Tuduhan itu dilontarkan Power di depan ratusan orang di Kiev, ibu kota Ukraina, bertepatan dengan peringatan satu tahun kepemimpinan Presiden Ukraina Petro Poroshenko. Tuduhan yang dilontarkan Power itu dianggap sebagai pernyataan AS yang paling keras terhadap Moskwa setelah gencatan senjata Februari lalu.
Power tidak sendiri, Kiev pun beberapa kali menyatakan memiliki bukti kuat mengenai kehadiran tentara Rusia di wilayah tersebut. Keterlibatan Kremlin itu dimaksudkan untuk mengakhiri kebijakan Kiev yang pro Barat.
Rusia selama ini selalu membantah terlibat dalam konflik antara kelompok separatis dan pasukan pro Kiev di wilayah Ukraina timur. Putin sendiri dalam berbagai kesempatan membantah mengirimkan pasukan ke Donetsk dan Lugansk di wilayah Ukraina timur, yang penduduknya berbicara dalam bahasa Rusia dan mempunyai hubungan kultural dengan Moskwa.
Putin menegaskan, pasukan Rusia yang ditemukan di zona konflik di Ukraina timur adalah sukarelawan. Mereka tidak sedang bertugas. Mereka berada di sana karena panggilan hati.
Bantahan Putin itu ditolak oleh AS dan negara-negara Eropa. Para pemimpin negara-negara industri maju yang tergabung dalam G-7, pekan lalu, mengancam akan menambah sanksi ekonomi terhadap Rusia jika situasi di Ukraina timur terus memburuk.
Menurut Power, hal terpenting yang harus dilakukan saat ini adalah fokus terhadap krisis Ukraina dalam pembahasan di Dewan Keamanan PBB. Dengan demikian, sebagai utusan AS untuk PBB, ia dapat menyampaikan bukti-bukti keterlibatan Rusia di Ukraina timur.
Pengalaman selama ini menunjukkan posisi suatu negara kecil sangat sulit apabila berkonflik dengan negara raksasa, apalagi jika negara raksasa itu merupakan tetangganya. Hal yang hampir sama terjadi di Laut Tiongkok Selatan antara empat negara ASEAN (Brunei, Filipina, Malaysia, dan Vietnam) melawan Tiongkok, negara tetangganya yang besar. Sama seperti Rusia, Tiongkok pun mempunyai kekuatan untuk membenarkan aktivitas yang dilakukannya di wilayah konflik. Pada saat semua pihak menyadarinya, keadaannya sudah terlambat untuk diubah.
Kita belum melupakan saat Ukraina, yang pernah tergabung dalam Uni Soviet, kehilangan Crimea, tahun lalu. Jika tidak hati-hati, negara itu pun bisa kehilangan wilayah Donetsk dan Lugansk. Itu sebabnya, perhatian PBB terhadap wilayah itu tidak boleh lepas. Dalam kaitan inilah pernyataan Power tentang perlunya fokus terhadap krisis Ukraina dalam pembahasan di DK PBB menjadi penting.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar