Banyak cara ditawarkan untuk membuat kehidupan kota lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan. Kita kerap mendengar upaya membangun kota cerdas, kota berwawasan lingkungan, kota hijau, hingga kota kreatif.
Persoalan kemiskinan, kekumuhan, dan ketimpangan kemakmuran umumnya menghinggapi kota-kota di negara berkembang, meskipun negara kaya juga menghadapi masalah sama. Jumlah penduduk yang bertambah cepat, sumber daya desa yang menyusut, dan meningkatnya kemakmuran menyebabkan orang meninggalkan pekerjaan sebagai petani. Kota menjadi tujuan karena menyediakan lebih banyak peluang ekonomi.
Besarnya jumlah orang berpindah ke kota dan kurangnya keterampilan sesuai kebutuhan menimbulkan masalah sosial. Keadaan akan semakin buruk jika tidak ditangani sejak sekarang mengingat pada tahun 2030 sebanyak 65 persen penduduk tinggal di kota.
Solusi pembangunan kota sering kali lebih ditujukan pada pemerintahan kota, mengandaikan pemerintah kota paling menentukan serta paling bertanggung jawab terhadap kondisi kota dan masa depannya.
Namun, kota-kota yang aman, nyaman, dan berkelanjutan adalah yang warganya berpartisipasi membangun kota. Karena itu, penting mengajak warga berpartisipasi.
Banyak upaya menjadikan manusia sebagai subyek pembangunan. Salah satunya datang dari penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus. Dia dikenal konsisten bekerja bersama rakyat miskin, terutama perempuan, di Banglades melalui pemberian kredit mikro.
Dalam New Cities Summit, di Jakarta, Rabu (10/6), Yunus menyebutkan, kemiskinan perkotaan justru peluang menumbuhkan ekonomi melalui kegiatan kewirausahaan, terutama kewirausahaan sosial, dengan menjadikan warga subyek pembangunan.
Yunus membuktikan warga ekonomi lemah dapat menjadi wirausaha jika diberi kesempatan. Resep Yunus bukan hal baru: beri dukungan dan modal, bangun jaringan agar lebih banyak orang terlibat. Yunus pernah belajar dari Indonesia mengenai hal ini, termasuk dari Bank Rakyat Indonesia.
Namun, masyarakat perlu diberi keyakinan mereka dapat terlepas dari kemiskinan dan kekumuhan dengan usaha sendiri. Pemerintah memiliki program bantuan langsung tunai untuk menurunkan kemiskinan, tetapi akan lebih baik jika dimanfaatkan pada kegiatan produktif.
Indonesia berkepentingan menumbuhkan pelaku wirausaha karena berciri inovatif, berani mengambil risiko, berorientasi ke depan, dan interdependen. Mereka memberi lapangan kerja, hal yang semakin kita butuhkan dengan pertumbuhan penduduk 1,49 persen per tahun.
Semua berpulang kepada para pemimpin kota dan warga, apakah meyakini hal ini dan berani mewujudkan.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Juni 2015, di halaman 6 dengan judul "Bangun Kota, Bangun Manusia".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar