Cari Blog Ini

Bidvertiser

Minggu, 31 Mei 2020

EPILOG: Soto Siti Silaturahmi (PUTU FAJAR ARCANA)


Putu Fajar Arcana, Wartawan Senior Kompas

Setiap Lebaran tiba, di rumah selalu tersedia soto ayam Madura, lengkap dengan ketupat dari beras yang pulen. Menu ini kiriman keluarga Mas Pur, yang sedang merayakan Idul Fitri. Samar-samar dalam ingatanku, Mas Pur yang berpeci hitam mengetuk pintu rumah kami sembari berucap dalam logat Madura yang kental, "Assalamualaikum…." Kami sekeluarga menjawabnya dengan, "Waalaikumsalam…." Aku lihat ibu menerima rantang bersusun yang disodorkan Mas Pur. Pasti itu soto  ayam Madura.

Ketika masih kanak-kanak, aku cuma mengenal masakan Bali. Selain lawar yang rasanya pedas asin, aku juga mengenal komoh, yang tampilannya mirip soto tetapi menggunakan daging babi. Komoh terbuat dari kaldu daging babi yang ditaburi base genep (bumbu lengkap) khas Bali. Terkadang juga diberi tulangan dan daun belimbing untuk memberi rasa sepat. Biasanya, seusai melakukan acara mebat (masak bersama), semua warga banjar "hanya" disuguhi komoh dan lawar. Mereka tidak disuguhi gorengan daging atau menu-menu lain, seperti sate lilit. Lawar dan komoh telah menjadi bahasa universal bagi kami untuk terus mengukuhkan silaturahmi sosial di antara sesama warga banjar.

Ketika lidahku pertama kali mengecap soto Madura, ada rasa lain yang tidak bisa terkecap pada masakan Bali. Sesudahnya, ketika kemudian merantau meninggalkan kampung halaman, setiap menyantap soto apa pun jenisnya, aku selalu teringat Mas Pur. Lelaki tengah baya ini membuka rombong es campur di perempatan Pura Dalem dekat rumahku. Ibu pun tak tahu pasti kapan Mas Pur mulai berjualan di di perempatan dekat rumah kami. "Seingat Ibu, Mas Pur sudah berjualan es campur saat kamu baru lahir," kata Ibu suatu hari.

Saat Lebaran, Minggu (24/5/2020) lalu, Mas Pur sudah lama meninggal karena sakit. Ibu bilang, Mas Pur meninggalkan rombong es campur yang kini diwarisi oleh anak perempuannya bernama Siti. Setiap pulang kampung, aku juga hampir selalu bertemu Siti. Ia sering membeli es batu buatan adikku di rumah.

"Kengken kabar di Jakarta, nyak seger onyo, apa kabar di Jakarta, apa sehat semua?" Selalu begitu sapa Siti dalam bahasa Bali campuran. Ia nyaris tak pernah menggunakan bahasa Indonesia, apalagi bahasa Madura, saat berjualan.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Soto daging Madura dengan bumbu kacang.

Silaturahmi antara kami sampai kini tetap langgeng. Siti tidak hanya mewarisi rombong es campur, tetapi juga mewarisi soto Madura buatan Mas Pur. Mereka sebenarnya seumur-umur tidak pernah berjualan soto, tetapi selalu berjualan es campur dan kopi susu. Soto Madura secara khusus, kata Siti, dimasak saat Lebaran. "Itulah suguhan istimewa keluarga," kata Siti. Mereka tidak memasak opor dan ketupat sebagaimana keluarga-keluarga lain di Jawa. Soto, kata Siti, sudah jadi menu warisan leluhur mereka dan hanya dimasak saat-saat hari istimewa.

Menurut Mas Pur, sebagaimana yang dikisahkan Siti, cuma menu istimewalah yang bisa menjalin tali silaturahmi secara langgeng dengan para tetangga, terutama yang berbeda keyakinan. Soto, bagi kami dan juga keluarga Siti, kini telah menjadi bahasa simbol bagi kelangsungan persaudaraan kami. Nikmat kemenangan setelah berpuasa selama sebulan penuh tidak hanya dihidangkan untuk diri sendiri, tetapi akan lebih mulia jika dibagikan kepada para tetangga.

Walaupun aku tahu di kemudian hari bahwa soto yang selalu dikirim Mas Pur sudah dimodifikasi alias disesuaikan dengan realitas kepercayaan di Bali. Sebenarnya soto Madura terdiri dari potongan daging sapi berkuah, telur rebus, kentang goreng, dan tauge. Namun, Mas Pur paham, umumnya orang-orang Hindu di Bali, seperti kami, tidak menyantap daging sapi. Oleh sebab itu, ia mengganti dagingnya dengan suiran ayam rebus.

Ibu, biasanya pada hari-hari istimewa, seperti Galungan atau tahun baru Saka, selalu mengantarkan bingkisan berupa tape ketan dan uli kepada Siti. Kue uli dan tape dari ketan menjadi simbol kerekatan hubungan antara saudara atau tetangga. Dalam tradisi di kampungku, pemberian saling berbalas ini disebut sebagai ngejotNgejotselalu dilakukan untuk memberikan sesuatu yang istimewa kepada para tetangga, terutama, sekali lagi, bagi yang berbeda keyakinan.

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI

Ni Wayan Juniati (65), warga Danau Beratan, Kota Denpasar, Bali, Minggu (22/12/2019), ngejotNatal kepada beberapa tetangga dan keluarganya yang beragama Hindu Bali. Ngejot merupakan tradisi mengirim makanan kepada tetangga dan keluarga untuk berbagi sukacita hari raya. Ketika tetangga merayakan hari raya Galungan, Juniati mendapatkan ngejot dari mereka.

Dalam terminologi ritual, ngejotbahkan disebut sebagai saiban, yakniyadnya (pengorbanan suci) yang dihaturkan kepada dewa-dewi yang telah memberikan berkah kehidupan.Saiban biasanya berupa sejumput nasi dan lauk yang disajikan di atas potongan daun pisang untuk kemudian dipersembahkan di sejumlah tempat suci. Seusai memasak di dapur, pertama-tama harus meletakkansaiban sebelum seluruh keluarga makan bersama.

Ajaran ini menganjurkan tentanganersangsya, tidak mementingkan diri sendiri, dan ambeg para mertha, mendahulukan kepentingan di luar diri. Sesungguhnya ngejot pun demikian, suguhan itu menjadi sebentuk persembahan yang memiliki fungsi sosial dan spiritual. Secara sosial, kami selalu dianjurkan untuk berbagi kepada sesama, apa pun yang kita miliki. Bahkan, sangat lumrah membagikan sesuatu yang barangkali tidak pernah dirasakan oleh para tetangga. Pada masyarakat urban, secara populer disebut dengan oleh-oleh. Namun, pada kasus oleh-oleh, terkadang kita membumbuinya dengan pesan bahwa kita telah berkunjung ke satu kota, yang barangkali belum dikunjungi oleh teman atau tetangga kita.

Secara spiritual, berbagi tak mengenal sekat-sekat etnis dan agama. Pemberian lekat dengan persembahan, tetapi bukan soal berkah. Ngejotdidasari niat tulus ikhlas untuk bersama-sama menikmati kesyukuran yang telah dilimpahkan semesta pada saat hari raya suci. Oleh sebab itu,ngejot memiliki bahasa spiritual yang dalam, bukan semata soal kerukunan dan persaudaraan, tetapi saling memberi aura spiritual untuk bersama-sama merasakan keberkatan ilahiah.‎

Pada lain waktu, kami juga selalu mendapatkan ejotan dari tetangga di depan rumah yang beretnis Tionghoa dan memeluk agama Buddha sampai sekarang. Dulu, sewaktu saya kecil, keluarga Cik Tengki, demikian kami mengenalnya, selalu mengantarkan seperangkat kue kepada kami. Di antara kue-kue itu terdapat kue ku dan itulah pertama kalinya aku menikmati kue jenis ini.

ANTARA/FIKRI YUSUF

Sejumlah warga Tionghoa menarikan barongsai berkeliling kampung saat ritual tolak bala di kawasan Kuta, Bali, Jumat (24/1/2020). Ritual tolak bala tersebut dilakukan warga setempat sebagai upaya penyucian menyambut tahun baru Imlek 2571.

Sampai sekarang, ketika saya melihat jajaran kue ku di rak kaca para pedagang kue, aku selalu ingat Cik Tengki. Secepat kilat saya pasti membelinya. Pada gigitan pertama, anehnya, akan selalu terbayang Cik Tengki, yang kini sudah tiada, bersama Biang Tut Pamit, istrinya, beserta kelima anak mereka. Saya sebenarnya seumuran dengan Po Ong Im, anak kedua keluarga ini. Sayang, pada usia masih sangat muda, Po Ong Im telah dipanggil Tuhan. Kendati Cik Tengki dan Biang Tut Pamit telah tiada dan sebagian besar keturunannya tinggal di kota lain, tali silaturahmi kami masih berlanjut. Masih ada Po Ong Su, anak ketiga Cik Tengki, yang sampai kini masih sering mempraktikkan kulturngejot.

Soto, menurut catatan para praktisi kuliner, berasal dari salah satu jenis makanan China, yang dalam dialek Hokkian disebut cau do, jao do, atau cha tu yang artinya menu dengan jeroan dan rempah-rempah. Menurut Denys Lombard dalam buku Nusa Jawa 2: Silang Budaya Jaringan Asia(1996), para imigran dari China pertama kali banyak berjualan di daerah pesisir Jawa, terutama pesisir pantai utara (pantura). Pada abad ke-18, mereka membuka rumah makan dan restoran, yang kemudian salah satunya menyebarkan soto di Nusantara.‎

Varian soto di Indonesia lebih dari 14 jenis, tergantung di daerah mana ia diterima dan diberi sentuhan lokal, lalu dikasi nama sesuai dengan daerahnya. Kita kemudian mengenal soto Kudus, soto Betawi, soto Padang, soto Surabaya, soto Madura, soto Lamongan, soto Pekalongan atau tauto, soto Banjar, dan bahkan coto Makassar. Meski isiannya bisa berbeda-beda, umumnya soto selalu berkuah, dari yang bening sampai yang kaya rempah, seperti soto Betawi atau soto Madura.

Sungguh aneh, Bali tak mengenal soto. Jika toh ada varian menu berkuah untuk hari-hari istimewa, selain komoh, kami punya jukut gedang dan jukut ares. Jukut gedang tak lain berupa sayur irisan buah pepaya muda yang diberi isian kepiting atau udang. Biasanya sayur ini disajikan untuk nguun, menjamu para warga yang telah membantu bekerja di sawah atau membangun rumah. Sementara jukut ares berupa sayur dari irisan anak pohon pisang yang diberi potongan daging babi.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Menu Soto Betawi H Ma'ruf di Jalan Pramuka, Jakarta, Jumat (25/10/2019). Warung soto yang berdiri sejak 1940-an tersebut kini dipegang oleh generasi ketiga keluarga Haji Ma'ruf.

Komoh, jukut gedang, dan jukut ares sama-sama istimewa karena hanya disajikan saat-saat hari istimewa pula. Akan tetapi, ketiganya memiliki bumbu dasar yang sama, yakni base genep. Jadi, selalu bercita rasa pedas dan asin.

Ketika lidahku pertama kali mengecap soto kiriman Mas Pur ada sensasi rasa yang berbeda, lebih ringan dan lembut. Kalau menambah makan sampai dua atau tiga kali pun tidak perlu khawatir kepedasan atau sakit perut. Di luar soal itu, kami biasanya saling berbagi dengan seluruh keluarga, mengingat pada tahun-tahun 1970-an di kampungku belum banyak pedagang yang berjualan soto. Seingatku cuma ada satu, yakni Soto Pak Subir, seorang Madura yang sampai kini telah mencapai generasi ketiga. Tetapi, waktu itu, kami tak cukup punya uang untuk membeli seporsi soto.

Oleh sebab itulah, soto kiriman Mas Pur selalu kami tunggu pada setiap Lebaran. Bisa jadi soto buatan Mas Pur tidak seindah dan selezat soto dagangan Pak Subir, tetapi kami selalu menyantapnya dengan penuh rasa takzim. Di dalam semangkuk soto tidak hanya terdapat persilangan budaya dari berbagai entitas kebudayaan, tetapi lebih-lebih bagi kami, ada uluran kasih persaudaraan antar-agama dan etnis. Indah bukan?

KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA

Pemerintah Provinsi Bali mengadakan sosialisasi dan kampanye "Daging Babi Aman Dikonsumsi" di Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali di Denpasar, Jumat (7/2/2020). Dalam acara tersebut disuguhkan aneka makanan khas Bali yang menggunakan olahan daging babi, di antaranya lawar (campuran sayur dan daging yang dicincang), sate babi, kerupuk kulit babi, dan babi guling.

Bukankah praktik toleransi semacam ini telah hidup di tingkat akar rumput selama berabad-abad di Nusantara? Sampai kini pun kami benar-benar tak tahu siapa nama Mas Pur sesungguhnya. Sejak dulu, kata Ibu, banyak warga kampung kami memanggilnya dengan sebutan Mas Pur saja. Tak lebih dari itu. Ah, aku sadar, untuk mengulurkan persaudaraan yang tulus itu, kau tak perlu menyebutkan namamu….

Selamat Idul Fitri 1441 H. Minal aidin walfaizin.

Kompas, 27 Mei 2020

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger