Cari Blog Ini

Bidvertiser

Rabu, 23 September 2015

Tajuk Rencan: Kesempatan Kedua bagi Tsipras (Kompas)

Politik riil adalah pertarungan kekuatan. Dan, hasil dari pertarungan itu tidak jarang mengejutkan, tidak diduga, jauh dari hitung-hitungan matematis.

Apa yang terjadi dalam pemilu di Yunani tidak jauh dari hal itu. Kemenangan partai berhaluan kiri, Syriza, dalam pemilu hari Minggu lalu, melemparkan prediksi para ahli politik. Sebelum pemilu, mereka memperkirakan bahwa Syriza tidak akan mampu memenangi pemilu. Syriza diperkirakan akan dikalahkan oleh Partai Demokrasi Baru, yang berhaluan kanan tengah.

Jajak-jajak pendapat di Yunani pun tidak memprediksikan kemenangan Syriza. Mereka memperkirakan akan terjadi persaingan seru antara Syriza dan Partai Demokrasi Baru karena popularitas Alexis Tsipras, pemimpin Syriza, yang mantan Perdana Menteri Yunani, mulai pudar.

Namun, ternyata kehendak rakyat berbeda. Syriza mampu merebut 35,5 persen suara dan berhak menduduki 145 kursi dari 300 kursi di parlemen. Adapun Partai Demokrasi Baru yang diunggulkan hanya mampu meraih 75 kursi atau 7 persen lebih.

Dengan kemenangan itu, Syriza kembali mendudukkan Tsipras ke kursi perdana menteri yang telah ia tinggalkan. Januari lalu, Syriza yang mengusung tema anti-pengetatan ikat pinggang, memenangi pemilu dan mendudukkan Tsipras di kursi perdana menteri.

Yang menarik, dan barangkali sulit diterima akal sehat, Tsipras dengan Syriza-nya bertarung dengan menyatakan siap memimpin kebijakan pengetatan ikat pinggang. Padahal, Agustus lalu, Tsipras yang menjadi perdana menteri sejak Januari lalu terpaksa mundur karena kehilangan mayoritas pendukung, Hal itu terjadi karena ia menandatangani kesepakatan dana talangan baru 86 miliar euro dengan kreditor internasional. Pemberian dana talangan itu tentu disertai berbagai persyaratan yang antara lain Yunani harus menjalankan kebijakan pengetatan ikat pinggang kalau mau selamat.

Memang, rakyat Yunani tidak begitu antusias mengikuti pemilu kali ini, yang dilakukan di tengah krisis dan tidak melihat adanya sosok pemimpin yang mampu secara mandiri membawa keluar negerinya dari kumparan krisis. Dilaporkan, pemilik suara yang menggunakan haknya hanya 55 persen. Itu berarti turun dibandingkan jumlah pemilih pada pemilu Januari lalu, 63,6 persen.

Pertanyaannya, mengapa rakyat tetap memberikan suara kepada partai dan pemimpin yang mengkhianati janji politiknya dalam pemilu Januari silam? Bisa jadi, pemilih di Yunani kini lebih bersikap pragmatis dan realistis karena memang tidak ada pilihan. Yunani tidak bisa hidup tanpa dana talangan yang ditandatangani Tsipras. Mereka kembali memercayai Tsipras untuk menuntaskan tugasnya dengan dana talangan membawa Yunani keluar dari kumparan krisis yang begitu dalam.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 September 2015, di halaman 6 dengan judul "Kesempatan Kedua bagi Tsipras".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger