Bidvertiser

TUTORIAL MENYETIR

TUTORIAL MENYETIR
Pormadi Channel

Sabtu, 29 September 2012

Pidato Presiden di PBB Bertolak Belakang

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, mengkritik pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pidato itu, menurut dia, merupakan strategi menutupi kegagalan Indonesia dalam menjamin hak asasi manusia dan hak hidup kelompok minoritas.

"Seharusnya Presiden sebagai kepala negara wajib melindungi HAM warga negaranya sebelum berbicara di forum PBB. Pidato di PBB menjadi pembenaran atas kekerasan hingga menghilangkan nyawa warga negara yang berasal dari kelompok minoritas oleh kelompok antitoleransi dan melawan hukum," ujar Eva di Jakarta, Jumat (28/9).

Pidato Presiden lebih menyuarakan aspirasi kelompok antitoleransi, pengguna kekerasan, dan melawan hukum.

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar di Jakarta menyesalkan pidato Presiden Yudhoyono yang melupakan konteks keindonesiaan saat berusaha eksis di panggung internasional.

"Ada hal yang dilupakan saat berbicara penistaan agama, yakni krisis Suriah yang membuat rakyat dibunuh oleh rezim As'ad secara brutal tidak dibahas secara tegas sikap Indonesia. Bicara penghujatan agama, tetapi melupakan kegagalan Indonesia melindungi anggota kelompok minoritas yang dianiaya, bahkan dibunuh. Aneh sikapnya, berusaha membela martabat Islam, tetapi di dalam negeri banyak kelompok garis keras dibiarkan melakukan kekerasan. Presiden Yudhoyono pasti ditertawakan oleh komunitas internasional," ujar Haris.

Sebagai bukti nyata dari hal-hal yang dilupakan itu, hasil sidang di Dewan HAM PBB, Indonesia mendapat kritik.

Sementara saat menawarkan investasi di Indonesia kepada investor asing, kata Haris, Presiden Yudhoyono melupakan fakta bahwa tidak ada perlindungan akses tanah bagi masyarakat kecil dan para petani penggarap.

Dia menilai, Presiden Yudhoyono tidak menggunakan perspektif kemanusiaan saat tampil berpidato di forum PBB. Hal ini akan menjadi bumerang bagi Presiden Yudhoyono kalau ingin tampil sebagai tokoh di internasional. (ONG)

Sumber: Kompas, Sabtu, 29 September 2012
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Harapan untuk Kurikulum Baru

Oleh Paul Suparno

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengungkapkan bahwa akan ada perubahan kurikulum. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang kini sedang berlangsung—meski baik—dianggap kurang cocok dengan zamannya, maka perlu diperbarui (Kompas, 5/9).

Apa yang diharapkan dari kurikulum baru? Kurikulum baru idealnya memperhatikan minimal konteks anak zaman yang mau dibantu, kritik pendidikan yang banyak muncul terhadap Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) saat ini, dan kebutuhan bangsa ke depan.

Konteks anak zaman

Anak sekarang termasuk anak generasi Z (generation net). Mereka kebanyakan sudah terbiasa berkomunikasi menggunakan internet, Facebook, Twitter, Blackberry. Mereka hidup dalam budaya serba cepat sehingga tak tahan dengan hal-hal yang lambat. Mereka anak-anak budaya instan yang serba ingin berhasil dalam waktu cepat dan kalau bisa tanpa usaha keras.

Anak-anak ini butuh model pendekatan dan model belajar yang berbeda. Mereka sudah terbiasa dengan internet, maka model pembelajaran harus menggunakan teknologi modern itu. Kalau tidak, mereka akan bosan.

Mereka sudah sering mengerjakan berbagai persoalan dalam satu waktu. Kalau mereka mengerjakan PR, mereka sekaligus juga membuka laman lain, sambil masih bicara dengan teman lewat HP dan chatting dengan teman lain lagi lewat Facebook.

Perhatiannya biasa terpecah dalam berbagai hal. Dalam mempelajari suatu bahan mereka tak mau urut, kadang dari belakang, kadang dari tengah, kadang dari muka. Ini berarti model pendekatan linear sudah kurang tepat bagi mereka. Perlu dicarikan model-model yang berbeda.

Kemajuan teknologi internet dan media menjadikan anak sekarang dipenuhi berbagai informasi dari segala penjuru dunia. Di tengah kekacauan informasi dan nilai ini mereka dituntut lebih punya keterampilan menganalisis secara kritis, memilih secara bijak, serta mengambil keputusan bagi hidupnya. Maka, ke depan, kurikulum, model dan cara pembelajaran harus mampu membantu anak menganalisis secara kritis, memilih, dan mengambil keputusan dalam hidup.

Karena guru bukan lagi satu- satunya sumber belajar dan pengetahuan, sikap anak terhadap guru pun berubah. Guru bukan satu-satunya yang harus dihormati. Maka, sikap guru pun harus berubah: bukan sebagai orang pinter yang akan menggurui, melainkan lebih sebagai fasilitator yang menjadi teman belajar. Guru tidak perlu marah bila kurang didengarkan oleh anak.

Beberapa kritik terhadap sistem pendidikan kita, terutama level SD hingga menengah, mengungkapkan bahwa mata pelajaran terlalu banyak, ada 14-16 macam. Jumlah mata pelajaran yang begitu banyak, dengan jam yang sedikit, menjadikan siswa tidak terlatih belajar bertekun dan mendalam. Mereka mudah puas pada lapisan atas saja. Maka, kemampuan mengolah bahan, menganalisis secara kritis bahan, kurang terjadi.

Pendidikan kita masih terlalu menekankan segi kognitif. Ini pun masih terbatas pada mencari nilai angka, bukan kemampuan menganalisis secara kritis dan mendalam suatu bahan. Akibatnya, nilai karakter sangat dibutuhkan bagi kejayaan bangsa ini kurang mendapatkan tekanan.

Tujuan pendidikan pada jenjang SD, SMP, SMA kurang begitu jelas. Sebenarnya apa yang diharapkan bila anak lulus SD, SMP, dan SMA? Kompetensi atau tujuan yang ingin dicapai ini perlu jelas, tak terlalu banyak, dan dapat dimengerti oleh siapa pun.

Kita perlu sadar, kita mendidik anak Indonesia, bukan manusia dewasa Indonesia. Maka, tuntutan kepada anak pun harus terbatas. Dalam UU Sisdiknas dan juga dalam standar pendidikan, anak- anak kita terlalu banyak dituntut sesuatu yang sebenarnya lebih merupakan tuntutan bagi orangtua. Akhirnya, kalau hal itu tidak terjadi, kita frustrasi dan anak mengalami beban berat.

Demi keutuhan bangsa ini, anak-anak bangsa harus rela menerima perbedaan di antara kita dan belajar hidup dalam semangat perbedaan itu. Maka, semangat multikultural dan penghargaan kepada tiap-tiap pribadi manusia harus ditekankan.

Kurikulum ke depan

Berdasarkan beberapa analisis di atas, kurikulum baru diharapkan memuat beberapa hal. Pertama, tujuan yang jelas untuk setiap jenjang SD, SMP, dan SMA. Tujuan ini harus singkat, sederhana, sesuai jenjangnya, dan mudah dimengerti oleh siapa pun.

Kedua, jumlah mata pelajaran perlu dikurangi sehingga anak dapat belajar lebih mendalam, dapat berpikir lebih kritis.

Ketiga, pendidikan sikap dan karakter harus dapat tekanan, bukan hanya pengetahuan.

Keempat, kurikulum yang membantu anak dapat belajar memilih dan mengambil keputusan dalam levelnya.

Kelima, kurikulum yang juga menunjang kesatuan bangsa, maka pendekatan multibudaya dan penghargaan pada nilai manusia mendapatkan tekanan.

Keenam, metode dan model pembelajarannya disesuaikan dengan situasi anak zaman.

Ketujuh, bentuk evaluasi, termasuk UN, perlu dikembangkan dengan menekankan kemampuan berpikir kritis dan bernalar.

Paul Suparno Dosen Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Sumber: Kompas, Sabtu, 29 September 2012
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 28 September 2012

Penyakit Sosial Bernama Haji Ulang

Jumat, 28 September 2012

Oleh Ali Mustafa Yaqub

Seorang kawan bercerita kepada kami bahwa masyarakat di daerahnya punya anggapan unik. Apabila ada seorang lelaki yang sudah berhaji dua kali, ia akan mudah mendapatkan istri yang kedua.

Anggapan ini berasal dari persepsi masyarakat setempat bahwa orang yang sudah berhaji ulang itu adalah orang yang baik ibadahnya dan baik pula kantongnya. Maka, dari persepsi itu, status sosial seorang yang sudah berhaji ulang jadi semakin tinggi. Oleh karena itu, di lingkungan masyarakat ia jadi rebutan para wanita yang siap jadi istri kedua.

Apabila persepsi seperti itu benar menurut ajaran agama, Nabi Muhammad SAW bukanlah orang yang baik. Karena selama hidupnya, beliau hanya berhaji satu kali. Padahal, beliau punya kesempatan tiga kali untuk berhaji. Beliau juga punya kesempatan berumrah sunah ratusan, bahkan ribuan kali, tetapi beliau hanya berumrah sunah dua kali. Bandingkan dengan kita, masyarakat Muslim di Indonesia, yang rata-rata ingin berhaji setiap tahun dan berumrah setiap bulan.

Mengapa Nabi Muhammad SAW berhaji hanya sekali dan berumrah sunah hanya dua kali? Apakah beliau tak punya uang? Apabila beliau tak punya uang, bukankah beliau tinggal berkata saja kepada sejumlah sahabat yang kaya raya, seperti Abdurahman bin Auf dan Abu Ayyub al-Anshari. Tentu kedua sahabat akan segera menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan Nabi. Namun, Nabi tak pernah meminta-minta untuk kepentingan pribadi beliau seperti itu.

Setelah Nabi menetap di Madinah, sekurang-kurangnya terjadi tiga hal penting. Pertama, Nabi menghadapi orang-orang yang memusuhi dan memerangi beliau, maka Nabi menginfakkan hartanya untuk kepentingan jihad fisabilillah melawan orang- orang itu. Kedua, akibat perang atau jihad fisabilillah gugurlah para syuhada yang kemudian menimbulkan janda-janda dan anak-anak yatim. Maka, harta Nabi diinfakkan untuk menyantuni para janda, orang-orang miskin, dan anak-anak yatim.

Ketiga, banyaknya pelajar yang menuntut ilmu dari Nabi Muhammad SAW sementara mereka tidak punya apa-apa di Madinah, baik harta maupun keluarga. Mereka tinggal di satu ruangan di Masjid Nabawi yang disebut al-Shuffah. Sementara untuk keperluan makan, Nabi menganjurkan kepada para sahabat untuk menjamin pemberian makan kepada mereka. Nabi sendiri setiap hari memberikan makan kepada 70 pelajar Shuffah.

Keutamaan ibadah sosial

Seandainya berhaji ulang itu lebih utama daripada menyantuni janda-janda, orang miskin, anak-anak yatim, dan para pelajar yang tidak mampu, maka Nabi tentu sudah melakukan haji ulang dan atau umrah berkali- kali. Namun, Nabi tak melakukannya. Nabi justru menegaskan bahwa penyantun anak yatim akan tinggal di surga bersama Nabi dan tidak terpisahkan, ibarat jari tengah dan telunjuk.

Nabi juga menegaskan, orang yang menyantuni para janda dan orang-orang miskin tak ubahnya seperti orang berjihad fisabilillah. Sementara ibadah haji, apabila memenuhi syarat-syarat sehingga dapat disebut haji mabrur, Nabi hanya menjanjikan surga saja kepada pelakunya, tanpa menyebutkan bersama beliau.

Dari sini dapat dipahami bahwa menyantuni anak-anak yatim, para janda, orang-orang miskin, dan para pelajar yang tak mampu jauh lebih unggul nilai pahalanya daripada berhaji ulang. Dengan kata lain, ibadah sosial jauh lebih utama daripada ibadah individual. Begitulah kaidah hukum Islam menyebutkan. Bagaimanapun, Nabi tak pernah mencontohkan untuk berhaji ulang atau berulang-ulang berumrah.

Ketika keadaan masyarakat kita sedang sangat terpuruk, potret kemiskinan di mana-mana. Para pakar ekonomi mengatakan, sampai akhir 2011, di Indonesia masih terdapat 117 juta orang miskin. Tempat ibadah banyak yang terbengkalai. Apabila keadaan negeri kita masih seperti itu, pantaskah lalu kita berkali- kali berhaji dan berumrah? Ayat Al Quran mana yang menyuruh kita melakukan itu? Hadis manakah yang menganjurkan kita untuk berbuat seperti itu?

Inilah penyakit sosial yang menimpa masyarakat kita dan perlu segera diobati. Obatnya adalah mengikuti perilaku Nabi dalam beribadah, yaitu berhaji cukup sekali dan berinfak ribuan kali. Pertanyaan berikutnya, maukah kita mengobati diri kita dari penyakit sosial yang menimpa kita itu? Atau kita justru ingin memperparah penyakit yang sedang kita derita itu?

Ali Mustafa Yaqub Imam Besar Masjid Istiqlal

Sumber: Kompas Cetak
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 26 September 2012

Slenco

Slenco

Sumber: Kompas Cetak,
Rabu, 26 September 2012

Oleh Sindhunata


Mas kangmas namine sinten

Sakniki dintene Sabtu

Mas kangmas kesah teng pundi

Sapi kulo pun manak pitu

Duh aduh jenengan pripun

Sakniki pun mboten ngalor

Dene menopo kok wangsul ngidul

Kulo niki namine sinten

(Mas kangmas namanya siapa

Sekarang hari Sabtu

Mas kangmas pergi ke mana

Sapi saya sudah beranak tujuh

Duh aduh kamu bagaimana

Sekarang sudah tidak ke utara

Lha kenapa kok ke selatan

Saya ini namanya siapa)

"Slenco", karya Cak Diqin

Dari sepenggal isinya, lagu "Slenco" yang dinyanyikan bergantian cewek-cowok ini

berarti enggak nyambung. Namun, slenco tidak sesederhana itu. Slenco punya makna, masalah, dan hubungan sebab-akibat jauh lebih kaya dari yang kita duga.

Itulah yang digali 65 perupa dalam pameran di Jakarta, menyambut ulang tahun ke-30 Bentara Budaya 26 September 2012. Sesekali kita perlu menyimak parodi para perupa tentang slenco- nya negara tercinta ini.

Iklan kain kafan

Inilah transaksi slenco di supermarket Indongaret, Jalan Macet 69X Ubud-Bali (AS Kurnia). Tercetak di slip pembayaran: apel malang 1 kg, 24.450; apel washington 1 kg, 22.950; sayur banggar, 18.950; ham balang 1 kg, 88.000; century black label, 75 cl, 400.000. Ditambah nyam-nyam 170 gr, 37.250, dan lain-lain, total jadi 782.250. Cash, 800.000, kembali 17.750. Kembalian berupa permen, tidak ada koin receh.

Slenco telah menggubah bahasa harian jadi bahasa koruptor. Korupsi dibahasakan dalam jual-beli buah-buahan, ham, dan minuman keras. Korupsi di satu pihak tersembunyi, di lain pihak menjadi transaksi sehari-hari. Kembalian pun dikorupsi jadi permen. Padahal, koin receh bisa dikumpulkan untuk naik angkot atau urunan membangun gedung KPK.

Bahkan, koruptor yang telah ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) muncul bak selebritas. Menampilkan busana dan dandanan mewah, menjinjing tas mahal harganya. Ke sidang seperti mau shooting film, ditunggu fans berbondong-bondong.

Pernah ada wacana seragam khusus bertulisan "tahanan KPK" agar koruptor malu. Namun apa daya, koruptor terlalu gendut bagi seragam KPK yang super-kecil dan sempit (Bambang AW). Sesungguhnya ini sindiran pahit bahwa KPK telah menjadi lembaga yang tak berdaya.

Sudah banyak pejabat korup tertangkap KPK. Toh korupsi makin merajalela. Urusan KPK makin banyak, namun tak punya gedung memadai. Banyak perkara korupsi belum ditangani, eh, Mabes Polri malah menarik 20 penyidiknya dari KPK. Jika itu terjadi, KPK lumpuh kehilangan seperempat tenaganya.

Di negara ini polisi menjadi bagian dari ke-slenco-an (Budi Ubrux). Polisi seharusnya jadi pengayom, tetapi malah paling ditakuti rakyat. Orang takut berhadapan dengan polisi karena berarti "uang damai". Kesalahan sering dicari-cari oleh polisi. Inilah aktor korupsi harian.

Korupsi tidak hanya mewabah, tetapi menjadi life style (Sinik). Sebagai gaya hidup, korupsi mempunyai nilai iklan, seperti mode dan aksesori kekenesan. Coba iklankan baju tahanan KPK lengkap dengan borgolnya. Orang akan segera menyukainya.

Tiap hari kita menyimak berita sidang korupsi. Kita melihat bagaimana para koruptor menghias diri. Pengacaranya fasih membela klien korup dengan segala silat lidah kepokrolan. Kita dengar, bagaimana akhirnya majelis hakim membuat antiklimaks dengan vonis amat ringan terhadap penilep miliaran uang rakyat itu. Hukuman kadang jauh lebih ringan dari maling motor. Bukankah ini membuat korupsi jadi iklan life style menarik?

Sungguh-sungguh slenco! Tak mungkin korupsi yang teramat slenco diatasi dengan nalar sehat. Untuk membasminya, gunakanlah taktik slenco pula, misalnya dengan iklan khusus koruptor (Najib Amrullah). Koruptor rakus akan segalanya. Kain kafan pun akan dikonsumsi jika dikemas menarik. Maka buatlah iklan kubur yang memikat. "Kain kafan berbahan halus dan tak mudah terbakar, membuat para malaikat ramah menjemput, dan membebaskan dari siksa kubur".

Saking slenco-nya, koruptor pasti tertarik untuk membeli dan memakai kain kafan itu. Tetapi ingatlah, siapa memakai kain kafan, dia pasti mati! Pendeknya, biarlah dia terbujuk untuk mau mati terlebih dahulu. Setelah itu, biarkan dia sendiri mempertanggungjawabkan siksa kuburnya.

Kain kafan khusus koruptor adalah akal-akalan rakyat yang sudah putus asa menghadapi jahatnya korupsi karena segala upaya dan akal manusiawi sudah menemui jalan buntu.

Salah kostum

Slenco tak hanya terjadi dalam hal korupsi, tetapi secara luas dalam tata politik kita. Kita tidak mempunyai pelaksana eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang pas. Kita ibarat anak-anak dalam lintasan lari. Mestinya, kita adalah atlet pelari. Ternyata seorang anak memakai sarung tinju dan memukul KO temannya yang berkostum kiper sepak bola. Inilah adegan sport yang slenco. Lebih slenco lagi, datang seorang anak berseragam polisi, berlagak sebagai wasit sepak bola. Inilah the wrong man in the wrong place, at the wrong time and the wrong costume too (Yuswantoro Adi).

Memang politik kita sedang benar-benar slenco. Saat terancam kekerasan dan perpecahan bangsa, kita butuh pemimpin yang tegas. Eh, kita malah mempunyai pemimpin lembek. Demokrasi kita jadi liar. Jangan-jangan kita sedang saltum (salah kostum) dengan demokrasi kita. Kita berada pada era yang benar- benar slenco: semua serba salah, salah orang, salah tempat, salah waktu, salah kostum pula.

Wakil rakyat pun sangat tidak tepat. Itu tampak dalam wajah mereka yang berkarakter banyak. Seperti satu lukisan wajah, tetapi terdiri dari petak-petak visual wajah, yang jika diamati benar tidak bersambung satu dengan lainnya. Wajah pelbagai sifat, sehingga tak jelas identitasnya (Komunitas Seni Rupa Cibubur).

Kupingnya kelihatan dua, tapi yang satu berbeda dari lainnya, mungkin yang satu untuk mendengar kebenaran, yang lain untuk mendengar kebohongan. Hidungnya pun seakan tempelan. Ia beralis mata, tapi tidak simetris. Ia sungguh berwajah karakter rupa-rupa: pribadi yang kacau.

Tak jelas, apakah dia wakil rakyat pengantuk atau perampok yang pura-pura punya integritas, padahal dia tidak jujur dan penipu. Apalagi jika dilihat matanya: sekejap-kejap memantulkan bayang-bayang perempuan erotis nyaris telanjang. Mana mungkin pandangan mata yang masih terkotorkan libido ini bisa melihat penderitaan, kemiskinan, dan kesengsaraan rakyatnya. Mata itu hanya akan melihat apa yang memuaskan nafsunya. Itulah slenco-nya wakil rakyat kita.

Indra mereka juga slenco. Kadang mereka menutup telinga, sementara mulutnya berteriak keras-keras. Kadang mereka menutup mulut rapat-rapat, sementara mereka membuka telinga (Bambang Pramudiyanto). Mereka tidak mau mendengar jeritan rakyat, tapi sok lantang menjadi pahlawan rakyat. Mereka seakan mau mendengar perkara salah dan mesti diluruskan, tapi mulutnya bungkam. Mereka hanya mencari selamat sendiri.

Mereka sungguh pribadi yang oportunis. Jika indera wakil rakyat slenco, bagaimana jeritan rakyat bisa didengar atau dikumandangkan? Kita seakan punya wakil rakyat tuli tetapi pinter omong dan tidak tuli tetapi bisu.

Mungkin karena slenco DPR kehilangan pamor. Ada masalah serius di tengah bangsa ini: DPR menjadi lembaga yang enggak nyambung lagi dengan rakyat. Slenco-nya wakil rakyat sungguh bahaya karena rakyat bisa menganggap demokrasi parlementer itu salah kostum.

Situasi semua slenco membuat wajah orang bertopeng berlapis- lapis (I Putu Edy Asmara Putra). Satu topeng dilepas, masih ada topeng lain. Kita bersalaman, seakan berkomunikasi, padahal wajah kita tersembunyi satu sama lain. Komunikasi kita tidak pernah jujur dan tulus. Kita bersilaturahmi tanpa wajah asli. Silaturahmi slenco.

Gusdurian

Slenco telah menjadi situasi dan kondisi kita. Untuk membenahi, kita mau tak mau harus menerimanya dulu. Ibaratnya, bendera nasional kita harus kita hormati walau miring tiangnya (Sigit Santosa). Untuk menghormatinya, kepala dan badan kita harus ikut miring. Itulah ironi slenco: Apa boleh buat, bendera kita miring karena bangsa kita juga tengah miring. Tapi slenco negara ini tak boleh menyurutkan nasionalisme dan patriotisme kita: right or wrong is my country. Walau karena slenco, kita tidak tahu, apakah negara kita sedang miring ke kanan atau ke kiri. Left or right is my country!

Berani menerima slenco, tapi kemudian berupaya keluar dari slenco, sikap itulah yang ditunjukkan oleh almarhum Gus Dur. Ibaratnya Gus Dur tahu, durian itu tajam kulitnya, tapi buahnya enak dimakan. Keduanya bertentangan, tapi tak bisa dipisahkan. Itulah kebijakan "Gusdurian" (Hadi Soesanto). Sehari-hari Gus Dur mempraktikkan ideologi "gusdurian" itu. Tak heran ia sering kelihatan slenco. Di balik ke- slenco-annya, orang selalu bisa meraba kebenaran yang hendak diperjuangkannya.

Ketika jadi presiden, Gus Dur tidak duduk di atas takhta yang empuk, tapi di singgasana berduri tajam. Dengan ideologi "gusdurian"-nya ini, Gus Dur seakan hendak mempraktikkan kebijaksanaan Jawa: "Satria bertapa di pucuk pedang". Artinya, jadi satria jangan diam bersemadi di tempat sunyi seperti pendeta, tapi harus terus berjuang, bertempur membela negara. Memang itulah yang dikerjakan Gus Dur. Ia melanggar semua formalitas istana agar tetap bisa merakyat. Ia mengabaikan semua prosedur birokrasi yang bertele-tele agar permasalahan bisa cepat selesai.

"Gitu aja kok repot", itulah ringkasan ideologi "gusdurian". Negara ini sudah banyak repot, mengapa harus dibikin lebih repot. Gus Dur mengambil langkah yang tidak usah repot-repot. Sesungguhnya, di balik semboyan "gusdurian"—gitu aja kok repot— tersembunyi keberanian untuk dengan tegas mengambil langkah dan keputusan. Keputusan itu mungkin mendebarkan karena kelihatan slenco dengan keadaan dan pendapat umum orang. Namun terbukti sekarang, banyak keputusan Gus Dur adalah benar dan tepat, lebih-lebih dalam hal keutuhan bangsa, toleransi dan perlindungan pada minoritas.

Sebisa-bisanya slenco memang harus ditata kembali (Sugiyo Dwiharso). Slenco adalah sebuah puzzle. Keping-keping puzzle tersusun rapi, sesuai dengan urutan angkanya. Namun, susunan keping-keping yang teratur itu ternyata tidak berhasil menyusun gambaran manusia yang seharusnya dihasilkan oleh puzzle itu. Puzzle sosial kita tepat dan benar dalam hal angka, statistik, norma dan aturan, tapi berantakan dalam menyusun realitas masyarakat yang kita cita-citakan. Demokrasi kita mungkin sudah benar secara prosedural, tapi gagal secara material. Akibatnya, kita punya demokrasi slenco.

Gambaran slenco sebagai puzzle sosial yang gagal dan berantakan kiranya boleh mendekatkan kita pada teori komunikasi filsuf Jürgen Habermas. Menurut Habermas, sebagai fakta, komunikasi belum atau tidak pernah ada. Maksudnya, secara faktual kita tidak pernah memperoleh pengertian yang utuh dan benar tentang sesama kita ketika kita menjalankan komunikasi. Maka keliru jika kita memahami komunikasi itu seakan-akan sebuah fakta. Yang benar, komunikasi adalah suatu proses dan cita- cita, yang harus terus-menerus kita wujudkan.

Dengan kata lain, kita selalu slenco dalam memahami yang lain, demikian pula yang lain terhadap kita. Kendati demikian, kata Habermas, kita mesti terus menjalankan komunikasi untuk mencapai kesepakatan yang bisa diukur kebenarannya. Kebenaran di sini bukanlah melulu rasional: kebenaran itu adalah ketersambungan antara apa yang telah kita sepakati secara rasional dan fakta nyata perbuatan kita. Maka komunikasi harus selalu mengarah pada tindakan dan buah perbuatan nyata. Kalau tidak, kita akan terus menerus slenco.

"Sedhengan"

Menurut khazanah kebatinan Jawa, sejauh manusia masih kadunungan raga (mempunyai raga), ia masih bisa slenco. Batin atau roh manusia memang mengarah pada satu-satunya kenyataan yang diidam-idamkannya, yakni manunggaling kawula- Gusti, persatuan diri dengan Tuhannya. Tapi raga manusia sering membuatnya sasap-sisip, menyimpang ke sana kemari. Itulah yang membuat slenco.

Maka, agar tidak terus slenco, manusia diminta untuk mewaspadai raganya. Maksudnya, ia diminta untuk tidak menuruti segala nafsu nikmat raganya. Nafsu nikmat ragawi itu memang tak mengenal batas, padahal raga manusia itu sesungguhnya amat kecil dan terbatas. Maka, agar tidak slenco dengan raganya, manusia harus rumangsa karo ragane (tahu diri dengan raganya). Karena itu ada petuah kebatinan Jawa demikian: Merasa besar itu salah, merasa kecil juga keliru. Yang baik adalah sedhengan (cukupan). Sebab, sedhengan itu bisa masuk dalam nalar hati siapa saja. Dan pas, tidak kebesaran, tidak juga kekecilan.

Jelas pada akhirnya slenco berkenaan dengan sikap hidup yang tahu diri. Agar kita tidak slenco, kita harus menjadi sedhengan, pas, ugahari, dan sederhana. Bukankah kita slenco karena serakah, ingin memiliki dan menikmati yang lebih dan menjadi diri yang lebih dari kita sendiri?

Betapa sederhana sebenarnya soal kita: kita slenco karena kita tidak mau hidup sederhana.

Sindhunata Kurator Bentara Budaya

Powered by Telkomsel BlackBerry®