Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 28 April 2015

Pilih Program Sarjana atau Diploma (INDIRA PERMANASARI)

Para murid tingkat akhir di sekolah lanjutan tingkat atas dan sederajat mulai berjuang masuk ke perguruan tinggi. Banyak pilihan tersedia, mulai dari jurusan, lokasi, dan kampus. Namun, yang tak kalah penting ialah pilihan program sarjana atau diploma. Apa beda kedua program itu?
Sejumlah mahasiswa  Universitas Negeri Jakarta  berdiskusi mengenai materi yang telah diberikan dosen, di perkuliahan semester pendek.
KOMPAS/ALIF ICHWANSejumlah mahasiswa Universitas Negeri Jakarta berdiskusi mengenai materi yang telah diberikan dosen, di perkuliahan semester pendek.

Tahun ini, sekitar 2,8 juta murid tingkat akhir jenjang pendidikan sekolah menengah atas baru saja menuntaskan ujian nasional dengan segala dramanya, mulai dari hiruk pikuk ujian berbasis komputer pertama, kebocoran soal, hingga heboh undangan pesta bikini "Good Bye UN".

Setelah semua hal tersebut berlalu, perjuangan para murid itu masih berlanjut. Jutaan dari mereka harus mulai menentukan masa depan. Tak hanya memikirkan dalam-dalam jurusan yang hendak diambil, pada pemilihan pendidikan tinggi, salah satu hal penting yang perlu dipertimbangkan ialah tujuan jangka panjang dalam menempuh pendidikan. Hal itu, antara lain, akan menentukan apakah individu sebaiknya memilih program sarjana (strata satu) atau diploma.

Selama ini terdapat kesan pendidikan vokasi dalam program diploma masih dipandang sebelah mata. Para siswa cenderung mengejar gelar sarjana. Terdapat perbedaan di antara kedua program pendidikan itu dan masing-masing memiliki tujuan dan kekuatan berbeda.

Sebagai acuan, kita lihat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Di Indonesia, pendidikan tinggi dibedakan menjadi dua. Pertama, pendidikan akademik yang memiliki fokus penguasaan ilmu pengetahuan. Kedua, pendidikan vokasi yang menitikberatkan pada persiapan lulusan untuk mengaplikasikan keahlian.

Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan program pasca sarjana yang diarahkan pada penguasaan serta pengembangan cabang ilmu pengetahuan dan teknologi. Harapannya, para peserta didik mampu mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penalaran ilmiah.

Pendidikan akademis menyiapkan mahasiswa menjadi intelektual berbudaya, mampu memasuki dan menciptakan lapangan kerja, serta mengembangkan diri menjadi profesional. Lulusan program sarjana berhak menggunakan gelar sarjana dan, jika diteruskan, dapat meraih gelar magister atau doktor.

Bagaimana dengan pendidikan vokasi? Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi program diploma yang menyiapkan mahasiswa untuk pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu sampai program sarjana terapan. Pendidikan vokasi dapat dikembangkan oleh pemerintah sampai program magister terapan atau program doktor terapan.

Lewat program diploma, lulusan pendidikan menengah atau sederajat dapat mengembangkan keterampilan dan penalaran dalam penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mahasiswa menjadi praktisi yang terampil untuk memasuki dunia kerja sesuai dengan bidang keahliannya.

Mahasiswa Politeknik  Manufaktur Astra  sedang menyelesaikan praktikum di kampus mereka, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
KOMPAS/RADITYA HELABUMIMahasiswa Politeknik Manufaktur Astra sedang menyelesaikan praktikum di kampus mereka, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Program diploma terdiri dari diploma 1, 2, 3, dan 4 (sarjana terapan). Lulusan program diploma berhak menggunakan gelar ahli atau sarjana terapan. Jika pendidikan diteruskan pada jalur itu, dapat diperoleh gelar magister terapan atau doktor terapan.

Meski ada perbedaan antara pendidikan jalur akademis dan vokasi, bukan berarti mahasiswa tidak bisa berpindah "jalur". Lulusan pendidikan vokasi atau lulusan pendidikan profesi dapat melanjutkan pendidikan pada pendidikan akademik melalui penyetaraan. Begitu pula sebaliknya dengan para lulusan akademik.

Penyelenggara pendidikan

Penyelenggara pendidikan tinggi dapat dibedakan, bertolak dari jenis pendidikan yang ditawarkan. Penyelenggara pendidikan akademis ialah universitas, institut, dan sekolah tinggi. Ketiganya dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi sesuai syarat. Pada dasarnya, ketika memasuki universitas, murid diproyeksikan untuk menempuh pendidikan akademik.

Sebaliknya, perguruan tinggi yang berbentuk politeknik, akademi, dan akademi komunitas hanya dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi. Jika politeknik dapat menyelenggarakan pendidikan dalam berbagai rumpun ilmu, akademi hanya menyelenggarakan pendidikan dalam satu atau beberapa rumpun ilmu dan teknologi tertentu. Bentuk lain, seperti akademi komunitas, hanya dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi setingkat diploma 1 dan 2 dalam cabang ilmu pengetahuan atau teknologi tertentu yang berbasis keunggulan lokal untuk memenuhi kebutuhan tertentu.

Terlepas dari berbagai bentuk pendidikan tinggi, tentu saja yang terpenting ialah pendidikan tinggi bermutu. Percuma ada begitu banyak perguruan tinggi dengan mahasiswa melimpah jika tidak terserap ke lapangan kerja lantaran lulusan tidak kompeten.?

Itu terlihat dari tingginya jumlah penganggur berpendidikan tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Agustus 2014, di Indonesia terdapat 9,5 persen (688.660 orang) dari total penganggur terbuka yang merupakan lulusan perguruan tinggi. Angka itu lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2013, persentase penganggur yang lulusan perguruan tinggi 8,36 persen (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79 persen (645.866 orang). Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu (Kompas, 29 Januari 2015).

Kualitas pendidikan yang ditawarkan perguruan tinggi juga harus dipertimbangkan. Pendidikan tinggi pada dasarnya merupakan sebuah investasi besar bagi individu sehingga harus dipikirkan masak-masak. Nah, kini saatnya memilih.

  •  
Sumber: ‎http://print.kompas.com/baca/2015/04/28/Pilih-Program-Sarjana-atau-Diploma 
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger