Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 20 Januari 2026

BELAJAR MENJADI ODYSSEUS DI INDONESIA 2026 (@PormadiChannel ) #resiliens...

Oleh Pormadi Simbolon

 

Tahun 2025 sudah berlalu, berbagai persoalan datang bertubi-tubi melanda dunia global dan nasional. Sebut misalnya, konflik geopolitik, cuaca ekstrim, bencana alam, dan disrupsi teknologi serta ketidakpastian ekonomi. Persoalan tersebut masih menggerogoti dunia, termasuk Indonesia. Untuk itu, bagaimana kita harus menghadapi semua persoalan di tahun 2026?

 

Ketika dunia memasuki tahun 2026 dengan kecemasan yang kian menebal—konflik geopolitik yang berlarut, krisis iklim yang semakin ekstrem, serta disrupsi teknologi yang mengubah cara manusia bekerja dan berpikir—The Economist justru mengajak pembacanya menoleh ke kisah kuno: Odyssey karya Homer.

 

Pilihan ini terasa ironis sekaligus relevan. Sebab, seperti dicatat The Economist, “the defining feature of the coming years is not a single crisis, but a persistent state of uncertainty.” Dunia tidak sedang menghadapi satu badai, melainkan hidup di laut yang terus bergelombang.

 

Odysseus adalah kisah perjalanan pulang yang panjang dan penuh penundaan. Odysseus membutuhkan sepuluh tahun untuk kembali ke Ithaka setelah Perang Troya. Ia kehilangan kawan, menghadapi badai, tipu daya, dan godaan yang membuatnya nyaris lupa tujuan hidupnya sendiri. Kepahlawanannya tidak terletak pada kemenangan spektakuler, melainkan pada kemampuan bertahan, berpikir, dan tetap setia pada tujuan. Inilah tipe kepahlawanan yang terasa dekat dengan tantangan Indonesia menjelang 2026.

 

Sosiolog Zygmunt Bauman menyebut kondisi dunia semacam ini sebagai modernitas cair: tatanan sosial yang berubah cepat, tidak stabil, dan penuh ketidakpastian. Dalam kondisi cair, institusi kehilangan kepastian jangka panjang, identitas menjadi rapuh, dan individu dipaksa terus beradaptasi tanpa jaminan perlindungan. Indonesia hidup sepenuhnya dalam kondisi ini. Perubahan kebijakan yang cepat, disrupsi digital, ketimpangan sosial, serta krisis ekologis memperlihatkan betapa cairnya fondasi kehidupan bersama. 

 

Perubahan yang cepat

 

Perubahan bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia dan institusi membangun kebiasaan dan kepastian. Indonesia hidup sepenuhnya dalam kondisi ini: kebijakan berubah cepat, teknologi melaju tanpa jeda, sementara masyarakat dipaksa terus menyesuaikan diri.

 

Dalam dunia yang cair, figur Odysseus menjadi metafora yang kuat. Ia bukan pahlawan ala Achilles yang mengandalkan kekuatan frontal, melainkan pahlawan yang mengandalkan metis (bah. Yunani) - kecerdikan, kehati-hatian, dan kemampuan membaca situasi.

 

Dalam konteks kebijakan publik Indonesia, ini berarti negara tidak bisa mengandalkan pendekatan reaktif atau populis. Persoalan pendidikan, kesehatan mental anak, kecerdasan buatan, dan krisis ekologis membutuhkan kebijakan adaptif yang berpijak pada nalar dan etika, bukan sekadar kecepatan atau pencitraan.

 

Episode Sirene dalam Odyssey memberikan pelajaran simbolik yang kuat. Odysseus tahu nyanyian Sirene mematikan. Ia memilih mendengar, tetapi juga mengikat dirinya pada tiang kapal. Ia menikmati suara tanpa kehilangan kendali.

 

Dalam bahasa kebijakan publik, ini adalah metafora tentang pembatasan diri yang sadar melalui regulasi. Indonesia hari ini menghadapi Sirene modern: euforia teknologi digital, eksploitasi sumber daya alam, dan ekonomi atensi (Ekonomi atensi merujuk pada kondisi ketika platform, media, dan teknologi bersaing untuk merebut, menahan, dan memonetisasi perhatian manusia. Dalam dunia yang dibanjiri informasi, yang langka bukan informasi, melainkan perhatian). Tanpa regulasi yang kuat—perlindungan data anak, etika AI, penegakan hukum lingkungan—negara bisa terpesona oleh janji kemajuan yang justru menghancurkan masa depan.

 

Pelajaran dari Odysseus

 

Bauman mengingatkan bahwa dalam modernitas cair, tanggung jawab sering dialihkan dari sistem ke individu. Warga dituntut adaptif, tangguh, dan mandiri, sementara akar masalah—ketimpangan, regulasi lemah, pasar yang liar—tetap tak tersentuh. Dalam konteks ini, menjadi Odysseus berarti negara berani mengikat diri pada konstitusi dan keadilan sosial, agar perubahan tidak menjadikan warga korban.

 

Tujuan akhir Odysseus juga patut direnungkan. Ia tidak mencari kerajaan baru, melainkan nostos—pulang ke rumah. Dalam konteks Indonesia, “rumah” itu adalah kesejahteraan rakyat, keutuhan sosial, dan kelestarian lingkungan. Pembangunan yang mengorbankan alam, pendidikan yang mengabaikan kesehatan mental anak, atau transformasi digital yang memperlebar kesenjangan justru menjauhkan kita dari rumah bersama. Seperti diingatkan Bauman, kebebasan berinovasi tanpa perlindungan sosial hanya melahirkan kecemasan kolektif.

 

Menariknya, ketika Odysseus akhirnya tiba di Ithaka, ia tidak tampil sebagai pahlawan penuh kemegahan. Ia menyamar sebagai pengemis—mengamati, mendengar, dan menilai sebelum bertindak. Ini adalah kritik halus terhadap politik modern yang gemar tampil cepat dan keras. Dalam konteks Indonesia, kepemimpinan publik ke depan membutuhkan kerja sunyi, kebijakan berbasis data dan empati, serta keberanian mendengar suara kelompok paling rentan.

 

Sejalan dengan itu, The Economist mengingatkan bahwa keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh lompatan besar, melainkan kemampuan menavigasi risiko yang saling  bertumpuk. Dunia yang cair tidak membutuhkan pahlawan yang tergesa-gesa, tetapi penavigasi yang sabar.

 

Tahun 2026 akan menuntut negara hadir bukan sebagai penonton perubahan, tetapi sebagai penunjuk arah. Dalam dunia penuh guncangan, seperti ditulis The Economist, “in an age of shocks, resilience matters more than speed.” Daya tahan lebih penting daripada kecepatan. Odyssey mengajarkan bahwa bertahan bukan berarti pasif, melainkan aktif menjaga arah di tengah badai.

 

Indonesia tidak kekurangan energi dan kreativitas. Yang sering hilang adalah kesabaran, kehati-hatian, dan keberanian untuk mengikat diri pada nilai. Belajar dari Odysseus, kepahlawanan hari ini bukan tentang menaklukkan dunia global, melainkan tidak kehilangan kemanusiaan, keadilan, dan rumah bersama. Di tengah modernitas cair, menjadi gaya Odysseus adalah teladan dan pilihan etis—baik bagi individu maupun negara.

 

Pormadi Simbolon, pemerhati isu pendidikan dan kebudayaan, alumnus pascasarjana STF Driyarkara Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger