Cari Blog Ini

Bidvertiser

Selasa, 09 Juli 2013

Driyarkara dan Keindonesiaan (M Sumartono)

Oleh: M Sumartono

Tanggal 13 Juni 2013 adalah seabad kelahiran filsuf, pendidik, dan imam Jesuit Prof Dr Nicolaus Driyarkara.
Dilahirkan di desa terpencil Kedunggubah, Purworejo, Jawa Tengah, Driyarkara mewariskan dua hal penting: humanisme dan keindonesiaan.

Sebagai filsuf, ia memperkenalkan pandangan dasar humanisme homo homini socius (manusia menjadi sahabat bagi sesamanya) sebagai kontra-pandangan homo homini lupus (manusia sebagai serigala bagi sesamanya). Driyarkara memperkenalkan cara berpikir dan metode filsafat dengan menempatkan kemanusiaan dan keindonesiaan sebagai titik tolak ataupun konteks pemikirannya.

Gagasan itu ia perkenalkan kepada publik melalui kuliah, tulisan di majalah Basis, Praba, dan ceramah publik. Termasuk pandangannya tentang Pancasila yang ia posisikan sebagai dasar filsafat manusia dan kenegaraan Indonesia (Yudo, 2013).

Sesudah menyelesaikan doktor bidang filsafat di Universitas Gregoriana, Roma (1952), Driyarkara pernah antara lain menjadi rektor pertama (sekarang universitas) Sanata Dharma, Guru Besar Luar Biasa Psikologi UI, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Jesuit Saint Louis AS. Tugas-tugas itu ia emban hingga meninggal pada usia 54 tahun, 2 Februari 1967.

Gagasannya tentang Pancasila membuat ia dipercaya mengajar di lembaga pendidikan tentara serta menjadi anggota MPRS dan anggota DPA (Danuwinata, 2010).

Hominisasi dan humanisasi
Pemikirannya tentang kemanusiaan dan keindonesiaan masih relevan hingga sekarang. Kunci pokok pandangan humanisme Driyarkara terletak pada konsep homo homini socius sebagai titik pijak, proses, dan arah pemikiran. Ada tiga hal yang mendasari filsafat manusia ini.

Pertama, pengaruh pandangan humanisme yang tumbuh subur waktu itu. Kedua, keprihatinan akan situasi historis dan sosiologis Indonesia dalam kolonialisme dan peziarahan tak berujung untuk menjadi sebuah bangsa. Ketiga, kecakapan dalam menyintesiskan pemikiran Barat dan Timur untuk keindonesiaan dan kemanusiaan. Konsep homo homini socius ini ia pijakkan dalam konteks historis-kultural Indonesia.

Pertama, manusia sebagai persona dan sekaligus subyek. Manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan diri dalam dunianya (Driyarkara, 1977). Secara rohani, manusia mampu mengobyektivikasi dan merefleksikan diri. Melalui kejasmanian atau kebertubuhan, manusia mampu berinteraksi dalam dunia berupa peradaban. Oleh karena itu, subyektivitas dan obyektivitas melekat pada kedirian manusia. Sebagai subyek, manusia mampu berjarak dan mengevaluasi diri.

Kedua, manusia berdinamika dan menyejarah. Driyarkara menyebutkan bahwa manusia sebagai subyek mampu berkehendak dan berbuat. Intinya adalah manusia berkemampuan (be able to), baik secara individu maupun kolektif. Karena itu, manusia mencipta sejarahnya sendiri.

Bila ditempatkan dalam konteks Indonesia, menjadi manusia sekaligus menjadi Indonesia. Proyek kemanusiaan dan keindonesiaan adalah proses yang tak pernah paripurna dan selalu hadir dalam sejarah. Inilah jantung cita-cita Driyarkara.

Ketiga, manusia yang terus menjadi. Driyarkara mendapat pengaruh besar dari filsafat eksistensialisme yang memberi tekanan kepada manusia sebagai subyek. Manusia bukan hanya sebagai makhluk "ada" (being), melainkan juga makhluk yang "menjadi" (becoming). Dalam konteks ini, Driyarkara menekankan pada proses hominisasi.

Hominisasi memungkinkan manusia bebas dari dan bebas untuk. Meminjam bahasa Paulo Freire, ini adalah panggilan untuk menjadi subyek dan sekaligus menamai dunia (Collins, 1977).

Adapun humanisasi adalah bentuk panggilan altruis bahwa manusia wajib memanusiakan manusia lain. Oleh karena itu, proses hominisasi dan humanisasi tak lain adalah serangkaian aktivitas reflektif dalam memaknai sejarah dan kebudayaannya.

Proses menjadi manusia adalah proyek terus-menerus dan tak pernah usai. Menurut Driyarkara, menjadi manusia berarti terlibat bagi orang lain. Kemenjadian ini mengarah pada keterlibatan yang lebih luas, seperti mewarga, memasyarakat, dan menegara (Driyarkara, 1977).

Keempat, manusia yang mampu bertransendensi. Bagi Driyarkara, menjadi manusia yang utuh bukanlah menjadi superior dalam segala hal. Justru karena kesanggupan berjarak dengan dirinya sendiri, manusia mampu mengenali kerapuhan dan keterbatasan diri sekaligus terarah kepada Tuhan atau Yang Mutlak sebagai asal sekaligus tujuan.

Pada intinya, ajaran humanisme Driyarkara mengajak kita semua menjadi subyek yang beriman, berpengertian, berbela rasa, dan terlibat menjadi bagian dari orang lain dan bangsanya.

Menjadi Indonesia

Pandangan humanisme Driyarkara tak lepas dari Pancasila. Bagi Driyarkara, Pancasila adalah sari pati filsafat manusia Indonesia. Pancasila bukan hanya dasar negara, melainkan juga panduan dan cita-cita keindonesiaan. Indonesia mustahil ada tanpa Pancasila. Maka, Driyarkara mendudukkan Pancasila justru pada esensi kemanusiaan bukan sebagai filsafat politik kenegaraan (bdk Yudo, 2013).

Ia juga menempatkan "menjadi Indonesia" sebagai lokus pemikiran sekaligus keprihatinan yang mendalam. Hal ini ia tunjukkan dalam tulisan-tulisannya.

Bayangan keindonesiaan yang diprihatinkan Driyarkara juga bagian dari keprihatinan generasi kekinian kita. Memotret sebagian dari keindonesiaan ini, merujuk Aloysius Pieris SJ (bdk Pieris, 1996; Rubianto, 1997), kondisi Indonesia dan keindonesiaan tak bisa dilepaskan dari konteks keduniaketigaan sekaligus keasiaan. Inilah kodrat sosiologis dan historis yang menuntut panggilan kemanusiaan kita.

Pertama, ciri keduniaketigaan. Masyarakat kita ditandai dengan bukan saja kemiskinan yang bertumpah ruah (overwhelming poverty), melainkan juga kesenjangan. Sudah banyak angka statistik menunjukkan hal ini. Kemiskinan bukan hanya malapetaka ekonomi, melainkan juga tragedi kemanusiaan. Maka, dalam konteks ini, panggilan kekinian kita adalah menjadi subyek yang berbagi, berbela rasa (compassion) pada penderitaan sesama.

Kedua, ciri keasiaan ditandai dengan kereligiusan yang majemuk (multifaceted religiousness) dan kebudayaan yang beragam (cultural diversity). Kondisi ini dapat menjadi modal sosial sekaligus berisiko disintegrasi. Indonesia masih menderita penyakit eksklusivisme, intoleransi, dan pengucilan. Peristiwa-peristiwa tersebut melukai dan sekaligus mereduksi kodrat keberagaman dan kemanusiaan. Maka, panggilan humanisme kita adalah merekonstruksi dan menghidupi keberagaman sebagai bagian integral proses mengindonesia.

Ketiga, gelombang liberalisasi yang tak terbendung. Intinya, hampir seluruh aspek kehidupan kita dipandu oleh dan atas nama kebebasan pribadi dan mekanisme pasar. Akibatnya, tumbuhnya manusia dan masyarakat predator. Pihak yang kuat memangsa yang lemah. Ukurannya, kompetisi, daya beli, dan eksploitasi.

Keagungan pemikiran Driyarkara lahir dari kesederhanaan hidup, kesahajaan sikap, dan kelugasan pandangannya. Di majalah Praba, ia menyebut diri Pak Nala, yang menggambarkan sosok punakawan (abdi) dalam pewayangan (Subanar, 2010). Itu menunjukkan niatnya menjadi bagian dari orang kebanyakan.

Jalan Driyarkara adalah jalan kesunyian dan laku tapa keotentikan. Lewat cara itulah, ia berkontribusi mencerahkan kegalauan bangsanya.

M Sumartono
Guru, Alumnus Universitas Sanata Dharma

(KOMPAS cetak, 9 Juli 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger