Selain itu, AS juga menambah 400 pelatih militer untuk menempa pasukan Irak agar mampu melawan milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Penambahan personel pelatih militer itu akan menjadikan total jumlah personel militer AS di Irak menjadi 3.500 orang.
Saat ini, AS telah melatih pasukan Irak di empat lokasi, yakni dua di sekitar Baghdad, ibu kota Irak, dan satu di pangkalan udara Al-Asad, Provinsi Anbar, serta satu lagi di dekat Irbil, Irak utara.
Dilaporkan, ada 8.920 personel pasukan Irak yang telah mengikuti pelatihan militer. Masih ada 2.601 personel yang tengah mengikuti pelatihan.
Pelatihan militer dan penambahan persenjataan dapat meningkatkan daya pukul pasukan Irak, tetapi Presiden Barack Obama menyadari, pelatihan militer dan penambahan persenjataan saja tidaklah cukup. Itu sebabnya, ia meminta kepada Pemerintah Irak yang didominasi kaum Syiah untuk membuka kesempatan seluas mungkin bagi kaum Sunni untuk bergabung melawan NIIS.
Hal yang sama telah berulang-ulang diminta oleh pejabat-pejabat AS. Pertimbangannya, dengan memberikan kesempatan kepada kaum Sunni untuk terlibat, satu kesatuan di antara pasukan Irak akan semakin kuat dan sekaligus meningkatkan daya pukul pasukan Irak.
Namun, jangankan melibatkan lebih banyak kaum Sunni, melibatkan pasukan Irak yang telah dilatih oleh AS saja belum dilakukan. Hingga kini, pejabat Irak memilih menempatkan sebagian besar pasukan yang telah dilatih AS dalam formasi bertahan di sekitar Baghdad.
Kita dapat mengerti ada kekhawatiran pada sebagian pejabat Pemerintah Irak yang didominasi kaum Syiah, untuk memberikan kepercayaan terhadap kaum Sunni dalam melawan NIIS yang merupakan kelompok Sunni radikal. Akan tetapi, kekhawatiran itu harus disingkirkan. Pengalaman selama ini menunjukkan, tanpa keterlibatan kaum Sunni, pasukan yang didominasi kaum Syiah, yang dibantu milisi Syiah, tidak cukup kuat untuk menghadapi milisi NIIS.
Rasa satu kesatuan di antara rakyat Irak perlu terus didorong. Rasa bangga sebagai warga negara Irak perlu terus dipupuk. Merangkul kaum Sunni sangat mungkin dilakukan mengingat tidak sedikit kaum Sunni di Irak yang ditindas di wilayah-wilayah yang diduduki NIIS. Tentunya yang dimaksud merangkul adalah juga memberikan kepercayaan kepada kaum Sunni untuk menduduki jabatan-jabatan strategis di pemerintahan. Kita mengetahui itu tidak mudah, tetapi kita berharap Pemerintah Irak mau melakukannya. Jika hal itu tidak dilakukan, sulit bagi Irak menaklukkan NIIS.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Juni 2015, di halaman 6 dengan judul "AS Perbanyak Pasukan di Irak".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar