Cari Blog Ini

Bidvertiser

Sabtu, 29 Agustus 2015

TAJUK RENCANA: Rusia dan Timur Tengah (Kompas)

Apa yang mendorong Rusia menggandeng tiga negara Arab untuk bekerja sama dengan Suriah melawan teroris, khususnya Negara Islam di Irak dan Suriah?

Pertanyaan itu kiranya yang pertama muncul setelah tersiar berita bahwa Rusia menggandeng tiga negara Arab—Mesir, Jordania, dan Uni Emirat Arab—bersama Suriah menghadapi NIIS. Tentu, jawaban pertama atas pertanyaan itu adalah bertemunya kepentingan mereka. Bagi ketiga negara Arab dan juga Suriah, NIIS adalah kelompok bersenjata yang membahayakan keutuhan dan juga eksistensi negara-negara Arab itu.

Negara-negara Arab tersebut sama-sama memiliki kepentingan untuk menghentikan gerakan NIIS. Jordania, negara yang paling dekat dengan Suriah yang tengah bergolak, akan menjadi negara pertama yang merasakan akibatnya apabila Suriah jatuh ke tangan NIIS. Gelombang NIIS dari utara akan sulit dibendung.

Uni Emirat Arab sejak semula bersikap tegas kepada gerakan kelompok ekstremis, NIIS, yang mereka anggap tidak hanya akan membahayakan Timur Tengah, tetapi juga dunia. Karena itu, mereka menyambut ajakan Rusia untuk bersama-sama memerangi NIIS.

Mesir yang dapat dikatakan sejak revolusi tidak henti-hentinya bergolak pun merasakan akibat sepak terjang kelompok ekstremis dan teroris, misalnya di kawasan Sinai. Karena itu, ajakan Rusia untuk menghadapi kelompok teroris itu pun mereka terima.

Bagi negara-negara Arab itu, masuknya Rusia, meski tentu memiliki agenda sendiri, sangat menguntungkan. Apalagi, AS yang selama ini merupakan sekutu mereka dirasa bertindak lamban, meski memberikan bantuan militer dengan melancarkan serangan udara kepada NIIS.

Membantu memerangi NIIS di Suriah sangat penting bagi Rusia. Ada beberapa kepentingan di Suriah yang harus dipelihara Rusia. Pertama, Suriah adalah sekutu lama Rusia, dan sekarang merupakan satu-satunya sekutu lama Moskwa di kawasan itu. Kedua, Rusia memiliki pangkalan angkatan laut di Tartus, yang merupakan satu-satunya pangkalannya di Laut Tengah.

Ketiga, apabila Bashar al-Assad jatuh karena NIIS, hal itu sangat berbahaya. Jatuhnya Bashar akan menimbulkan kekosongan kekuasaan di Damaskus dan memberi NIIS peluang untuk mengisinya. Keempat, apabila NIIS berkuasa, kemungkinan besar Rusia akan kehilangan pangkalan angkatan lautnya. Kelima, berkuasanya NIIS di Suriah akan memberikan kekuatan pada Kaukasus Utara, yang mayoritas penduduknya Muslim Sunni, untuk menghadapi Moskwa. Suatu hal yang tidak diinginkannya.

Itulah sebabnya, sebelum AS mempertegas kehadirannya untuk membantu Turki, Irak, dan Suriah menghadapi NIIS, Rusia melangkah lebih dahulu menggandeng ketiga negara Arab itu untuk memperkuat kehadirannya.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Agustus 2015, di halaman 6 dengan judul "Rusia dan Timur Tengah".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger