganinya, tentu tak heran. Tak perlu nyinyir jika langkah-langkah yang dipilih pemerintah tak sempurna. Setiap kebijakan memiliki risiko dan tentu pemerintah telah menghitung setiap pilihan kebijakan yang diambil.

KOMPAS/RIZA FATHONI

Pengurus Masjid Al-Falah, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, mendistribusikan cairan disinfektan secara gratis bagi warga yang membutuhkan, Kamis (19/3/2020). Sebanyak 60 liter cairan dibagikan dengan proses registrasi sebelumnya untuk menghindari kerumunan warga saat pengambilan.

Pilihan kita tentu lebih baik berbuat dibandingkan dengan mengutuk. Diperlukan pertaruhan sebagai manusia untuk memikirkan dan membela orang lain. Itulah yang disebut altruisme.

Pembelaan dan solidaritas itu tak berangkat akibat perintah undang-undang, paksaan militer, atau dogma agama, melainkan tumbuh dari kesukarelaan dan kilau kebaikan dari ringan hati. Sikap altruisme ini telah lama hidup dalam pemikiran filsafat humanisme.

Gagasan tentang kebaikan dan kebenaran dalam konsep humanisme digaungkan kembali oleh filsafat Perancis abad ke-18. Auguste Comte, menyebut konsep autrui—yang berangkat dari kata Latin alter, berarti "orang lain", sebagai panggilan moral untuk meninggalkan kepentingan diri sendiri demi memenuhi kepentingan orang lain.

Filsafat ini sekaligus menegah gagasan pragmatisme yang muncul pada abad ke-20, sebagian terapropriasi pada konsep kebahagiaan masyarakat modern yang hedonistik, individualistik, dan egoistik.

KOMPAS/AGNES SWETTA PANDIA

Kegiatan mengolah minuman pokak sebanyak 1.900 liter dan merebus 15.000 telur ayam dikerjakan di dapur umum di Taman Surabaya, Jawa Timur, Senin (30/3/2020). Sejak virus korona mulai menyebar dua pekan lalu, setiap hari pokak dan telur dibagikan kepada semua petugas satuan tugas Covid-19 yang berjumlah 2.000 orang.

Konsep altruisme melawan pandangan bahwa kebenaran itu milik diri sendiri (the self). Satre menyebutkan, iman yang baik (bonne foi) ialah yang melihat orang lain (the others) secara otentik untuk melengkapinya. Bukan iman yang meneriakkan neraka bagi orang lain (hell is other people).

Pilihan kita tentu lebih baik berbuat dibandingkan dengan mengutuk.

Solidaritas semesta

Dalam situasi seperti saat ini tentu perlu solidaritas kemanusiaan dari siapa pun untuk mereka yang menderita akibat Covid-19. Yang menderita pada situasi saat ini tidak saja yang terdampak secara medis, virologis, dan sosial, tetapi juga secara politik dan ekonomi.

Pelbagai kebijakan memang telah diambil untuk mencegah virus ini merebak, di antaranya penjarakan sosial (social distancing) dan bekerja dari rumah (work from home). Namun, tak semua dimensi kerja bisa dijarakkan secara sosial dan tak semua orang bisa bekerja di rumah. Bagi eksekutif, karyawan kantor, desainer, pekerja media dan industri penyiaran, dan lain-lain, ruang kerja tidak melulu kantor, dan mereka bisa bekerja dari mana saja.

Namun, bagi pekerja sektor riil, manufaktur, usaha kecil dan menengah, sopir, pedagang, pelayan publik, dan lain-lain memerlukan ruang publik dan sosial itu. Sebagian mereka tak bisa hidup lebih lama lagi jika tidak bekerja.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA

Pedagang keliling melintas di depan spanduk imbauan untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Kompleks Deltasari Baru, Kecamatan Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (25/3/2020).

Negara tak bisa dituntut untuk memenuhi hak ekonomi semua masyarakat, apalagi yang tak bekerja sebagai aparatur negara. Di sinilah dituntut solidaritas sosial kita untuk membantu siapa saja, dari yang dekat dengan lingkungan hingga yang jauh, bergerak secara spontan untuk membantu.

Harus ada energi memberi, mengabdi, menolong, dan bekerja untuk orang lain. Bisa dengan menyisihkan sebagian pendapatan untuk mereka yang kurang beruntung secara ekonomi. Bisa dengan membantu menyebarkan kabar baik dan membuat masyarakat jadi tenang. Bisa menjadi sukarelawan dan pekerja sosial. Bisa juga sebagai penghubung yang mengoneksikan aneka bantuan dan fasilitas untuk yang memerlukan.

Altruisme sebenarnya dimiliki oleh bangsa ini. Itu terlihat ketika terjadi bencana hebat, seperti tsunami Aceh, belasan tahun lalu. Ada gerakan solidaritas semesta yang bergerak membantu.

KOMPAS/AGUS SUSANTO

Warga melintas di permukiman yang hancur tersapu gempa dan tsunami di Lampare Kota, Banda Aceh, Aceh, Selasa (28/12/2004).

Tak ada ego identitas sosial, agama, etnis, dan politik yang menderu-deru sehingga membuat bantuan tak melaju. Semua orang berpegangan tangan dan mencurahkan energi yang dimiliki untuk bebaskan orang lain dari rasa sakit dan putus asa.

Harus ada energi memberi, mengabdi, menolong, dan bekerja untuk orang lain.

Richard Rorty, filsuf posmodernisme AS, menyebutkan, panggilan moral untuk solidaritas sebenarnya tak berangkat dari dasar filosofis, religius, atau ideologis tertentu, tetapi dari panggilan humanisme dari dalam diri manusia, yaitu bersedia tidak kejam.

Dengan membantu orang lain, kita menolak bersikap jahanam, alih-alih hanya memupuk kenikmatan bagi diri sendiri dan keluarga. Seperti yang dilakukan kelompok kelas menengah perkotaan yang menimbun stok makanan di rumahnya sambil seolah-olah berempati kepada korban Covid-19 melalui gawainya yang mahal dengan status di media sosial.

(Teuku Kemal Fasya, Kepala UPT Kehumasan dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh)

Kompas, 2 April 2020

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

EPILOG: Para Dokter yang Mulia (PUTU FAJAR ARCANA)


Putu Fajar Arcana, wartawan senior Kompas

Dokter Bernard Rieux hanya orang biasa. Ketika suatu hari kakinya tersandung bangkai tikus di ruang tunggu apartemennya, ia menganggapnya sebagai peristiwa biasa.

Tetapi saat tiba-tiba dalam beberapa hari, tikus-tikus yang hidup di gorong-gorong kota Oran mati mencapai 8.000 ekor, ia sadar bahaya telah mengintai kota kecil di pinggiran Aljazair, koloni Perancis itu.

Dokter Rieux seseorang yang realistis. Ia bukan seperti Dokter Yuri Andreyevich Zhivago yang terlibat penuh dalam kancah Revolusi Bolshevik pada tahun 1918 di Rusia.

Zhivago dalam novel Doctor Zhivago karya Boris Pasternak berada di tengah-tengah kecamuk perang saudara antara faksi Bolshevik (Lenin) dan faksi Meshevik (Karensky). Namun, kedua faksi sama-sama ingin menumbangkan kekuasaan Tsar yang absolut.

Konon penerbitan novel ini pertama kali di Belanda tahun 1958, tak lepas dari operasi Badan Pusat Intelijen Amerika Serikat (CIA). Penguasa Rusia melarang penerbitan Doctor Zhivago lantaran dianggap merongrong kekuasaan.

Sesungguhnya Dokter Rieux adalah representasi pemikiran filsafat eksistensialisme yang dikembangkan Albert Camus lewat novel monumental berjudul La Peste yang kemudian diterjemahkan NH Dini menjadiSampar. Kita lebih mengenal sampar sebagai penyakit pes di Indonesia.

Ilustrasi dokter tengah memeriksa urine dan nadi pasien penyakit pes dalam kondisi masyarakat diserang wabah pes pada abad ke-15.

Penyakit ini selama berabad-abad pernah meluluhlantakkan tatanan kehidupan dunia: sejak masa Byzantium diperintah Kaisar Justinian (541-542). Tahun 1346 kemudian menyerang Eropa melalui Genoa (Italia), merembet ke Rusia dan Skandinavia.

Sejak itu Eropa terus-menerus dilanda pandemi sampar pada1665-1666 (London) dan 1720 (Perancis). Wabah menakutkan ini pun akhirnya tiba di Jawa 1911 pada masa Hindia Belanda.

Kota Oran yang sederhana dan berpemandangan pantai, dalam beberapa minggu menjadi penjara bagi seluruh penduduknya. Pihak perfek(pemerintah daerah) memutuskan melakukan lockdown untuk mencegat penyebaran sampar agar tak semakin menggemparkan. Pintu masuk keluar kota dikunci dengan diawasi oleh aparat keamanan.

Bencana dan penderitaan dalam cara pandang pastor paroki kota Oran, Pastor Paneloux, adalah hukuman dari Tuhan akibat dosa-dosa yang telah dibuat oleh penduduk.

Oleh sebab itu dalam khotbah-khotbahnya, ia menyarankan agar semua penduduk berdoa. Apabila perlu, bertobat mengaku dosa kepada Tuhan. Dokter Rieux memandangnya dengan lebih realistis.

Penderitaan dan kematian memang tak bisa dihindari. Ia sangat paham, pada awalnya setiap bencana disikapi dengan penuh rasa tak percaya oleh manusia. Bahkan tak jarang manusia memberi kesan meremehkannya.

JULES ELIE-DELAUNAY/RENAISSANCE MUSEUM BREST

Lukisan karya Jules Elie-Delaunay, La Peste a Rome (1859), yang menggambarkan situasi wabah di Roma, Italia.

Tak ada cara lain, kata Rieux, untuk menyelamatkan warga kota Oran dari serangan epidemi sampar tahun 1940-an itu, selain melawan penderitaan. Penderitaan dan kesengsaraan manusia adalah sesuatu yang absurd, entah kapan dan dari mana ia datang, tetapi manusia harus menguatkan dirinya untuk melawan.

Dalam konsep Dokter Rieux, melawan adalah berbuat sesuatu yang bisa ia lakukan, tidak sebatas sebagai seorang dokter. Pada saat-saat sampar mencapai puncaknya di mana ratusan penduduk meninggal setiap hari, Rieux sadar, tugasnya tak cukup lagi sekadar menjadi dokter.

Ia harus berdiri paling depan untuk menguatkan warga dan melawan wabah. Ia memisahkan dan mengisolasi mereka yang terpapar dengan warga yang sehat meskipun tindakan itu kemudian justru menambah penderitaan warga semakin bertumpuk-tumpuk. Keterpisahan, keterasingan, dan seorang diri menjemput maut tiba menjadi kehancuran paling menyakitkan bagi manusia.

Realitas hidup yang dipenuhi oleh penderitaan akibat wabah, peperangan, dan bencana adalah absurditas yang tak membutuhkan penjelasan metafisis, apalagi religiositas. Bagi Dokter Rieux, ia harus menggemakan solidaritas dengan berada di antara mereka yang menderita. Terbukti, cara itulah yang kemudian perlahan-lahan membuat warga Oran hadir bahu-membahu, saling menguatkan untuk melawan epidemi.

Realitas yang kita hadapi hari-hari ini, barangkali serupa dengan apa yang pernah dikisahkan Albert Camus. Puluhan dokter telah menjadi korban keganasan Covid-19 di seluruh dunia.

Saya kehilangan Dokter Hadio Ali Khazatsin, seorang muda yang menemukan kesalahan diagnosis terhadap penyakit yang saya derita selama ini. Para dokter senior selama beberapa tahun telah mendiagnosis terjadi sumbatan pada pembuluh darah di kepala saya sehingga selalu merasa pusing dan kehilangan keseimbangan tubuh. Konon, sumbatan itu diakibatkan pula oleh pengentalan darah. Maka, saya antara lain diberi pil pengencer darah selama hampir dua tahun.

KOMPAS/FAJAR RAMADHAN

Sopir ambulans dan dokter Puskesmas Pasar Minggu sedang berusaha mencari dua pasien yang hendak diperiksa terkait Covid-19 di depan Ruang Pinere RSUP Persahabatan, Jumat (13/3/2020).

Ketika bertemu dokter Hadio, dia melihat kembali medical record yang ada di arsip sebuah rumah sakit. Secara cermat ia kemudian mendapatkan petunjuk bahwa ada kelainan dalam susunan tulang belakang saya, "Dan itulah yang menyentuh saraf-saraf di bagian belakang kepala," kata dokter ahli neurologi ini.

Setelah melewati beberapa tindakan medis, ia memastikan bahwa saya menderita HNP (hernia nucleus pulposus) atau kondisi ketika bantalan tulang belakang menonjol keluar sehingga menjepit saraf.‎

Saat menerima kabar Dokter Hadio menjadi salah satu dokter korban serangan Covid-19 bersama yang mulia para dokter di seluruh dunia, saya menunduk lesu. Dalam kepala penuh pertanyaan, bagaimana mungkin seorang dokter ahli saraf, yang tugasnya sehari-hari mendeteksi kelainan saraf para pasiennya, terpapar virus korona yang menyebabkan penyakit radang tenggorokan dan pneumonia? Meski belakangan saya tahu bahwa Dokter Hadio turut menangani pasien-pasien postif Covid-19, absurditas itu tak berhenti menyerang kepala saya.

Komisi Pengawas Nasional China (NSC) merasa perlu mengirim tim ke Wuhan di Provinsi Hubei untuk melakukan investigasi atas kematian Li Wen Liang. Li tak lain adalah dokter di Rumah Sakit Umum Pusat Wuhan, yang pertama kali melaporkan adanya virus korona. Ia pun kemudian harus menjadi korban setelah dinyatakan terpapar Covid-19.

Bukankah peristiwa itu menjadi tragedi yang absurd dalam hidup seorang dokter? Lebih absurd lagi, Li bukan dokter ahli penyakit dalam, ia dokter ahli mata, yang atas inisiatifnya turut berada di garis depan melawan pandemi.

Menurut kabar, Li bahkan sempat memperingatkan rekan-rekan sesama dokter agar mengenakan pakaian khusus karena telah tersebar virus mematikan yang sejenis dengan virus SARS. Atas penyebaran berita soal virus itu, Li sempat ditahan otoritas keamanan setempat.

AFP/ANTHONY WALLACE

Upacara penghormatan terakhir dokter Li Wenliang (34) di Hong Kong (7/2/2020). Wenliang meninggal di Wuhan akibat tertular Covid-19 pada 7 Februari 2020. Ia adalah dokter yang pertama kali memperingatkan Pemerintah China tentang bahayanya penyakit ini.

Belum selesai cerita duka itu, menyusul kemudian China kehilangan dokter Mei Zhang Ming, dokter kepala yang menjadi wakil direktur departemen optalmologi di rumah sakit yang sama.

Lagi-lagi seorang dokter ahli mata harus berpulang karena terpapar Covid-19. Li dan Mei tak lain adalah dokter yang pertama-tama merawat para penderita Covid-19 sebelum akhirnya meledak menjadi pandemi pada awal Maret 2020.

Kabar duka tak berhenti sampai di sana. Peng Yin Hua, dokter yang dengan sadar menunda pernikahannya agar bisa membantu para pasien Covid-19 di Provinsi Hubei, turut pula menjadi korban. Peng mengembuskan napas terakhirnya dalam perawatan di Rumah Sakit Rakyat Pertama di Distrik Jiangxia, Hubei.

Para dokter yang mulia ini bagi Albert Camus sesungguhnya telah bertarung di garis depan pandemi dengan "menanggalkan" profesinya sebagai seorang dokter sebagaimana pula dilakukan dokter Rieux.

Tiba-tiba negara tetangga kita, Filipina, melaporkan bahwa sembilan dokter mereka telah menjadi korban keganasan virus korona. Lalu di Tanah Air, enam dokter, termasuk dokter Hadio, meninggal karena virus yang sama.

Tak terhitung pula berapa ratus tenaga medis yang telah terpapar dan harus menjalani isolasi selama 14 hari. Selain dokter Hadio, IDI (Ikatan Dokter Indonesia) menyebut nama-nama seperti dokter Djoko Judodjoko, dokter Laurentius, dokter Adi Mirsa Putra, dokter Ucok Martin, dan Prof Bambang Sutrisna.

Para dokter yang mulia ini bagi Albert Camus sesungguhnya telah bertarung di garis depan pandemi dengan "menanggalkan" profesinya sebagai seorang dokter sebagaimana pula dilakukan oleh dokter Rieux.

YAMIL LAGE/AFP

Para dokter dan perawat Kuba dari Henry Reeve International Brigade mengikuti upacara pelepasan sebelum mereka diberangkatkan ke Andora untuk membantu memerangi wabah Covid-19 pada 28 Maret 2020.

Di tengah kehampaan harapan dan para korban yang terus bergelimpangan, para dokter ini menjadikan dirinya sebagai martir perjuangan melawan penderitaan.

Dalam Sampar, Rieux menunggu berminggu-minggu untuk mendapatkan serum yang dikirim dari Paris agar bisa segera menolong para korban. Serum itu pun masih harus dicobakan kepada seorang anak untuk membuktikan keampuhannya.

Dalam peperangan melawan Covid-19, harapan hanya bisa dibangkitkan dengan memberontak terhadap penderitaan itu sendiri sebagaimana dikonsepkan dalam absurditas filsafat eksistensialisme. Bahwa keberadaan manusia di dunia telah membawa absurditas ketika mempertanyakan dirinya di hadapan kematian.

Mengapa kesenyapan itu yang pada akhirnya menjadi ujung dari pengembaraan hidup manusia? Camus tidak membawa pertanyaan metafisis, seperti ke mana manusia setelah mati? Namun, ia memberontak terhadap kematian itu sendiri. Isyarat akan kematian, seperti pandemi, harus dihadapi dengan memosisikan diri pada orang-orang yang menderita.

Di situlah para dokter dan segenap para medis telah menunjukkan sikap mulia, tak kenal lelah, bahu-membahu dalam serba "kehampaan" akan harapan.

Jika Rieux menggantungkan harapan pada pengiriman serum sampar dari Paris, para dokter di seluruh dunia, termasuk para dokter di Indonesia, menumpukan "harapan" pada kecepatan para farmakolog dan virulog untuk memecahkan misteri virus SARS-CoV-2.

AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS

Direktur Deteksi Antibodi dan Pengembangan Vaksin Nita Patel mengamati model komputer yang memperlihatkan struktur protein dari vaksin potensial untuk Covid-19 di laboratorium Novavax di Rockville, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (20/3/2020).

Pemecahan misteri itu semoga berujung pada penemuan vaksin Covid-19, yang bisa dengan segera diterapkan secara massal kepada warga dunia.

Betapa pun menumbuhkan harapan sangat dibutuhkan dalam menghadapi krisis. Para dokter yang telah mengorbankan dirinya dalam menghadapi pandemi Covid-19 adalah harapan yang tersemai di tanah penderitaan dan pada akhirnya semoga tumbuh menjadi kemuliaan yang sempurna.

Kompas, 1 April 2020

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Menanti Fajar (TRIAS KUNCAHYONO)


INDRO UNTUK KOMPAS

Trias Kuncahyono, wartawan Kompas 1988-2018

Untuk segala sesuatu ada masanya. Untuk apa pun, di bawah langit ada waktunya. Demikian kata Sang Pengkhotbah. Kita tidak bisa mengendalikan waktu Tuhan. Kalau waktu itu sudah lewat, tidak akan kembali lagi. Karena itu, selama masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang. Kalau kesempatan tidak digunakan, waktu akan hilang.

Kalau kita tidak cermat, kita akan kehilangan kesempatan. Sebab itu, kita harus memperhatikan waktu pintu terbuka dan waktu pintu tertutup. Apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.

Ada waktunya Tuhan membuka pintu masuk bagi kita dalam sebuah kesempatan. Bila mana kita tidak masuk, pintu akan tertutup. Pintu itu bisa sebuah kesempatan baik yang kita miliki. Yang mungkin cuma sekali saja. Jadi, perhatikan waktu yang Tuhan berikan. Jadilah peka, bijaksana, berani mengambil keputusan, tetapi tidak terburu-buru. Atau Anda akan menyesalinya!

Waktu selalu memberikan pilihan kepada manusia. Apakah manusia mau menjadi baik atau buruk. Apakah kita manusia mau berbuat baik atau tidak bagi sesama? Berbuat baik kepada sesama merupakan salah satu kebiasaan dan kepribadian seseorang yang mencerminkan kebaikan dan keberhasilan jika dilakukan untuk pekerjaan. Berbuat baik untuk orang lain merupakan kebajikan yang semestinya tertanam sejak dini.

DOKUMENTASI HUMAS PT KAI DAOP 3 CIREBON

Potret penerapan physical distancing di Stasiun Cirebon, Kota Cirebon, Jawa Barat, Kamis (19/3/2020). Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran penyakit Covid-19.

Bukankah keutamaan—yang oleh filsuf Thomas Aquinas (1225-1274) didefinisikan sebagai habitus atau kebiasaan untuk berbuat baik—diperoleh lebih karena kebiasaan daripada ajaran, terutama keutamaan moral. Ada peribahasa lama yang sangat indah, Magna est vis consuetudinis, yang artinya lebih kurang "pengaruh sebuah kebiasaan itu kuat".

Karena itu, orang yang sejak kecil oleh orangtuanya diajari dan dilatih, serta dibiasakan untuk jujur, sopan, rajin, bertanggung jawab, menghormati orang lain—tanpa memandang perbedaan entah itu agama, suku, rasa, dan golongan—memiliki rasacompassion, belarasa, akan menjadi pribadi yang berkarakter baik.

Dan, satu hal yang pasti bahwa kita tidak dilahirkan buruk. Setiap orang memiliki sesuatu yang baik di dalam dirinya. Tetapi, ada yang menyembunyikan. Bahkan, ada yang menolaknya. Namun, sesuatu yang baik itu tetap ada di sana, di dalam hati. Pilihan itu sepenuhnya ada di hati, pikiran, dan tangan manusia yang memiliki kehendak bebas. Semua tergantung dari manusia, mau menjadi seperti apa.

Sekarang ini, ketika kita menghadapi situasi kedaruratan, krisis karena pandemi Covid-19 yang semakin merajalela, sifat dan karakter manusia yang sesungguhnya terlihat. Apakah kita memiliki habitus untuk berbuat baik bagi sesama atau memikirkan diri sendiri, mau menang sendiri atau tidak.

Kesediaan dan kerelaan kita untuk menaati dengan suka rela keputusan politik pemerintah—yang terakhir pemerintah memberlakukan pembatasan sosial skala besar,physical distancing dilakukan lebih tegas, disiplin, dan lebih efektif—merupakan salah satu bentuk keutamaan; memikirkan, peduli terhadap orang lain. Orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu karena waktu itu adalah waktu yang jahat.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO

Penumpang KRL Commuterline duduk berjauhan, menjaga jarak, saat perjalanan dari Stasiun Rawa Buntu, Tangerang Selatan, menuju Stasiun Tanah Abang, Jakarta, sekitar pukul 11.28, Selasa (17/3/2020).

Aturan memang harus secara tegas ditegakkan. Perlu ada sanksi yang melanggarnya demi keselamatan bersama. Menurut Baron Heinrich von Cocceji (1644-1719), profesor hukum alam dan internasional di Heidelberg, ada ungkapan—yang awalnya terinspirasi oleh Aristoteles—yang berbunyi demikian: Ubi homo, ibi societas. Ubi societas, ibi ius. Ergo: ubi homo, ibi ius yang lebih kurang berarti "Di mana manusia berada, ada masyarakat. Di mana ada masyarakat, ada hukum. Karena itu: di mana manusia berada, ada hukum". Ada yang berpendapat bahwa ungkapan itu dikatakan oleh Cicero (106-43 SM), filsuf Romawi.

Dengan kata lain, hukum dibuat karena ada masyarakat. Tanpa masyarakat, hukum tidak ada. Karena itu, sudah layak dan sepantasnya—atau bahkan sebuah keharusan—bahwa semua anggota masyarakat menaati, mematuhi hukum yang ada. Hukum menyediakan landasan normatif tentang apa yang seharusnya atau tidak seharusnya dilakukan oleh manusia, oleh anggota masyarakat, oleh seluruh rakyat dalam hidup sosialnya.

Hukum mengatur agar warga masyarakat, seluruh rakyat, hidup disiplin dan tertib. "Disiplin, disiplin, dan disiplin itu paling penting," begitu tulis Kepala BNPB yang juga Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo dalam pesan Whatsapp-nya yang dikirim beberapa hari lalu.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo (tengah) saat menyampaikan keterangan pers terkait dengan pembentukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Kantor BNPB, Jakarta, Sabtu (14/3/2020).

Korea Selatan, negeri berpenduduk 50 juta jiwa, disebut-sebut sebagai salah satu yang sukses menangani pandemi Covid-19, bisa menjadi contoh di mana disiplin dijunjung tinggi. Data terakhir (Senin, 30/3/2020), di Korea Selatan, jumlah kasus 9.661, meninggal 158 orang, dan sembuh 5.228 orang. Mengapa mereka berhasil "memperlambat" laju penyebaran pandemi?

Faktor utama yang memberikan andil kemampuan mereka "memperlambat" laju penyebaran atau bahkan memutus wabah Covid-19 antara lain adalah layanan kesehatan nasional yang kuat, eksekusi agresif protokol penanganan, isolasi, dan perawatan, didukung penuh oleh hukum;  dan yang tidak boleh dilupakan adalah pengalaman sebelumnya menghadapi SARS dan middle east respiratory syndrome (MERS) tahun 2015.

Selain itu, pengaruh Konfusianisme sangat kuat dalam budaya Korsel. Menurut Konfusius (Kong Fuzi, 558-471 SM), perilaku bangsa tergantung dari kapasitas intelektual rakyat. Cara paling efektif untuk mengembangkan pikiran adalah disiplin moral. Disiplin moral memungkinkan orang untuk melakukan kontrol diri berdasarkan kebajikan, keutamaan. Di sisi lain, aturan hukum menyiratkan pencegahan melalui sanksi.

Dari sudut pandang Konfusianisme, jenis aturan yang terakhir ini (hukum) pada dasarnya bersifat reaksioner, dan itu hanya menghadapi gejala dan bukan inti masalah. Juga, aturan demi hukum menyiratkan metode pemaksaan penegakan kebijakan pemerintah, sedangkan aturan berdasarkan kebajikan menyiratkan pemahaman spiritual dan ideologis dengan rakyat dan dengan demikian mendapatkan loyalitas rakyat.

AFP/YONHAP

Para pekerja medis yang mengenakan alat pelindung membawa seorang pasien yang terinfeksi virus korona di sebuah rumah sakit di Chuncheon, Korea Selatan, 22 Februari 2020. Korsel dinilai berhasil mengendalikan wabah Covid-19.

Konfusius percaya bahwa pemerintahan berdasarkan kebajikan akan berfungsi karena orang pada dasarnya baik hati; dengan demikian, orang-orang akan memilih pemerintahan yang baik dan menolak pemerintahan yang tidak bermoral (Luis Felipe Ramírez; 2010).

Konfusianisme mengajarkan adanya beberapa kewajiban utama dalam hidup. Misalnya yang disebut ren:perlunya memperlakukan orang lain dalam komunitas dengan kemanusiaan; memanusiakan manusia; nguwongke, bahasa Jawanya. Ini sama dengan Golden Rule, etika timbal balik; berbuatlah kepada orang lain sebagaimana kamu ingin orang lain perbuat padamu.‎

Yang lain adalah li, yang pada garis intinya menyatakan melalui ketaatan pada ritual sosial, orang belajar menunjukkan rasa hormat kepada orang lain dan berperilaku dengan cara yang harmonis secara sosial  (Daniel Tudor;  2012).

Semua itu ada dalam budaya kita yang sangat beragam ini, juga dalam kearifan-kearifan lokal setiap daerah. Dalam Manusia Indonesia (2001), Mochtar Lubis menunjukkan ciri-ciri baik manusia Indonesia (selain ciri-ciri buruk): ramah, mudah tertawa sekalipun menelan pil pahit, suka menolong, suka damai, hatinya lembut, sayang keluarga, dan kekuatan ikatan keluarga besar, mudah belajar karena bangsa ini cerdas, serta cepat belajar keterampilan.

Kiranya, dengan semua ciri-ciri baik itu, kita bangsa Indonesia dapat mengatasi pandemi Covid-19, tentu dengan penuh kesadaran, penuh kerelaan (tidak perlu mempersoalkan terlebih dulu, mendebat, mencaci, nyinyir, termasuk menyebarkan fitnah dan kabar bohong dengan tujuan politik) melaksanakan keputusan politik pemerintah untuk memutus rantai penularan pandemi.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Warga melintas di depan jalan masuk salah satu dusun di Desa Argosari, Sedayu, Bantul, DI Yogyakarta, yang ditutup oleh penduduk setempat, Senin (30/3/2020). Warga di sejumlah wilayah di DIY menutup jalan akses menuju permukiman mereka untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19.

Memang, ada harga yang harus dibayar oleh warga masyarakat: rela berkorban demi keselamatan bangsa dan negara. Baru dengan demikian, kita pantas disebut manusia berbudaya. Yakni, manusia yang memiliki sikap moral estetis yang religius, toleran, ugahari, kerendahan hati, bersemangat kerja tinggi, serta berdisiplin tinggi, di tengah serangan pandemi Covid-19.

Maka, ketika tiba waktunya seperti kata Sang Pengkhotbah, takdir datang mengetuk pintu—meminjam istilah yang digunakan oleh Paulo Coelho—akan terdengar ketukan lembut Malaikat Pembawa Kabar Baik, bukan gedoran-gedoran pintu demikian keras dari Sang Tamu Tak Diundang, yang tidak kenal kompromi.

Bila demikian, maka "malam gelap berlalu, dan terbitlah fajar".

Kompas, 31 April 2020

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.