Cari Blog Ini

Bidvertiser

Minggu, 31 Mei 2020

Seabad PK Ojong (1920-2020) - INDRA GUNAWAN


KOMPAS/MEDSOS CARD/RACHAEL DEFANDI

PK Ojong, salah satu pendiri "Kompas", menekankan komitmen bersih yang mesti dimiliki wartawan.

Tidak terasa sudah seabad jejak langkah PK Ojong, salah satu pendiri Kompas Gramedia. Ia lahir 25 Juli 1920 dan menutup usia pada 31 Mei 1980, belum genap 60 tahun usianya. Meskipun saat berpulang belum begitu tua dan terasa singkat hidupnya, PK Ojong telah memberi makna dan warna yang kuat bagi lingkungannya. Mula-mula untuk lingkungan dekatnya di Kompas Gramedia, lalu mengalir lewat pergaulannya di institusi hukum, pendidikan, dan sosial budaya serta masyarakat luas.

Apakah PK Ojong patut dikenang setelah sekian lama, sekitar 40 tahun lalu, meninggalkan kita? Hemat saya, "ya", ia layak dikenang karena telah memberi legacy (warisan) dan pelajaran berharga bagi kita di zaman kini atau zaman now.

"Indonesia Kecil"

Penulis mengenal PK Ojong beberapa tahun sebelum harian Kompas terbit pada 1965. Kebetulan rumahnya terletak di jalan yang paralel dengan jalan depan rumah saya, di Jatinegara. Kesan pertama bertemu, ia adalah seorang intelektual atau tepatnya "a cultured man", orang yang mempunyai wawasan luas melampaui bidang studinya, memahami etika, serta  punya citarasa estetika.

Bercakap-cakap dengannya membuat saya, yang saat itu  masih mahasiswa tingkat persiapan, merasa mendapat kuliah besar humaniora, bersentuhan dengan pemikiran tokoh-tokoh kelas dunia. Wah, sepertinya saya tengah berhadapan dengan intelektual berkelas.

Ketika itu, ia sudah menjadi pemimpin redaksi Star Weekly, majalah mingguan yang digemari dan berpengaruh. Banyak tokoh pemikir, budayawan, dan sastrawan menulis diStar Weekly, seperti Wiratmo Sukito, Ajip Rosidi, Harijadi S Hartowardojo, dan Ryono Praktikto. Bahkan, Bung Hatta pernah menulis artikel yang kemudian berkembang menjadi risalah "Demokrasi Kita" yang terkenal itu.

Hemat saya 'ya', ia layak dikenang karena telah memberi legacy dan pelajaran berharga bagi kita di zaman  kini atau zaman now.

Pada awal saya bergabung ke Kompas, semuanya belum tertulis, tetapi sudah ada di lubuk hati duet PK Ojong dan Jakob Oetama, yaitu suatu shared vision atau visi bersama Kompas Gramedia yang kemudian dijalankan bersama oleh segenap karyawannya. Bagaimana memersepsikan negara kesatuan yang majemuk ini dan apa hakikat fungsi pers yang independen?

Sejak semula mereka berdua sudah menghayati bahwa pergerakan rakyat itulah yang membentuk bangsa Indonesia. Kemudian, bangsa Indonesia yang membentuk negara Indonesia Merdeka, dan selanjutnya Indonesia Merdeka yang membangun dan mengisi masa depannya.

Tak soal apakah terbentuknya bangsa itu lewat persamaan nasib (Ernest Renan) ataupun karena adanya "komunitas terbayang" (imagined communities) yang dikonstruksikan Ben Anderson. Hanya, keduanya telah memahami betapa kebinekaan sebagai takdir yang terberikan (given) itu harus dipertahankan dan dipelihara sebaik-baiknya, bukan saja oleh negara, melainkan juga oleh organ masyarakat.

Buku "Biografi P.K. Ojong", ditulis oleh Helen Iswara.

Konsep pluralisme itu coba dipraktikkan di Kompas Gramedia dengan sebutan "Indonesia Kecil", sebagai bentuk "mini" dari Indonesia Raya. Demikian kita lihat segenap karyawan dari berbagai suku bangsa, ras, dan agama leluasa berkontribusi dan berkompetisi secara terbuka. Dasarnya adalah penerimaan  visi-misi perusahaan dan meritokrasi, seberapa jauh kinerja dari masing-masing. Di jajaran Redaksi Kompas dapat dilihat, betapa berbagai suku, ras, dan agama pernah menduduki jabatan pemimpin redaksi.

Yang menarik adalah konsep independensi di harian Kompas. Pada zaman Soekarno, semua koran diwajibkan berafiliasi ke salah satu partai politik. Berhubung Partai Katolik saat itu belum punya koran dan mendapat tawaran dari  Menteri/KSAD Jenderal A Yani, pimpinan Partai Katolik (IJ Kasimo dan Frans Seda) tergopoh-gopoh melakukan persiapan. Konon, mereka hampir putus asa, sampai akhirnya bertemu dua  profesional, PK Ojong dan Jakob Oetama.

Dua orang ini mau menerima tawaran sebagai penyelenggara, dengan syarat koran harus independen menyuarakan kepentingan umum dan bukan kepentingan golongan. Sekalipun keduanya beragama Katolik, sebagai insan pers profesional, mereka memahami bahwa pers yang eksklusif dan etnosentris tak akan dapat berkembang besar dan sukar diterima masyarakat luas. Frans Seda dan IJ Kasimo yang berwawasan luas ternyata dapat menerima persyaratan tersebut.

Semua itu bagian dari sejarah dan cukup sudah dituturkan. Hanya ke depan, hemat saya, dalam masyarakat Indonesia yang makin terbelah, nilai-nilai kebinekaan dan inklusivisme perlu lebih keras lagi digaungkan ke luar. Siapa tahu virus kebajikan itu punya  efek menular (contagious) yang menyebar luas.

Dua orang ini mau menerima tawaran sebagai penyelenggara, dengan syarat koran harus independen menyuarakan kepentingan umum dan bukan kepentingan golongan.

Guru spiritual

Sewaktu  bekerja di Kompas, saya melihat PK Ojong itu mempunyai modal sosial yang kuat, dalam arti punya pergaulan luas dengan dasar etik, saling menghormati, saling percaya, tanpa saling memanipulasi. Demikian ia bergaul dengan orang-orang dari kalangan hukum (Yap Thiam Hien, Adnan Buyung Nasution), para budayawan (Mochtar Lubis, Toeti Heraty, Goenawan Mohamad), dari kalangan kepartaian, PSI (Soedjatmoko, Rosihan Anwar), Partai Katolik (Frans Seda, Harry Tjan), Masyumi (Moh Roem), dan sejumlah "angry young man", seperti Soe Hok Gie, Arief Budiman, dan WS Rendra.

Hanya, bagi saya, yang paling menarik adalah persahabatannya dengan Khoe Woen Sioe, seorang wartawan yang kemudian menjadi direktur (utama) PT Kengpo, suatu grup penerbitan yang berjaya pada periode medio 1940-an sampai awal 60-an. Khoe dapat disebut sebagai guru spiritual dan alter ego PK Ojong. Ini tergambar dari tulisannya yang berjudul "Mengenangkan Khoe Woen Sioe" yang dimuat di harianKompas (5 Juni 1976), satu dasawarsa setelah Khoe meninggal.

Khoe yang berpendidikan AMS jurusan Sastra (setingkat SMA pada masa penjajahan Belanda) adalah seorang yang menyukai sajak-sajak Alfred Lord Tennyson. Akan tetapi, sewaktu bekerja sebagai direktur PT Kengpo, ia juga mampu menguasai segi-segi teknis manajemen penerbitan. Saya melihat PK Ojong yang senang dengan humaniora, sewaktu menjadi pemimpin umum Kompas Gramedia, juga berusaha mengikuti jejak Khoe. Ia berupaya memahami manajemen dan ilmu hitung-hitungan (keuangan, akuntansi). Tujuannya tentu saja agar ada keselarasan dan persamaan referensi dengan manajer bagian keuangan, produksi, dan pemasaran.

Saya melihat PK Ojong yang senang dengan humaniora, sewaktu menjadi pemimpin umum Kompas Gramedia, juga berusaha mengikuti  jejak Khoe.

Ini tentu memerlukan perluasan meta program  dalam diri seseorang, menyukai yang abstrak, tetapi juga yang konkret; yang umum, tetapi juga yang detail; yang verbal, tetapi juga yang numerikal.

PK Ojong juga tampak mengagumi Khoe yang mengamalkan ajaran Konfusianisme dan sosialisme demokat dalam mengemudikan jalannya perusahaan. Berhubung Khoe itu irit dalam bicara dan lebih suka bekerja saja, ia lebih meninggalkan keteladanan dalam laku ketulusan, kejujuran, kerja keras; lembut, tetapi dapat tegas serta memiliki perhatian besar terhadap kesejahteraan karyawan.

Kelak, dalam risalah "Sifat Perusahaan Kita", yang ditulis PK Ojong sewaktu cuti, setelah mengalami kecelakaan mobil masuk jurang, tampak jejak pengaruh Khoe. Ada tarikan napas kuat paham sosialisme demokrat. Dengan beberapa perbedaan, agaknya ini yang dikembangkan lebih jauh oleh Anthony Giddens  dengan "Jalan Ketiga"-nya.

Sekalipun PK Ojong menganggap Khoe sebagai orang besar, ia juga sedih dan kecewa karena, setelah meninggalnya Khoe, penerbitan Kengpo (Kemudian jadi PT Kinta) itu merosot tajam dan bangkrut. Pemegang saham di sana, setelah mangkatnya Khoe, mengangkat dua direktur pengganti, yang menurut pandangan PK Ojong tidak tepat.

PK Ojong juga tampak mengagumi Khoe yang mengamalkan ajaran Konfusianisme dan sosialisme demokat dalam mengemudikan jalannya perusahaan.

Menurut penilaiannya, pemegang saham hanya memperhatikan aspektechnical know how (keterampilan teknis), tetapi kurang memperhatikan syarat watak dan sifat sifat kemanusiaan kandidat. PK Ojong sepertinya ingin memberikan sinyal keras perihal kehancuran Kengpo (PT Kinta) yang dapat ditarik sebagai pelajaran. Dalam pandangannya, pucuk pimpinan itu tampaknya perlu memiliki kombinasi dari dua ciri, yakni kearifan intuitif (intuitive wisdom) dan pengetahuan praktis (practical knowledge).

Saling melengkapi

Ada banyak persamaan di antara duet PK Ojong-Jakob Oetama. Awal mula, profesi mereka adalah guru, sebelum menjadi wartawan dan kemudian karena "panggilan nasib" menjadi direktur utama, orang bisnis. Keduanya tetap sederhana walaupun kelak di kemudian hari menjadi orang sukses. Rendah hati dan kuat dalamart of listening (seni mendengarkan); biar orang lain bicara dulu, setelah diendapkan, baru memberikan tanggapan, itu juga jika diperlukan.

Keduanya juga berpendapat, sekalipun menganut azas pers bebas dan independen, kebebasannya itu harus bertanggung jawab. Critique with understanding, kritik dengan pemahaman, melihat secara komprehensif dulu, jangan main gasak saja. Mentang-mentang.

Mereka juga merupakan bagian dari subkultur yang dalam istilah Michael Porter disebut "kultur produktif". Artinya, keduanya menerapkan kerja keras, jujur, disiplin, senang belajar, dan suka menabung untuk cadangan perusahaan. Di Indonesia kultur produktif belum menjadi kultur bangsa, tetapi masih menjadi subkultur yang dianut sebagian orang. Padahal, bangsa-bangsa yang maju pertumbuhan ekonominya adalah bangsa yang meresapi kultur produktif.

MACHRADIN WAHYUDI RITONGA UNTUK KOMPAS

Wakil Pemimpin Redaksi "Kompas" Trias Kuncahyono memasang foto Jakob Oetama (kiri) dan Wakil Pemimpin Umum Harian "Kompas" Rikard Bagun memasang foto PK Ojong di Menara Kompas (14-4-2018). Jakob Oetama dan PK Ojong merupakan pendiri harian "Kompas".

Selain persamaan di antara mereka, sebenarnya ada juga beberapa perbedaan menyangkut keduanya. PK Ojong orangnya lebih keras, prinsipiil, disiplin. Emosinya mudah bangkit, sekalipun pada usia-usia lebih lanjut tampak mulai mengendur. Adapun Jakob Oetama pribadinya tampak lebih halus, ngemongjawani, dan melihat kebenaran dalam nuansa (fuzzy logic). Mereka ibarat "Yang" dan "Yin" yang dalam falsafah China dianggap satu kontinum, rangkaian kesatuan yang wajar-alami.

Adanya perbedaan macam ini tak perlu menimbulkan dualisme atau konflik, malahan dapat saling melengkapi kekuatan dan kelemahan masing masing jika dikelola secara dinamis-seimbang. Masing-masing dapat memahami dan saling  mengerti akan tempat dan fungsinya, yang justru akan memperkuat organisasi. Dan, ini yang terjadi selama duet PK Ojong-Jakob Oetama berlangsung.

(Indra Gunawan M, Redaktur Kompas, 1965-1976, Wakil Presdir Kompas Gramedia, 1992-2004)

Kompas, 31 Mei 2020

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

HUBUNGAN INTERNASIONAL: Teriakan Trump Soal China Sia-sia Saja (SIMON SARAGIH)


HANDINING

Simon Saragih, wartawan senior Kompas.

Teriakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang China tidak akan memiliki dampak apa pun. Tidak semua pihak di AS dan dunia setuju dengan pendekatan Trump terhadap China. Teriakan-teriakan Trump ini akan sebatas ucapan semata. China sedang dalam posisi kuat secara ekonomi dan relatif tidak memiliki masalah dengan dunia.

Namun, untuk memperkuat basis serangannya terhadap China, Trump memang terkesan sedang mengajak banyak negara di dunia untuk bersatu melawan China. Trump menyudutkan China tentang Covid-19 yang dia katakan telah menyebabkan banyak negara sengsara karena China tidak transparan soal perkembangan Covid-19.

Terkait hal itu, Trump mengatakan, Inggris, Australia, dan AS sendiri sengsara. Dunia tertawa karena kasus Covid-19 di AS terbesar dan tidak ada negara yang mendekati krisis Covid-19 di AS.

Ketika Trump mendaulat bahwa Covid-19 adalah buatan manusia di laboratorium China di Wuhan, tidak banyak yang mendengar. Ahli virus AS, Dr Anthony Fauci, sendiri tidak percaya isu yang diangkat Trump ini. "Ada bukti kuat virus ini bukan buatan manusia," kata Fauci, yang juga menjabat sebagai Direktur The US National Institute of Allergy and Infectious Diseases dalam percakapan dengan National Geographic.

AP/EVAN VUCCI

Presiden AS Donald Trump menjawab pertanyaan dari wartawan di Rose Garden Gedung Putih di Washington, Selasa (26/5/2020). Di hari itu, Twitter memperingatkan dua cuitan Trump soal pemilihan dengan surat dengan label cek-fakta.

Trump mencoba masuk lewat isu lain lagi. Trump mendaulat bahwa dia telah berbicara dengan Perdana Menteri India Narendra Modi. Menurut Trump, PM Modi tidak puas soal sengketa perbatasan India dengan China. Jika India meminta tolong soal isu ini, "Saya akan membantu. India suka kepada saya," kata Trump.

Pernyataan Trump ini mental dengan sendirinya dengan komentar dari juru bicara (jubir) Kementerian Luar Negeri India, Anurag Srivastava. "Kami sudah memiliki mekanisme pembahasan soal isu ini dengan China untuk membahasnya secara damai," kata Srivastava, seperti dikutip The Times of India, 29 Mei 2020. Jubir Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, juga mengatakan, China bersama India telah memiliki mekanisme yang baik untuk menyelesaikan isu ini lewat konsultasi dan dialog.‎

Pada 28 Mei, pada tajuk harian berbahasa Inggris China, The Global Times dituliskan, "Dua negara agar tetap waspada dengan AS, yang mengekspolitasi setiap kesempatan untuk mengacaukan perdamaian dan ketertiban kawasan. India dan China tidak membutuhkan pertolongan AS."

Satu isu lagi yang rawan untuk dimainkan guna menekan China, yakni masalah Laut China Selatan. Namun, sepanjang China tidak memprovokasi negara-negara yang turut bersengketa di Laut China Selatan, salah satu isu yang rawan dalam relasi internasional China, posisi internasional China relatif aman. Menlu China Wang Yi mengatakan, diskusi China dan ASEAN soal Laut China selatan tidak akan terganggu pihak luar, seperti diberitakan kantor berita Xinhua, 24 Mei.

REUTERS

Kapal-kapal perang Australia dan Amerika Serikat berlayar bersama di Laut China Selatan, 18 April 2020.

Hanya saja, China menilai Trump akan menyeret isu Laut China Selatan. Soal ini jubir Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, pada 7 April 2020, seperti diberitakan CGTN (China Global Television Network), China dan ASEAN juga memiliki mekanisme tersendiri untuk membahasnya.

Semakin berisik

Meski demikian Trump semakin berisik. Dalam pernyataannya, Jumat (29/5/2020) di Washington, dia kembali menyudutkan China lewat berbagai alasan. Dia ungkapkan lagi soal China yang merampas kemakmuran AS, soal pencurian teknologi AS oleh China, hingga isu Hong Kong.

Soal Hong Kong, Trump berang karena parlemen China menyetujui draf keamanan nasional terkait soal tuntutan demokrasi di Hong Kong yang heboh. Draf tersebut mengancam pencabutan status semi otonomi Hong Kong jika terus kisruh. Bagi China, tindakan ini bukan hendak menindas Hong Kong tetapi bertujuan melawan AS, yang mencampuri urusan China dan segala wilayahnya.

Atas draf itu, Trump mengatakan AS akan mengambil langkah termasuk melarang warga dari China memasuki AS dan memberikan sanksi pada para pejabat China dan Hong Kong jika memiliki peran melemahkan demokrasi di Hongkong.

AFP/DALE DE LA REY

Para demonstran menghadiri demonstrasi menentang rancangan undang-undang ekstradisi yang kontroversial di Hong Kong pada 9 Juni 2019.

"AS-China sedang dalam krisis penuh," kata Richard Fontaine, CEO Center for a New American Security mengomentari serangan terbaru Trump atas China. "Kita telah membanting fondasi," katanya. Akan tetapi, Fontaine mengatakan China akan membalas setiap langkah AS.

Hongkong adalah urusan China dan tidak banyak yang bisa dilakukan AS, termasuk Inggris soal itu. Chad Bown, peneliti senior dari The Peterson Institute for International Economics mengatakan, langkah Trump soal Hongkong tidak memiliki efek besar.

Sebelum pernyataan Trump soal Hong Kong ini, jubir Kementerian Luar Negeri China, Zhao mengatakan AS sangat berkepentingan dengan ketenangan Hongkong. Zhao mengatakan ada 85.000 warga AS di Hongkong. AS juga memiliki 1.300 perusahaan, dan 300 perusahaan AS memiliki markas di Hongkong, serta 400 perusahaan AS memiliki kantor regional di Hongkong.

Zhao mengingatkan, kepentingan AS di Hong Kong ini akan menjadi taruhan jika AS mencampuri urusan Hongkong.

Trump "mainkan" China

Mengapa semua ini? Mengapa Trump terus memainkan isu China, yang tidak pernah berhenti sejak 2016? Susan E Rice, Penasihat Keamanan Nasional AS (2013 – 2017) dan mantan Dubes AS di PBB memberikan penjelasan lewat tulisannya di harian di The New York Times, 19 Mei.

AFP/JIM WATSON DAN PETER KLAUNZER

Kombinasi gambar yang dibuat pada 14 Mei 2020 ini menunjukkan potret Presiden Cina Xi Jinping (kanan) dan Presiden AS Donald Trump.

"Trump akan memanfaatkan isu China dengan alasan pemilu 2020 sudah mendekat," kata Rice. Hal ini merupakan pengulangan dari apa yang juga pernah dilakukan Bill Clinton pada 1992 saat menyerang Presiden George HW Bush dengan memanfaatkan isu China.

Hal serupa dimanfaatkan Trump pada 2016 dengan menyerang Presiden Obama terkait kebijakan China. Isu ini akan semakin digaungkan oleh Trump. Dengan kegagalan domestik termasuk soal penanganan Covid-19, strategi Republikan, paling manjur adalah memainkan isu China. "Tetapi siapa yang mempercayai dia?" demikian Rice mempertanyakan strategi Trump, yang Republikan.

Rice mempertanyakan itu terkait sikap Trump yang menyudutkan media domestik, menjauhkan AS dari sekutu Eropa dan Asia, menjauhkan AS dari lembaga internasional, terbaru, WHO.

Uni Eropa juga tidak tertarik dengan kartu China yang dimainkan Trump. Ketua Komisi Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell, mengatakan sanksi pada China tidak akan efektif terkait isu Hong Kong. Kanselir Jerman Angela Merkel secara implisit juga tidak mendukung teriakan Trump.UE memilih dialog dan konstruktif.

REUTERS/M KAPELLER

Awak media menjaga jarak dalam konferensi pers oleh Kanselir Jerman Angela Merkel

Pukulan dari Merkel lebih telak lagi. Pada hari Jumat (29/5/2020), Merkel menolak undangan Trump untuk menghadiri pertemuan kelompok G-7 di AS di akhir Juni. "Terima kasih atas undangannya," kata Merkel. Akan tetapi dia katakan lebih memilih mengamati perkembangan global termasuk Covid-19. Ini menjadi alasannya menolak undangan Trump.

Masalah domestik

Daripada ribut soal China, Trump sebaiknya memikirkan jeritan petani AS yang terpukul retaliasi dagang oleh China, membalas sanksi tarif dari Trump terhadap impor asal China. Bagaimana menyerang China tanpa berefek pada kepentingan petani AS yang mengekspor ke pasar China,demikian gugatan CNN, 22 Mei lalu.

Trump juga pasti dikecam dengan kematian warga kulit hitam AS, George Floyd, yang tewas akibat disiksa polisi kulit putih AS. Isu ini diteriakkan Joe Biden, yang akan menghadapi Trump pada pemilu 2020 ini. Masalah ketimpangan dan rasisme di AS tidak membaik.

Lebih jauh, China tentu tidak akan diam dan nyatanya selalu membahas setiap serangan AS bagaimanapun kerasnya teriakan AS. Jika perlu, China tidak akan segan bertindak lebih keras di Hong Kong jika itu terkait kedaulatan negara China.

AP/STAR TRIBUNE/RICHARD TSONG-TAATARII

Para pengunjuk rasa bentrok dengan Garda Nasional di dekat Precinct ke-3 sebelum menuju ke Danau St. menuju Precinct ke-5. di Minneapolis, Minn., Jumat, 29 Mei 2020. Protes damai berubah semakin keras setelah kematian George Floyd selama penangkapan.

Sebagaimana diketahui, parlemen China, Kamis (28/5/2020), telah menyusun draf keamanan nasional terkait Hong Kong, termasuk potensi pencabutan status semi otonomi Hong Kong. "China ingin memperihatkan sikapnya soal kedaulatan dan ini menjadi alasan mengapa draf itu disetujui," kata Christopher Johnson, dari China Studies di the Center for Strategic and International Studies.

Sebagaimana dikatakan Rice, bukankah Trump juga sering memuji Presiden China Xi Jinping? Trump bahkan sangat senang melayani China untuk kepentingan personal, termasuk potensi bagi putrinya Ivanka mengantongi banyak kepentingan dagang. (AP/AFP/REUTERS)

Kompas, 30 Mei 2020

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

SISI LAIN BUNG KARNO: Bung Karno sebagai Aset (MIKKE SUSANTO)


KOMPAS/PRIYOMBODO

Mural Bung Karno dan Bung Hatta di Galeri Foto Jurnalistik Antara (3-3-2020).

Bulan Juni kali ini punya "keramat" tersendiri. Perhitungannya istimewa. Menjelma menjadi memori dan ingatan penting bahwa kebudayaan bukan untuk dipermainkan.

Tepat menjelang 75 tahun Indonesia merdeka, umur Pancasila pun memasuki usia yang sama, yaitu 75 tahun. Di bulan Juni 2020 ini, lambang Garuda yang disahkan pada sebelas Februari menginjak usia 70 tahun. Dan pada dua puluh satu Juni 2020, kita memperingati 50 tahun meninggalnya presiden pertama RI, Ir Soekarno.

Jadi, ada tiga angka yang saling terkoneksi: 7, 5, dan 0. Jika memakai ilmu otak-otik gathuk, angka 7 bisa berarti simbolisasi jumlah presiden Indonesia. Sementara angka 5 adalah jumlah pasal dasar negara RI yang diakui sampai saat ini. Adapun angka 0 bisa berarti macam-macam, tergantung dari mana posisi Anda. Saya tak ingin memastikannya.

Mungkin terasa serba kebetulan, ya? Tapi, mari kita telusuri opini saya di bawah ini.

Jika bulan Juni diingat sebagai "Bulan Bung Karno", itu sah adanya. Sebab, bicara tentang Bung Karno artinya sama dengan bicara tentang Indonesia. Indonesia jelas bukan berasal dari warisan keluarga atau dinasti. Indonesia terbentuk dari hasil perjuangan berdarah-darah yang dirakit berkat kerja sama dan ide brilian banyak orang. Dari sinilah sekelompok suku bangsa dan sejumlah agama bersepakat menjadi satu. Memadu diri menjadi sebuah bangsa yang lebih besar dan bermartabat.

Jika bulan Juni diingat sebagai "Bulan Bung Karno", itu sah adanya. Sebab, bicara tentang Bung Karno artinya sama dengan bicara tentang Indonesia.

Salah satu di antaranya adalah Bung Karno. Sosok ini menjadi teladan penting, utamanya dalam khazanah sejarah perjuangan kemerdekaan hingga di paruh pertama abad ke-20. Selain sebagai pejuang, politikus, dan akhirnya menjadi presiden perdana, Bung Karno juga seorang budayawan. Lebih tepatnya adalah seorang pencinta seni.

Bung Karno sebagai patron

Selama menjabat sebagai presiden, Bung Karno tidak pernah melewatkan kesempatan untuk dekat dengan seni. Entah saat di Istana, di luar, ataupun berkunjung ke negara lain. Setiap pertemuan yang berurusan ekonomi dan politik sekalipun dipakainya pula untuk mempromosikan budaya Nusantara. Bukti mengenai hal ini luar biasa banyak.

Di luar perkara sebagai promotor dan komunikator budaya, ia juga sebagai arsitek bangsa. Cara berpikirnya mirip kerja kurator seni dalam mengelola negara. Ia mengimajinasikan Indonesia sebagai galeri ataupun kanvas yang siap dikelola. Termasuk karya seni—tradisi ataupun modern—dipakai sebagai peranti/penanda ruang dan waktu: monumen kota, wilayah, dan peristiwa.

Pikirannya tiga dimensional, yaitu menghormati adab, kebaikan, dan keindahan.

Pikirannya tiga dimensional, yaitu menghormati adab, kebaikan, dan keindahan.

Maklum saja, Bung Karno memanifestasikan seni tidak sebagai sebentuk hasil (peradaban) semata, tetapi juga sebagai strategi. Artinya proses juga dipikirkan sebagai sarana mengenali diri, sekaligus pembentukan citra dan jati diri bangsa. Maka di kala republik ini masih sangat belia, pidato-pidatonya menjadi sarana berproses.

Foto-foto dirinya menjadi "pendingin" suasana rumah, pemberi keyakinan akan kemerdekaan, sekaligus penanda perjuangan nasional bagi pemasangnya. Di tengah kondisi serba kekurangan dan kelaparan, ia mampu menghibur sekaligus terus menyemangati jiwa rakyat untuk menuju hasil akhir: bangsa yang berdaulat dan sejahtera.

DOKUMENTASI MIKKE SUSANTO

Bung Karno didampingi pelukis Istana, Dullah, berkunjung ke Museum Seni Lukis Tretyakovskaya, Rusia, tahun 1955.

Rekreasi seni

Sebagai manusia, ia juga butuh rileksasi dan rekreasi. Rileks baginya adalah "bersama seniman dan karya seni". Bung Karno bukanlah tipe manusia yang suka rekreasi ke suatu tempat, lalu bermalasan atau diam bermanja ria. Dalam setiap kunjungannya ke mana saja, hal yang harus ditandai dari sejumlah foto adalah kebersamaannya dengan seniman.

Salah satu pelukis yang sangat dekat adalah Dullah, yang diangkatnya sebagai pelukis Istana pada 1950-1960. Kedekatan mereka lahir batin. Seperti kesaksian Dullah dalam bukunya Bung Karno: Pemimpin, Presiden, Seniman (2019), yang menulis untuk istrinya sebagai berikut.

Kadang-kadang saat hanya berempat dengan Mega saja. Malahan kalau kebetulan sedang melukis, makan siangnya pun hanya di studio, bukan di ruang makan biasanya. Kau ingat, waktu itu di studio. Mega yang masih kanak-kanak itu pada waktu mau mulai makan nyeletuk kepada Bung Karno, "Idiiih, Bapak tidak malu."

"Opo, nduk?" tanya Bung Karno.

"Ada Bu Dullah, Bapak kok cuma pakai celana kolor aja." Bung Karno ketawa terbahak-bahak dan menjawab, "Bu Dullah sama Pak Dullah kan lain. Kau belum lahir, Bapak sudah sama Pak Dullah Bu Dullah. Jadi sudah bukan orang lain lagi."

Keakraban dan makan pakai kolor di studio lukis pun bagian dari rileksasi baginya. Bahkan bila acara kenegaraan belum atau usai dilaksanakan, tidak jarang ia memanggil seniman ke Istana. Bahkan justru ia yang mendatangi studio seniman atau nontonpameran hanya untuk ngobrol. Selebihnya, rileks memandangi, memeriksa, membenahi, dan mengganti pigura lukisan di Istana jadi hiburan yang sangat berarti baginya.

Dalam setiap kunjungannya ke mana saja, hal yang harus ditandai dari sejumlah foto adalah kebersamaannya dengan seniman.

Ia menyadari bahwa karya seni bersifat abadi, jauh lebih panjang usianya daripada manusia. Untuk itulah Bung Karno selalu menyuguhkan seni Indonesia sebagai bagian dari citra bangsanya.

Bung Karno dan seniman

Bersama seniman bisa ditautkan dalam dua agenda: formal dan nonformal. Secara formal berurusan dengan agenda kenegaraan. Hal ini seringkali terkait dengan urusan perjuangan dan promosi kebudayaan ke luar negeri. Sekaligus untuk memberi dukungan formal sebagai kepala negara dalam setiap agenda budaya di dalam negeri, termasuk menunjuk pelukis Henk Ngantung sebagai Gubernur DKI pada  1964.

Adapun dalam urusan nonformal tentu terkait dengan kebutuhan individunya, baik sebagai kolektor maupun seniman. Kedua agenda ini terkadang sering dilakukan bersamaan guna berbagai kebutuhan, termasuk untuk mengoleksi lukisan. Soekarno merasa kesepian tanpa ditemani pelukis. Inilah alasan ia mengangkat pelukis Istana selama menjabat sebagai presiden.

Soekarno merasa kesepian tanpa ditemani pelukis. Inilah alasan ia mengangkat pelukis Istana selama menjabat sebagai presiden.

Dekat dengan seniman adalah katarsis bagi Bung Karno. Sifat-sifat kesenimanannya yang terkadang sulit dibendung akhirnya dilimpahkan kepada para pelukis dan lukisan. "Inilah hakikat bahwa jiwa seniman memang lebih peka daripada yang bukan seniman," kata Dullah dalam bukunya.

Sebaliknya, seniman pula yang menanggung haru apabila melihat sesuatu yang bagi orang lain tidak menimbulkan kesan apa-apa. Seniman di mana-mana bisa mendapatkan kebahagian batin. Karena itulah, meskipun nyaris tiada waktu bagi seorang presiden, Bung Karno punya kreativitas tersendiri untuk menyeimbangkan diri dan menikmati kebahagiaan.

DOKUMENTASI MIKKE SUSANTO

Bung Karno sebagai model pematung Isamu Noguchi, 18 Maret 1950. Sumber Madjalah Merdeka, 25 Maret 1950.

Aset sejarah-ekonomi

Periwayatan Bung Karno baik sebagai politikus, presiden, maupun seniman dapat dimanfaatkan sebagai aset yang berharga. Ratusan pustaka yang telah terbit selama ini, baik yang ditulisnya sendiri maupun oleh orang lain, menandai keberadaannya. Dalam khazanah sejarah, arsip pidato, tulisan, lukisan, karikatur, serta tuturan dan kisah yang menjadi bagian dari Bung Karno memiliki nilai yang luar biasa. Tepatnya sebagai warisan bernilai tak-benda (intangible heritage).

Dalam konteks penilaian aset, aspek sejarah menjadi salah satu tulang punggung penting di dalamnya. Jika sebuah warisan memiliki periwayatan yang berkualitas dan penting bagi publik, tentu memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Lalu, bagaimana "menjual"-nya? Salah satunya tentu dengan menjadikan topik atau kurasi dalam berbagai program yang intensif, di antaranya dapat berupa pameran yang berdimensi sejarah, yang dikemas secara global.

Melalui Bung Karno, citra Indonesia dapat dibayangkan sekaligus dipantulkan. Bukan saja membayangkan Indonesia hanya dalam khazanah sumber daya alam  untuk dijual, tetapi negara juga perlu melakukan tindakan strategis untuk menglobalkan (menjual) kisah-kisah sejarah salah satu orang paling berjasa di negeri ini.

Jadi, bulan Juni bukan lagi perkara hujan, merunut salah satu penyair kita, tetapi lebih tentang kepatuhan dan rasa hormat kita kepada pahlawan bangsa. Selebihnya tinggal memanfaatkannya sebagai aset budaya tak benda yang layak "jual". Jika masih belum mampu, bisa jadi budaya kita masih berada di titik nol. Harganya bisa ditaksir masih Rp 0.

DOKUMENTASI MIKKE SUSANTO

Bung Karno dan Kepala National Gallery Amerika Serikat, David Findley Jr, Mei 1956.

(Mikke Susanto; Kurator Seni, Staf Pengajar ISI Yogyakarta)

Kompas, 30 Mei 2020

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.
Powered By Blogger