Bidvertiser

Senin, 01 Agustus 2011

Teroris dari Eropa

Jum'at, 29 Juli 2011, 18:29 WIB
Renne R.A Kawilarang
VIVAnews--Di rumah sederhana itu, Jens Stoltenberg, sang Perdana Menteri Norwegia, kini bekerja. Di pekarangan belakang, ada air mancur, taman kecil dan segerumbul bunga Aster ungu sedang mekar. Sejumlah staf tampak sibuk bekerja dengan laptop. Ada pengawal, tapi mereka tak hadir mencolok. Dari rumah itu, Stoltenberg kini memimpin Norwegia. Kantor resminya di Oslo rusak berat, setelah dilantak bom laknat, Jumat, 22 Juli 2011 lalu.

"Rumah ini bicara banyak tentang Norwegia," ujar Stoltenberg, seperti dikutip dari laman TIME.com. Rumah bersahaja itu seperti mengecilkan jarak, antara pemimpin dan rakyat. Dia mengatakan, di Norwegia, pemimpin politik dan rakyat memang dekat. Itu pula yang membeuatnya yakin, bahwa Norwegia segera pulih, setelah aksi gila seorang teroris itu.

Pada pekan Norwegia dirundung duka, Stoltenberg bekerja keras. Dia berkunjung ke komunitas warga, berbicara dan kadang diakhiri dengan airmata, bahwa Norwegia harus diselamatkan dari ketakutan, dan ketidakpastian. Begitu aksi itu diketahui dilakukan oleh warga Norwegia, Stoltenberg paham bahwa dia menghadapi persoalan baru yang berbeda. [Lihat "Ini Sikap Norwegia Menanggapi Teroris"]
Bagi rakyat Norwegia, serangan bom di Oslo, dan penembakan brutal di Pulau Utoya 22 Juli 2011 lalu ibarat mimpi. Semua terjadi dalam hitungan jam. "Ini bukanlah seperti biasa kita saksikan di Norwegia," ujar jurnalis Norwegia, Anne Marte Blindheim. "Bangunan bertingkat tinggi, dan semua jendelanya hancur. Ada darah, kertas bertebaran, sejumlah mobil remuk, dan ada yang habis terbakar," kata Blidnheim, seperti dikutip harian The Telegraph. [Lihat "VIDEO: Situasi Setelah Ledakan Norwegia"]
Oslo, dikenal dunia sebagai tempat tenang, jauh dari kekerasan, dan rutin menggelar penganugerahan Nobel Perdamaian Dunia. Tapi, 22 Juli kemarin, kota berubah bak zona perang, menyusul ledakan bom yang menghancurkan sejumlah gedung, termasuk kantor Perdana Menteri Jens Stoltenberg.

Lebih dari itu, satu aksi brutal terjadi di Pulau Utoya, sekitar 30 km dari Oslo. Saat itu para remaja peserta kamp pelatihan kaum muda Partai Buruh menuruti perintah seorang berpakaian seperti polisi agar berkumpul di lapangan. Mereka diminta berjaga-jaga, agar tak diserang bom seperti penduduk di Oslo beberapa jam sebelumnya.

Tapi, inilah jahanamnya, sesudah anak-anak muda itu berkumpul, si 'polisi' gadungan mengeluarkan senapan mesin. Peluru berdesing, dan puluhan anak muda itu pun romboh bersimbah darah. Ada 68 pemuda Partai Buruh tewas di ladang pembantaian Pulau Utoya. Di Oslo, aksi bom menewaskan 8 jiwa, dan puluhan luka-luka.
Si pelaku, yang menyaru polisi itu, tertangkap. Dia bukan anggota Al-Qaidah seperti dugaan media Barat. Matanya biru, dan rambutnya pirang. Dialah Anders Behring Breivik, lelaki 32 tahun, warga asli Norwegia. Dia pelaku aksi pembantaian di Utoya, dan juga pengebom gedung di Oslo itu. [Baca juga "Breivik, Teroris Anti-Islam Pengebom Oslo"]
Polisi mengangkap Breivik di Pulau Utoya, dan investigasi atas ulahnya dilakukan secara maraton. Prosesnya cepat. Dua hari setelah kejadian, Breivik diseret ke pengadilan. Tuduhannya baginya jelas, melakukan aksi terorisme. Untuk kepentingan investigasi, Breivik juga ditahan selama delapan pekan. Empat pekan pertama, dia harus meringkuk di sel isolasi. Tak boleh menerima surat, atau juga kunjungan.

Selain tuduhan aksi terorisme, tim penuntut juga berencana mendakwa Breivik dengan tuduhan kejahatan atas kemanusiaan yang, menurut undang-undang di Norwegia, berbobot hukuman penjara selama 30 tahun.

Tapi, Breivik tak takut. Bahkan, diseret ke pengadilan sudah menjadi bagian dari rencana selanjutnya. Pada sidang pertama di Pengadilan Oslo, 25 Juli 2011, wajah Breivik terlihat tenang, seperti tak terjadi apa-apa. Dia mengakui segala melakukan perbuatan jahat itu. Tapi pengadilannya tertutup, dan Breivik tak diberi kesempatan berbicara kepada media.

Sebelum tampil di pengadilan, menurut pengacaranya, Breivik terang-terangan menyatakan aksi keji itu dia lakukan karena pandangan anti Islam, anti imigran, dan anti sosialis --pandangan yang jelas bertentangan dengan kebijakan pemerintah Norwegia, di bawah pimpinan Partai Buruh.

Jaringan Eropa?

Kepala Kepolisian Norwegia, Sveinung Sponheim, juga mengungkapkan Breivik adalah seorang berpaham sayap kanan. Rupanya, sebelum beraksi, Breivik pernah mempublikasikan pandangan politiknya, berupa manifesto setebal 1.518 halaman ke internet. Dokumen itu berjudul 2083 – A European Declaration of Independence.

Dokumen itu kini sedang diteliti para penyidik Norwegia, dengan satu penyelidikan ketat untuk memisahkan mana yang fantasi, dan tipu muslihat Breivik. Norwegia juga meminta bantuan Europol, badan polisi Eropa, meskipun negeri itu tak bergabung ke Uni Eropa. Para pejabat intelijen Norwegia juga terbang ke Brussel pada 27 July 2011, untuk membahas sejumlah temuan dengan kolega mereka di Uni Eropa. Terutama, klaim Breivik bahwa dia punya jaringan dengan sel teroris di luar Norwegia.

Tentu saja para pejabat Uni Eropa pun bersiaga. Mereka juga mengulik kaitan Breivik dengan organisasi sayap kanan lainnya di Eropa. Misalnya, Breivik menyatakan dia punya kontak erat dengan English Defence League (EDL). Ini organisasi berbasis di inggris, dan kini giat mencegat kaum Muslim di jalan-jalan di Inggris. Polisi juga menduga EDL punya kaitan dengan organisasi sejenis di Norwegia, yang disebut NDL. [Lihat Infografik: "Gelombang Ekstrim Kanan di Eropa"]

Manifesto ekstrim

Menggunakan nama pena, Andrew Berwick, Breivik menjabarkan segenap pandangan ekstrim: dari supremasi budaya, populisme sayap kanan, anti Islam, dan zionisme ultra kanan. Dia juga menghendaki Eropa harus bersih dari pengaruh Islam, Marxisme, dan multikulturalisme. Manifesto itu juga punya mimpi besar, dan mengancam: dia hendak menjungkalkan demokrasi liberal di Eropa, dan menggantinya dengan otoritas konservatif se-Eropa.

Dalam manifesto itu, Breivik membanggakan diri sebagai "Laskar Kristen" sejati. Tapi, tafsiran arti "Kristiani Sejati," yang diyakininya berbeda jauh dengan ajaran di Kitab Suci. Di sini, Breivik menonjolkan supremasi orang kulit putih Eropa sebagai seorang Kristiani Sejati. "Saat kita menghadapi perang budaya, menjadi seorang Kristiani tak harus membangun hubungan personal dengan Tuhan atau Yesus," tulis Breivik, seperti dikutip laman World Net Daily. "Menjadi Kristiani bisa mengandung banyak hal, yaitu bahwa kita percaya akan dan ingin melindungi warisan budaya Kristen Eropa."

Breivik juga menyerang multikulturalisme di Eropa, yang menjadi dunia terbuka bagi para kaum imigran berbeda agama dan ideologi. "Salah satu manifestasi dari kegilaan di dunia kita ini adalah multikulturalisme," tulis Breivik. Dia juga menyebut proses "Ghetofikasi" tengah melanda Eropa. Sebab, kaum imigran kurang berbaur dengan penduduk setempat.

Dokumen Breivik itu -sebagian berupa hasil diskusi politik, pandangan pribadi, dan juga rencana aksi. Intinya, dia percaya Eropa akan dilanda perang saudara selama puluhan tahun. Perang itu akan berakhir pada 2083. Tandanya adalah musnahnya kaum Marxis Eropa, dan terusirnya kaum Muslim dari benua itu. Entah bagaimana hubungannya, 2083 itu bertepatan 200 tahun meninggalnya Karl Marx, peletak dasar Marxisme.

Pengamat masalah internasional, semisal komentator di SkyNews Tim Marshall, mengatakan manifesto Breivik mirip atau bisa jadi terinspirasi oleh pola pikir neo-Nazi. "Pola pikir neo-Nazi berawal dari premis bahwa Marxisme akan menjangkiti Eropa, yang menyebabkan terkikisnya nasionalisme, dan pada akhirnya muncul liberalisme dan multikulturalisme," kata Marshall.

Manifesto Breivik itu mengadopsi pola pikir demikian. "Pada tingkat lokal, dia menyalahkan Partai Buruh, yang tengah berkuasa, karena menerapkan multikulturalisme di Norwegia yang, menurut dia, akan menghancurkan negerinya. Tulisan dia juga sarat dengan sentimen anti Islam," kata Marshall.

Mengancam Eropa

Kepala Badan Intelijen Domestik Norwegia, Janne Kristiansen, kepada BBC mengaku belum menemukan bukti Breivik berkomplot dengan pihak lain. Tapi menurut pengamat, aksi dan tulisan Breivik itu memperkuat tanda munculnya kembali sayap kanan di Eropa. Ini juga reaksi atas derasnya arus migrasi pendatang Muslim dari Afrika dan Timur Tengah ke Eropa, dan kian kuatnya nilai sosialisme, yang diyakini diadopsi dari ajaran Marx.

Bahkan, pertentangan paham multikulturalisme dengan gerakan ekstrim kanan di Eropa kian meresahkan pemerintah sejumlah negara Eropa. Mereka khawatir konflik kaum pendatang dan sebagian warga setempat, terutama terkait perbedaan kepercayaan dan agama, membuat multikulturalisme di Eropa bakal gagal.
Suara resah itu sempat terdengar dari Kanselir Jerman, Angela Merkel. Dia pemimpin Eropa pertama yang bicara masalah itu. Jerman dianggap gagal menciptakan masyarakat multikultural. Suasana saling menghormati dan hidup rukun di antara warga Jerman yang berasal dari beragam latar belakang dan budaya masih sulit diwujudkan. [Lihat "Jerman Melawan Neo-Nazi"]

"Multikultural, konsep yang menekankan bahwa 'kita kini bisa hidup berdampingan dan bahagia,' masih belum jalan," kata Merkel seperti dikutip laman Sydney Morning Herald. Saat itu, Merkel berbicara di depan forum kaum muda Partai Uni Demokratik Kristen (CDU) di Postdam pada 16 Oktober 2010. "Pendekatan ini telah gagal total," kata Merkel.

Pernyataan itu tampaknya lebih sebagai rasa frustrasi Merkel karena orang Jerman rupanya belum tulus menerima pendatang. Ada jajak pendapat, orang-orang Jerman masih menganggap sinis kaum pendatang. Para imigran itu dinilai hanya ingin mengeruk keuntungan dari sistem kesejahteraan sosial di Jerman. Mereka harus dipulangkan ke negara asal, saat lahan pekerjaan di negara itu mulai susah didapat.

Pimpinan komunitas Yahudi di Jerman, juga memperingatkan masyarakat dan demokrasi di Jerman kembali terancam pengaruh ekstrimisme. Pekan lalu, pemimpin negara bagian Bavaria dari Partai CDU, Horst Seehofer, menyerukan agar pemerintah menghentikan penerimaan para imigran dari Turki dan negara-negara Arab.

Sebelumnya, mantan pejabat Bank Sentral Jerman (Bundesbank), Thilo Sarrazin, menulis buku mengenai bagaimana sebagian besar dari 16 juta imigran di Jerman gagal berbaur dengan penduduk asli. Hal itu, kata Sarrazin, berperan bagi turunnya performa ekonomi Jerman. Buku yang bersentimen rasial itu membuat Sarrazin dipecat dari Bundesbank.

Perdana Menteri Inggris, David Cameron, awal tahun ini juga menyiratkan semangat multikultural belum berhasil diterima semua masyarakat. "Kita telah mendorong berbagai budaya untuk berbaur, dan saling menghargai, terlepas perbedaan dari satu sama lain," kata Cameron dalam suatu Konferensi Keamanan di Munich, Jerman, 5 Februari lalu. Kegelisahan serupa juga dilontarkan Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy.

Di Belanda, ujung tombak ekstremis sayap kanan kini adalah politisi bernama Geert Wilders. Dengan mengusung isu Islamophobia, Wilders berhasil membawa partainya, Partai untuk Kebebasan, meraih 24 kursi di parlemen pada pemilu 2010. Partai itu kini menjadi kekuatan politik nomor tiga di Belanda. Sebelumnya, pada 2007, Wilders dikecam umat Muslim setelah membuat film pendek berdurasi 17 menit, Fitna, yang mendiskreditkan ajaran Islam.

Kini, dengan merebaknya sayap kanan ektstrim, banyak kalangan pesimis dengan politik toleransi di Eropa. Seorang pengamat budaya Eropa Daniel Greenfield bahkan berujar sinis, "Multikulturalisme adalah mitos."(np)
• VIVAnews