SERANGAN terhadap dua anggota pasukan Arab Saudi, di perba- tasan Irak, bisa kita katakan sebagai semacam "lonceng tanda bahaya".

Apalagi kalau benar yang disebutkan para analis bahwa serangan bom bunuh diri itu dilakukan milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), "dentang lonceng itu benar-benar merupakan tanda berbahaya".

Serangan tersebut sekurang-kurangnya mengirimkan pesan bahwa milisi bersenjata NIIS, yang sudah menguasai sejumlah wilayah di Irak bagian utara dan barat itu, tidak menjadi semakin lemah setelah digempur kekuatan Amerika Serikat. Namun, justru sebaliknya, tetap merupakan ancaman bagi Arab Saudi.

Arab Saudi, menurut berita yang tersebar, ketika pecah perang saudara di Suriah, terlibat dalam membantu kelompok oposisi bersenjata melawan rezim Bashar al-Assad. Diperkirakan 1.000 hingga 2.000 orang Arab Saudi terlibat dalam perang di Suriah. Namun, Februari lalu, Pemerintah Arab Saudi mengeluarkan dekrit melarang orang Arab Saudi terlibat dalam peperangan di negara lain.

Ketika itu tersiar berita pula bahwa ada aliran dana dari Arab Saudi ke milisi NIIS. Namun, seperti diungkapkan The Washington Institute, Juni lalu, tidak ada bukti bahwa Pemerintah Arab Saudi memberikan dukungan finansial kepada NIIS. Bahkan, Riyadh, memandang NIIS sebagai entitas teroris seperti Jabhat al-Nusra, Ikhwanul Muslimin, pemberontak Houthi di Yaman, dan Hezbollah Saudi.

Sikap dan kebijakan Arab Saudi itulah—dan antara lain ditambah dengan dukungan Riyadh terhadap operasi penggempuran terhadap NIIS oleh AS dan negara-negara Teluk—menjadikannya sebagai sasaran NIIS. Memang, andaikan Arab Saudi yang mayoritas penduduknya Sunni bisa dikuasai milisi NIIS, akan lebih mudah bagi mereka untuk menguasai seluruh Irak yang mayoritas penduduknya adalah Syiah. Dengan menguasai Arab Saudi, NIIS akan merasa mendapat dukungan.

Oleh karena itu, bagi NIIS, sangat penting artinya kalau bisa masuk dan menguasai Arab Saudi yang merupakan sekutu AS. Dengan menguasai Arab Saudi, mereka akan merasa sudah menguasai seluruh kawasan Arab.

Kita melihat kondisi sekarang ini: Irak berat menghadapi NIIS, demikian pula Suriah. Sementara Lebanon yang kebanjiran pengungsi Suriah pun kerepotan karena di dalam negeri ada kelompok yang mendukung NIIS. Jordania pun bisa menjadi target. Karena itu, sangat masuk akal kalau NISS berusaha "menyentuh-nyentuh" Arab Saudi.

Apabila semua itu terjadi, ini merupakan kekalahan besar Dunia Arab dalam melawan gerakan radikalisme; sekaligus juga kekalahan Dunia Barat. Apakah kita akan melihat peta Timur Tengah berubah lagi? Sepertinya, hal itu akan dilawan habis-habisan oleh Dunia Arab dengan dukungan Barat.

Sumber:‎ http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000011232327