Cari Blog Ini

Bidvertiser

Rabu, 28 Januari 2026

TRAGEDI ERA DIGITAL (@pormadi) #eradigital

Fenomena flexing di media sosial menghebohkan publik Indonesia beberapa tahun bulan terakhir ini. Sejumlah anak muda dengan percaya diri memamerkan mobil mewah, tas bermerek luar negeri, dan uang segepok seakan-akan menampilkan tanda kesuksesan dan kebahagiaan hidup sejati.

Kasus Mario Dandy (2023), anak pejabat pajak yang sering memamerkan mobil Rubicon dan motor gede di media sosial. Kasusnya ramai karena kemudian ia tersangkut perkara hukum penganiaayan. Meskipun masalah hukumnya bukan akibat flexing, peristiwa ini menjadi simbol bagaimana pamer harta memicu sorotan publik.

Contoh lainnya, beberapa orang pernah mengaku sebagai “crazy rich” gadungan dan memamerkan harta di media sosial, tetapi kemudian terbukti palsu atau hasil penipuan. Sejumlah selebritas dan influencer sering memperlihatkan gaya hidup mewah di Intagram atau TikTok - makanan mahal, belanja barang branded, liburan ke luar negeri.

Di sisi lain, berita mengenai remaja mengalami depresi akibat perundungan (cyberbullying) kian sering tamil di media sosial. Ini menjadi bukti fenomena yang memperlihatkan wajah lain dari era digital: di balik layar yang penuh kilau cahaya, tersembunyi kehampaan dan luka batin.

Dari data Indonesia Digital Report 2023, ditemukan 167 pengguna aktif media sosial di Indonesia sama dengan 60 persen populasi nasional. DIaporkan juga, masyarakat Indonesia menggunakan media sosial rata-rata 3 jam 18 menit per hari. Ini membuktikan bahwa ruang digital telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari.

Era Cair

Dalam bukunya Liquid Modernity (2000), Zygmunt Bauman menyebut zaman ini sebagai era modernitas cair. Semua bergerak cepat, berubah dan sulit menetap seperti cairan. Identita subyek pun menjadi cair. Dulu, identitas dibangun dari relasi stabil dan kokoh - keluarga, komunitas, atau tradisi. Sekarang, identitas lebih banyak ditentukan oleh profil atau status digital yang bisa diubah sewaktu-waktu sesuai trend dan viralitas.

Tidak sedikit generasi muda Indonesia yang hari ini tampil sebagai aktivis lingkungan, esok menjadi gamer, dan lusa berperan sebagai komentator politik. Semua bergantung pada sorotan audiens. Identitas tidak lagi tentang siapa kita, melainkan bagaimana kita tampil di dunia digital, dan bagaimana kita terlihat.

Masyarakat Prestasi

Filsuf Byung Chul Han memperkenalkan konsep masyarakat prestasi, dalam bukunya The Burnout Society (2010). Di era modern sekarang, masyarakat kerapkali dituntut untuk selalu lebih viral, produktif, dan leih kreatif. Hal ini berbeda dengan era sebelumnya, manusia ditekan dengan aturan dan disiplin secara eksternal.

Tekanan dan tuntutan semacam ini semakin nyata terlihat di berbagai plaform media sosial seperti Facebook dan TIkTok. Banyak kreator konten mengeluhkan kelelahan karena harus memproduksi tayangan agar tidak ditinggalkan pengikut sekaligus mencari cuan.

Sebuah studi internasional yang dikutip media lokal pada tahun 2024 melaporkan tiga dari empat kreator konten mengalami stres atau burnout akibat tekanan algoritma. Fenomena ini menegaskan bahwa kebebasan yang dijanjikan media digital sering kali semu dan ilusi; manusia justru terjebak dalam kompetisi tak berujung.

Menurut penulis ini merupakan tragedi digitai. Tragedi digital adalah kondisi ketika teknologi digital yang awalnya diciptakan untuk memperkaya hidup manusia justru menghasilkan penderitaan baru: kedangkalan menggantikan kedalaman, citra menggeser makna, eksistensi manusia direduksi menjadi angka-angka like, follower dan subscriber.

Dengan kata lain, tragedi digital adalah paradoks zaman ini: teknologi yang menjanjikan konektivitas dan kebebasan justru melahirkan keterasingan, tekanan dan kehampaan.

Kedangkalan Mengikis Kedalaman

Tragedi digital menghilangkan kedalaman melalui algoritma media sosial. Algoritma media sosial mendorong konten singkat, ringan, dan sensasional. Konten reflektif atau kritis cenderung tenggelam. Fenomena inilah yang kita saksikan di media sosial seperti Facebook, TikTok dan media lainnya.

Bauman menilai kondisi seperti ini sebagai hilangnya ruang bersama (the commons). Setiap orang sibuk membangun panggungnya sendiri, tayangan konten, update status, sehingga kepedulian sosial makin melemah.

Tak jarang, berita bencana atau isu kemanusiaan sering kalah perhatian dibanding gosip selebritas. Hans, dalam bukunya The Transparency Society (2012) menyebut hal ini sebagai tirani positivitas: dunia digital menuntut segalanya tampak menyenangkan, likeable, dan shareable. Kritik, kesedihan, bahkan keheningan, meditasi, yang dapat meningkatkan kedalaman makna hidup, tidak mendapat tempat lagi.

Ekshibisionisme Digital

Fenomena lain adalah eksibisionisme digital. Eksibisionisme ini makin marak. Banyak orang dengan sukarela membuka sisi pribadinya - mulai dari makanan sehari-hari hingga persoalan rumah tangga- demi mendapatkan pengakuan publik. Tidak ada lagi rasa hormat terhadap privasi atau sisi sakral relasi perkawinan.

Bauman, dalam Liquid Surveillance (2013, bersama David Lyon), menyebut situasi ini sebagai synopticon: banyak orang mengawasi sedikit figur populer. Influencer, selebgram atau YouTuber menjadi pusat perhatian jutaan orang.

Han dalam Psychopolitics (2017) bahkan menilai manusia telah menjadikan dirinya sebagai produk pasar. Identitas otentik terkikis; yang tersisa hanyalah citra semu. Akibatnya, semakin keras individu mencari pengakuan, semakin besar kehampaan yang dirasakan.

Seatinya, di balik citra, di balik citra bahagia yang ditampilkan, banyak orang bergulat dengan kelelahan dan depresi. Han menyebut manusia digital sebagai the tired self - subjek yang lelah. Kelelahan itu muncul bukan karena dipaksa pihak luar, tetapi karena memaksa diri untuk terus eksis.

Kondisi ini tercermin dalam Survey Nasional Kesehatan Jiwa Indonesia tahun 2022, yang menemukan 2,45 juta remaja usia 10-17 tahun mengalami gangguan mental dalam satu tahun terakhir. Ditemukan bahwa tekanan terbesar datang dari perbandingan sosial di media sosial: kurangnya jumlah like, ejekan daring, hingga rasa tidak mampu menyamai pencapaian teman sebaya. Data ini menunjukkan tragedi digital bukan sekedar teori, melainkan kenyataan yang dihadapi generasi muda kita.

Menata Ulang Relasi Digital

Untuk itu, kita tidak boleh menganggap remeh Tragedi era digital. Ia tidak bisa dipandang sebagai masalah pribadi atau individu: ia adalah fenomena sosial yang menuntut tanggung jawab secara bersama-sama. Menurut penulis, ada beberapa langkah praktis yang dapat diupayakan bersama.

Pertama, lembaga terkait perlu perlu melakukan literasi digital dan emosional. Sekolah dan keluarga seyogiyanya mengajarkan keterampilan menghadapi tekanan media sosial, bukan sekedar cara menggunakannya. Generasi muda perlu memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh jumlah like atau pengikut.

Kedua, semua perlu menciptakan ruang hening. Di tengah banjir notofikasi, masyarakat perlu membatasi jumlah waktu daring, contohnya melalui “digital detox”. Alasannya, keheningan merupakan cara melawan tirani kecepatan dan tuntutan konstan untuk tampil.

Ketiga, masyarakat perlu memperkuat ruang bersama. Komunitas nyata - keluarga, sekolah, organisasi kemasyarakatan, maupun lembaga agama (rumah ibadah) - harus menjadi tempat membangun relasi mendalam yang tidak ditentukan ole h algoritma.

Keempat, masyarakat perlu membatasi ekshibisionisme digital. Sebab, tidak semua aspek kehidupan layak dipamerkan. Ada nilai lebih bermakna bila dirawat dalam keintiman melalui keluarga dan sekolah.

Bauman dalam bukunya Liquid Modernity menekankan bahwa tugas manusia adalah untuk membangun dunia bersama yang lebih baik dan manusiawi di arus modernitas cair. Setiap orang bertanggung jawab agar kehidupan menjadi lebih baik.

Han dalam The Transparency Society mengingatkan pentingnya melawan tirani “positivitas” digital. Dua seruan ini berpadu dalam satu pesan: kita perlu menata ulang relasi dengan teknologi agar digital tidak sekadar menjadi panggung citra, melainkan ruang memperdalam kemanusiaan.

Era digital memang membawa kemudahan komunikasi di satu sisi, tetapi sekaligus melahirkan tragedibaru. Citra menggantikan makna, kedangkalan menggerus kedalaman, produktivitas menghasilkan kelelahan.

Namun tragedi tersebut bukanlah sesuatu yang menjadi akhir. Ia bisa menjadi panggilan untuk membangun kehidupan digital yang lebih sehat, lebih otentik, dan lebih manusiawi.

Yang dituntut adalah kita harus memilih: terus terjebak dalam kedangkalan citra, atau menjadikan digital sebagai sarana untuk memperkaya dan memperkuat hidup bersama.

Pilihan kedualah yang layak diupayakan, agar layar bercahaya tidak menutupi kegelapan batin, melainkan membuka ruang untuk terwujudnya ruang kemanusiaan yang utuh dan lebih baik. Semoga. (PS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger