Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 19 Oktober 2013

Bangkrut (Halim HD)

Oleh: Halim HD

BANGKRUT, saya kira, bukan hanya dialami oleh dunia perbankan. Juga tidak hanya dialami oleh kaum pedagang dan kalangan bisnis. Tak juga hanya terjadi pada pemerintahan Obama di Amerika.
Bangkrut juga bisa dialami oleh suatu masyarakat, suatu bangsa yang mengalami degradasi sosial dalam berbagai seginya. Sangat mungkin negeri ini sebagai negeri maritim pun mengalami kebangkrutan.

Tak pernah kita membayangkan harus mengimpor garam ratusan ribu ton setiap tahun. "Akibat anomali cuaca," demikian alasan pejabat yang berwewenang (Kompas, 3 Agustus 2013).

Kita bertanya-tanya, kenapa pejabat itu tidak berkoordinasi dengan dinas geofisika yang paham tentang cuaca dan tahu benar apa yang akan terjadi. Bentangan pantai dan laut sebagai wilayah produksi tampaknya tak pernah dieksplorasi secara maksimal. Ada apa? Lautan kita juga mengalami keboyakan akibat tak mampu dikontrol. Kapal-kapal asing berkeliaran di wilayah kita lalu menangguk jutaan ton ikan, akibatnya miliaran dollar AS kerugian kita. Maka nyanyian nenek moyang kita orang pelaut, hanya menjadi hiburan yang tak mengubah nasib.

Kepulauan dan lautan yang kita banggakan tak pernah diperhatikan secara serius. Hanya dijadikan obyek pariwisata. Pulau-pulau dan selat-selat memang penuh dengan keindahan dan kekayaan alam yang tak terkira, tetapi tak dijadikan fokus pembangunan. Justru selat dan laut dianggap sebagai penghalang. Kasus jembatan Selat
Sunda dengan biaya yang besar, yang pembangunannya akan membebani negara dengan utang, jadi ironi bagi negeri maritim ini.

Cara berpikir yang introvert membuat kita memandang laut dan lautan sebagai halangan untuk menyatukan diri kita. Padahal, laut dan lautan adalah jembatan yang menghubungkan antarwarga di Nusantara, antarwarga dengan bangsa-bangsa lain selama belasan abad.

Ribuan tahun suku-suku saling bertemu dan bersapa membentuk kebudayaan dan peradaban melalui jalur lautan. Karena lautan pula kita memiliki kebudayaan yang unik, yang dihasilkan oleh pertemuan antarsuku dan antarbangsa yang singgah dan menetap. Kita mestinya merasa bangga bahwa Nusantara—antarpulau—adalah suatu bentangan geografis yang indah dan memiliki potensi alam yang tak akan habis oleh beratus keturunan jika kita mengelolanya.

Hancurnya peradaban
Kebangkrutan juga kita alami sejak lama di wilayah hutan tropis terbesar di dunia. Sepanjang 30-an tahun, puluhan juta hektar hutan tropis kita hancur. Hal itu pula yang mengakibatkan perubahan cuaca di wilayah Nusantara dan di segala penjuru dunia. Namun, yang paling merasakan akibat kehancuran hutan tropis adalah masyarakat di sekitarnya, khususnya masyarakat adat yang sepanjang negeri ini merdeka nasibnya tak pernah mengalami perhatian dari penguasa.

Hutan-hutan hancur. Sumber air pun kian merosot. Ironisnya, kini bisnis air merajalela dan kita mesti membeli air bersih dari perusahaan asing yang menanamkan kapitalnya di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini.

Di wilayah pesisir, kerusakan hutan bakau di mana-mana, mengakibatkan rob, menyusupnya air laut ke daratan. Kota-kota pesisir mengalami kerusakan sumber air dan kebanjiran. Itu karena politik pembangunan ekonomi yang tak memikirkan segi ekologi dan tata ruang pesisir. Semua dibabat demi tambak, demi ekspor, dan kita kini menanggung kerusakan sepanjang hampir 30 tahun dan masih terus akan mengalaminya.

Bencana kehancuran hutan juga berakibat gempa alam, banjir bandang yang setiap tahun dialami masyarakat. Kesengsaraan demi kesengsaraan dialami warga, sementara para elite serta politisi tak pernah bisa sigap mencari solusi yang strategis, kecuali di depan kamera—dengan sejumlah pernyataan yang jauh dari rasa santun—hanya bisa berapologi yang itu-itu juga.

Negeri ini sesungguhnya suatu bentangan alam yang tak terkira. Bukan cuma potensinya, melainkan juga aktualisasinya. Lihat saja situs candi dari abad V sampai abad XIV, semuanya membuktikan betapa kemampuan warga beserta penguasa negeri waktu itu mewujudkan kehidupan paling ideal. Jika kita memandang pesisir, tak ada pelabuhan yang tak penting di negeri ini. Dari Sabang sampai Jayapura dan Marauke, menjadi bagian sistem komunikasi maritim yang menghubungkan antarpulau, antarsuku, dan antarbangsa, menciptakan sistem perdagangan dan pertukaran kebudayaan yang membentuk peradaban Nusantara.

Aneh bin ajaib, kemegahan Nusantara hanya dijadikan tujuan wisata. Tak ada refleksi untuk menimbang dengan cerdas apa makna khazanah sejarah itu. Semua elite bicara soal pariwisata dan kepariwisataannya pun tanpa data yang akurat tentang khazanah yang aktual ataupun yang potensial dan tanpa komitmen untuk konservasi.

Tampaknya yang ada di kepala para elite negeri ini adalah bagaimana menjual dan memperdagangkan khazanah di Nusantara. Kita tak menolak soal kepariwisataan, tapi jika Nusantara hanya dilihat sebagai obyek dan bukan sebagai subyek, kebangkrutan akan makin mendalam. Sebab, hanya dengan menjadikan warga dan Nusantara sebagai subyeklah maka kita tahu apa makna martabat sebagai suatu bangsa yang menimbang dan merumuskan visi kehidupan yang akan datang dengan hati nurani. Tentu saja bukan dengan jual-beli sumber daya alam yang ada di negeri ini, yang hanya berakibat pada kebangkrutan.

Halim HD, Pekerja Jaringan Kebudayaan

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000002487892
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger