Cari Blog Ini

Bidvertiser

Jumat, 28 Februari 2014

TAJUK RENCANA: Lagi-lagi, Israel Bermain Api (Kompas)

TERBAYANG jelas bahwa proses perdamaian Timur Tengah, antara Israel dan Palestina, akan semakin rumit setelah Parlemen Israel mengusik Masjid Al Aqsa.
Hari Selasa lalu, Parlemen Israel, Knesset, memulai sesi debat untuk memaksakan kedaulatan Israel atas Kompleks Masjid Al Aqsa di Jerusalem. Tindakan Knesset itu segera memancing reaksi keras dari Jordania dan Palestina.

Parlemen Jordania membalas dengan menyetujui mosi untuk mengusir Duta Besar Israel untuk Jordania Daniel Nevo dan menarik duta besarnya dari Israel. Di Kompleks Al Aqsa juga pecah bentrokan antara polisi Israel dan polisi Palestina serta para demonstran Palestina.

Ibarat kata, Israel bermain api: mengobarkan api permusuhan dan mempertebal kebencian dari tidak hanya rakyat Palestina, tetapi juga Jordania. Inilah tindakan provokatif. Tindakan itu tidak hanya akan menciptakan atmosfer yang akan menyuburkan tindak kekerasan, kebencian, tetapi juga meningkatkan konflik.

Ada sementara pihak di Israel yang beranggapan atau bahkan mengklaim bahwa kawasan Temple Mount adalah bagian dari Israel yang direbut dari Jordania pada Perang 1967. Meskipun, sebenarnya lewat traktat perdamaian antara Israel dan Jordania 1994 disepakati bahwa Jordania mendapat hak untuk memelihara dan mengelola semua situs tempat suci umat Islam di Jerusalem Timur itu.

Bahkan, pada 31 Maret 2013, Jordania dan Palestina menandatangani "Kesepakatan Bersama untuk Mempertahankan Masjid Al Aqsa". Inti kesepakatan itu adalah mengakui bahwa Raja Jordania adalah pemelihara dan penjaga tempat-tempat suci di Jerusalem. Dengan demikian, Kompleks Masjid Al Aqsa termasuk di antaranya.

Isu Jerusalem—yang di dalamnya mencakup nasib Jerusalem ke depan, kawasan Al-Haram Al-Sharif atau Temple Mount yang di sana berdiri Masjid Al Aqsa dan The Dome of The Rock, Tembok Barat, tempat-tempat suci lainnya—merupakan isu paling inti dalam konflik Israel-Palestina. Dan, karena itu paling sulit serta paling krusial penyelesaiannya.

Saat Perundingan Camp David II (2000), masalah tersebut pernah dibicarakan antara PM Israel Ehud Barak dan Pemimpin Palestina Yasser Arafat dengan penengah Presiden AS Bill Clinton. Namun, perundingan tersebut tidak membuahkan hasil, termasuk tidak tercapai kesepakatan tentang kawasan Temple Mount. Dalam pertemuan Annapolis, masalah tersebut dibahas lagi, dan lagi-lagi tidak tercapai kesepakatan.

Akan tetapi, sebenarnyalah, kalau saja Israel memegang teguh perjanjiannya dengan Jordania, tidak akan muncul persoalan baru berkait dengan Masjid Al Aqsa. Di sinilah persoalannya: Israel mengingkarinya. Bisa diperkirakan bahwa tindakan Israel itu harus dibayar mahal. Artinya, perdamaian pun semakin jauh dari jangkauan.

Sumber: Kompas cetak edisi 28 Februari 2014
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger