Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 11 Mei 2015

ANALISIS EKONOMI: Tiada Jejak ”Bulan Madu” (A TONY PRASETIANTONO)

Pemerintahan baru Presiden Joko Widodo yang kini berusia setengah tahun tidak memberi jejak "bulan madu". Setelah pada triwulan terakhir 2014 perekonomian Indonesia hanya tumbuh 5,01 persen, kondisi lebih jelek terjadi pada triwulan I-2015 tatkala perekonomian cuma tumbuh 4,71 persen.

Data ekonomi makro ini konsisten dengan di level mikro korporasi. Perusahaan sektor riil juga mengalami penurunan laba, bahkan yang berada di sektor konsumer dan makanan. Semua data ini semakin menyulitkan pemerintah mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,7 persen pada 2015.

Pertumbuhan ekonomi yang rendah kemudian disusul dengan melemahnya rupiah, yang kembali mendekati Rp 13.200 per dollar AS akhir pekan lalu. Selain kekecewaan terhadap data ekonomi domestik, rupiah juga terimbas oleh kinerja perekonomian AS. Statistik terbaru perekonomian AS menunjukkan penyerapan tenaga kerja non-pertanian yang mencapai 220.000, meniupkan sentimen positif terhadap dollar AS.

"Bulan madu" pemerintahan baru biasanya terjadi karena pasar memiliki ekspektasi baru dan besar terhadap Presiden dan kabinet baru. Efek ini pula yang semula diharapkan datang dari Presiden Jokowi dan timnya. Semula, terpilihnya Presiden Jokowi diharapkan dapat membuat rupiah menguat. Namun, sayangnya, hal itu segera teredam oleh "efek Janet Yellen", yakni Kepala Bank Sentral AS yang mencanangkan kenaikan suku bunga di AS untuk melengkapi penghentian kebijakan pelonggaran likuiditas seiring dengan membaiknya perekonomian AS sejak Mei 2013.

Perekonomian AS kini benar-benar sedang dalam suasana baik. Angka pengangguran turun ke level 5,5 persen. Akibatnya, permintaan terhadap dollar AS terus menguat dan indeks harga Dow Jones di New York pun menguat ke 18.200.

Pada awal pembentukan kabinet Jokowi, sebenarnya tebersit keraguan, apakah kabinet ini cukup kompeten? Beberapa figur tampak tidak meyakinkan dan tidak dikenal pasar. Namun, keragu-raguan tersebut sempat ditepis, ketika pada tiga bulan pertama jajaran kabinet menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam bekerja.

Target penerimaan pajak ditetapkan naik 30 persen dengan alasan bahwa masih banyak wajib pajak yang belum tertib membayar. Dengan menambah personel karyawan Direktorat Jenderal Pajak, efektivitas penarikan pajak diharapkan menjadi kian besar. Namun, sesudah tiga bulan pertama, tidak ada tanda-tanda target penerimaan pajak Rp 1.300 triliun pada 2015 bakal tercapai. Sesuai teori, jika perekonomian tengah lesu, penerimaan pajak pun juga akan ikut lesu.

Di sektor perdagangan juga sama. Di tengah defisit neraca perdagangan dalam tiga tahun terakhir, target pertumbuhan ekspor ditetapkan 300 persen untuk lima tahun ke depan. Yang terjadi adalah pelan-pelan terjadi surplus ekspor. Namun, itu terjadi karena penurunan impor lebih cepat daripada penurunan ekspor. Itu pun disertai catatan bahwa penurunan impor merupakan sinyal negatif karena di dalamnya terkandung penurunan barang-barang modal yang mestinya dipakai untuk mendorong investasi, menghela pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja.

Bagaimana prospek ke depan? Kini harapan ada pada dua hal. Pertama, belanja fiskal diharapkan mulai dapat direalisasikan. Pada triwulan pertama, pemerintah baru masih canggung dengan struktur kementerian yang baru (masalah nomenklatur organisasi), diharapkan hal ini sudah bisa diatasi pada triwulan kedua.

Antusiasme Presiden Jokowi untuk segera merealisasikan janji kampanye berupa pembangunan infrastruktur besar-besaran, termasuk jalan tol di Jawa dan Sumatera, serta pembangkit listrik 35.000 megawat, akan menjadi stimulus penting untuk mengungkit pertumbuhan ekonomi menjadi di atas 5 persen pada triwulan berikutnya.

Kedua, penurunan suku bunga juga akan menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan konsumsi dan investasi. Namun, sayangnya, hal ini belum tentu dilakukan oleh Bank Indonesia. Suku bunga acuan BI kemungkinan besar belum bisa diturunkan dari level saat ini 7,5 persen. Alasannya, jika itu dilakukan akan memberikan tambahan tekanan pada kurs rupiah yang saat ini lemah dan menghadapi risiko pelemahan lebih lanjut jika AS jadi menaikkan suku bunganya.

Satu-satunya harapan adalah penurunan suku bunga kredit bank. Beberapa bank sudah mengindikasikan hal tersebut. Presiden mungkin perlu berdiskusi dengan pimpinan bank-bank BUMN, mengenai perlunya memelopori penurunan suku bunga kredit.

Di luar aspek teknis ekonomi tersebut, masih ada wacana perombakan kabinet. Perombakan tidak saja menyusun kembali komposisi menteri baru yang lebih kompeten, tetapi juga akan menguak asa baru yang bisa berdampak positif bagi sentimen pasar.

A TONY PRASETIANTONO KEPALA PUSAT STUDI EKONOMI DAN KEBIJAKAN PUBLIK UGM

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Mei 2015, di halaman 15 dengan judul "Tiada Jejak "Bulan Madu"".

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger