Pernyataan tersebut tidak hanya sangat puitis, tetapi juga memberikan gambaran bahwa hubungan kedua negara sangat dalam, tidak bisa dipisahkan. Sejarah telah mencatat bahwa hubungan itu sudah lama dijalin demikian lama sebelum negeri ini bernama Indonesia. India tercatat sebagai salah satu negara pertama yang memberikan pengakuan atas kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia. Hubungan resmi kedua negara dimulai 3 Maret 1951.
Sepanjang perjalanan waktu itu, tentu telah banyak yang terjadi; telah banyak yang dilakukan kedua negara, melalui pasang surut arus hubungan. Tentu salah satu catatan emas hubungan kedua negara adalah kerja sama antara Jawaharlal Nehru dan Presiden Soekarno mendirikan Gerakan Nonblok.
Sejak India menerapkan "Kebijakan Melihat ke Timur" pada tahun 1991, ada perkembangan cepat dalam hubungan bilateral di bidang politik, keamanan, pertahanan, komersial, dan kultural. Kedua belah pihak memandang satu sama lain sebagai mitra strategis vital. Ini terungkap dari fakta bahwa sejak tahun 2000 telah ada lebih dari sepuluh kali kunjungan kepala negara kedua negara.
Berbagai naskah kerja sama, perjanjian, dan kesepakatan ditandatangani oleh para pejabat kedua negara. Pada tahun 2000, misalnya, ditandatangani Deklarasi Bersama mengenai Pembentukan Kemitraan Strategis. Di bidang ekonomi, Indonesia adalah mitra dagang terbesar kedua dari India di kawasan ASEAN.
Tentu, kedalaman hubungan kedua negara tidak boleh berhenti sampai di sini, justru sebaliknya, perlu terus ditingkatkan. India berkepentingan untuk mempererat hubungan dengan Indonesia. Hal itu didorong oleh semakin kuat dan luasnya pengaruh Tiongkok di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, penting bagi India untuk meningkatkan bobot hubungan dengan Indonesia. Sebaliknya, Indonesia berkepentingan untuk membangun perimbangan di antara kedua kekuatan besar itu.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian Indonesia, dalam kaitannya dengan India, adalah semakin meningkatnya dinamika di kawasan Samudra Hindia. Samudra Hindia menjadi kawasan strategis sejak Perang Dingin dan ke depan. India lewat "Kebijakan Melihat ke Timur" dan Australia dengan "Strategi Melihat ke Barat" masuk dan berperan di Samudra Hindia. Hal itu semestinya mendorong Indonesia untuk lebih aktif berperan dan memperjuangkan kepentingan nasional kita di kawasan Samudra Hindia pula.
Hal itu bisa dilakukan lewat Indian Ocean Rim Association (IORA), misalnya. Pendek kata, hubungan "belahan jiwa" itu harus benar-benar berarti bagi Indonesia.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 November 2015, di halaman 6 dengan judul "Hubungan Indonesia-India".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar