Di tengah dunia yang serba cepat, penuh notifikasi, dan mudah berubah,
Zygmunt Bauman mengajak kita belajar satu hal penting: berpikir sosiologis.
Bukan untuk jadi akademisi, tapi untuk jadi manusia yang lebih sadar dan bertanggung jawab.
Tip pertama: Jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri.
Menurut Bauman, banyak masalah pribadi—stres, cemas, rasa gagal—bukan semata kesalahan individu. Sering kali, itu gejala dari sistem sosial yang tidak adil.
Berpikir sosiologis membantu kita bertanya: “Ini salahku, atau ada struktur yang bermasalah?”
Tip kedua: Waspadai dunia yang cair.
Di zaman liquid modernity, semua serba sementara: pekerjaan, relasi, bahkan nilai hidup.
Bauman mengingatkan: jangan larut begitu saja.
Kita perlu pegangan nilai agar tidak hanyut oleh arus tren dan algoritma.
Tip ketiga: Latih empati, bukan sekadar opini.
Berpikir sosiologis berarti melihat manusia lain bukan sebagai angka, konten, atau musuh debat,
melainkan sesama peziarah hidup.
Empati adalah bentuk perlawanan terhadap budaya acuh tak acuh.
Tip keempat: Berani bertanya “untuk siapa kemajuan ini?”
Teknologi dan pembangunan selalu terdengar menjanjikan.
Tapi Bauman mengajak kita kritis:
siapa yang diuntungkan, dan siapa yang ditinggalkan?
Tip kelima: Jadilah warga, bukan sekadar konsumen.
Hidup bukan hanya soal membeli, memiliki, dan menikmati.
Berpikir sosiologis mendorong kita terlibat, peduli, dan ikut merawat kehidupan bersama.
Di dunia yang cair, kesadaran adalah jangkar, dan kepedulian adalah kompas.
Itulah inti berpikir sosiologis ala Bauman. (PS)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar