Cari Blog Ini

Bidvertiser

Rabu, 26 Februari 2020

Mengajarkan Anak Mengelola Keuangan (JOICE TAURIS SANTI)


HANDINING

Anastasia Joice Tauris Santi, wartawan Kompas

Hingga saat ini, sebagian besar orangtua masih beranggapan bahwa membahas tentang masalah keuangan keluarga dengan anak merupakan hal yang tabu. Urusan uang adalah urusan orangtua, bukan urusan anak.

Padahal, dengan berbagi pengalaman dan berdiskusi tentang uang dapat membentuk kebiasaan dan pemahaman yang baik sejak dini.

Anak-anak merupakan peniru ulung. Orangtua yang boros dan selalu bertengkar tentang uang di depan anak-anak cenderung membuat anak-anak memiliki masalah yang sama. Juga ketika orangtua mencontohkan bagaimana menabung terlebih dahulu untuk membeli barang yang diinginkan, ikut membentuk kebiasaan anak.

Bicara tentang nilai uang, cara mendapatkan uang yang benar, cara mengelolanya, dan berinvestasi sebenarnya merupakan topik menarik yang dapat dibahas bersama anak-anak. Membicarakan uang dengan anak tentu harus mengikuti usia anak.

KOMPAS/PRIYOMBODO

Raihan dan Haikal membaca komik berjudul Avengers: Menyelamatkan Bumi di Jakarta, Jumat (4/5). Komik ini berisi pengetahuan dasar tentang keuangan, mengatur anggaran, dan menabung.

Misalnya, untuk anak prasekolah dan duduk di taman kanak-kanak, kita dapat memperkenalkan konsep menabung. Beberapa perencana keuangan menyarankan, tabungan tempat menampung uang sebaiknya transparan agar dapat terlihat pertambahan uang setiap kali anak memasukkan uangnya ke dalam celengan. Contohkan juga bagaimana uang akan berkurang dari celengan ketika dipakai untuk membeli sesuatu.

Sementara itu, kepada anak yang lebih besar, seperti anak usia sekolah dasar dan remaja, dapat diberikan contoh yang berbeda. Anak-anak seusia itu biasanya memiliki banyak keinginan. Kita dapat memulai pembicaraan dengan memberi contoh mengenai kebutuhan dan keinginan.

Ketika sepatu sekolah rusak, tetapi ada mainan dengan remote control yang menggoda, orangtua dapat mengarahkan anak untuk mendahulukan kebutuhan yang lebih penting dan menjadi prioritas untuk dibeli.

Pada usia ini pula, tidak jarang anak ingin memiliki sesuatu karena temannya juga memiliki barang tersebut. Orangtua dapat memberikan pemahaman, tidak semua barang yang dimiliki teman harus dimiliki juga. Ajarkan juga untuk menunda keinginan.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Seorang anak memilih mainan di sebuah toko mainan di Jalan Ciledug Raya, Jakarta Selatan, Kamis (6/6/2019). Kepada anak dan remaja, orangtua dapat mengajarkan untuk menunda keinginan.

Misalnya, anak hendak membeli sebuah barang seperti milik temannya. Mintalah dia untuk menahan membelinya selama satu pekan. Jika dalam satu pekan sudah tidak ada keinginan, artinya barang itu memang tidak diperlukan.

Anak seusia ini juga sudah dapat diajarkan untuk berusaha memenuhi kebutuhan sendiri. Misalnya, dengan memberinya imbalan ketika membantu pekerjaan orangtua.

Anak seusia ini juga sudah dapat diajarkan untuk berusaha memenuhi kebutuhan sendiri.

Ketika mereka membantu mencuci mobil atau membereskan rumah, orangtua dapat memberikan imbalan sewajarnya. Dengan contoh semacam ini, anak diharapkan paham, untuk memperoleh uang atau membeli kebutuhan, dibutuhkan kerja keras.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Anak-anak di Desa Golo Worok, Ruteng, Manggarai, NTT, memanggul kayu bakar yang diambil dari hutan yang tak jauh dari rumah mereka, Jumat (9/2/2018). Mereka membantu orangtua setiap pulang sekolah.

Edukasi untuk Anak SMA

Untuk anak yang sudah duduk di sekolah menengah atas (SMA), semakin banyak lagi pelajaran keuangan yang bisa diberikan. Anak-anak di usia ini sering kali iri dengan temannya dari keluarga dengan tingkat ekonomi berbeda.

Misalnya, ingin merayakan ulang tahun mewah seperti temannya. Orangtua dapat memberi pengertian remaja untuk menunda bermewah-mewah seperti itu dan uang untuk merasakan kemewahan seperti itu bisa dibelikan barang lain yang lebih berguna.

Jangan lupa juga mengajarkan anak untuk berbagi melalui berbagai cara. Izinkan juga anak untuk menjadi sukarelawan dalam berbagai bentuk dan organisasi.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah memberikan uang saku secara bulanan dan membiarkan mereka mengatur sendiri pengeluarannya. Memiliki anggaran pribadi dapat dimulai dari sini. Bukakan rekening bank untuk mereka sehingga mereka dapat belajar bertanggung jawab.

KOMPAS/ALIF ICHWAN

Sejumlah mahasiswa dari 16 kampus mencoba permainan yang diperkenalkan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (23/8/2018). Permainan ini untuk mengenalkan mahasiswa tentang investasi di pasar modal, baik di saham maupun reksa dana.

Kepada anak yang sudah kuliah, dapat diperkenalkan berbagai instrumen investasi. Saat ini, berinvestasi dapat dimulai dari Rp 10.000 saja untuk membeli reksa dana pasar uang. Caranya pun sangat mudah. Selain reksa dana, kepada anak yang sudah kuliah juga dapat diperkenalkan investasi pada obligasi ritel yang minimal investasinya Rp 1 juta.

Kebiasaan berinvestasi sejak dini membuat anak-anak akan terbiasa menyisihkan sebagian uangnya dan menahan keinginan sehingga mendapatkan manfaat lebih besar di kemudian hari.

Konsep bunga berbunga (compounding interest), inflasi yang menggerus nilai uang, juga sudah dapat diperkenalkan dan dapat menjadi contoh nyata ketika mereka berinvestasi. Demikian juga dengan berutang dengan bunga tinggi atau merencanakan membeli sesuatu di masa yang akan datang.

Pengetahuan tentang keuangan sejak dini akan membawa banyak manfaat bagi anak-anak. Pelajaran kehidupan soal pengelolaan keuangan sangat jarang ditemui di sekolah formal. Orangtua sangat berperan untuk membentuk kebiasaan finansial anak.

Kompasn 24 Februari 2020

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger