Cari Blog Ini

Bidvertiser

Kamis, 01 Juli 2021

GENERASI ALFA: Lautan Biru Generasi Alfa (ELISABETH RUKMINI)

Gen Alfa yang tumbuh dewasa adalah generasi yang melintas batas. Masa pandemi membuat mereka melihat kolaborasi dapat terjadi di mana saja dan kapan saja dengan siapa pun.

DIDIE SW

Didie SW

Generasi dibentuk oleh peristiwa berdampak. Tak dapat dimungkiri, kali ini dampak pandemi Covid-19 merata bagi seluruh kalangan. Namun, anak usia sekolah terdampak signifikan karena masa pembentukan personal. Satu generasi setelah generasi Z sudah terlahir.

Mark McCrindle dan Ashley Fell (Generation Alpha: Understanding Our Children & Helping Them Thrive, 2021) memberikan nama generasi baru ini generasi Alfa. Arti Alfa merujuk pada kebaruan, hal-hal positif. Gen Alfa lahir tahun 2010 dan setelahnya. Gen Alfa dianggap sebagai generasi digital sejati.

Kakak gen Alfa, gen Z, memang dijuluki digital natives, tetapi argumentasi Alfa adalah kaum digital sejati karena sejak mereka lahir teknologi digital sudah ada di tangan mereka. Sadar atau tidak, orangtua dan kakak memberikan peranti digitalnya untuk menenangkan adik kecil Alfa. Pergaulan gen Z dengan teknologi dimulai ketika usia SD, sementara pada gen Alfa sejak anak balita.

Lima karakteristik

Kini gen Alfa berusia tertua 11 tahun. Usia beranjak remaja, masa pertumbuhan dan pembentukan pribadi. Remaja tahu perkembangan dan membawa dalam memorinya peristiwa besar dunia kini.

Karena konektivitas, dalam usia remaja yang secara naluriah ingin tahu, informasi deras adalah santapan hariannya. Gen Alfa terbentuk melalui perubahan mendadak akses pendidikan yang seluruhnya dilakukan dari rumah. Kini, setelah lebih dari satu tahun, tentu sudah terbentuk habitus baru pada para remaja ini.

McCrindle dan Fell berdasarkan riset menyatakan, gen Alfa dapat disimpulkan memiliki lima karakteristik: digital, sosial, global, mobile, dan visual. Sifat ini tentu bertumpang tindih dengan generasi Z.

Sebagai tambahan, McCrindle mengemukakan sifat positif gen Alfa karena pandemi panjang membentuknya sebagai remaja yang resiliens dan mudah belajar hal baru. Meskipun demikian, McCrindle tidak memungkiri beban kesehatan mental dan interpersonal mengiringi perkembangan gen Alfa. Dengan lima ciri dan sifat gen Alfa, implikasi bagi pendidikan sangat nyata.

Strategi laut biru Chan Kim & RenÉe Mauborgne masih dirujuk sebagai strategi organisasi (lihat: buku berjudul Blue Ocean Strategy dari Harvard Business Press). Strategi laut biru bertumpu pada daya pembeda dan biaya rendah untuk mencapai tujuan bisnis. Strategi ini mengubah posisi dari kompetisi menjadi kreasi.

Hanya dua dari lima ciri gen Alfa yang bergantung pada teknologi, yaitu digital dan 'mobile'.

Antisipasi perguruan tinggi

Jika kita bayangkan gen Alfa sebagai lautan biru ini, strategi menciptakan peluang di masa depan pendidikan pascapandemi bagi gen Alfa adalah strategi laut biru. Dalam 7-8 tahun, gen Alfa akan memasuki perguruan tinggi.

Hanya dua dari lima ciri gen Alfa yang bergantung pada teknologi, yaitu digital dan mobile. Itu pun bukan ketergantungan murni. Tiga ciri lainnya, yakni sosial, global, dan visual, bergantung pada beragam faktor. Jika membayangkan lautan biru gen Alfa, bagaimana perguruan tinggi mempersiapkan diri untuk tiga ciri di atas?

Strategi laut biru mengutamakan diferensiasi, menempatkan perguruan tinggi bukan untuk berkompetisi dengan perguruan tinggi lainnya atau pendidikan nonformal yang terus diminati. Strategi laut biru mengambil spesifikasi yang unggul. Tiga turunan sifat gen Alfa itu dapat ditalikan dengan keunggulan perguruan tinggi.

Pertanyaan ciri sosial yang ditalikan dengan keunggulan perguruan tinggi secara strategis mengakar pada daya tumbuh sosial yang menarik bagi gen Alfa. Kesadaran akan lingkungan hidup, perubahan iklim, cara bertahan hidup, kesadaran akan produk lokal merupakan aspek yang bertumbuh pada remaja saat ini. Hal ini secara sosial membuka peluang gen Alfa memengaruhi pilihan orangtua dan saudara. Pada masa mendatang, dengan kuantitatis dan kualitas meningkat, pengaruh Alfa juga meningkat.

KOMPAS/SUPRIYANTO

Supriyanto

Personalisasi pengetahuan

Saatnya memikirkan wadah orisinal dengan kreativitas tak terbatas sebagai bagian perguruan tinggi masa depan.

Apa artinya? Dorongan untuk personalisasi pengetahuan, keterampilan, bukan produk massal, melainkan produk berkarakter, sarat makna, paham tujuan adalah spesifikasi tepat.

Keterlibatan perguruan tinggi dalam karya yang menumbuhkembangkan komunitas dengan rekam jejak dampak sosial adalah bukti bermakna bagi siapa pun.

Saat gen Alfa dewasa, dengan kontribusi orangtua mereka (mayoritas gen milenial, Y), pilihan pada perguruan tinggi yang mampu menunjukkan dampak sosial akan memenuhi makna personalnya.

Perkembangan aspek global perguruan tinggi menjadi daya tarik gen Alfa. Aspek global dicirikan dengan kolaborasi antarbidang ilmu, antarpihak, negara, dan bangsa. Arah ini berarti merekam dampak keunggulan bidang multidisipliner.

Tren dunia menunjukkan program studi yang komprehensif lebih diminati.

Gen Alfa yang tumbuh dewasa adalah generasi yang melintas batas. Masa pandemi membuat mereka melihat kolaborasi dapat terjadi di mana saja dan kapan saja dengan siapa pun.

Perguruan tinggi hingga kini sarat aspek tekstual dan tradisi oral. Tanpa perlu meninggalkan secara total pendekatan komunikasi verbal dan tekstual, perlu kesadaran bahwa ciri visual sedang berkembang. Tentu sebuah pergeseran apabila perguruan tinggi ingin diterima gen Alfa. Literasi digital termasuk di dalamnya literasi visual menjadi perkembangan yang layak jadi bagian dari standar ilmiah.

Memilih mendalami masa depan adalah mendalami biru lautnya generasi Alfa. Masih ada waktu untuk mengenal gen Alfa dan mempersiapkan perguruan tinggi yang tepat bagi Alfa. Berbasis data, perguruan tinggi dapat proaktif.

Seperti kata Satya Nadela, CEO Microsoft, The next generation apps would not be reactive, but proactive.

Elisabeth Rukmini, Pendidik Universitas Pembangunan Jaya 

Sumber: Kompas.id - 1 Juli 2021


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger