Pertumbuhan ekonomi triwulan II yang lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan I sebesar 4,71 persen telah diduga dengan melihat sejumlah indikator. Kalangan industri manufaktur menyatakan, permintaan konsumen menurun. Begitu pun industri perbankan menyatakan penurunan penyaluran kredit.
Permintaan konsumen juga melemah. Hal itu terlihat saat menjelang Lebaran dan tecermin pada rendahnya inflasi. Perkembangan terakhir ini membuat pekerjaan pemerintah mencapai target pertumbuhan tahun ini sebesar 5,2 persen semakin berat. Sementara banyak tantangan menunggu penyelesaian.
Tantangan cukup serius adalah musim kemarau kering disebabkan fenomena iklim El Nino yang besar kemungkinan lebih intens dibandingkan dengan tahun 1997. Hal ini akan berdampak pada produksi pangan, terutama beras. Selain memengaruhi inflasi dan karena itu daya beli rakyat, kenaikan harga pangan juga memengaruhi kepuasan masyarakat luas dan menambah jumlah orang miskin.
Pada sisi lain, stimulus ekonomi melalui belanja pemerintah ternyata tak sesuai target. Realisasi belanja modal pemerintah hingga semester I hanya 11 persen dari pagu Rp 275,8 triliun. Muncul prediksi, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III akan kembali di bawah 5 persen.
Belanja desa juga belum dapat menjadi stimulus karena sosialisasi Undang-Undang Desa belum menyeluruh. Selain itu, sebagian besar kepala desa tak berani memanfaatkan dana desa karena khawatir terkena masalah pidana.
Faktor luar negeri adalah kenaikan suku bunga di AS, kemungkinan dalam beberapa bulan ke depan. Ketika sebagian besar saham di bursa efek dimiliki asing, kenaikan suku bunga akan melemahkan nilai tukar ketika dana asing pergi meninggalkan Indonesia.
Meskipun pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk memproteksi industri barang konsumsi dalam negeri serta melonggarkan persyaratan kredit konsumsi, pokok persoalan adalah penurunan daya beli masyarakat.
Pemerintah seyogianya memastikan, meskipun pertumbuhan melambat, hasilnya tetap terdistribusi merata dan dibelanjakan pada sektor produktif. Ekonomi Indonesia dikenal liat menghadapi guncangan karena dukungan sektor pertanian dan UMKM.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan akan memprioritaskan stabilitas daripada pertumbuhan. Apa pun maksud pernyataan itu, masyarakat menantikan langkah pemerintah mengonsolidasi ekonomi dengan koordinasi di semua lini dan mengurangi kegaduhan politik agar pertumbuhan tidak semakin melambat.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Agustus 2015, di halaman 6 dengan judul "Konsolidasikan Ekonomi".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar