Cari Blog Ini

Bidvertiser

Senin, 31 Agustus 2015

Kelanjutan Menjadi Juara//Pendidikan Bung Karno//Pelayanan yang Tidak Sopan (Surat Pembaca)

Kelanjutan Menjadi Juara

Senin, 24 Agustus, lalu saya memirsa berita televisi. Perhatian saya tertuju pada dua teks berjalan. Pertama, dua anak Indonesia menang lomba mengingat tingkat dunia di Hongkong. Kedua, anak Indonesia meraih satu medali emas dan dua medali perunggu di Olimpiade Geografi Internasional di Rusia.

Teman adik saya pada bulan yang sama meraih medali perunggu Olimpiade Matematika Internasional Tingkat SMP di Singapura. Ia seorang anak pondokan biasa di Nganjuk, Jawa Timur.

Pertanyaan saya, apa penghargaan yang diberikan Pemerintah Indonesia kepada mereka yang berprestasi dalam ilmu pengetahuan? Mereka yang memenangi olimpiade mungkin dapat imbalan jutaan rupiah. Sesudah itu apa? Adakah fasilitas laboratorium dengan alat canggih atau buku-buku terbaru di perpustakaan guna mengembangkan ilmu mereka demi kemaslahatan bersama?

Jika ada, terlihat bahwa Indonesia adalah negara yang tulus bersungguh-sungguh memajukan bangsanya. Jika tidak ada, cukup puaskah para pemimpin dan elite masyarakat di negeri ini menghabiskan energi sekadar cekcok dan berpikir untuk urusan mereka sendiri? Sayang sekali, gunung emas Papua telah dikuasai Freeport, Riau penghasil minyak terbesar Indonesia dikuasai Chevron.

AZIMAH, MAHASISWI, KEJAWAB PUTIH TAMBAK, MULYOREJO, SURABAYA


Pendidikan Bung Karno

Saya pensiunan dosen Universitas Negeri Semarang (Unes), dulu mengajar Sejarah Pendidikan. Maksud tulisan ini hanya ingin meluruskan ihwal pendidikan Bung Karno, berkaitan dengan sistem persekolahan di zaman Hindia Belanda sekitar 1900-1942.

Dalam Kompas edisi Minggu, 16 Agustus, lalu disebutkan bahwa Bung Karno bersekolah di SMP Mojokerto. Bung Karno tidak pernah duduk di SMP (dahulu MULO, tiga tahun) dan SMA (dahulu AMS, tiga tahun). Dari Sekolah Dasar Belanda (Europeesche Lagere School, ELS, tujuh tahun), beliau terus ke Hogere Burger School, HBS, lima tahun) di Surabaya.

Kaum pribumi yang boleh menyekolahkan putra-putrinya di ELS dan HBS hanya pejabat setempat (bupati, wedana) dan orang-orang yang sangat kaya. Murid lain adalah anak-anak keturunan Belanda. Menurut Abu Hanifah dalam bukunya, Tales of a Revolution, Bung Karno kecil yang dapat diterima di ELS sering berkelahi dengan anak-anak Belanda. Jadi, sejak kecil telah tertanam benih pertentangan dalam diri Bung Karno dengan pihak penjajah.

Sebagai siswa HBS, Bung Karno bersama beberapa pemuda di bawah asuhan HOS Tjokroaminoto mulai mengenal politik. Konon, Bung Karno suka berlatih pidato di depan cermin.

Setelah lulus dari HBS Surabaya, Bung Karno yang cerdas melanjutkan pendidikan ke Technise Hoge School atau THS (sekarang Institut Teknologi Bandung, ITB) hingga mencapai gelar insinyur.

Dalam Kompas disebutkan bahwa semasa mahasiswa, Bung Karno indekos di rumah HOS Tjokroaminoto. Ini tidak mungkin karena sebagai mahasiswa THS, beliau tinggal di Bandung.

R TITI SUPRATIGNYO, STONEN NO 5, BENDAN NGISOR, GAJAH MUNGKUR, SEMARANG


Pelayanan yang Tidak Sopan

Pada 25 Agustus, sekitar pukul 06.30, saya menghubungi Call BRI 14017 sampai dua kali perihal saldo Brizzi yang tidak ter-top-up. Saya melakukan top upvia perbankan internet BRI pada 22 Agustus dan laporan yang saya dapat: "sukses".

Saya mengetahui kartu Brizzi tidak ter-top-up pada waktu tap kartu Brizzi di halte transjakarta pada 24 Agustus.

Kemudian saya menghubungi BRI. Petugas Pelayanan Nasabah yang pertama sudah memverifikasi data, menanyakan keluhan, dan menyarankan untuk tap kartu Brizzi di halte transjakarta. Ketika saya bilang bahwa hal itu sudah saya lakukan dan tidak ada masalah dengan kartu Brizzi, tiba-tiba hubungan telepon diputus oleh mereka.

Petugas Pelayanan Nasabah yang kedua menanyakan keluhan saya dan, setelah saya jelaskan permasalahannya, kali ini sambungan telepon tiba-tiba kosong.

Saya coba berkali-kali panggil, "Mbak, Mbak, Mbak", tetapi tidak mendapat jawaban.

Memutus telepon sepihak sebelum pembicaraan selesai, itulah yang dua kali saya hadapi dari petugas Pelayanan Nasabah. Tidak sopan dan sangat mengecewakan pelayanan seperti ini dari PT Bank Rakyat Indonesia.

RAURENCIA RESTY ANDRIYANI, JALAN KRAMAT VI NO 14, JAKARTA PUSAT

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 31 Agustus 2015, di halaman 7 dengan judul "Surat Kepada Redaksi".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger